<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575</id><updated>2012-02-16T20:46:19.194-08:00</updated><title type='text'>Satrio Arismunandar - buat para rajawali dan pengembara sejati ......</title><subtitle type='html'>Buat rajawali-rajawali....
dan para pengembara sejati.... 

Sobatku, blog sederhana ini berisi berbagai karya tulis saya, selaku jurnalis profesional maupun pribadi. Maka, isinya pun bervariasi. Mulai dari artikel yang pernah dimuat di media, sampai cerpen dan puisi yang bernapaskan pribadi.... 

Semoga ada manfaatnya buat siapa pun yang mampir di blog ini... Karya yang tidak memberi manfaat sedikitpun bagi orang lain, adalah sebuah kesia-siaan ....</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>380</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-13761276180037269</id><published>2012-01-29T20:39:00.000-08:00</published><updated>2012-01-29T20:39:34.617-08:00</updated><title type='text'>Pemanfaatan Tools ICT dan Internet  untuk Bidang Pendidikan - Sebuah Pengantar</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-YnXS-k1kiMM/TyYdu1GwuFI/AAAAAAAABho/3vMX-Fjvpio/s1600/comp4.png" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="400" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-YnXS-k1kiMM/TyYdu1GwuFI/AAAAAAAABho/3vMX-Fjvpio/s400/comp4.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Oleh Satrio Arismunandar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) dan Internet dalam dunia pendidikan kini adalah suatu keniscayaan. Sulit membayangkan, bagaimana sistem pendidikan modern dapat berlangsung saat ini tanpa memanfaatkan ICT dan Internet, dengan berbagai tools atau perangkat aplikasinya. Sama halnya, sulit membayangkan adanya pertumbuhan industri manufaktur tanpa dukungan pasokan energi listrik, jika kita boleh beranalogi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena begitu luas dan begitu banyaknya ragam pemanfaatan tools untuk bidang pendidikan di Internet, tulisan singkat ini tidak dimaksudkan untuk memberi ulasan yang sangat lengkap dan rinci. Namun, tulisan ini lebih merupakan pengantar, untuk melihat berbagai aspek dari pemanfaatan ICT dan Internet dalam dunia pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya lebih terfokus maka tulisan ini menggunakan perspektif Sistem Informasi Manajemen (SIM). Yakni, penulis mencoba melihat bagaimana sekolah, akademi, universitas, atau lembaga-lembaga pendidikan umumnya dapat memperoleh manfaat yang signifikan dari berbagai tools ICT dan Internet, terutama dalam pengelolaan organisasi dan upaya memajukan lembaga-lembaga tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Data, Informasi, dan Sistem Informasi Manajemen&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem informasi pada suatu lembaga pendidikan secara teknis dapat dirumuskan sebagai seperangkat komponen-komponen yang saling berhubungan, yang mengumpulkan (atau mengumpulkan-kembali), memroses, menyimpan, dan mendistribusikan informasi, untuk mendukung pengambilan keputusan dan kontrol pada organisasi pendidikan bersangkutan. Selain itu, sistem informasi juga dapat membantu praktisi pendidikan untuk menganalisis problem, memvisualisasikan masalah-masalah pendidikan yang rumit, dan menciptakan materi-materi pendidikan yang terkait dengan kegiatan belajar-mengajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem informasi manajemen (SIM) adalah suatu fungsi yang sangat penting bagi keberhasilan organisasi lembaga pendidikan. SIM berurusan dengan perencanaan, perkembangan, pengelolaan, dan penggunaan tools ICT dan Internet, untuk membantu pengelola lembaga pendidikan dalam melaksanakan semua tugas, yang terkait dengan pemrosesan informasi dan manajemen di lembaga pendidikan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka SIM berkaitan dengan koordinasi dan penggunaan dari tiga sumberdaya organisasi pendidikan yang sangat penting, yaitu: informasi, manusia, dan ICT/Internet. Jika diungkapkan dengan cara lain, manusia menggunakan ICT/Internet untuk bekerja dengan informasi. Dan, untuk melakukan kerja tersebut, mereka terlibat dalam SIM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif ini, informasi merupakan sumberdaya kunci. Sebelum beranjak lebih jauh, penulis akan mencoba menjelaskan apa yang dimaksud dengan data, informasi, dan pengetahuan (knowledge). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Data&lt;/b&gt; adalah fakta-fakta mentah yang menggambarkan suatu fenomena tertentu. Misalnya, jumlah siswa, usia siswa, tahun kelulusan, jumlah kelulusan tiap tahun, dan sebagainya. “Data” adalah istilah jamak. Istilah tunggalnya adalah “datum.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Informasi&lt;/b&gt; adalah data yang memiliki makna tertentu dalam konteks yang spesifik. Jumlah kelulusan tiap tahun menjadi informasi, ketika kita ingin mengetahui seberapa serius problem mahasiswa yang putus kuliah atau tidak mampu melanjutkan pendidikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan, &lt;b&gt;pengetahuan&lt;/b&gt; (knowledge) adalah sesuatu yang dibangun dari data dan informasi, dengan berbagai kaitannya, sehingga kita mendapatkan pemahaman yang lebih lengkap dan lebih utuh.   Pengetahuan adalah istilah yang luas, yang bisa melukiskan banyak hal. Ia dapat memberi penjelasan kontekstual. Ia juga bisa memberi arahan bagi tindakan yang perlu dilakukan. Seorang praktisi pendidikan dapat memperoleh pengetahuan, melalui pengalaman selama bertahun-tahun berurusan dengan berbagai data dan informasi pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;World Wide Web dan Internet&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;World Wide Web, atau sering disebut Web saja, adalah koleksi informasi dan layanan yang berbasis multimedia, dan didukung oleh Internet. Internet itu sendiri adalah jejaring (network) komputer yang sangat besar, yang menghubungkan jutaan orang di seluruh dunia. Banyak sekolah dan lembaga pendidikan kini telah mengkoneksikan jejaring internalnya ke Internet. Internet dengan seluruh infrastruktur teknologinya adalah yang memungkinkan adanya Web. Banyak orang sering menyamakan Web dengan Internet, meski sebenarnya keduanya tidak sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perangkat lunak Web browser memungkinkan kita menjelajahi Web.  Ketika kita melihat situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, misalnya, kita menggunakan Web browser.  Web browser yang paling populer di Indonesia saat ini adalah Internet Explorer (buatan Microsoft) dan Mozilla Firefox. Internet Explorer biasanya menjadi standar di sebagian besar komputer yang kita beli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa tahun terakhir, Web telah berkembang dari platform teknologi-tarik (pull technology) dan informasi statik ke bentuk yang lebih interaktif, dengan informasi yang terus-menerus berubah dan dinamis. Web 2.0 (Live Web) adalah yang sering disebut Web generasi kedua, dan berfokus pada kolaborasi online, pengguna sebagai pencipta dan pemodifikasi konten, pasokan informasi yang dinamis dan disesuaikan dengan keinginan pengguna (customized), dan banyak layanan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah beberapa tools yang dapat dimanfaatkan oleh mereka yang bergelut di dunia pendidikan. Tools ini tentu tidak eksklusif hanya untuk bidang pendidikan, karena pada dasarnya tools ini bersifat terbuka, dan bisa digunakan oleh siapa saja untuk berbagai tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Beberapa Contoh Tools dan Kaitan Dunia Pendidikan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Search engine&lt;/b&gt; atau “mesin pencari” adalah fasilitas di Web yang dapat membantu mahasiswa atau dosen dalam menemukan situs-situs, dengan informasi atau layanan yang mereka butuhkan. Ada banyak search engine di Web. Misalnya, yang cukup populer di Indonesia adalah Yahoo! (www.yahoo.com) dan Google (www.google.com).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Social networking site&lt;/b&gt; (situs jejaring sosial) adalah situs di mana mahasiswa, dosen, atau praktisi pendidikan dapat memposting informasi, menciptakan jejaring dengan rekan atau kolega, membaca tentang orang lain, berbagi konten atau informasi (termasuk foto dan video), dan berkomunikasi dengan orang lain. Facebook dan Myspace adalah contoh situs jejaring sosial yang populer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Weblog&lt;/b&gt; atau sering disebut blog saja adalah sebuah situs Web, yang berbentuk mirip jurnbal. Pada blog tersebut, mahasiswa, dosen, atau praktisi pendidikan dapat memposting, makalah, skripsi, karya ilmiah, tugas kuliah, materi pengajaran, dan berbagai bentuk tulisan lain dalam urutan kronologis. Tools ini juga memungkinkan orang lain untuk melihat isi blog kita dan memberi komentar atas berbagai materi yang diposting di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;RSS feed&lt;/b&gt; adalah teknologi yang menyediakan berbagai konten digital, yang sering dipublikasikan dan diperbaui (di-update) di Web. Jika mahasiswa, dosen atau praktisi pendidikan berlangganan pada sebuah RSS feed dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, misalnya, mereka dapat mengintegrasikan konten itu ke dalam browser Web, dan secara terus-menerus mereka akan memperoleh informasi tentang berita-berita seputar dunia pendidikan Indonesia yang diperbarui. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Podcasting&lt;/b&gt; adalah istilah yang diturunkan dari gabungan iPod dan broadcasting. Podcasting biasanya mengacu ke kemampuan untuk setiap saat men-download file-file audio dan video, untuk ditonton dan didengarkan, dengan menggunakan piranti pendengar portabel dan komputer personal. Dengan kemampuan ini, mahasiswa, dosen, dan praktisi pendidikan dapat memperoleh file-file audio dan video, yang kontennya berkaitan dengan proses belajar-mengajar serta berbagai materi pendidikan lainnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Decision support-systems (DSS)&lt;/b&gt; adalah sistem informasi pada tingkat manajemen organisasi, yang mengkombinasikan data dan model-model analitis yang canggih atau tools analisis data untuk mendukung pengambilan keputusan yang semi-terstruktur dan tidak terstruktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Executive support system (ESS)&lt;/b&gt; adalah sistem informasi  di tingkatan strategis organisasi, yang dirancang untuk menangani pengambilan keputusan yang tidak terstruktur, melalui grafis yang canggih dan komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Beberapa Dampak ke Organisasi Lembaga Pendidikan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem informasi dengan berbagai tools-nya telah menjadi bagian yang integral, online, dan interaktif, yang secara mendalam terlibat dalam pengoperasian dari menit-ke-menit serta pengambilan keputusan di organisasi-organisasi besar, seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, universitas, lembaga penelitian, dan sebagainya. Tentunya ada berbagai dampak dari penggunaan tools tersebut di lembaga-lembaga pendidikan. Dampak itu antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengurangan Biaya:&lt;/b&gt; ICT dengan berbagai tools-nya dapat dipandang sebagai faktor produksi, yang menggantikan atau mensubstitusi modal dan tenaga kerja tradisional. ICT dapat mengurangi biaya transaksi dan biaya manajemen internal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penyusutan Ukuran dan Pengurangan Tingkatan Hirarki:&lt;/b&gt; Organisasi model lama yang berukuran besar dan birokratis sering tidak efisien, lamban untuk berubah, dan kurang kompetitif dibandingkan organisasi yang baru diciptakan. Berkat penerapan ICT dengan berbagai tools-nya, organisasi gemuk semacam ini dapat disusutkan ukurannya, dikurangi jumlah karyawannya, dan berkurang pula tingkatan hirarki organisasionalnya.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Meningkatkan Keluwesan:&lt;/b&gt; ICT dengan berbagai tools-nya membantu lembaga pendidikan untuk berorganisasi secara lebih luwes (fleksibel). Serta meningkatkan kemampuan organisasi pendidikan untuk merasakan dan menanggapi tuntutan perubahan-perubahan karena kondisi lingkungan, serta menangkap peluang-peluang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengurangi Ketidakpastian Informasi:&lt;/b&gt; Salah satu kontribusi terpenting ICT dengan berbagai tools-nya adalah mengurangi ketidakpastian informasi, yang berujung pada peningkatan kualitas pengambilan keputusan di lembaga pendidikan bersangkutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sedikit contoh tentang arti penting ICT dan Internet dengan berbagai tools-nya bagi dunia pendidikan. Namun, untuk menerapkan secara penuh berbagai tools ini, agar dapat mewujudkan seluruh potensi yang dimilikinya, memang tidak bisa dilakukan seketika dan memerlukan proses yang bertahap. Selain itu, teknologi seberapa pun hebatnya bukanlah penentu, namun pada dasarnya ia hanyalah alat, yang harus diabdikan pada tujuan pendidikan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depok, 30 Januari 2012&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Daftar Pustaka&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Laudon, Kenneth C. dan Jane P. Laudon (2006). Management Information Systems: Managing the Digital Firm. Ninth Edition. New Jersey: Pearson Education International.&lt;br /&gt;Haag, Stephen, dan Maeve Cummings (2008). Management Information Systems for the Information Age. Seventh Edition. New York: McGraw-Hill/Irwin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-13761276180037269?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/13761276180037269/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=13761276180037269&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/13761276180037269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/13761276180037269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2012/01/pemanfaatan-tools-ict-dan-internet.html' title='Pemanfaatan Tools ICT dan Internet  untuk Bidang Pendidikan - Sebuah Pengantar'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-YnXS-k1kiMM/TyYdu1GwuFI/AAAAAAAABho/3vMX-Fjvpio/s72-c/comp4.png' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-7936220732825537931</id><published>2012-01-20T06:34:00.000-08:00</published><updated>2012-01-20T06:34:49.575-08:00</updated><title type='text'>Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) dalam Bidang Pendidikan - Kasus Thailand</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-2ziBmCkmiSg/Txl7Y32aXtI/AAAAAAAABhU/eqtRyNlgsCU/s1600/computer1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-2ziBmCkmiSg/Txl7Y32aXtI/AAAAAAAABhU/eqtRyNlgsCU/s400/computer1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Konten adalah Raja: Pelajaran dari Thailand&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun sesudah penerapan pada 1995, SchoolNet Thailand, sebuah proyek gabungan Pusat Teknologi Komputer dan Elektronika Nasional (NECTEC), Organisasi Telepon Thailand, Otoritas Komunikasi Thailand, dan Kementerian Pendidikan, menyadari adanya masalah yang sebelumnya tidak mereka perkirakan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah membangun jejaring infrastruktur pendidikan di Thailand yang menghubungkan 152 SMP lokal ke Internet, diketahui bahwa sekolah-sekolah itu sulit menggunakan Internet sebagai alat belajar-mengajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, kurangnya sumber online yang berkualitas untuk edukasi dalam bahasa lokal –Thai— telah mengurangi minat penggunaan Internet di kalangan siswa dan guru. Maka SchoolNetThailand harus memperluas apa yang tadinya dianggap sebagai program “akses universal,” agar mencakup pengembangan konten –disempurnakan lewat pelatihan—dalam bahasa Thai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada September 1998, SchoolNet Thailand menugaskan Universitas Kasetstart dan Institut untuk Promosi Pengajaran Sains dan Teknologi, untuk menciptakan situs Web berbahasa Thai  untuk tingkatan SMP, bagi mata pelajaran Matematika, Fisika, Biologi, Teknik, Lingkungan dan Ilmu Komputer. Secara kolektif disebut “Perpustakaan Digital,” situs-situs Web itu diluncurkan sekitar setahun kemudian.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SchoolNet Thailand juga mengembangkan aplikasi web yang mudah digunakan, yang dinamai “Tool Kit Perpustakaan Digital,” yang memungkinkan para guru untuk menciptakan materi ajar berbasis-web dalam bahasa Thai. Para guru dan siswa juga diberi instruksi tentang pengembangan halaman Web. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Mei 2001, Perpustakaan Digital sudah berisi 1.113 konten yang diciptakan hampir seluruhnya oleh para guru pengajar. Penyempurnaan proyek “Perpustakaan Digital” dilakukan dengan produksi materi pengembangan profesional multimedia, yang dinamai “Thai Teacher 2000.” Materi ini mencakup manual cetak, sebuah video tape, dan CD-ROM.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Upaya pengembangan konten SchoolNet Thailand juga mendapat manfaat dari proyek dokumentasi nasional, yang diujungtombaki oleh Komisi Budaya Nasional, yang dinamai “Sistem Informasi Budaya Thai.” Program ini dimaksudkan, antara lain, untuk mengumpulkan informasi tentang budaya Thai, dan menyebarkan informasi ini melalui CD-ROM dan Internet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, SchoolNet Thailand berbangga diri telah menghubungkan hamper 4.000 sekolah dalam jejaringnya, dengan lebih dari 900 di antaranya memilkii halaman Web sendiri dalm bahasa Thai. Thailabd berharap untuk mnemperluas ketentuan layanan Internet sekiutar 34.000 sekolah di skala nasional  dalam tsahunptahun mendatanb, dan untrujk terus memimpin dalazm pengemb angan konten lokasldi Thaoland/.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: NECTEC. (July 2002). ICT for Poverty Reduction: Examples of Programmes/Projects in Thailand, pp. 6-13. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 20 Januari 2012&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Diterjemahkan oleh Satrio Arismunandar - 081908199163&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-7936220732825537931?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/7936220732825537931/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=7936220732825537931&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/7936220732825537931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/7936220732825537931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2012/01/penggunaan-teknologi-informasi-dan.html' title='Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) dalam Bidang Pendidikan - Kasus Thailand'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-2ziBmCkmiSg/Txl7Y32aXtI/AAAAAAAABhU/eqtRyNlgsCU/s72-c/computer1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-3693181476981325500</id><published>2012-01-20T06:29:00.000-08:00</published><updated>2012-01-20T06:29:51.016-08:00</updated><title type='text'>WorLD: Pengembangan Profesi Guru sebagai Tonggak Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) dalam Pendidikan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-zlfanZJF0dw/Txl6KMkPlaI/AAAAAAAABhI/-i-zyszIL0Y/s1600/computer-15703.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="380" width="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-zlfanZJF0dw/Txl6KMkPlaI/AAAAAAAABhI/-i-zyszIL0Y/s400/computer-15703.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;WorLD: Pengembangan Profesi Guru sebagai Tonggak Penggunaan ICT dalam Pendidikan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program The World Links for Development (WorLD) dimulai di Uganda pada 1997 di bawah pengawasan Institut Bank Dunia. Tujuannya adalah untuk membantu pemerintah, untuk membawakan manfaat dari Internet dan WWW ke sekolah-sekolah menengah di suatu negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program The WoRLD memiliki tiga komponen: Konektivitas, Pelatihan, dan Pemantauan dan Evaluasi. Sementara  banyak organisasi internasional dan lokal terfokus pada pemberian teknologi ke sekolah-sekolah, WorLD selama bertahun-tahun telah membangun reputasi yang mengesankan sebagai salah satu dari penyedia utama layanan pengembangan profesi bagi guru, administratur sekolah, dan pengambil kebijakan di negara-negara berkembang di seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program Pengembangan Profesi WorLD Bagi Guru, yang disampaikan terutama lewat tatap-muka oleh pelatih internasional dan lokal, dengan online susulan, terbagi dalam lima tahap:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tahap 1. Melek Komputer&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tujuan: Untuk mengenalkan dasar-dasar teknologi komputer dan membantu peserta memperoleh pengetahuan dan keterampilan melek komputer dasar. &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Tahap 2. Pengenalan ke Internet untuk Pengajaran dan Pembelajaran &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tujuan: Mengenalkan konsep-konsep mendasar, teknologi dan keterampilan yang dibutuhkan untuk memperkenalkan teknologi jejaring dan Internet untuk pengajaran dan pembelajaran; memprakarsai diskusi tentang kemungkinan-kemungkinan baru, membangkitkan proyek-proyek email dasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tahap 3. Pengenalan ke Proyek-proyek Pembelajaran Telekolaboratif &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tujuan: Pengenalan ke telekolaborasi edukasional --dari struktur aktivitas ke penciptaan, desain, implementasi dan penyebaran proyek-proyek orisinal.&lt;br /&gt;&lt;b&gt; &lt;br /&gt;Tahap 4: Kurikulum dan Integrasi Teknologi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tujuan: Mengembangkan keterampilan dan pemahaman tentang bagaimana mencipta, memadukan dan memfasilitasi praktik-praktik ruang kelas yang inovatif, yang memadukan teknologi jejaring dan kurikulum.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Tahap 5: Inovasi: Pedagogi, Teknologi dan Pengembangan Profesi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tujuan: Mengembangkan keterampilan dan pemahaman tentang bagaimana mengevaluasi dan menyebarkan praktik-praktik ruang kelas yang inovatif, seraya menangani keprihatinan sosial dan etis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WorLD juga telah mengembangkan model-model pelatihan bagi pembuat kebijakan tentang manajemen ICT edukasional dan tentang telecenter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WoRLD saat ini aktif di lebih dari 20 negara di Afrika, Amerika Latin, dan Asia Selatan. Sudah dicanangkan untuk menggelindingkan programnya di Asia Tenggara – di Kamboja, Laos, Vietnam, Indonesia dan Filipina —pada 2003. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: WorLD. Program Profile. 2001. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Diterjemahkan oleh Satrio Arismunandar - 081908199163&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-3693181476981325500?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/3693181476981325500/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=3693181476981325500&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/3693181476981325500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/3693181476981325500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2012/01/world-pengembangan-profesi-guru-sebagai.html' title='WorLD: Pengembangan Profesi Guru sebagai Tonggak Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) dalam Pendidikan'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-zlfanZJF0dw/Txl6KMkPlaI/AAAAAAAABhI/-i-zyszIL0Y/s72-c/computer-15703.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-4411812639422041945</id><published>2012-01-20T06:23:00.000-08:00</published><updated>2012-01-20T06:25:14.474-08:00</updated><title type='text'>Apakah Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) akan Menggantikan Peran Guru?</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-bA92UZJRR4I/Txl5PQu4QDI/AAAAAAAABg8/PmeYvoxkSSA/s1600/computer_keyboard_11.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-bA92UZJRR4I/Txl5PQu4QDI/AAAAAAAABg8/PmeYvoxkSSA/s400/computer_keyboard_11.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Apakah ICT akan Menggantikan Guru?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya adalah tegas: TIDAK! Faktanya, dengan pengenalan ICT di ruang kelas, peran guru dalam proses pembelajaran bahkan menjadi lebih dipentingkan. Yang dapat dan seharusnya berubah adalah jenis peran yang dimainkan guru. Peran siswa pada gilirannya juga berkembang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ICT dapat membuka ruang kelas ke dunia luar, komunitas juga dapat memainkan peran baru di ruang kelas. Manakala pembelajaran bergeser dari “model yang berpusat ke guru” menjadi “model yang berpusat ke peserta didik,” guru tidak lagi menjadi satu-satunya suara yang memiliki otoritas dan lebih bersifat sebagai fasilitator, mentor dan pembimbing (coach) – dari “orang bijak di panggung” menjadi “pemandu di samping.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas utama guru menjadi untuk mengajari siswa bagaimana mengajukan pertanyaan dan memposisikan problem, merumuskan hipotesis, melacak informasi, dan lalu secara kritis menilai informasi yang ditemukan dalam hubungannya dengan problem yang dihadapi. Dan mengingat pembelajaran yang dikembangkan dengan ICT adalah sebuah pengalaman baru, bahkan bagi si guru sendiri, maka guru menjadi pembelajar-bersama dan menemukan hal-hal baru bersama para siswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tambahan, kini tak aneh lagi melihat siswa di dalam ruang kelas yang dilengkapi ICT, mengambil peran formal dan peran informal sebagai guru bagi rekan sebaya mereka dan siswa lain yang lebih muda. Kadang-kadang bahkan terhadap guru mereka sendiri. Guru dan siswa dari sekolah-sekolah yang berbeda, pakar materi tertentu, orangtua, komunitas dan pemimpin bisnis, politisi, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan juga jadi terlibat dalam proses pembelajaran – sebagai narasumber, pengritik, mentor, dan pemandu sorak. Mereka juga merupakan publik, yang diharapkan menjadi khalayak kritis bagi karya para siswa yang disiarkan di Web (media online) atau lewat media lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak guru enggan menggunakan ICT, khususnya komputer dan Internet. Hannafin dan Savenye menemukan beberapa alasan bagi keengganan ini, yaitu: rancangan perangkat lunak yang buruk, keraguan tentang keefektifan komputer dalam pengembangan  hasil pembelajaran, kurangnya dukungan administratif, meningkatnya waktu dan upaya yang dibutuhkan untuk mempelajari teknologi dan bagaimana menggunakannya untuk pengajaran, serta rasa khawatir kehilangan kewenangan mereka di ruang kelas, mengingat kini proses menjadi lebih terpusat pada peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu semua adalah masalah yang harus ditangani, baik oleh pendidikan guru pra-layanan (pre-service) dan program pengembangan profesi guru di dalam pelayanan (in-service), jika sekolah dan lembaga pendidikan lainnya ingin sepenuhnya mengeksploitasi komputer dan Internet sebagai alat-alat pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tingkatan layanan, pengembangan profesi guru (TPD) bidang ICT, harus bersifat jangka panjang, diarahkan oleh guru, dan seluwes mungkin. Bagi banyak guru yang berkualifikasi rendah, terlalu banyak beban kerja, dan digaji terlalu murah di negara-negara berkembang, adopsi yang efektif terhadap ICT tergantung pada peluang yang terus-menerus diberikan, untuk mempelajari apa yang perlu mereka pelajari, berdasarkan pada pengalaman dan lingkungan khususnya, manakala mereka punya waktu untuk mempelajarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insentif yang terlembagakan dan dukungan bagi para guru untuk mengikuti TPD juga sangat penting. Insentif ini mungkin berbentuk promosi bagi guru yang melakukan inovasi dengan ICT di ruang kelas, bukan sekadar menggunakan ICT. Atau, bisa juga dengan memastikan bahwa para guru memiliki akses yang memadai terhadap teknologi sesudah pelatihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 20 Januari 2012&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Diterjemahkan dan dikutip oleh &lt;b&gt;Satrio Arismunandar&lt;/b&gt; dari "ICT in Education" karya Victoria L. Tinio. Tulisan itu disusun sebagai bagian dari “ICT for Development,” proyek regional yang dilakukan oleh badan PBB, UNDP (United Nations Development Programme), Bureau for Development Policy. Yakni, melalui the Asia-Pacific Development Information Programme (APDIP) yang bekerjasama dengan Sekretariat ASEAN. Paper ini ditampilkan dalam acara the World Summit on the Information Society. ***&lt;/b&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-kzmUojEwi54/Txl4nyPlHTI/AAAAAAAABgw/oBGL6CY7kC8/s1600/computer2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="400" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-kzmUojEwi54/Txl4nyPlHTI/AAAAAAAABgw/oBGL6CY7kC8/s400/computer2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-4411812639422041945?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/4411812639422041945/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=4411812639422041945&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/4411812639422041945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/4411812639422041945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2012/01/apakah-teknologi-informasi-dan.html' title='Apakah Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) akan Menggantikan Peran Guru?'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-bA92UZJRR4I/Txl5PQu4QDI/AAAAAAAABg8/PmeYvoxkSSA/s72-c/computer_keyboard_11.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-1557487397554075869</id><published>2012-01-20T06:15:00.000-08:00</published><updated>2012-01-20T06:15:25.580-08:00</updated><title type='text'>Tantangan Utama dalam Pengintegrasian Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) pada Bidang Pendidikan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-YApUaMRGmuk/Txl28QE5JyI/AAAAAAAABgk/dnS5x3Crc6w/s1600/computer5.bmp" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="267" width="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-YApUaMRGmuk/Txl28QE5JyI/AAAAAAAABgk/dnS5x3Crc6w/s400/computer5.bmp" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Dikutip dari "ICT in Education" karya Victoria L. Tinio, yang disusun sebagai bagian dari “ICT for Development,” proyek regional yang dilakukan oleh badan PBB, UNDP (United Nations Development Programme), Bureau for Development Policy. Yakni, melalui the Asia-Pacific Development Information Programme (APDIP) yang bekerjasama dengan Sekretariat ASEAN. Paper ini ditampilkan dalam acara the World Summit on the Information Society. (Bab V, halaman 22-26).&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, penggunaan ICT dalam pendidikan harus mengikuti penggunaan dalam masyarakat, bukan mendahuluinya. Program pendidikan yang menggunakan teknologi terkini jarang mencapai kesuksesan jangka panjang. Lebih mudah dan lebih murah untuk memperkenalkan sebentuk teknologi dalam pendidikan, dan menjaganya agar tetap bekerja, di mana pendidikan itu mengikuti pembangunan skala-besar dari pemerintah atau sektor swasta. Televisi bekerja untuk pendidikan ketika ia mengikuti ketimbang mendahului penggunaan televisi untuk hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa tantangannya dalam kaitan dengan pembangunan-kapasitas? &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai kompetensi harus dikembangkan melalui sistem pendidikan bagi integrasi ICT, agar berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Guru.&lt;/b&gt; Pengembangan profesi guru harus mencakup lima hal:&lt;br /&gt;1) keterampilan dengan penerapan tertentu&lt;br /&gt;2) integrasi ke dalam kurikulum yang ada&lt;br /&gt;3) perubahan kurikulum terkait dengan penggunaan IT (teknologi informasi)&lt;br /&gt;4) perubahan dalam peran guru&lt;br /&gt;5) teori-teori pendidikan yang menyokongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealnya, hal-hal ini harus ditangani dalam pelatihan guru pra-pelayanan dan dibangun serta dikembangkan di dalam pelayanan.  