Kelompok Abu Sayyaf: Kaum Separatis Idealis yang Jadi Tukang Culik

Oleh: Satrio Arismunandar

Siapa tak kenal nama Abu Sayyaf? Bagi warga asing yang tinggal di kawasan Filipina selatan, nama kelompok Abu Sayyaf atau Jamaah Abu Sayyaf bisa menjadi momok yang menakutkan. Nama itu sudah identik dengan berbagai ancaman kejahatan: penculikan, penyanderaan, pemerasan, pembunuhan, dan bahkan aksi-aksi terorisme yang memakan korban warga sipil .

Kelompok Abu Sayyaf, yang berbasis di kepulauan Julu dan Basilan, Filipina selatan, semula adalah sempalan dari gerakan separatis Moro, yang ingin merdeka dari Filipina. Namun, karena kebutuhan ekonomi dan operasional, mereka akhirnya terpecah-pecah dan menjadi pelaku kriminal biasa, termasuk menculik orang asing untuk dimintai tebusan.

Pemberitaan media massa nasional selama bulan Maret sampai Mei 2016 telah diramaikan oleh kasus penculikan dan penyanderaan 14 warga negara Indonesia (WNI) oleh kelompok Abu Sayyaf di wilayah Filipina Selatan. Berbagai kementerian dan lembaga pemerintah pun jadi sibuk dan heboh karenanya, mulai dari Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Mabes Polri, Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), dan lain-lain. Segala perkembangan tentang penyanderaan ini dilaporkan langsung ke Presiden Joko Widodo.

Cukup menarik untuk menyimak, bagaimana asal muasal munculnya kelompok Abu Sayyaf ini. Selama lebih dari empat dasawarsa, berbagai kelompok Muslim Moro telah berjuang untuk meraih kemerdekaan dari Filipina.

Dalam perjalanannya, kelompok-kelompok ini kemudian bersilang jalan karena perbedaan basis ideologi, tujuan, dan strategi perjuangan. Ada yang setuju berdamai dengan pemerintah Filipina dengan imbalan otonomi daerah, misalnya, Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF). Ada juga ngotot yang menolak berdamai.

MNLF Berutang Budi

Kelompok MNLF adalah yang terbesar dan terkuat, dan dipimpin oleh Nur Misuari. Pemerintah Filipina sudah lelah berperang secara militer menghadapi kelompok separatis yang sulit ditaklukkan ini. Jadi mereka akhirnya memilih jalan diplomasi. Nur Misuari sempat berunding di Jakarta dengan Manuel Yan, Dubes Filipina untuk Indonesia, yang mewakili pemerintah Filipina. Perundingan yang difasilitasi oleh pemerintah Indonesia, di zaman Menteri Luar Negeri Ali Alatas ini, menghasilkan perdamaian antara MNLF dan pemerintah Filipina.

Maka Nur Misuari dan MNLF merasa “berutang budi” pada Indonesia, dan hingga saat ini punya hubungan baik dengan Indonesia. Hubungan baik ini kelak bermanfaat, dalam membantu upaya pembebasan WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf. Tetapi, meski MNLF sudah berdamai, tetap ada kelompok Moro yang menolak tunduk pada otoritas Filipina dan terus menuntut kemerdekaan bagi “negara Islam Moro.” Salah satunya adalah kelompok Abu Sayyaf.

Penculikan terhadap WNI terjadi dalam “dua tahap.” Pertama, penculikan terhadap 10 WNI, dan kemudian dalam insiden terpisah terjadi penculikan terhadap 4 WNI. Drama tentang 10 WNI, yang diculik oleh kelompok Abu Sayyaf dengan motif minta tebusan, bermula pada 26 Maret 2016. Waktu itu kapal tunda Brahma 12 dan tongkang Anand 12 dalam perjalanan dari Sungai puting, Kalimantan Selatan menuju Batangas, Filipina. Pelayaran dimulai sejak 15 Maret 2016.

Kedua kapal membawa 7.500 metrik ton batubara curah dan 10 awak kapal berkewarganegaraan Indonesia. Kapal-kapal itu milik perusahaan tambang dari Banjarmasin, yaitu PT. Patria Maritime Lines. Pembajakan terhadap dua kapal itu dan penyanderaan terhadap 10 awaknya terjadi di perairan Tawi-Tawi, Filipina.

Pemilik kapal baru mengetahui ada pembajakan pada 26 Maret 2016, ketika ditelepon oleh seseorang yang mengaku dari kelompok Abu Sayyaf. Pembajak meminta uang tebusan 50 juta peso (setara Rp 14,3 miliar) dengan batas waktu 31 Maret 2016. Tapi batas waktu ini kemudian terlewat dan diperpanjang sampai 8 April 2016, terus tidak jelas lagi batas waktunya. Kapal Brahma 12 kemudian sudah dilepas pembajak dan berada di tangan otoritas Filipina. Namun, 10 WNI tetap disandera.

Diculik Faksi yang Berbeda

Sedangkan empat WNI lainnya diculik oleh kelompok Abu Sayyaf dari faksi yang berbeda pada 15 April 2016. Keempat WNI adalah awak kapal tunda Henry. Faksi Alden Bagade yang menculik mereka ini dulu juga pernah menyandera warga Malaysia. Proses pembebasan empat WNI ini tidak mudah. Pembebasan ini memakan waktu yang tidak sedikit, sama seperti pembebasan 10 WNI yang terdahulu. Dalam pembebasan ini juga melibatkan tokoh MNLF yang dihormati dan berpengaruh di Filipina Selatan, yaitu Nur Misuari.

Sejak terjadinya penculikan 10 WNI, berbagai kementerian dan lembaga keamanan Indonesia aktif berhubungan dengan pihak pemerintah Filipina dan pihak-pihak non-pemerintah di Filipina selatan, untuk menyelamatkan WNI tersebut. Apalagi lalu terjadi penculikan lain terhadap 4 WNI. Semua jalur penyelamatan dijajaki, baik yang resmi via pemerintah maupun yang tidak resmi.

Bahkan opsi aksi pembebasan sandera oleh pasukan khusus TNI pun disiapkan. Namun opsi ini tidak mudah, karena lokasi kejadian ada di negara asing –sesama negara anggota ASEAN pula-- yang memiliki pemerintahan berdaulat yang jelas. Ini beda dengan kasus penculikan di Somalia, yang negaranya sedang rusuh dan tidak memiliki otoritas pemerintahan yang jelas. Opsi pembebasan WNI secara militer ini tidak mendapat lampu hijau dari otoritas Filipina.

Untunglah pada akhirnya, berkat kerja sama berbagai pihak, dengan melibatkan jalur-jalur tak resmi di kalangan gerilyawan Moro, seluruh 14 WNI itu dapat dibebaskan dengan selamat, tanpa cedera apa pun. Kasus ini pun mengangkat nama kelompok Abu Sayyaf , yang di Filipina sudah sangat terkenal dengan berbagai aksi penculikannya.

Publik Indonesia beberapa bulan terakhir ini lebih memperhatikan kelompok ekstrem ISIS (Negara Islam di Irak dan Suriah) yang berbasis di Timur Tengah, dengan berbagai aksi terornya yang dipublikasikan meluas di media. Siapa nyana, serangan penculikan terhadap WNI justru berasal dari kelompok yang lebih dekat secara geografis, di wilayah negara tetangga kita Filipina, yang selama ini kurang diperhatikan oleh publik Indonesia.

Berawal dari Afganistan

Nama kelompok Abu Sayyaf dicuplik dari nama Abdul Robbir Rassul Sayyaf, seorang etnis Pashtun berpengaruh dan pejuang Mujahidin di Afganistan, yang berperang melawan pasukan Uni Soviet pada 1980-an. Abu Sayyaf, yang dalam bahasa Arab berarti “bapak ahli pedang,” memiliki banyak anak buah dan pengikut di medan perang Afganistan. Banyak pejuang dari negara lain, termasuk dari Indonesia dan Filipina, ikut berjihad di Afganistan.

Mereka berlatih militer di Tanzim Ittihad-e-Islamy yang dikelola oleh Abdul Robbir Rassul Sayyaf. Di kamp ini ada peserta asal Filipina, yakni Abdurajak “Jack” Abubakar Janjalani. Janjalani adalah guru dari Pulau Basilan, yang pernah belajar teologi Islam dan bahasa Arab di Libya, Suriah, dan Arab Saudi pada 1980-an. Tokoh Muslim Moro ini terkesan pada sosok Abdul Robbir Rassul Sayyaf dan mengambil nama idolanya itu menjadi nama kelompok, yang didirikan pada 1991 di Filipina Selatan, yaitu Abu Sayyaf.

Kelompok ini awalnya adalah kelompok separatis yang idealis, yang menjadi bagian dari pasukan bersenjata MNLF (Moro National Liberation Front), yang dipimpin Nur Misuari. Namun kelompok ini lalu menentang langkah MNLF, yang bersedia melakukan perundingan perdamaian dengan pemerintah Filipina. Perdamaian antara pemerintah Filipina dan MNLF melahirkan Kawasan Otonomi di Mindanao Muslim atau ARMM (Autonomous Region in Muslim Mindanao), dengan Nur Misuari sebagai gubernurnya yang pertama.

Kelompok Abu Sayyaf, yang kukuh dengan tuntutan kemerdekaan penuh dan ingin mendirikan negara Islam di Filipina selatan, pun memisahkan diri dari MNLF. Sejak pemisahan diri dari MNLF, Abu Sayyaf gencar memerangi aparat Filipina.

Dalam tindakannya, Abu Sayyaf berbeda dengan MNLF dan faksi pecahan lain, Front Pembebasan Islam Moro (MILF – Moro Islamic Liberation Front). Dibandingkan MNLF dan MILF, jumlah anggota Abu Sayyaf relatif tidak banyak. Awalnya ia beranggota sekitar 1.250 orang, namun saat ini diperkirakan hanya sekitar 400 orang.

Jadi Bandit dan Penjahat Biasa

Pendiri Abu Sayyaf, Abdurajak Janjalani, tewas dalam baku tembak dengan polisi nasional Filipina di Basilan pada Desember 1998. Abu Sayyaf lalu dipimpin oleh adik kandungnya, Khadaffy Janjalani, yang terbunuh pada 2007. Sejak pergantian kepemimpinan ke Khadaffy inilah, Abu Sayyaf bergeser, dari kelompok separatis yang ideologis menjadi sekadar pelaku kriminal.

Baik Abdurajak Janjalani maupun adiknya Khadaffy Janjalani yang menggantikannya memimpin Abu Sayyaf, keduanya adalah warga asli Isabela City. Kota itu saat ini adalah salah satu kota termiskin di Filipina. Berlokasi di bagian barat-laut Pulau Basilan, Isabela City juga menjadi ibukota Provinsi Basilan, yang berada di seberang Terowongan Isabela dari Pulau Malamwi. Namun, Isabela City secara administratif pemerintahan berada di bawah kawasan politik Semenanjung Zamboanga, Basian sebelah utara. Sedangkan bagian lain dari Provinsi Basilan sejak 1996 diperintah sebagai bagian dari ARMM ke arah timur.

Komandan Abu Sayyaf saat ini ialah Isnilon Totoni Hapilon. Karena menganggap Abu Sayyaf sebagai kelompok teroris, pemerintah Amerika Serikat menawarkan uang hadiah sebesar 5 juta dollar AS (setara Rp 66 miliar) bagi pemberi informasi, yang bisa berujung pada penangkapan Hapilon.

Meskipun sama-sama memeluk Islam dan memperjuangkan kemerdekaan dari Filipina, Abu Sayyaf lebih liar dan tidak terkontrol. Banyak anggotanya yang bergabung karena “solidaritas.” Mereka umumnya kurang berpendidikan dan minim pengetahuan, dan bergerak melakukan perlawanan karena merasa terintimidasi dan didiskriminasi oleh pemerintah Filipina. Mereka tidak kompak dalam satu kesatuan komando, tetapi terpecah-pecah seperti sejumlah gerombolan dengan banyak sel.

Mereka tidak mendapat sumbangan atau dukungan dana dari luar negeri. Anggota kelompok ini juga bukan orang kaya dan bukan pengusaha. Jadi, dalam memenuhi kebutuhan hidup dan perlengkapan senjata, mereka pun melakukan tindak kriminal. Inilah salah satu hal yang mendorong Abu Sayyaf melakukan perampokan, pemerasan, penculikan, dan meminta tebusan dalam setiap aksinya. Tidak mustahil, di dalam kelompok ini juga ada yang bandit dan penjahat biasa.

Bisnis uang tebusan menghasilkan keuntungan besar bagi kelompok Abu Sayyaf. Mereka meraup banyak uang dan keleluasaan beroperasi. Pakar keamanan menyatakan, proses pembayaran uang tebusan biasanya melibatkan para makelar, pengirim pesan, dan perantara dalam beberapa tingkatan. Di kalangan mereka, proses pembayaran uang sering diperhalus dengan ungkapan “biaya makan dan akomodasi” (board and lodgings).

Kelompok ini sudah dikategorikan sebagai teroris oleh PBB, Australia, Kanada, Indonesia, Malaysia, Filipina, Uni Emirat Arab, Inggris, dan AS. Pada 2002, memerangi Abu Sayyaf menjadi bagian dari Perang Global Melawan Terorisme yang dilancarkan AS.

Beberapa ratus prajurit AS ditempatkan di Filipina untuk melatih pasukan lokal dalam melawan teror dan melakukan operasi anti-gerilya. Meski begitu, mereka tak boleh turun tangan langsung melawan Abu Sayyaf karena dibatasi oleh undang-undang Filipina. Tidak seperti MNLF dan MILF, kelompok Abu Sayyaf tidak diakui oleh Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Persenjataan kelompok Abu Sayyaf ini adalah senapan otomatis, mortir, dan bahan peledak rakitan. Sejak terpecah dari MNLF, Abu Sayyaf telah menculik ratusan orang. Mayoritas yang disandera adalah orang Filipina dan orang kulit putih.Tidak jarang sandera tersebut dibunuh, terutama yang tidak memenuhi permintaan tebusan.

Tidak Segan Membunuh

Karena pola penculikan terhadap 10 WNI itu tidak biasa, pengamat Haris Abu Ulya di Jakarta mengatakan, penyanderaan terhadap warga Indonesia ini mungkin salah sasaran, karena biasanya kelompok Abu Sayyaf tidak pernah menyandera orang Islam. “Saya kira ini salah target,” ujar Haris.

Pada Juli 2009, staf Palang Merah Internasional dari Italia, Eugenio Vagni, disandera Abu Sayyaf selama enam bulan. Vagni dilepas di Jolo, setelah ditebus 10.000 dollar AS (sekitar Rp 130 juta). Pada 2014, sepasang warga Jerman yang diculik dalam kapal pesiar mereka dibebaskan, setelah uang tebusan 5,3 juta dollar AS (Rp 69,9 miliar) dibayarkan.

Namun, pada November 2015, kelompok Abu Sayyaf memenggal Bernard Ghen Ted Fen, turis asal Malaysia, karena keluarganya gagal memenuhi tebusan 40 juta peso (setara Rp 12 miliar). Pada 25 April 2016, warga negara Kanada, John Ridsdel, juga dipenggal kepalanya setelah pemerintah Kanada tegas menolak membayar uang tebusan 300 juta peso (sekitar Rp 84,6 miliar).

Abu Sayyaf juga pernah melakukan pengeboman. Pada Desember 1994, kelompok itu mengebom pesawat Philippines Airlines jurusan Manila-Tokyo dan menewaskan seorang penumpang. Serangan lain adalah serbuan ke Kota Ipil pada 1995, yang menewaskan 50 orang, serta serangan granat ke sebuah pusat perbelanjaan di Zamboanga pada 1998, yang mencederai 60 orang. Sebagian besar aksi itu terjadi di Mindanao selatan. Serangan teror terburuk yang dilakukan kelompok ini adalah pemboman Superferry 14 pada tahun 2004, yang menewaskan 116 orang.

Pada 13 Desember 2006, dilaporkan bahwa anggota-anggota Abu Sayyaf mungkin telah merencanakan serangan, tatkala sedang berlangsungnya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Filipina. Kelompok itu dilaporkan telah berlatih bersama anggota militan Jemaah Islamiyah. Rencana serangan tersebut dikabarkan termasuk meledakkan bom mobil di Cebu City, kota di mana KTT tersebut dilangsungkan.

Pada 23 Juli 2014, pimpinan Abu Sayyaf, Isnilon Totoni Hapilon, disebut-sebut telah berbaiat kepada pimpinan ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi. Namun, menurut pengamat terorisme Nasir Abbas, Abu Sayyaf hanya ikut-ikutan saja bergabung dengan ISIS. “Masalah menculik, membunuh, mereka sudah lebih dulu dari ISIS,” kata Nasir.

Drama penculikan terhadap 14 WNI telah memicu perkembangan baru. Aparat keamanan Indonesia, Malaysia, dan Filipina jadi terdorong untuk segera mewujudkan patroli keamanan bersama di daerah perairan perbatasan antara ketiga negara. Kawasan itu sering menjadi lokasi serangan Abu Sayyaf dan berbagai gangguan keamanan lain. Mungkin, inilah hikmah di balik aksi-aksi Abu Sayyaf yang sekian lama telah merepotkan ketiga negara. ***

Ditulis untuk Majalah DEFENDER (September 2016)

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)