Posts

Showing posts from May, 2017

Puisi - Pendusta Agama dan Pemulia Agama

Oleh: Satrio Arismunandar

Tahukah engkau
Siapa sesungguhnya
yang disebut pendusta agama itu?
Orang yang menghardik anak yatim
Yang tidak mendorong orang
untuk memberi makan orang miskin

Rumusan yang sangat sederhana
mudah dipahami
tidak sulit dimengerti
sekaligus juga sangat konkret
Mungkin ini kehendak Tuhan
agar kita manusia mudah menerapkannya

Tuhan tak ingin kita berdalih
di balik kerumitan kalimat dan kata-kata
Tuhan tak ingin kita lari menghindar
dari tanggung jawab moral di depan mata
Tuhan tak ingin kita beralasan
untuk tidak melakukan apa-apa
karena manusia dinilai dari perbuatannya

Jika tak mendorong orang
untuk memberi makan orang miskin
itu kau sebut mendustai agama
Sebutan apa yang kau berikan
untuk orang yang membuat warga jadi miskin?

Orang yang memanipulasi warga bodoh
dan bukan mencerdaskannya
Menyuruh warga melakukan ini-itu
sementara yang menyuruh tidak menjalankan suruhannya
Menindas warga lemah
dan bukan memberdayakannya

Merampas hak-hak warga
yang sudah hampi…

Upaya Memperbarui Demokrasi Pancasila (Tanggapan buat Denny JA)

Image
Oleh: Satrio Arismunandar

Sesudah sekian lama kita tidak bicara tentang ideologi, apalagi ideologi yang secara spesifik kita namai “Demokrasi Pancasila,” rasanya menyegarkan membaca bahwa Denny JA mengangkat lagi topik ini. Apapun latar belakangnya, karena isu ini bersifat cukup strategis bagi masa depan bangsa, inisiatif Denny patut kita apresiasi.

Dulu pernah ada polemik cukup ramai. Tidak persis tentang ideologi Demokrasi Pancasila, tetapi tentang sesuatu yang lebih operasional atau turunan dari ideologi, yakni sistem “Ekonomi Pancasila.” Topik ini muncul dan dipelopori oleh ekonom senior UGM, Prof. Dr. Mubyarto. Namun, para ekonom dari UI, yang cukup dominan di pemerintahan Orde Baru waktu itu, tampaknya tidak cukup mengapresiasi gagasan Mubyarto.

Inisiatif Denny tidak muncul dari awang-awang, namun bersentuhan dengan konteks aktualitas, yakni Pilkada DKI Jakarta 2017 yang baru saja berlalu. Pilkada yang oleh sebagian kalangan disebut sebagai Pilkada yang paling brutal, vulgar, ka…