Laksdya TNI Widodo, Pertama Kali Naik Kapal Perang Jadi Mabuk Laut

Oleh: Satrio Arismunandar

Sejak kecil bercita-cita menjadi guru, namun perjalanan hidup justru membawanya menjadi Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Laut (2015-2016), dan terakhir menjabat Sekjen Kementerian Pertahanan RI. Itulah yang dialami Laksamana Madya TNI Widodo, S.E, M.Sc. Pada Februari 2017, Widodo juga melengkapi karirnya dengan menyelesaikan studi S3 di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM), dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Lahir di Malang, Jawa Timur, 30 Juni 1959, Widodo adalah putra seorang prajurit TNI AD. Lulusan AAL 1983 ini membuat sejarah, dengan menjadi perwira TNI AL pertama yang menjabat Sekjen Kemhan. Selama ini hanya perwira TNI AD dan TNI AU yang pernah memegang jabatan itu. Berbagai penugasan dan pendidikan kemiliteran telah dilalui Widodo, termasuk Seskoal (1998), Sesko TNI (2002), dan PPSA Lemhannas (2011).

Widodo yang berpenampilan kalem ini adalah pelaut andal. Namun diakuinya, ketika pertama kali naik kapal perang, ia mabuk laut dan muntah-muntah karena belum terbiasa. Namun, kini ia sangat mencintai laut. Widodo pernah bertugas sebagai komandan di berbagai kapal perang, sebelum menjadi Komandan Kobangdikal (2013) dan Panglima Armada Barat TNI AL (2014).

Widodo memiliki perhatian khusus terhadap masalah sumber daya manusia (SDM) di kemiliteran dan program pembinaan karir perwira unggulan di TNI AL. Program itu merupakan strategi mempersiapkan calon pemimpin TNI AL. Maka topik ini dijadikan bahan penelitiannya ketika mengambil program doktor di UNJ.

Era globalisasi menuntut TNI AL selalu dinamis dan senantiasa melakukan pembenahan, perubahan, dan pengembangan demi kejayaan masa depannya. TNI AL adalah bagian dari sistem pertahanan negara, yang telah menetapkan cetak biru postur kekuatannya. Untuk mencapai postur kekuatan itu, faktor SDM adalah sangat krusial.

Menurut Widodo, keunggulan SDM TNI AL secara sistemik sangat bergantung pada bagaimana institusi TNI AL mampu mengimplementasikan sistem manajemen pembinaan karir bagi para prajuritnya, khususnya pada level perwira secara tepat dan benar. Organisasi TNI AL telah menetapkan kebijakan pembinaan karir Perwira unggulan, yang tertuang dalam Peraturan Kepala Staf Angkatan Laut Nomor Perkasal/23/VII/2007 tanggal 12 Juli 2007.

Ini menjadi pedoman bagi Pemimpin TNI AL dalam mengadakan pemantauan, penilaian, pembinaan, dan pengasuhan terhadap sejumlah Perwira unggulan atau yang terbaik, untuk mendapatkan perhatian khusus. Yakni, sejak mereka lulus pendidikan pertama (Dikma) sampai periode Dharma Bakti (Pati).

Pembinaan karir Perwira unggulan itu dilaksanakan untuk mendapatkan figur kader calon pemimpin TNI AL yang memiliki tiga karakter utama: bermoral, profesional, dan berani. Mereka dipersiapkan dan dibina sejak dini, bertahap, dan berkesinambungan, sehingga nanti dapat menjadi pemimpin yang mampu menjawab tantangan dan permasalahan global organisasi TNI AL, yang semakin kompleks.

Widodo menyimpulkan, berdasarkan evaluasi secara komprehensif, Program Pembinaan Karir Perwira Unggulan di TNI AL ternyata berdampak positif terhadap peningkatan karir prajurit secara individual. Hal ini secara sistemik juga ikut berpengaruh pada peningkatan kesejahteraan keluarga.

Selain itu, program ini juga berdampak pada kemajuan organisasi TNI AL, baik secara nasional maupun internasional. Para Perwira Unggulan TNI AL telah mampu menempatkan dirinya sebagai pelopor utama bagi kemajuan organisasi TNI AL. TNI AL selama ini telah berhasil memperkuat perannya dalam menjalankan pembangunan kekuatan pertahanan matra laut yang berkelas dunia, dan telah pula mendapatkan pengakuan dari berbagai negara di dunia.

Menurut Widodo, Program Pembinaan Karir Perwira Unggulan itu patut diapresiasi dan dilanjutkan, dengan penyempurnaan pada sistem, prosedur, materi maupun perangkat lainnya, yang dilakukan secara bertahap, periodik, dan berkelanjutan.

Melalui penyempurnaan itu, akan diperoleh banyak kader Perwira Unggulan TNI AL yang terbina dengan baik, sebagai strategi dalam mempersiapkan calon pemimpin TNI AL yang bermoral, profesional, dan berani. Sehingga organisasi TNI AL tetap andal, disegani, dan berkelas dunia.

Semangat kebaharian Widodo ternyata “terwariskan” ke tiga anaknya. Anak pertama menjadi dokter gigi dan bertugas di TNI AL. Anak kedua menikah dengan seorang Marinir TNI AL. Sedangkan anak termuda kini menjadi Taruna TNI AL. Padahal Widodo tidak pernah mengarahkan atau memaksa anaknya untuk masuk TNI AL.

Berbagai bintang jasa dan tanda penghargaan telah diterima Widodo, di sepanjang karirnya di TNI AL. Termasuk Satya Lencana Wira Karya dan Satya Lencana Dharma Nusa. Namun, cita-cita lama tetap memanggil. Sesuai minatnya, Widodo mencanangkan, akan menjadi dosen di Universitas Pertahanan, jika dia sudah pensiun nanti. ***

Jakarta, Januari 2017

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI