Persaingan AS-Rusia di Indo Defence 2016

Oleh: Satrio Arismunandar

Terselenggaranya pameran industri pertahanan dan keamanan berskala internasional, Indo Defence 2016 Expo & Forum di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, telah mengangkat persaingan antara industri pertahanan Amerika Serikat (AS) dan Rusia, dalam memperebutkan pasar bagi produk-produknya di Indonesia.

Indo Defence, yang berlangsung pada 2-5 November 2016, adalah ajang promosi bagi produsen peralatan sektor pertahanan dan keamanan internasional. Tahun ini ada 844 peserta dari 45 negara, yang ikut dalam pameran dua tahunan tersebut. Seluruh peserta berasal dari 573 perusahaan asing dan 271 perusahaan dalam negeri.

Instansi pemerintah juga ikut ambil bagian dalam pameran ini. Antara lain: Badan Keamanan Laut (Bakamla), Badan SAR Nasional, BPPT, LIPI, LAPAN, TNI, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian Perindustrian.

Perusahaan asing yang ikut memamerkan produknya, antara lain: Airbus, Arsenal, Avibraz, Brahmos Aerospace, Beretta Defence Technologies, Boeing Defence, Space & Security, China Aerospace, Daewoo Ship Building & Marinne Engineering, Damen Schelde, General Dynamics, Lockheed Martin, Norinco, Optix, Rheinmetall, Roketsan, Rosoboronexport, SAAB dan Thales.

Pengamat pertahanan dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) Kusnanto Anggoro menyebut, Indo Defence 2016 merupakan ajang perlombaan antara perusahaan persenjataan luar negeri untuk merebut pangsa pasar Indonesia. “Dibandingkan AS, belakangan ini Rusia terlihat lebih gencar menawarkan produk pertahanan kepada Indonesia. Namun, Rusia belum sepenuhnya mendominasi tender di Indonesia,” ujar Kusnanto.

Patut dicatat, kehadiran industri pertahanan Rusia memang cukup masif dan menonjol di Indo Defence 2016. Kehadiran itu menunjukkan arti penting pameran ini. Lebih dari 20 perusahaan Rusia memamerkan berbagai produk unggulannya, sekaligus membahas peluang pasokan senjata ke Indonesia selama pameran.

Berbagai Produk Rusia

Keikutsertaan Rusia di Indo Defence juga diperkuat dengan datangnya salah satu kapal perang Rusia, Admiral Tributs, ke Pelabuhan Tanjungpriok, Jakarta. Kapal itu bersandar selama masa pameran. Kapal itu merupakan bagian dari Armada Pasifik Rusia. Pada awalnya, ada empat kapal yang akan didatangkan ke Indonesia. Namun, karena tiga kapal lain kemudian mendapat penugasan dari pusat, hanya Admiral Tributs yang berkunjung ke Jakarta.

Menurut Laksamana Muda Eduard Mikhallov, yang merupakan Kapten Admiral Tributs, kapal perang dengan panjang 163 meter tersebut adalah kapal yang memiliki tugas khusus, yakni memburu dan menghancurkan kapal selam musuh. Kapal ini dibangun 30 tahun lalu. Sebelum berkunjung ke Jakarta, kapal ini sudah mengalami tiga kali modernisasi. Dan, modernisasi terakhir dilakukan dua tahun lalu.

"Tugas utama kapal ini adalah mencari dan menghancurkan kapal musuh, terutama kapal selam. Kapal ini dilengkapi dengan sejumlah roket. Selain untuk mengancurkan kapal selam, kapal ini juga bertugas memberikan peringatan kepada kapal lain," sambungnya. Kapal ini dilengkapi dengan torpedo, delapan buah peluncur roket, senapan AK-100 dan AK-630M, dan roket anti-kapal selam RBU-6000. Kapal yang bisa memuat 300 awak ini juga dilengkapi dengan satu helikopter.

Yang dipamerkan oleh industri Rusia di Indo Defence, antara lain: model pesawat tempur multiperan Sukhoi Su-35, helikopter serang Ka-52, tank T-90S, kendaraan infanteri BMP-3M, kompleks rudal antipesawat Buk-M2E, kapal selam diesel Proyek 636, dan kapal patroli (fregat) Proyek 11356. Selain itu, Rosoboroneksport bersama pihak Indonesia juga memamerkan replika kendaraan tempur infanteri BMP-3F, yang tergabung ke dalam TNI Angkatan Laut, dalam ukuran riil.

Di Indo Defense 2016, delegasi Rusia ingin mendapat kepastian tentang rencana Indonesia membeli pesawat tempur Sukhoi Su-35, yang sudah diputuskan pemerintah. TNI AU ingin mengganti jajaran pesawat tempur tua F-5E Tiger II miliknya dengan pesawat tempur baru yang lebih canggih. Petinggi TNI AU dikabarkan sangat meminati Su-35, namun kontrak pembelian resmi belum ditandatangani. Sementara itu, para pesaing Rusia juga berupaya mendekati pemerintahan Joko Widodo dengan tawaran-tawaran menarik.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Y. Galuzin membeberkan apa saja yang ditawarkan Rusia dalam ajang pameran tersebut. Dia menyebut, hampir semua peralatan dan persenjataan Rusia dipamerkan di Indo Defence 2016. Rusia dikenal sebagai salah satu negara produsen peralatan militer terbaik di dunia.

Hubungan Baik Indonesia-AS

"Peralatan perang yang paling jadi andalan, meliputi kapal selam baru Rusia, Varshavyanka 636 Project atau Improved Kilo, kapal laut, kapal patroli, dan mobil amfibi. Selain kendaraan tempur untuk Angkatan Laut, kami juga membawa pesawat Sukhoi Su-35, Su-30, dan pesawat latih Yakovlev Yak-130," kata Galuzin.

"Selain itu, ada juga tank T-90, mobil lapis baja pembawa senjata BTR-80, serta dua sistem pertahanan, yakni S-300 dan S-400," sambungnya pada 2 November. Dua sistem pertahanan tersebut diklaim Rusia sebagai sistem pertahanan udara paling canggih dan terbaik di dunia saat ini.

Delegasi Rusia dalam Indo Defence 2016 dipimpin oleh Wakil Direktur Layanan Federal untuk Kerjasama Teknik-Militer (FSMTC) Mikhail Petukhov. Selain menghadiri Indo Defence 2016, ia juga diharapkan bertemu dengan para pejabat militer dan pasukan keamanan Indonesia.

Tak mau kalah dari Rusia, sekitar 50 perusahaan AS terlibat dalam pameran Indo Defence 2016. Sejumlah nama besar seperti Lockheed Martin dan Boeing turut serta dalam pameran dua tahunan tersebut. Menurut Wakil Duta Besar AS untuk Indonesia, Brian McFeeter, walaupun semua perusahaan yang terlibat adalah perusahaan swasta, semua kesepakatan yang terjadi tetap menunjukkan hubungan baik antara Indonesia dan AS.

"Hampir 50 perusahaan Amerika yang diwakili di sini, ini menjadi perusahaan canggih di AS. Ada teknologi yang baik, ada kapabilitas yang baik, dan ada perusahaan yang sedang menjual peralatan militer ke Indonesia. Ada juga yang mungkin belum ada penjualan, tapi sedang cari kesempatan," kata McFeeter.

"Ini satu contoh kerjasama yang baik antara Amerika dan Indonesia, tapi perusahaan ini swasta bukan pemerintah. Tergantung dari perusahaan masing-masing untuk membuat perjanjian pembelian alat dengan pemerintah Indonesia," sambungnya, pada 3 November.

Dia menambahkan, mayoritas yang ditampilkan perusahaan AS dalam pameran ini adalah produk-produk terbaru dan paling canggih. Diharapkan pemerintah Indonesia akan tertarik membeli sejumlah peralatan atau senjata dari perusahaan AS. "Beberapa perusahaan disini menampilkan peralatan militer terbaru, ada Boeing di sini, ada Lockheed Martin. Pada dasarnya mereka menampilkan apa yang mereka miliki untuk menjadi acuan pemerintah Indonesia," tukasnya.

Pesawat Tempur F-16V Viper

Jika Rusia dengan gencar menawarkan pesawat tempur Sukhoi Su-35, AS menawarkan pesawat F-16 varian terbaru, yakni F-16 Viper atau F-16V. Setiap pengunjung di pameran Indo Defence yang mendatangi stan Lockheed Martin bisa merasakan simulasi terbang di kokpit F-16V. Dengan arahan dari teknisi F-16V, pengunjung diberi kesempatan untuk bermanuver hingga 360 derajat mengunakan pesawat tempur generasi keempat itu.

Indonesia akan menjadi negara pertama di luar Amerika yang memiliki pesawat F-16V, jika kesepakatan antara Indonesia dan Lockheed Martin jadi tercapai. "Jika Indonesia memutuskan untuk membeli pesawat ini, Indonesia akan menjadi negara asing pertama yang memilikinya. Ini adalah pesawat generasi terbaru," kata Mcfeeter.

Dia mengatakan, ada sejumlah fitur baru dalam generasi terbaru keluarga F-16 tersebut. Salah satunya adalah pada fitur keselamatan. Pesawat itu akan membenarkan posisi secara otomatis jika pesawat tersebut meluncur drastis, dan hampir menyentuh tanah.

Hal senada disampaikan oleh Lockheed Martin. Pihak pengembang F-16 itu mengatakan, F-16V mampu terbang lebih cepat, memiliki daya jangkau lebih jauh, dan menggunakan bahan bakar lebih sedikit. F-16V memiliki kemampuan menanjak dan berputar dengankecepatan maksimum hingga 2.414 km/jam. Selain itu, F-16V juga dilengkapi dengan conformal fuel tanks yang mampu menampung bahan bakar cadangan lebih banyak. Ia juga dilengkapi payload senjata lebih besar serta tempat senjata yang lebih banyak.

"F-16V adalah pesawat generasi terbaru, dan paling canggih. Pesawat ini memiliki semua teknologi yang kita kembangkan dalam 10 hingga 15 tahun terakhir. Pesawat ini memiliki bagian terbaik dari F-35, atau F-27," ucap Divisi Pengembangan Bisnis F-16 Lockheed Martin Aeronautics, Randy Howard.

F-16V diperkenalkan pertama kali pada ajang Singapore Air Show 2012. Secara umum, sebanyak 25 negara telah menggunakan pesawat tempur F-16. Howard menjelaskan, sejak 2015, Pemerintah RI sudah beberapa kali meminta rincian F-16V, melalui hubungan dengan Pemerintah AS. Saat ini TNI AU memiliki satu skuadron F-16A/B di Skuadron Udara 3 Madiun, Jawa Timur. Sejak 2013, Indonesia mendapatkan hibah 24 F-16 C/D Blok 52 secara bertahap. Sebanyak 16 unit di antaranya akan mengisi Skuadron Udara 16 Pekanbaru.

Direktur Misi Maritim dan Mobilitas Udara Internasional Lockheed Martin Aeronautics, Richard Johnston, juga memperkenalkan pesawat angkut jenis Hercules C-130J. Menurut Johnston, C-130J merupakan pesawat yang cocok untuk Indonesia, yang banyak melakukan misi kemanusiaan. Seperti: penyelamatan korban bencana alam, pengiriman bahan logistik, hingga memadamkan kebakaran hutan. Hal ini karena C-130J memiliki kapasitas muatan lebih besar dan mampu mendarat di berbagai kondisi medan, seperti di wilayah bencana alam.

AS dan Rusia tidak bersaing sendirian, karena industri pertahanan dari negara lain juga tak mau ketinggalan. Produsen pesawat terkemuka seperti SAAB dari Swedia, dan Eurofighter dari konsorsium Eropa, semuanya juga hadir di Indo Defence. Mereka semua menawarkan pesawat produksinya, ketika TNI AU sedang mencari pengganti armada pesawat tempur F-5E Tiger II yang sudah uzur.

Typhoon dan Gripen NG

Jika AS dan Rusia berturut-turut menawarkan F-16V dan Sukhoi Su-35, konsorsium Eropa, Eurofighter, menawarkan pesawat tempur Typhoon. Sedangkan SAAB Swedia menawarkan JAS-39 Gripen NG.

Setiap tawaran ini sekarang harus mematuhi Undang-undang Industri Pertahanan, yang dengan tegas menyatakan, TNI dan Polri harus menggunakan peralatan pertahanan dan keamanan buatan dalam negeri, selama masih bisa dibuat oleh industri pertahanan Indonesia. Jika spesifikasi teknis peralatan pertahanan dan keamanan yang dibutuhkan TNI dan Polri belum dapat diproduksi di Indonesia, mereka boleh membeli dari luar negeri dengan sejumlah persyaratan.

Ayat 5 Pasal 43 UU Industri Pertahanan menyebutkan, persyaratan itu adalah mengikutsertakan industri pertahanan dalam negeri. Ditambah, harus ada kewajiban alih teknologi, jaminan tidak adanya embargo, adanya imbal dagang, kandungan lokal, dan atau offset paling rendah 85 persen, dan pemberlakuan offset paling lama 18 bulan. Offset pertahanan adalah kompensasi yang diberikan industri pertahanan (luar negeri) terhadap negara pembeli produk (Indonesia).

Menyadari ketentuan offset dari UU Industri Pertahanan Indonesia, para pesaing ini menawarkan paket offset, transfer teknologi, dan partisipasi industri pertahanan lokal dalam tawaran produknya. Eurofighter pada April 2015 mengisyaratkan, jika Indonesia membeli pesawat Typhoon, pihaknya dapat mendirikan fasilitas perakitan pesawat Typhoon di Indonesia.

Sementara itu, Swedia menawarkan JAS-39 Gripen NG (Next Generation) dan sistem radar airborne GlobalEye AEW&C ke Indonesia. SAAB bukan sekadar menawarkan produk, tetapi juga akses pada teknologi SAAB lewat kerjasama dan transfer teknologi. “Dengan akses ke teknologi yang kami miliki dan dukungan dari kami, keinginan suatu negara membangun kemampuan dan kekuatannya dapat dicapai secara efektif,” kata Kepala Kerja Sama Industri SAAB, Eva Soderstrom, pada Mei 2016.

SAAB memiliki model kerja sama industri dengan negara pembeli produknya. Model kerja sama ini dinamai triple helix, yakni platform kerja sama yang melibatkan perguruan tinggi, industri lokal, dan badan pemerintah. SAAB sudah melakukan kerja sama industri dengan tak kurang dari 30 negara. Salah satu yang terbesar adalah Brasil, yang membeli 28 Gripen NG dan 8 Gripen F.

Saat ini ada 350 insinyur asal Brasil yang ikut terlibat langsung dalam pembuatan Gripen NG dan Gripen F. SAAB dan industri pertahanan Brasil membangun pabrik dan fasilitas produksi Gripen di kota Gavio Peixoto, Brasil. SAAB juga membangun fasilitas uji coba penerbangan di sini. SAAB bersama Brasil tengah merancang desain pesawat tempur masa depan.

Indonesia juga mendapat tawaran kerjasama offset yang cukup menggiurkan dari SAAB, jika mau membeli Gripen. Bagi SAAB, kerja sama dengan industri pertahanan lokal telah menjadi kunci sukses pertumbuhan bisnis mereka. Terbukti, pesanan yang belum terselesaikan pada 2015 mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah SAAB, yakni senilai 13 miliar dollar AS.

Persaingan AS, Rusia, Swedia, dan konsorsium Eropa belum lagi memperhitungkan pemain lain, seperti China dan Korea Selatan. Indonesia sudah banyak menggunakan produk pertahanan dari dua negara Asia ini, mulai dari pesawat latih, rudal antikapal, kapal selam, meriam penangkis serangan udara, dan sebagainya. Cuma, dalam hal pesawat tempur calon pengganti F-5E Tiger II, kedua negara ini memang belum bisa menawarkan alternatif yang canggih. ***

Jakarta, November 2016
Ditulis untuk Majalah DEFENDER

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI