Puisi - Pendusta Agama dan Pemulia Agama

Oleh: Satrio Arismunandar

Tahukah engkau
Siapa sesungguhnya
yang disebut pendusta agama itu?
Orang yang menghardik anak yatim
Yang tidak mendorong orang
untuk memberi makan orang miskin

Rumusan yang sangat sederhana
mudah dipahami
tidak sulit dimengerti
sekaligus juga sangat konkret
Mungkin ini kehendak Tuhan
agar kita manusia mudah menerapkannya

Tuhan tak ingin kita berdalih
di balik kerumitan kalimat dan kata-kata
Tuhan tak ingin kita lari menghindar
dari tanggung jawab moral di depan mata
Tuhan tak ingin kita beralasan
untuk tidak melakukan apa-apa
karena manusia dinilai dari perbuatannya

Jika tak mendorong orang
untuk memberi makan orang miskin
itu kau sebut mendustai agama
Sebutan apa yang kau berikan
untuk orang yang membuat warga jadi miskin?

Orang yang memanipulasi warga bodoh
dan bukan mencerdaskannya
Menyuruh warga melakukan ini-itu
sementara yang menyuruh tidak menjalankan suruhannya
Menindas warga lemah
dan bukan memberdayakannya

Merampas hak-hak warga
yang sudah hampir tak punya apa-apa
dan bukan memberikan hak-hak mereka
Mengeksploitasi kerentanan mereka
yang sudah nyaris di bibir jurang
dan bukan menyelamatkannya

Yang menciptakan sistem pemiskinan
sehingga warga selalu terpuruk di sana
Yang membangun struktur ketidakberdayaan
sehingga warga tak sanggup bangkit dari sana
Yang menutup pintu bagi peluang perubahan
sehingga menjadikan status quo sebagai satu-satunya pilihan

Kau tak pernah menyebut mereka pendusta agama
karena senyum mereka amat manis
karena mereka tak jarang tampil agamis
karena mereka mengaku kaum reformis
karena mereka selalu bicara santun
karena untuk kamu mereka royal dan penyantun

Dan manakala topeng kemunafikan mereka robek
Kebusukan mereka terungkap
Kejahatan mereka tersibak
Penipuan mereka terpapar
Kekejian mereka jadi terbuka

Mereka berlindung di belakang ayat-ayat Tuhan
berlindung dengan simbol-simbol kesucian
seolah-olah Tuhan bisa ditipu
dan mau diajak sekongkol dengan mereka

Mereka bernaung di bawah kerumitan sistem
Seolah-olah kompleksitas sistem nonpersonal itu
bukan mereka sendiri yang ciptakan
Mereka bersembunyi di balik pasal-pasal hukum
yang penafsirannya mereka mainkan
sehingga rekayasa kejahatan mereka seolah sah dan legal

Aku tidak mau terima itu
Aku tak ingin terlibat di situ
Aku marah melihat semua itu
Aku akan rombak habis semua kebobrokan itu
Aku akan robohkan kuil pemujaan kedurjanaan itu

Namun manakala aku memberantas korupsi
memotong para durjana dari sumber lahan pencuriannya
memangkas anggaran tipu-tipu mereka
Pernahkah kau sebut aku pemulia agama?

Manakala aku menolak berkompromi
dengan iming-iming suap
dan uang yang royal ditawarkan padaku
Pernahkah kau sebut aku pemulia agama?

Manakala aku menegakkan aturan birokrasi
dan aku paksa para pegawai feudal korup
yang sok jadi raja-raja kecil itu
berubah menjadi pelayan masyarakat
sebagaimana tugas mereka, yang seharusnya
Pernahkah kau sebut aku pemulia agama?

Manakala aku membubarkan lokalisasi pelacuran
memulangkan para pelacurnya
menjadikan tempat itu taman-taman asri
tempat bermain anak-anak
tempat mereka bergembira dan bersuka ria
Pernahkah kau sebut aku pemulia agama?

Tetapi kau lebih suka
menyebut aku muka babi
memanggil aku mulut jamban,
mulut comberan

Kau kerahkan massa untuk menekanku
Kau mobilisasi kerumunan untuk memenjarakanku
Kau plintir ucapanku, untuk memfitnahku
Kau mainkan kampanye masif untuk menjegalku
Seolah tak ada sedikit pun kebaikanku
Seolah aku hanya iblis dan setan di matamu

Kau lebih suka menyebutku antek ini, antek itu
Kau menikmati, bisa menyebutku kafir
dan menyumpahi aku masuk neraka
Kau mendoakan hidupku berakhir nestapa
Kau senang melihat aku susah dan menderita
Kau tak puas sebelum menghancurkanku

Namun, biarlah aku remuk redam
Aku terima sebutan, umpatan dan makian itu
aku mungkin memang pantas menerima itu
dan kuakui, aku juga bukan malaikat
aku bukan tanpa noda dan dosa
bukan tanpa cacat cela
aku tidak sempurna

Maka kalau kau hina aku
tidak apa-apa
Kalau kau cerca dan maki aku
aku akan terima saja
Kalau kau ludahi aku
aku pun pasrah saja

Tapi izinkanlah aku berbuat sesuatu
Melakukan kebaikan yang tidak seberapa
kau boleh menyebutnya begitu
dan aku pun tak ingin mengklaim lebih

Karena dalam kesemestaan ruang dan waktu
yang tak bisa terukur luasnya
yang jutaan tahun rentangnya
pada akhirnya semua akan terasa tak berarti
semuanya terasa fana

Aku dan perbuatanku
hanya seperti setetes air di tengah samudera
Aku dan kiprahku
tak ubahnya sebutir pasir di gurun sahara
Aku dan pikiranku pun teredam
tak sanggup bersuara dalam kesenyapan semesta

Tetapi mungkin
dan sekali lagi, ini cuma mungkin
Dalam kesemestaan yang luasnya tak terhingga
dalam kerlap-kerlip miliaran bintang
yang terpisah jarak jutaan tahun cahaya
ada setitik harapan tertera

Kebaikan kecilku yang tak seberapa itu
yang hanya seperti sebuah noktah kecil
bahkan noktah dari noktah kecil
kuharap masih ada artinya

Dalam kemaharajaan konstelasi bintang-bintang
kedahsyatan galaksi dan supergalaksi
dengan ratusan miliar bintang di dalamnya
yang tak terpantau batas-batasnya
Aku sebetulnya bisa kau lupakan
sama seperti hal-hal lain
yang cepat atau lambat akan kau lupakan

Tapi toh aku masih ingin dikenang
bukan karena perjuanganku yang agung
bukan karena perbuatan besarku
bukan juga karena kehebatan kiprahku
tapi karena sebuah noktah kecil
noktah dari noktah kecil
itu saja sudah cukup


Depok, Mei 2017

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)