Belarus Tawarkan Modifikasi BTR-50 dan PT-76

Oleh: Satrio Arismunandar

Ada negara yang tampil dengan produk unik di pameran industri pertahanan Indo Defence, 2-5 November 2016, yaitu Belarus. Negara bekas pecahan Uni Soviet ini menawarkan produk persenjataan yang sangat relevan dengan Indonesia, karena TNI sudah pernah memilikinya. Yaitu, jenis panser dan tank buatan era Uni Soviet dulu.

Yang ditawarkan Belarus tentu bukan panser dan tank kuno, namun panser dan tank yang sudah mengalami modifikasi, modernisasi, dan ditingkatkan kecanggihan dan keampuhannya. Panser dan tank itu, di antaranya, adalah kendaraan lapis baja amfibi pengangkut pasukan BTR-50PKM dan tank amfibi ringan PT-76M.

Perusahaan Belarus yang menangani modernisasi itu adalah Minotor-Service. Minotor-Service melakukan program perpanjangan masa dinas yang dikembangkan khusus untuk BTR-50PK dan wahana-wahana dengan chassis setara (PT-76, BTR-50PU). Tujuannya adalah untuk meningkatkan mobilitas, ergonomi, dan kemudahan untuk perbaikan. Kendaraan lapis baja yang sudah diperbarui itu akan layak bersanding dengan kendaraan-kendaraan tempur generasi terbaru.

Kebetulan TNI, khususnya Korps Marinir TNI AL, mewarisi banyak BTR-50 dan PT-76 warisan dari zaman Soviet. BTR-50 sudah beroperasi di Indonesia sejak 1962. Panser BTR-50 dibeli dari Soviet bersamaan dengan tank amfibi PT-76. Kedua alat tempur ini diimpor dalam menyambut operasi militer, untuk membebaskan Irian Barat dari tangan Belanda. Di negeri asalnya, BTR-50 mulai beroperasi sejak 1955. Sedangkan PT-76 adalah kendaraan tempur terdepan, yang dulu diandalkan Soviet untuk menjebol pertahanan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dari garis belakangnya.

Mendukung Operasi Jayawijaya

Umumnya BTR-50 berasal dari dua negara, yaitu BTR-50P Rusia dan BTR-50PK Ukraina (Ukraina dulu adalah juga bagian dari Uni Soviet). Untuk mengamankan NKRI, BTR yang ada di lingkungan Korps Marinir TNI AL berjumlah 82 unit. Awalnya, kabin BTR-50 berkapasitas 20 orang pasukan bersenjata lengkap, dan tak punya penutup atas. Baru pada 1960, dengan alasan untuk meningkatkan proteksi penumpang, maka varian BTR-50PK dilengkapi tutup kabin (hatch). Varian terakhir inilah yang sampai sekarang dipakai Korps Marinir TNI-AL.

Sedangkan tank PT-76 secara resmi masuk ke jajaran kesatuan kavaleri APRI sejak 1962. Namun, karena berkemampuan amfibi, sebagian besar tank ini lebih banyak dioperasikan oleh Batalyon Panser Amfibi Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL), yang sekarang dikenal sebagai Batalyon Kendaraan Pendarat Amfibi Korps Marinir TNI AL.

PT-76 awalnya dipersiapkan untuk menunjang operasi militer terbesar dalam sejarah Indonesia, yaitu Operasi Jayawijaya, dalam rangka pembebasan Irian Barat. Selanjutnya, PT-76 secara aktif dilibatkan dalam berbagai operasi keamanan di dalam negeri dan operasi militer seperti Dwikora (1964-1965) di perbatasan Indonesia–Malaysia, Operasi Seroja (1975-1979) di Timor Timur dan Operasi Pemulihan Keamanan Terpadu di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (2002-2005).

Untuk dioperasikan di masa sekarang, tentu BTR-50 dan PT-76 harus mengalami pembaruan besar-besaran. Indonesia sendiri sebetulnya sudah melakukan retrofit dan modifikasi terhadap BTR-50 dan PT-76. Jadi, BTR-50 dan PT-76 yang dioperasikan TNI sekarang tidak persis sama dengan versi yang diimpor dari Uni Soviet tahun 1962.

Ditingkatkan Kekuatannya

Dalam konteks Belarus, oleh perusahaan Minotor-Service, mobilitas canggih BTR-50PKM dicapai melalui pemasangan mesin diesel yang ditingkatkan kekuatannya dan sistem transmisi, yang digabungkan ke dalam unit paket daya tunggal. Hal ini memberikan peningkatan kecepatan maksimum dari 45 sampai 60 km/jam dan peningkatan daya jangkau bahan bakar dari 400 menjadi 450 km.

Mengingat solusi desain layout yang diadopsi, kendaraan lapis baja yang sudah diperbarui ini mempertahankan bobot dan pusat gravitasi lamanya, seraya memelihara kapabilitas amfibinya yang tak tertandingi.

Peningkatan ergonomi diperoleh lewat kolom kemudi batang-T yang ditenagai, dan pengurangan upaya-upaya dalam kontrol wahana, dengan diterapkannya penguat daya hidrolik transmisi. Sedangkan kemudahan dalam perbaikan dimungkinkan lewat penggantian kapabilitas unit paket daya, serta implementasi kopling yang mudah di-diskoneksi dalam sistem suplai.

Sedangkan tank ringan amfibi PT-76 pada dasarnya adalah sebuah kendaraan tempur lapis baja yang dipersenjatai dengan meriam 76mm DT-76TM atau senjata utama DT-76T dan senapan mesin koaksial SGMT. Meskipun PT-76 telah berdinas untuk waktu yang lama, tank ini tetap mampu menjalankan berbagai misi, termasuk operasi serangan lewat pendaratan pantai, transportasi personel, operasi SAR, dan sebagainya.

Sebagian besar keunggulan wahana ini adalah kemampuan manuver yang tinggi, kecepatan yang tinggi untuk lintas darat dan perairan. Namun, karena rasio daya-terhadap-bobot dan mobilitas yang tidak memadai, masa hidup mesin yang sudah terlampaui, ketiadaan fasilitas pendukung kehidupan, serta kurangnya suku cadang dan dukungan teknis, tank-tank PT-76 tak lagi dapat digunakan sesuai potensial penuhnya.

Memperpanjang Usia Pakai

Maka Minotor-Service melakukan pembaruan untuk memperpanjang usia pakai PT-76, mengembangkan kapabilitas tempur, meningkatkan ergonomi dan mobilitas, serta penyederhanaan perawatan dan meningkatkan kemudahan perawatan. Paket pembaruan itu mencakup modifikasi lambung dan pemasangan unsur-unsur chassis baru (mesin dan sistem pembantu, gearbox, mekanisme kemudi, rem, dan kontrol). Juga, perombakan sistem chassis yang tidak diperbarui, serta pemasangan kubah baru dengan senjata yang dimodifikasi (opsional).

Pembaruan sistem persenjataan PT-76M didasarkan pada penggantian kubah yang ada dengan yang baru. Ini akan meningkatkan keefektifan operasional awak tank yang ditempatkan di kubah, melalui distribusi fungsi-fungsi tempur antara komandan tank dan penembak; stabilisasi senjata pada dua bidang; dan digunakannya pengisi amunisi otomatis (autoloader).

Senjata utama kaliber 76mm diganti dengan sebuah kanon otomatis 30mm 2A42, sebuah senapan mesin koaksial 7,62mm PKT, dan sebuah senjata terkendali antitank (ATGW) Konkurs yang berisi rudal-rudal antitank 9M113M. Paket persenjataan yang diusulkan ini dianggap mampu untuk melakukan pelibatan efektif terhadap berbagai jenis sasaran, termasuk tank tempur utama dan helikopter penyerang.

Kanon otomatis 30mm 2A42 dirancang untuk menaklukkan ancaman dari udara dan ancaman darat dari kendaraan lapis baja ringan. Sedangkan senapan mesin 7,62mm PKT dirancang untuk meniadakan ancaman dari personel dan kendaraan lapis baja ringan atau nonlapis baja, dan aset-aset tempur lain. Sementara itu, Konkurs ATGW dirancang untuk mengalahkan ancaman lapis baja yang diam atau bergerak, yang dilengkapi dengan tambahan lapis baja reaktif (reactive armor). Rudal itu memiliki sistem kendali wire semi-otomatis.

Yang ditawarkan Belarus lewat Minotor-Service bukan cuma panser BTR-50 dan tank PT-76, tapi juga sistem rudal anti-tank yang mobile, Mosquito. Mosquito ini dirancang untuk menghantam sasaran darat yang diam dan bergerak, seperti kendaraan lapis baja modern, instalasi pertahanan, helikopter yang terbang rendah, dan kapal permukaan ukuran kecil. Mosquito bisa beroperasi pada siang maupun malam, dalam kondisi cuaca yang berat, dan semua jenis medan darat.

Ada juga Kiwi, wahana perang elektronik. Kiwi EW adalah wahana perlengkapan elektronik yang mobile, untuk fungsi intelijen dan mengganggu link elektronika pihak musuh. Ia bisa beroperasi pada frekuensi tetap maupun di mode PFH (programmed frequency hopping).

Produk lain Minotor Service adalah kendaraan lapis baja amfibi multiguna VITIM 668240, dan chassis berantai multiguna Breeze. VITIM digunakan untuk mengangkut beban, bahan bakar di tangki internal, serta aplikasi sebagai chassis untuk berbagai perlengkapan. VITIM sanggup mengangkut senjata ringan atau rudal. Sedangkan Breeze bisa digunakan untuk berbagai aplikasi, seperti: radar mobile, wahana perang elektronika, wahana pengawasan udara untuk pertahanan udara, wahana komando, ambulans, dan wahana pendukung teknis.

Jakarta, November 2016
Ditulis untuk Majalah DEFENDER

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI