Honeywell Mencuri Perhatian di Indo Defence

Oleh: Satrio Arismunandar

Dari sekian banyak produsen peralatan pertahanan yang tampil di pameran industri pertahanan dan keamanan, Indo Defence 2016 Expo & Forum, Honeywell berhasil mencuri perhatian pengunjung. Perusahaan global terkemuka, yang termasuk dalam Fortune 100 itu, menghadirkan produk-produk berkualitasnya di pameran yang berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta, 2-5 November 2016.

Nama pabrik pesawat terbang Boeing mungkin lebih dikenal oleh publik, namun banyak yang tidak menyadari bahwa produk-produk Honeywell terpasang di hampir semua pesawat penumpang komersial Boeing. Honeywell beroperasi dalam empat bisnis: kedirgantaraan (aerospace); teknologi rumah dan bangunan (home and building technologies); solusi keselamatan dan produktivitas (safety and productivity solutions); dan teknologi dan material kinerja (performance materials and technologies).

Di Indonesia, teknologi kedirgantaraan Honeywell sudah banyak digunakan untuk penerbangan sipil, bisnis dan komersial, serta pengguna militer. Pengunanya antara lain: Garuda, Lion Air, dan TNI AU. Teknologi itu di antaranya: radar cuaca IntuVue, kotak hitam (black boxes), mesin TPE 331, Embed GPS/INS, dan avionik Bendix/King.

Radar cuaca yang diproduksi Honeywell bisa melakukan deteksi cuaca jarak jauh dengan lebih akurat. Ia juga bisa melakukan pemetaan (mapping) daratan dan analisis cuaca yang canggih. Hal ini untuk bisa mendeteksi dan menghindari badai secara lebih cepat, demi penerbangan yang lebih aman, lebih efisien, dan lebih nyaman.

Menurut Alex J. Pollack, President Director Indonesia dari Honeywell International Inc. Honeywell telah menjadi mitra pilihan bagi pembuat pesawat terbang asli Indonesia, PT. Dirgantara Indonesia (PTDI). Mesin TPE 331 dan avionik Honeywell telah menjadi komponen standar yang dipasang di berbagai pesawat yang diproduksi di Indonesia.

Fasilitas Pabrik di Bintan

Operator jet bisnis di Indonesia secara konsisten juga menggunakan produk Honeywell Avionics, seperti radar, sistem peringatan kedekatan daratan yang diperluas (EGPWS – Enhanced Ground Proximity Warning System), dan sistem waspada benturan lalu-lintas (TCAS – Traffic Collision Alerting Systems) untuk pembaruan standar keselamatan. Teknologi satelit komunikasi Honeywell juga telah banyak membantu mereka untuk meningkatkan produktivitas dan konektivitas di udara.

Yang sangat positif, menurut Pollack, bukan saja Honeywell sukses dalam menjual produk. “Tetapi kami juga memiliki fasilitas pabrik Aerospace di Bintan, yang dibuka pada Oktober 2005. Di Indonesia, kami mempekerjakan lebih dari 1.200 karyawan, termasuk di Jakarta, Surabaya, Bali, Batam, dan Bintan,” tutur Pollack, yang sudah bertahun-tahun tinggal di Indonesia dan fasih berbahasa Indonesia ini.

Pabrik di Bintan mempekerjakan ratusan karyawan dan sudah bersertifikasi Aerospace Standard AS9100. Pabrik ini memproduksi avionik dan sistem informasi untuk pesawat jet bisnis dan helikopter untuk penerbangan umum.

Ia juga menyediakan produk-produk avionik berteknologi tinggi, termasuk black box, EGPWS, dan Sistem Manajemen Data Penerbangan bagi maskapai penerbangan komersial. Produknya bukan cuma untuk pasar domestik, tetapi juga diekspor ke seluruh dunia. Jadi di pesawat-pesawat produk luar negeri itu ada komponen buatan pabrik Bintan.

Salah satu teknologi penerbangan terkini yang jadi kebanggaan Honeywell adalah HUMS (Honeywell Health Usage Monitoring System), yang mampu menurunkan tingkat kecelakaan hingga 80 persen. Penggunaan HUMS di pesawat terbang dan helikopter dapat meningkatkan keamanan dan keandalan mesin serta komponen-komponen berputar di dalamnya.

Memonitor Getaran

Teknologi ini juga dirancang untuk memonitor vibrasi (getaran) dari helikopter secara menyeluruh, dan merekam data tersebut secara berkesinambungan. Sehingga ini memungkinkan kru bagian perawatan/pemeliharaan dan penerbangan untuk menganalisis tren, serta mengaplikasikan perawatan berbasis data dan kondisi.

Sky Connect Tracker III yang terintegrasi dengan HUMS juga dirancang untuk memberikan informasi yang real-time seputar status kesehatan dan pemeliharaan pesawat. “Dengan HUMS, kita bisa menganalisis, apakah getaran yang dirasakan itu masih normal, atau menunjukkan adanya gangguan atau kerusakan yang membahayakan,” jelas Pollack.
Dengan menggunakan HUMS, pengguna bisa memperoleh data pesawat, yang didapatkan secara real-time. HUMS mengumpulkan dan menganalisis data dari lebih dari 15 sensor komponen yang berputar dan bergetar, seperti mesin, drive train, dan bilah kipas.

HUMS juga meningkatkan keselamatan. Ketika digunakan, teknologi Honeywell ini di dalam pesawat dapat menurunkan tingkat pembatalan misi (cancellation) hingga 30 persen, dan mengurangi uji terbang (flight test) dalam konteks perawatan hingga 20 persen. Terakhir, HUMS dapat memperpanjang waktu penggunaan pesawat. Dengan menginstall 20 sistem HUMS di sebuah armada pesawat, itu setara dengan tambahan 1 jam terbang bagi operator.

Tiga Manfaat Utama

Setidaknya ada tiga manfaat utama yang bisa diraih dari penggunaan HUMS. Pertama, pendekatan proaktif ini akan meminimalkan kecelakaan sebelum terjadi. Data yang mengisyaratkan adanya problem-problem potensial di sebuah pesawat dapat digunakan untuk menganalisis kondisi keseluruhan armada pesawat secara komprehensif.
Kedua, perencanaan perawatan/pemeliharaan yang lebih baik berarti mengurangi kegagalan misi terbang yang tak direncanakan, serta peningkatan kesiapan misi untuk mendukung pesawat tempur.

Ketiga, semua ini secara substansial akan mengurangi biaya perawatan/operasi dalam jangka pendek, dan dalam keseluruhan siklus usia (life cycle) pesawat. Ini juga menghindarkan biaya penggunaan suku cadang, uji terbang yang dicanangkan, dan rekapitalisasi aset.

Misalnya, dalam kondisi rutinitas tanpa HUMS, mungkin operator pesawat wajib mengganti suku cadang tertentu sesudah sekian ribu jam terbang. Padahal, berkat adanya HUMS, dari analisis data mungkin suku cadang itu masih bisa digunakan lebih lama, karena kondisinya masih baik. Jadi, dari sini jelas bisa dilakukan penghematan biaya suku cadang, tanpa mengorbankan keselamatan.

Sementara itu, kerja sama Honeywell dengan perusahaan dalam negeri masih akan terus berkembang. Ada program kerja sama dengan PTDI yang sudah berlangsung saat ini, dan sejumlah program lain yang akan dikerjakan dalam waktu dekat. Yaitu:

Pertama, memasok mesin TPE 331 untuk produksi pesawat C-212 yang dibuat di PTDI.

Kedua, membangun kapabilitas penuh PT NTP (anak perusahaan PTDI) untuk perawatan serta overhaul mesin TPE 331.

Ketiga, memasok komponen serta suku cadang, seperti: EGPWS, radar cuaca, TCAS, dan lampu pesawat untuk pesawat tipe C-212, CN-235, C-295, dan N-219. Khusus yang terakhir adalah pesawat asli buatan PTDI yang belum diproduksi massal, karena masih dalam proses pengembangan.

Keempat, Honeywell menjadi mitra untuk pelaksanaan retrofit, modifikasi, seta pembaruan (upgrade) helikopter.

Jakarta, November 2016
Ditulis untuk Majalah DEFENDER

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)