Di beberapa negara, seperti Singapura, Malaysia dan Inggris, persyaratan akreditasi pengajaran mencakup pelatihan dalam penggunaan ICT. ICT  berkembang dengan sangat cepat sehingga bahkan guru-guru yang paling fasih ICT perlu terus-menerus memperbarui keterampilannya, sehingga tetap sejalan dengan perkembangan teknologi terbaru dan praktik-praktik terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara fokus pertama –keterampilan dengan aplikasi tertentu—sudah terbukti dengan sendirinya, empat hal lainnya punya arti penting yang setara, jika tidak lebih besar. Riset tentang penggunaan ICT pada setting pendidikan yang berbeda selama bertahun-tahun  menunjukkan adanya hambatan bagi keberhasilan penerapan ICT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hambatan itu adalah ketidakmampuan guru untuk memahami mengapa mereka harus menggunakan ICT dan bagaimana persisnya mereka dapat menggunakan ICT untuk membantu mereka mengajar lebih baik.  Sangat disayangkan, sebagian besar pengembangan profesi guru dalam ICT terlalu ditekankan pada aspek “pengajaran tentang alat-alat” dan kurang menekankan aspek “penggunaan alat-alat untuk mengajar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecemasan para guru bahwa posisi mereka akan digeser oleh teknologi atau kewenangannya akan hilang di dalam ruang kelas, mengingat proses belajar menjadi lebih berorientasi pada peserta didik, diakui sebagai penghambat bagi adopsi ICT. Hambatan ini hanya dapat diatasi jika guru telah memiliki pemahaman dan apresiasi tentang perubahan peran mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Administratur Pendidikan.&lt;/b&gt; Kepemimpinan memainkan peran kunci dalam integrasi ICT di bidang pendidikan. Banyak proyek ICT yang diprakarsai guru atau siswa menjadi gagal karena kurangnya dukungan dari atas. Agar program-program ICT bisa efektif dan berkesinambungan, para administratur sendiri harus kompeten dalam penggunaan teknologi. Mereka harus memiliki pemahaman yang luas tentang dimensi teknis, kurikulum, administratif, keuangan, dan sosial dari penggunaan ICT dalam bidang pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Spesialis Dukungan Teknis.&lt;/b&gt; Apakah disediakan oleh staf di dalam sekolah, atau oleh penyedia jasa dari pihak luar, atau kedua-duanya, spesialis dukungan teknis sangat penting bagi ketersediaan yang berkesinambungan dalam penggunaan ICT di sekolah bersangkutan. Persyaratan dukungan teknis  dari sebuah lembaga akhirnya memang tergantung pada apa dan bagaimana teknologi itu dikerahkan dan digunakan. Meski demikian, kompetensi umum yang dibutuhkan adalah dalam instalasi, operasi, dan pemeliharaan perlengkapan teknis (termasuk perangkat lunak), administrasi jejaring, dan keamanan jejaring. Tanpa dukungan teknis di lokasi, banyak waktu dan uang akan terbuang sia-sia akibat kegagalan teknis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Filipina, misalnya, salah satu penghambat utama pengoptimalan penggunaan komputer di sekolah menengah adalah kurangnya dukungan teknis yang sewaktu-waktu dibutuhkan. Dalam beberapa kasus ekstrem yang terjadi di sekolah-sekolah di daerah terpencil, komputer yang rusak butuh waktu berbulan-bulan untuk diperbaiki, karena tidak ada teknisi yang tersedia di lokasi berdekatan. Akibatnya, komputer itu harus dikirim ke kota terdekat yang jaraknya ratusan kilometer dari sekolah tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengembang Konten.&lt;/b&gt; Pengembangan konten adalah masalah kritis yang juga sering diabaikan. Sebagian besar materi pendidikan berbasis-ICT yang tersedia kemungkinan dalam bahasa Inggris, dan tidak begitu relevan dengan pendidikan di negara berkembang, khususnya di tingkatan sekolah dasar dan menengah (SD dan SMP).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kebutuhan untuk mengembangkan konten pendidikan yang orisinal (misalnya, program radio, materi pembelajaran multimedia yang interaktif dengan CD-ROM atau DVD, kursus berbasis Web, dan sebagainya). Juga, kebutuhan untuk mengadaptasi (menyesuaikan) konten yang sudah ada, dan mengubah konten yang berbasis cetakan ke media digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah tugas-tugas yang membutuhkan spesialis pengembangan konten, seperti perancang instruksional, penulis naskah, spesialis produksi audio dan video, pembuat program (programmer), pengarang kursus multimedia, dan para pengembang-Web.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti spesialis pendukung teknis, pengembang konten adalah profesional yang sangat terampil dan bukan orang yang dipekerjakan oleh sekolah dasar atau menengah bersangkutan (terkecuali perancang instruksional).  Banyak universitas yang menyelenggarakan program pendidikan jarak jauh, dan mereka yang menggunakan ICT, mendedikasikan dukungan teknis dan unit-unit pengembangan konten.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Apa Tantangan yang Perlu Ditangani dalam Bidang Bahasa dan Konten? &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Inggris adalah bahasa dominan di Internet. Diperkirakan, 80% dari konten online adalah dalam bahasa Inggris. Sebagian besar perangkat lunak pendidikan yang diproduksi di pasar dunia adalah dalam bahasa Inggris.  Untuk negara-negara berkembang di Asia-Pasifik, di mana kefasihan berbahasa Inggris tidaklah tinggi, khususnya di luar wilayah metropolitan, hal ini menjadi penghambat yang serius dalam memaksimalkan manfaat-manfaat World Wide Web bagi pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan di negara-negara di mana bahasa Inggris adalah bahasa kedua (seperti Singapura, Malaysia, Filipina, dan India), ada kewajiban untuk dikembangkannya materi pengajaran dan pembelajaran, yang  harus cocok dengan persyaratan kurikulum nasional dan secara lokal memiliki konten yang bermakna (bisa dimengerti), lebih disukai dalam bahasa lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini akan memastikan bahwa Web pada dasarnya adalah ruang multikultural, dan bahwa orang yang berasal dari budaya yang berbeda-beda memiliki saham dan suara yang setara, dalam komunitas global untuk pembelajaran dan praktik online. Kelompok yang rawan dikucilkan dari peluang pembelajaran ini adalah penduduk pedesaan yang terisolasi, kaum minoritas budaya, dan kaum wanita pada umumnya. Maka perhatian harus diberikan bagi kebutuhan khusus mereka.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu tren yang membesarkan hati adalah munculnya jejaring sekolah nasional dan regional, atau SchoolNets, yang memfasilitasi pembagian konten dan informasi. Antara lain, bimbingan kurikulum, sumber pengajaran dan pembelajaran, pendaftaran telekolaboratif, petunjuk sekolah dan guru, materi dan kurikulum pengajaran, makalah riset dan kebijakan, bimbingan manajemen teknologi, dan perangkat awal cara penggunaan alat (start-up toolkits).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara-negara seperti Australia, Perancis, Finlandia, Jepang, Kanada, Thailand, Ghana, Afrika Selatan, dan Zimbabwe, untuk menyebut sebagian kecil saja, semua memiliki SchoolNets nasional. Program Enlaces di Amerika Latin menghubungkan sekolah-sekolah dari negara berbahasa Spanyol, seperti Chile, Paraguay, Costa Rica, Colombia, dan Peru. Di Asia Tenggara, upaya-upaya sedang dilakukan untuk percontohan SchoolNets di Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam, dan untuk menghubungkan semua itu dengan ScholNets nasional yang sudah ada, guna membentuk sebuah SchoolNet ASEAN berskala regional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembelajaran berbasis-Web, standarisasi teknis dari konten juga menjadi isu yang mendesak.  Standarisasi memungkinkan aplikasi-aplikasi yang berbeda untuk berbagi konten dan sistem pembelajaran. Spesifikasi dalam konten, struktur, dan format test diusulkan agar bisa terjadi kecocokan operasional (interoperability) antara sistem-sistem manajemen yang berbeda, yang akan menghasilkan efisiensi biaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar itu harus cukup umum untuk mendukung semua jenis sistem pembelajaran dan konten. Layak disebutkan di sini beberapa prakarsa yang diselenggarakan oleh Instructional Management System (IMS), Advanced Distributed Learning /Shareable Courseware Object Reference Model (ADL/SCORM), Aviation Industry Computer Based Training Committee (AICC), dan proyek ARIADNE dari Eropa, mengingat beberapa standar yang mereka usulkan itu sudah dipergunakan secara meluas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudahan di mana konten edukasi berbasis-Web bisa disimpan, dikirimkan, diduplikasi, dan dimodifikasi, juga mengangkat keprihatinan tentang perlindungan hak atas kekayaan intelektual (HaKI). Misalnya, apakah hak-hak ini akan dilanggar ketika suatu kuliah disiarkan di televisi atau di Web, manakala kuliah itu memasukkan materi-materi yang sebelumnya sudah ada? Atau, bagaimana jika seorang siswa merekam siaran pendidikan di televisi dalam tape, untuk ditonton kemudian?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejumlah sekolah dan universitas mungkin sudah memiliki perjanjian, yang secara jelas memberi wewenang bagi penggunaan materi tertentu untuk digunakan di ruang kelas. Namun, persetujuan ini mungkin tidak cukup luas untuk mengakomodasi transmisi telekomunikasi, rekaman videotape, atau distribusi materi terkait-kursus (kuliah) yang melampaui lingkungan ruang kelas. Dalam kaitan ini, informasi dan pelatihan bagi guru dan siswa, tentang aspek etis penggunaan karya intelektual, patut menjadi komponen yang penting dalam program-program berbasis-ICT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa Tantangan yang Terkait dengan Pembiayaan Penggunaan ICT? &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu tantangan terbesar dalam penggunaan ICT untuk pendidikan adalah menyeimbangkan antara tujuan-tujuan edukasi dengan realitas ekonomi. ICT dalam program pendidikan membutuhkan investasi modal yang besar. Maka negara-negara berkembang perlu hati-hati dalam membuat keputusan tentang model-model penggunaan ICT yang akan diterapkan, dan mereka juga harus sadar tentang pemeliharaan kelayakan ekonomi karena skalanya yang besar (economies of scale).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, ini adalah isu tentang apakah nilai tambah yang diperoleh dari penggunaan ICT cukup layak dan seimbang dengan biaya yang dikeluarkan, dibandingkan dengan biaya bagi alternatif lain. Jika dinyatakan lewat ungkapan lain, apakah pembelajaran berbasis-ICT merupakan strategi yang paling efektif untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan? Dan, jika demikian, modalitas (pilihan cara) dan skala penerapan yang seperti apa, yang dapat didukung, berdasarkan ketersediaan sumberdaya keuangan, SDM, dan sumber lain yang ada? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Whyte menyarankan daftar berikut ini, sebagai sumber dana dan sumberdaya bagi program-program yang menggunakan ICT:&lt;br /&gt;1. Hibah&lt;br /&gt;2. Subsidi publik&lt;br /&gt;3. Donasi swasta, acara-acara penggalangan dana &lt;br /&gt;4. Dukungan niat baik (misal, berbentuk perlengkapan, sukarelawan) &lt;br /&gt;5. Dukungan komunitas (misalnya, bangunan bebas sewa)&lt;br /&gt;6. Iuran keanggotaan &lt;br /&gt;7. Pendapatan yang diperoleh dari bisnis inti: Konektivitas (telepon, faxcimile, Internet, halaman Web); akses langsung komputer ke pengguna (fotokopi, scanning, bantuan audiovisual)&lt;br /&gt;8. Pendapatan yang diperoleh dari aktivitas penyokong: Layanan bisnis (layanan pengetikan, spreadsheet, penyiapan anggaran, percetakan, jasa resepsi); layanan pendidikan (pendidikan jarak jauh, kursus-kursus pelatihan); layanan komunitas (ruang rapat, peristiwa sosial, informasi lokal, kiriman uang dari pekerja migran); kerja jarak jauh dan konsultasi; aktivitas khusus (pengobatan jarak jauh); penjualan (alat perkantoran, perangko, penyegaran, dan lain-lain). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemitraan sektor swasta dan sektor publik untuk mengawali atau mengikuti secara cepat proyek-proyek berbasis-ICT, adalah strategi yang telah beredar di kalangan Kementerian Pendidikan di negara-negara berkembang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemitraan ini bisa berbentuk berbagai macam, termasuk hibah sektor swasta dengan kontribusi mitra pemerintah, sumbangan perlengkapan dan konten terkait-pendidikan oleh perusahaan untuk sekolah-sekolah negeri, dan ketentuan bantuan teknis bagi perencanaan, manajemen, dan penguatan sumberdaya manusia di tingkatan akar rumput. Organisasi multilateral dan badan-badan bantuan internasional juga telah mendorong banyak ICT yang paling signifikan dalam upaya pendidikan di negara berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ujian keberhasilan finansial dari program-program berbasis-ICT adalah seberapa jauh mereka bisa bertahan, suudah uang hasil sumbangan itu habis. Banyak program edukasi berbasis-ICT yang didanai badan-badan bantuan atau oleh perusahaan, tidak mampu bertahan terus karena pemerintah gagal memberi dukungan, dengan pembiayaan yang dibutuhkan. Atau, komunitas lokal setempat tidak sanggup membangkitkan sumberdaya yang dibutuhkan untuk meneruskan program-program tersebut. Ini terjadi pada beberapa proyek Instruksi Radio Interaktif yang diprakarsai USAID. Karena itu, strategi dua sisi adalah kunci: dukungan pemerintah dan mobilisasi komunitas lokal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apakah Penggunaan ICT akan Mampu Melenyapkan Semua Problem Pendidikan di Negara Berkembang? &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada kebenaran yang tak dapat disangkal, yang muncul dari sejarah singkat penggunaan ICT dalam pendidikan, maka kebenaran itu adalah bahwa permasalahannya bukan terletak pada teknologi, tetapi pada bagaimana manusia menggunakan teknologi! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain: Bagaimana Anda menggunakan teknologi adalah jauh lebih penting daripada soal apakah Anda menggunakan atau tidak menggunakan teknologi sama sekali. Kecuali pemikiran kita tentang persekolahan juga berubah --di sepanjang proses perluasan dan keberlangsungan penggunaan ICT di ruang kelas-- maka investasi teknologi itu akan gagal membangkitkan seluruh potensi yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, teknologi tidak boleh mengarahkan atau mengendalikan pendidikan. Namun, justru tujuan-tujuan dan kebutuhan pendidikan, serta ekonomi yang cermat, itulah yang harus mengarahkan penggunaan teknologi. Hanya dengan cara ini, institusi pendidikan di negara-negara berkembang secara efektif dan layak dapat mengatasi kebutuhan-kebutuhan kunci dari penduduk, untuk membantu mereka keseluruhan menanggapi tantangan-tantangan dan peluang baru, yang diciptakan oleh ekonomi global. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, ICT tidak dapat dengan sendirinya memecahkan problem-problem pendidikan di negara berkembang, seperti problem-problem berat yang berakar pada isu kemiskinan, ketidaksetaraan sosial, dan pembangunan yang tidak merata. Yang bisa dilakukan ICT sebagai alat pendidikan, jika ICT digunakan secara hati-hati, adalah membuat negara berkembang itu meluaskan akses dan meningkatkan kualitas pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehati-hatian membutuhkan pertimbangan yang seksama, dari berbagai isu yang berinteraksi satu sama lain, yang menentukan penggunaan ICT di sekolah. Seperti: Kebijakan pemerintah dan politik, pembangunan infrastruktur, kapasitas manusia, bahasa dan konten, budaya, ekuitas, biaya, dan --yang tidak kalah penting-- kurikulum dan pedagogi. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 20 Januari 2012&lt;br /&gt;Diterjemahkan secara bebas oleh Satrio Arismunandar&lt;br /&gt;Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UI&lt;br /&gt;HP: 0819 0819 9163&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-1557487397554075869?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/1557487397554075869/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=1557487397554075869&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/1557487397554075869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/1557487397554075869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2012/01/tantangan-utama-dalam-pengintegrasian.html' title='Tantangan Utama dalam Pengintegrasian Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) pada Bidang Pendidikan'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-YApUaMRGmuk/Txl28QE5JyI/AAAAAAAABgk/dnS5x3Crc6w/s72-c/computer5.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-3603749061421169975</id><published>2012-01-19T04:08:00.000-08:00</published><updated>2012-01-19T04:08:56.006-08:00</updated><title type='text'>TEKNIK PENULISAN ESSAY OPINI</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-rZAXE5OwX4c/TxgG1PmbY0I/AAAAAAAABgY/_I2i7GOrshw/s1600/Girl-writing-main-560-x-420.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-rZAXE5OwX4c/TxgG1PmbY0I/AAAAAAAABgY/_I2i7GOrshw/s400/Girl-writing-main-560-x-420.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Oleh Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang merasa punya segudang ide atau opini tentang suatu hal atau masalah. Mulai dari hal/masalah yang menyangkut seni, budaya, ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, fenomena sosial, dan sebagainya. Persoalannya, kita sering menghadapi kesulitan dalam menuangkan ide atau opini tersebut dalam bentuk tulisan atau esei (essay). Padahal, lewat tulisan tersebut kita berharap bisa menyebarkan ide atau opini itu ke khalayak yang lebih luas, melalui media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Essay adalah sebentuk tulisan yang sering ditulis dari sudut pandang pribadi seseorang. Tujuan utama dari setiap essay adalah penyampaian pesan yang jelas, padat dan utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan essay itu sendiri adalah proses yang melibatkan pengorganisasian informasi dan opini. Informasi yang dimaksud di sini tentunya harus berlandaskan fakta, bukan khayalan. Maka penulis essay harus memahami dulu, apa perbedaan antara pernyataan faktual dan opini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan faktual adalah pernyataan yang bisa dibuktikan benar-tidaknya. Contohnya: ada apel di atas meja. Jika isi pernyataan itu memang sesuai fakta (yang dengan gamblang bisa dilihat oleh semua orang), maka semua pihak akan setuju dan tak ada seorang pun yang bisa membantah Anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan, opini adalah pernyataan yang menunjukkan perasaan atau keyakinan seseorang, namun itu tidak bisa dibuktikan. Misalnya: lebih enak makan apel daripada durian.  Pernyataan ini tidak bisa dibuktikan.  Tidak semua orang akan setuju bahwa apel lebih enak daripada durian, karena ini adalah soal selera yang memang sulit diperdebatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang-kadang pernyataan faktual bisa tercampur dengan opini. Misalnya: apel yang dibeli dari toko buah itu rasanya lebih enak daripada jeruk. ”Dibeli dari toko buah” adalah pernyataan faktual, yang bisa dibuktikan benar-tidaknya. Tetapi, ”rasanya lebih enak daripada jeruk” adalah opini yang tidak bisa dibuktikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penulisan essay opini terdapat dua aspek yang perlu diperhatikan. Yaitu, aspek pendekatan personal (sudut pandang pribadi si penulis) dan aspek pendekatan argumentatif (mengedepankan argumen-argumen untuk mendukung opini dalam penulisan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah unsur-unsur utama sebuah essay opini:&lt;br /&gt;1. Topik/permasalahan yang mau ditulis.&lt;br /&gt;2. Opini/pandangan pribadi si penulis tentang topik/permasalahan itu.&lt;br /&gt;3. Argumen-argumen yang menjelaskan dan mendukung opini/pandangan tesebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan struktur sebuah essay opini secara sederhana dapat dibagi menjadi tiga bagian: Pengantar/pendahuluan; tubuh tulisan; dan kesimpulan/penutup. Isi tiap bagian itu dapat dirinci sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengantar/Pendahuluan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Penjelasan tentang topik/permasalahan&lt;br /&gt;- Topik ini terkadang disajikan dalam bentuk pertanyaan (yang akan dijawab secara lebih mendalam dalam tubuh tulisan)&lt;br /&gt;- Pandangan penulis secara umum tentang topik itu.&lt;br /&gt;- Pembaca perlu mendapat kejelasan tentang sikap dan pandangan penulis tentang masalah tersebut sejak awal tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si penulis sendiri sejak awal harus paham betul tentang apa yang mau ditulisnya. Kejelasan tentang topik dan gagasan itu bisa diperoleh dengan, misalnya, mengajukan pertanyaan sebagai berikut:&lt;br /&gt;- Apa tujuan utama Anda menulis essay ini?&lt;br /&gt;- Pembelajaran apa yang sekiranya akan diperoleh para pembaca sehabis membaca tulisan ini?&lt;br /&gt;- Apa pesan utama tulisan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tubuh Tulisan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Penjelasan secara lebih rinci dari penulis tentang opininya&lt;br /&gt;- Argumentasi yang dikedepankan untuk mendukung opini tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua macam argumentasi yang mendukung opini si penulis:&lt;br /&gt;Pertama, argumentasi yang berbasis pada pribadi si penulis (latar belakang budaya, usia, status keluarga, pengalaman pribadi, aktivitas di organisasi, dan sebagainya). Biarkan pembaca menempatkan dirinya dalam situasi Anda, dalam kaitan dengan topik/permasalahan yang sedang dibahas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, penggunaan berbagai sumber informasi untuk memvalidasi opini atau pandangan penulis. Penggunaan perspektif dari berbagai disiplin ilmu dapat digunakan untuk membuat permasalahan makin mudah dipahami, misalnya, pendekatan sosiologis, ilmu budaya, dan sebagainya. Lewat cara berargumentasi seperti ini, di mata khalayak pembaca, si penulis terkesan otoritatif, dan memiliki kapasitas yang layak untuk membahas topik/masalah bersangkutan. Selain itu, pemikiran si penulis terkesan telah dipertimbangkan dengan matang, dan bisa dibenarkan oleh pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi harus diingat pula bahwa suatu pernyataan bisa didukung, namun juga bisa ditentang, dengan menggunakan referensi sejarah, ilmiah, aksiologis (nilai-nilai), dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kesimpulan/Penutup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan menjadi penutup essay dan memberi tanda pada pembaca bahwa si penulis telah mengakhiri diskusi/pembahasannya. Kesimpulan ini merangkum seluruh argumen dan pembahasan yang telah disajikan pada tubuh tulisan, dan bagaimana argumen-argumen itu mendukung sikap atau opini si penulis. Sering terjadi, dan hal ini tidak jadi masalah, jika kesimpulan itu tampak mirip dengan pengantar/pendahuluan tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Anda yang baru belajar menulis essay opini, bisa belajar bisa lebih mudah dengan bantuan outline (garis besar isi tulisan). Essay yang mau ditulis tidak usah panjang-panjang. Cobalah membuat sebuah ”essay opini lima paragraf.” Kira-kira outline itu seperti contoh di bawah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Paragraf 1:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan tesis (topik/masalah) dan opini Anda terhadapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Paragraf 2:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Argumen yang mendukung opini penulis berdasarkan fakta/rincian, dengan menggunakan unsur:&lt;br /&gt;Pemaparan&lt;br /&gt;Contoh-contoh&lt;br /&gt;Elaborasi, perluasan/penambahan informasi&lt;br /&gt;Penjelasan rinci&lt;br /&gt;Bantahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Paragraf 3:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Argumen yang mendukung opini penulis berdasarkan fakta/rincian, dengan menggunakan unsur:&lt;br /&gt;Pemaparan&lt;br /&gt;Contoh-contoh&lt;br /&gt;Elaborasi, perluasan/penambahan informasi&lt;br /&gt;Penjelasan rinci&lt;br /&gt;Bantahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Paragraf 4:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Argumen yang mendukung opini penulis berdasarkan fakta/rincian, dengan menggunakan unsur:&lt;br /&gt;Pemaparan&lt;br /&gt;Contoh-contoh&lt;br /&gt;Elaborasi, perluasan/penambahan informasi&lt;br /&gt;Penjelasan rinci&lt;br /&gt;Bantahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Paragraf 5:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan, yang terdiri dari:&lt;br /&gt;Penyebutan kembali tesis essay Anda&lt;br /&gt;Penyebutan kembali rangkuman argumen&lt;br /&gt;Doronglah pembaca ke arah tindakan (action)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tentang Penggunaan dan Gaya Bahasa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis harus menghindari gaya bahasa yang terlalu personal. Jangan ungkapkan terlalu banyak atau terlalu rinci tentang kehidupan pribadi Anda kepada pembaca.&lt;br /&gt;Hindari uraian yang terlalu melantur atau melebar ke mana-mana. Setiap argumen yang ditulis harus mendukung tesis Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hindari pernyataan emosional yang berlebihan. Karena, pada dasarnya, essay opini itu menyajikan pandangan si penulis, serta bagaimana pandangan itu dibangun oleh penulis berlandaskan pada argumen-argumen yang mendukungnya. Tulisan yang bernada terlalu emosional akan terlihat kurang profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis juga harus menghindari nada yang agresif, penghakiman moral, dan sebagainya. Jangan menyerang pihak lain yang berbeda pandangan. Cukuplah opini penulis dan argumen yang mendukung opini tersebut diajukan dalam tulisan. Di situlah letak kekuatan tulisan, bukan pada caci maki atau serangan personal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai saran tambahan: Walaupun opini Anda sebagai penulis sangat kuat, tidak perlu terlalu berapi-api atau emosional dalam mengekspresikannya. Fokuslah pada penyusunan alur yang logis dari argumen-argumen yang Anda ajukan, serta contoh-contoh yang penting untuk mendukung opini Anda, jika ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 19 Januari 2012&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Daftar Pustaka:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;http://daria-przybyla.suite101.com/how-to-write-an-opinion-essay-a104337&lt;br /&gt;http://www.ehow.com/how_5619030_write-opinion-essay.html&lt;br /&gt;http://custom-writing.org/blog/writing-tips/free-essay-writing-tips/231.html&lt;br /&gt;http://homeworktips.about.com/od/essaywriting/a/opinion.htm&lt;br /&gt;http://www.essay-paper.net/opinion_essay.html&lt;br /&gt;http://opinion-essay.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;, adalah Executive Producer di News Division TRANS TV. Pernah menjadi wartawan Harian Pelita (1986-1988), Harian Kompas (1988-1995) dan Media Indonesia (2000-2001).&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E-mail: satrioarismunandar@yahoo.com&lt;br /&gt;Blog: http://satrioarismunandar6.blogspot.com&lt;br /&gt;HP: 081908199163&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-3603749061421169975?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/3603749061421169975/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=3603749061421169975&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/3603749061421169975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/3603749061421169975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2012/01/teknik-penulisan-essay-opini.html' title='TEKNIK PENULISAN ESSAY OPINI'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-rZAXE5OwX4c/TxgG1PmbY0I/AAAAAAAABgY/_I2i7GOrshw/s72-c/Girl-writing-main-560-x-420.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-6668598593092973262</id><published>2012-01-19T04:02:00.000-08:00</published><updated>2012-01-19T04:02:19.857-08:00</updated><title type='text'>DIEGO MARADONA - Riwayat Trans TV, Sabtu 21 Jan 2012, Pkl.7.00 WIB</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-eIoDznJzje0/TxgF2ZxcENI/AAAAAAAABgM/yYVwFEhjFnc/s1600/maradona3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-eIoDznJzje0/TxgF2ZxcENI/AAAAAAAABgM/yYVwFEhjFnc/s400/maradona3.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;DIEGO MARADONA – Pahlawan Sepakbola Argentina&lt;br /&gt;Saksikan di RIWAYAT, Trans TV, Sabtu, 21 Januari 2012, pukul 7.00 WIB&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda boleh tidak setuju, tetapi banyak orang berpendapat, salah satu pesepakbola terbaik dunia dalam seabad terakhir ini adalah Diego Armando Maradona. Pahlawan sepakbola Argentina ini layak disejajarkan dengan pemain seperti Pele, Johan Cruyff, dan Christian Vieri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir dari keluarga miskin di Buenos Aires, Argentina, pada 30 Oktober 1960, Maradona adalah anak keempat dari enam bersaudara. Bakatnya dalam sepakbola sudah terlihat sejak usia 10 tahun. Pada usia 12 tahun, ia menjadi maskot klub Argentinos Juniors. Ketika berusia 18 tahun, ia berpartisipasi pada Piala Dunia Junior di Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1981, Maradona dibeli oleh klub Boca Juniors. Setelah unjuk kemampuan di pentas Piala Dunia 1982, ia ditransfer ke FC  Barcelona dengan harga 5 juta poundsterling, rekor transfer termahal saat itu. Maradona lalu ditransfer ke SSC Napoli tahun 1984 dan mengantar klub itu menjadi Juara UEFA pada 1988. Maradona tampil bermain di Piala Dunia 1982, 1986, 1990 dan 1994.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehebatan Maradona, yang ditunjuk menjadi kapten tim, adalah pada Piala Dunia 1986 di Meksiko. Saat itu, hampir sendirian ia mengantarkan Argentina menjadi Juara Dunia untuk kedua kalinya. Ia membuat gol terbaik sepanjang masa versi FIFA, yaitu ketika Argentina bertemu Inggris di babak perempat final. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maradona melakukan sprint sambil membawa bola dari tengah lapangan, kemudian melewati 5 pemain Inggris (Glenn Hoddle, Peter Beardsley, Steve Hodge, Peter Reid, Terry Butcher) dan menaklukkan kiper kenamaan Inggris, Peter Shilton. Semua itu dilakukan Maradona hanya dalam waktu sekitar 10 detik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, di Italia, karir cemerlang Maradona merosot karena dinodai oleh kebiasaan buruknya mengonsumsi kokain. Ia juga sering tidak disiplin dalam latihan dan pertandingan, sehingga beberapa kali kena sanksi oleh klubnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah pensiun sebagai pemain sejak 1997, Maradona sempat menjadi pelatih timnas Argentina mulai November 2008 sampai Juli 2010. Ia dipecat setelah Argentina kalah telak 4-0 oleh Jerman pada babak perempat final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Lika-liku kisah Maradona ini dapat disaksikan di program Riwayat, Sabtu, pukul 7.00 WIB, hanya di Trans TV. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 19 Januari 2012&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Executive Producer, News Division, Trans TV&lt;br /&gt;HP: 081908199163&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-6668598593092973262?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/6668598593092973262/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=6668598593092973262&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/6668598593092973262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/6668598593092973262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2012/01/diego-maradona-riwayat-trans-tv-sabtu.html' title='DIEGO MARADONA - Riwayat Trans TV, Sabtu 21 Jan 2012, Pkl.7.00 WIB'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-eIoDznJzje0/TxgF2ZxcENI/AAAAAAAABgM/yYVwFEhjFnc/s72-c/maradona3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-3156923859267662845</id><published>2012-01-13T05:53:00.000-08:00</published><updated>2012-01-13T05:53:02.815-08:00</updated><title type='text'>Joke - Satgas Penanggulangan Koruptor Kebal Tembakan</title><content type='html'>&lt;b&gt;Joke - Satgas Penanggulangan Koruptor Kebal Tembakan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, di Indonesia mulai diberlakukan hukum tembak mati untuk para terpidana koruptor. Maka, untuk kepentingan pencitraan, di lapangan Monas ditunjukkan bagaimana seorang koruptor besar diiikat di tiang dan satu regu penembak melepas tembakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi anehnya, si koruptor tidak mati. Dia cuma kesakitan sebentar tapi tetap tegak, sehat, tak kurang satu apa. Maka ngamuklah rakyat dan heboh di media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, Presiden SBY membentuk Satgas Penanggulangan Koruptor Kebal Tembakan. Seperti biasa pula, Satgas ini diketuai Denny Indrayana dengan penasehat Menkumham. Cuma, karena menyangkut ilmu kekebalan dan hal gaib, dilibatkan pula Ki Joko Bodo sebagai Wakil Ketua I dan Deddy Corbuzier sebagai Wakil Ketua II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, Satgas ini pun bertemu si koruptor untuk menginterogasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu, si koruptor bilang: "Nggak usah repot-repot, Pak. Saya mengaku, pengadaan peluru untuk regu tembak itu memang disupply oleh perusahaan saya. Isi mesiunya sudah saya ganti dengan serbuk gabus..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 13 Januari 2012&lt;br /&gt;Satrio A.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-3156923859267662845?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/3156923859267662845/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=3156923859267662845&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/3156923859267662845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/3156923859267662845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2012/01/joke-satgas-penanggulangan-koruptor.html' title='Joke - Satgas Penanggulangan Koruptor Kebal Tembakan'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-5155320117079984816</id><published>2012-01-13T05:49:00.000-08:00</published><updated>2012-01-13T05:49:57.488-08:00</updated><title type='text'>BARACK OBAMA - Saksikan Kisahnya di Riwayat Trans TV, Sabtu 14 Jan 2012, Pkl.7.00 WIB</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-p0uqDf5lgQU/TxA2GRE7TKI/AAAAAAAABgA/cCNt6I2IeMc/s1600/ad%2B-%2Bfamily.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="291" width="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-p0uqDf5lgQU/TxA2GRE7TKI/AAAAAAAABgA/cCNt6I2IeMc/s400/ad%2B-%2Bfamily.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;BARACK HUSSEIN OBAMA – Presiden Kulit Hitam Pertama di AS&lt;br /&gt;Saksikan di RIWAYAT, Trans TV, Sabtu, 14 Januari 2012, pukul 7.00 WIB&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi Presiden AS itu sebenarnya seperti menjadi Presiden dunia. Hal ini terasa karena posisi dan pengaruh AS sebagai negara adidaya, yang memiliki kekuatan militer dan ekonomi terbesar di dunia. Itulah sebabnya, dunia ikut gempar dan merasakan euforia ketika Barack Hussein Obama, seorang warga kulit hitam, terpilih menjadi Presiden ke-44 Amerika. Ini sejarah baru karena dunia politik AS biasanya didominasi kalangan WASP (White, Anglo-Saxon, Protestant).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Honolulu, Hawaii, pada 4 Agustus 1961, Obama meraih pendidikan di Columbia University dan Harvard University. Ia menjadi aktivis sosial, sebelum menjadi Senator dari Illinois. Empat tahun menjadi Senator, Obama akhirnya terpilih menjadi Presiden AS. Ia dengan Wakil Presiden Joe Biden dilantik pada 20 Januari 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya Obama di tampuk kepemimpinan AS mendapat reaksi hangat di Indonesia. Obama kecil memang pernah tinggal di Jakarta bersama ibunya Ann Dunham dan ayah tirinya Lolo Soetoro, sekitar tahun 1967-1971. Ayah kandung Obama, yakni mendiang Barrack Hussein Obama, Sr, adalah muslim asal Kenya yang menikahi Ann Dunham di Hawaii, tapi lalu mereka berpisah ketika Obama yunior masih berusia 2 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika awal berkuasa, Obama menjanjikan bentuk hubungan baru antara AS dan dunia Islam. Semula begitu banyak harapan ditujukan pada Obama, dan ini terwujud dalam bentuk pemberian penghargaan Nobel Perdamaian untuk Obama. Namun, realitas politik domestik Amerika, yakni ketergantungan Obama pada dana dan dukungan lobi Yahudi, membuat langkah Obama untuk mendamaikan Palestina dan Israel jadi tersendat. Karena pertimbangan pragmatis, Obama tak bisa tegas terhadap kesewenang-wenangan dan pelanggaran HAM, yang terus-menerus dilakukan Israel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan presiden AS mendatang menjadi tantangan tersendiri bagi Obama. Apakah ia bisa terpilih lagi, atau cukup satu masa jabatan saja? Perjalanan hidup Obama yang penuh kisah menarik ini dapat disaksikan di program Riwayat, Sabtu, pukul 7.00 WIB, hanya di Trans TV. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 13 Januari 2012&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Executive Producer, Divisi News Trans TV&lt;br /&gt;HP: 0819 0819 9163&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-5155320117079984816?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/5155320117079984816/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=5155320117079984816&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/5155320117079984816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/5155320117079984816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2012/01/barack-obama-saksikan-kisahnya-di.html' title='BARACK OBAMA - Saksikan Kisahnya di Riwayat Trans TV, Sabtu 14 Jan 2012, Pkl.7.00 WIB'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-p0uqDf5lgQU/TxA2GRE7TKI/AAAAAAAABgA/cCNt6I2IeMc/s72-c/ad%2B-%2Bfamily.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-2724290274658704025</id><published>2012-01-05T02:45:00.000-08:00</published><updated>2012-01-05T02:47:18.350-08:00</updated><title type='text'>SADDAM HUSSEIN - Saksikan Kisahnya di Riwayat Trans TV, Sabtu 7 Jan 2012, pkl. 7.00 WIB</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-uNAi-tdayTg/TwV-X1T39XI/AAAAAAAABf0/jPPoMAKZenA/s1600/saddam-hussein14.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="400" width="284" src="http://2.bp.blogspot.com/-uNAi-tdayTg/TwV-X1T39XI/AAAAAAAABf0/jPPoMAKZenA/s400/saddam-hussein14.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SADDAM HUSSEIN – Pemimpin Irak yang Berani Melawan AS dan Israel&lt;br /&gt;Saksikan di RIWAYAT, Trans TV, Sabtu, 7 Januari 2012, pukul 7.00 WIB&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin Arab yang dua kali terlibat dalam perang melawan militer Amerika dan para sekutunya di Timur Tengah adalah Saddam Hussein. Saddam Hussein Abd al-Majid al-Tikriti adalah Presiden kelima Irak, yang menjabat sejak 16 Juli 1979 sampai kejatuhannya pada 9 April 2003. Meski dikenal sebagai pemimpin otoriter yang ditakuti, Saddam juga dikagumi oleh rakyat di dunia Arab, karena keberaniannya melawan AS dan Israel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saddam --yang beretnis Muslim Sunni-- lahir di al-Awja, 13 km dari kota kecil Tikrit, Irak, pada 28 April 1937. ”Saddam” dalam bahasa Arab berarti ”orang yang keras kepala” atau ”dia yang menentang”. Ia adalah tokoh Partai Ba’ath Irak, yang menganjurkan nasionalisme Pan-Arab yang sekular, modernisasi ekonomi, dan sosialisme Arab. Saddam berperan penting dalam kudeta tak berdarah 1968, yang menaikkan Partai Ba’ath ke kekuasaan di negeri penghasil minyak tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memerintah dengan tangan besi, dan sering dituduh melakukan pelanggaran HAM dalam skala luas, Saddam menjadikan Irak negara yang kuat secara militer. Irak terlibat dalam perang melawan Iran pada 1980-1988. Serbuan Irak ke Kuwait pada 2 Agustus 1990, memicu terjadinya Perang Teluk 1991, yang menghancurkan ekonomi Irak. Tetapi Saddam tetap bertahan di kekuasaan, meski pada 1991 terjadi pemberontakan warga Kurdi di sebelah utara dan warga Syiah di selatan Irak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tuduhan bohong bahwa Irak menyembunyikan senjata pemusnah massal, AS kembali menyerbu Irak pada 2003. Nasib Saddam kali ini berakhir tragis. Pada 13 Desember 2003, Saddam ditangkap oleh pasukan AS yang menginvasi Irak. Ia dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan di bawah pemerintahan baru Irak yang didukung AS, dan lalu dieksekusi pada 30 Desember 2006. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan hidup Saddam yang dramatis dan penuh gejolak ini dapat disaksikan di program Riwayat, Sabtu, pukul 7.00 WIB, hanya di Trans TV. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 4 Januari 2012&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Executive Producer, News Division Trans TV&lt;br /&gt;HP: 0819 0819 9163&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-2724290274658704025?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/2724290274658704025/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=2724290274658704025&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2724290274658704025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2724290274658704025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2012/01/saddam-hussein-saksikan-kisahnya-di.html' title='SADDAM HUSSEIN - Saksikan Kisahnya di Riwayat Trans TV, Sabtu 7 Jan 2012, pkl. 7.00 WIB'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-uNAi-tdayTg/TwV-X1T39XI/AAAAAAAABf0/jPPoMAKZenA/s72-c/saddam-hussein14.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-2154436190640550837</id><published>2012-01-05T02:38:00.000-08:00</published><updated>2012-01-05T02:38:44.538-08:00</updated><title type='text'>Sinopsis dan Konsep Program SEPENGGAL SEJARAH - News Trans TV</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Rls3ysI5fqQ/TwV9RQw8OJI/AAAAAAAABfo/lS_GuRyg2Qk/s1600/01-Israel.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="400" width="394" src="http://1.bp.blogspot.com/-Rls3ysI5fqQ/TwV9RQw8OJI/AAAAAAAABfo/lS_GuRyg2Qk/s400/01-Israel.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sepenggal Sejarah adalah sebuah program magazine dokumenter berdurasi 30 menit, yang dibuat oleh Divisi News Trans TV. Program ini mengangkat berbagai peristiwa dalam sejarah, baik yang terjadi di Indonesia maupun di negara-negara lain, berdasarkan tanggal kejadiannya. Selalu ada peristiwa yang patut diangkat untuk setiap tanggal di kalender, meskipun dengan tahun kejadian yang berbeda-beda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diupayakan, penyajian kisah-kisah itu bersifat utuh, bukan sekadar kaleidoskop. Hal ini karena sebuah peristiwa sejarah pada dasarnya tidaklah terjadi dalam ruang vakum, tetapi terjadi dalam konteks situasi tertentu. Peristiwa itu pastilah juga tidak berdiri sendiri, tetapi terkait dengan peristiwa-peristiwa lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang diangkat di program Sepenggal Sejarah bukan cuma peristiwa yang “berat” dan “serius,” seperti peristiwa sosial-politik dan ekonomi. Tetapi bisa juga peristiwa yang menyangkut perkembangan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, kebudayaan, sastra, dan film. Selain itu, bisa juga peristiwa yang mengandung drama kemanusiaan, seperti bencana alam tsunami, gempa bumi, kecelakaan pesawat terbang, tenggelamnya kapal penumpang, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepenggal Sejarah dijadwalkan tayang perdana pada Senin, 9 Januari 2012. Seterusnya, program ini akan tayang setiap Senin sampai Jumat, pukul 16.30 WIB. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan Sepenggal Sejarah dengan program dokumenter Riwayat, yang tayang tiap Sabtu pagi pukul 7.00 WIB, adalah Riwayat mengangkat person atau individu yang muncul dalam sejarah. Seperti: Soekarno, Hatta, Soeharto, Nelson Mandela, Che Guevara, Bunda Teresa, Imelda Marcos, Barack Obama, David Beckham, Rudy Hartono, dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Sepenggal Sejarah lebih berfokus pada peristiwanya. Seperti: Proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, jatuhnya bom atom di Hiroshima, awal pecahnya perang di Bosnia-Herzegovina, invasi militer Amerika ke Irak, bencana tsunami di Aceh, jatuhnya pesawat Garuda di Yogyakarta, tenggelamnya kapal Tampomas, dan sebagainya. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 5 Januari 2012.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Executive Producer, News Division Trans TV&lt;br /&gt;HP : 0819 0819 9163&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-2154436190640550837?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/2154436190640550837/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=2154436190640550837&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2154436190640550837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2154436190640550837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2012/01/sinopsis-dan-konsep-program-sepenggal.html' title='Sinopsis dan Konsep Program SEPENGGAL SEJARAH - News Trans TV'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-Rls3ysI5fqQ/TwV9RQw8OJI/AAAAAAAABfo/lS_GuRyg2Qk/s72-c/01-Israel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-1341951612146309538</id><published>2011-12-28T10:14:00.000-08:00</published><updated>2011-12-28T10:17:30.292-08:00</updated><title type='text'>Essay - SIAPAKAH KITA?</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-mt_8DM0IH2k/Tvtcf0lBNRI/AAAAAAAABfQ/KsXLRKIb9lc/s1600/bk-sholat3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="265" width="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-mt_8DM0IH2k/Tvtcf0lBNRI/AAAAAAAABfQ/KsXLRKIb9lc/s400/bk-sholat3.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-nydHL-H1h9k/TvtcJXIk-1I/AAAAAAAABfE/EVOkouLtDGM/s1600/bk-sholat7.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="276" width="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-nydHL-H1h9k/TvtcJXIk-1I/AAAAAAAABfE/EVOkouLtDGM/s400/bk-sholat7.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-EQegrFSjA5U/TvtdKV52X7I/AAAAAAAABfc/ly3fF_EogfU/s1600/bk-sholat8.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="266" width="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-EQegrFSjA5U/TvtdKV52X7I/AAAAAAAABfc/ly3fF_EogfU/s400/bk-sholat8.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Siapakah orang yang paling sibuk?&lt;br /&gt;Orang yang paling sibuk adalah orang yang suka menyepelekan waktu sholatnya, seolah-olah ia harus mengurus kerajaan sebesar kerajaan Nabi Sulaiman a.s&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah orang yang manis senyumannya?&lt;br /&gt;Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ditimpa musibah lalu dia berkata "Inna lillahi wainna illaihi rajiuun." Lalu sambil berkata,"Ya Rabb, Aku ridha deng...an ketentuanMu ini", sambil mengukir senyuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah orang yang kaya?&lt;br /&gt;Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah orang yang miskin?&lt;br /&gt;Orang yang miskin adalah orang yang tidak puas dengan nikmat yang ada, selalu menumpuk-numpukkan harta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah orang yang rugi?&lt;br /&gt;Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadah dan amal-amal kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah orang yang paling cantik?&lt;br /&gt;Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?&lt;br /&gt;Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal-amal kebaikan di mana kuburnya akan diperluaskan sejauh mata memandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit?&lt;br /&gt;Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikan lalu kuburnya menghimpitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah orang yang mempunyai akal?&lt;br /&gt;Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni syurga kelak&lt;br /&gt;karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah KITA ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dikutip dari sebuah posting di Multiply, yang juga mengutip dari FB. Entah, siapa penulis awal posting ini, tapi saya hanya ingin mengucapkan terimakasih dan apresiasi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desember 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-1341951612146309538?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/1341951612146309538/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=1341951612146309538&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/1341951612146309538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/1341951612146309538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/12/essay-siapakah-kita.html' title='Essay - SIAPAKAH KITA?'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-mt_8DM0IH2k/Tvtcf0lBNRI/AAAAAAAABfQ/KsXLRKIb9lc/s72-c/bk-sholat3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-2859917639815767515</id><published>2011-12-28T09:54:00.000-08:00</published><updated>2011-12-28T09:54:21.709-08:00</updated><title type='text'>Essay - MALING, POLISI DAN WARTAWAN</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-0800diLeCBI/TvtXxAaWXKI/AAAAAAAABe4/bnSfgxw-NTo/s1600/jurnalis9.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="395" width="392" src="http://4.bp.blogspot.com/-0800diLeCBI/TvtXxAaWXKI/AAAAAAAABe4/bnSfgxw-NTo/s400/jurnalis9.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa menangkap maling yang lihay, polisi harus memahami cara berpikir maling, bahkan harus bisa berpikir seperti maling.... Maka batas antara maling dan polisi sebetulnya sangat tipis, tergantung pilihan pemihakan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda memilih kebejatan, Anda jadi maling lihay yang memahami cara berpikir polisi/penegak hukum. Kalau Anda memilih kebajikan, Anda jadi polisi yang memahami cara berpikir maling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, mungkin yang paling hebat adalah wartawan. Karena untuk bisa menulis tentang kebaikan dan kejahatan, Anda harus memahami cara berpikir maling dan cara berpikir polisi, tanpa harus menjadi salah satu dari mereka.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Desember 2011&lt;br /&gt;Satrio Arismunandar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-2859917639815767515?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/2859917639815767515/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=2859917639815767515&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2859917639815767515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2859917639815767515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/12/essay-maling-polisi-dan-wartawan.html' title='Essay - MALING, POLISI DAN WARTAWAN'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-0800diLeCBI/TvtXxAaWXKI/AAAAAAAABe4/bnSfgxw-NTo/s72-c/jurnalis9.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-2787795416921783915</id><published>2011-12-28T07:07:00.000-08:00</published><updated>2011-12-28T07:09:18.480-08:00</updated><title type='text'>Jangan Selalu Melihat Tulisanku dari Perspektif Jurnalistik...</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-t_ZA8kXtQ2M/TvswsWsnJpI/AAAAAAAABes/rG93asycp3A/s1600/jurnalis4.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="281" width="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-t_ZA8kXtQ2M/TvswsWsnJpI/AAAAAAAABes/rG93asycp3A/s400/jurnalis4.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Profesi wartawan yang kusandang membuat orang sering mengaitkan tindakanku dan tulisanku dengan kewartawanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau aku bikin pernyataan atau memposting sesuatu di suatu milis atau di Facebook, kadang-kadang ada saja yang berkomentar "kok tulisan Anda tidak mengikuti kaidah 5W+1H" atau "sebagai wartawan senior seharusnya Anda cek dan recek dulu sebelum memposting" atau "tulisan Anda sepihak, tidak balance," dan sebagainya... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal aku sedang melakukan gerilya politik, promosi diri, pencitraan, penggalangan, kampanye, agitasi-propaganda, dan sebagainya... Komentar-komentar mereka jadi tidak nyambung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf, aku jadi malas kalau harus menanggapi atau menjelaskan panjang lebar pada pemberi komentar semacam itu, karena pada dasarnya mereka hanyalah "orang-orang yang baik" dan "berpikir lurus"....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Desember 2011&lt;br /&gt;Satrio Arismunandar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-2787795416921783915?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/2787795416921783915/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=2787795416921783915&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2787795416921783915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2787795416921783915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/12/jangan-selalu-melihat-tulisanku-dari.html' title='Jangan Selalu Melihat Tulisanku dari Perspektif Jurnalistik...'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-t_ZA8kXtQ2M/TvswsWsnJpI/AAAAAAAABes/rG93asycp3A/s72-c/jurnalis4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-3382580486282872569</id><published>2011-12-23T02:56:00.000-08:00</published><updated>2011-12-23T02:56:46.959-08:00</updated><title type='text'>WARKOP DKI - Saksikan Legenda Lawak Ini di Riwayat Trans TV, Sabtu 24 Des 2011, pkl.7.00 WIB</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-9SI2v6CGyyc/TvRd8qkvIBI/AAAAAAAABeg/ogBuPw7v-KQ/s1600/warkop1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="314" src="http://4.bp.blogspot.com/-9SI2v6CGyyc/TvRd8qkvIBI/AAAAAAAABeg/ogBuPw7v-KQ/s400/warkop1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;WARKOP DKI – Grup Lawak Indonesia yang Intelektual&lt;br /&gt;Saksikan di RIWAYAT, Trans TV, Sabtu, 24 Desember 2011, pukul 7.00 WIB&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian banyak grup lawak yang sempat eksis di panggung dunia hiburan Indonesia, Warkop DKI –yang awalnya disebut Warkop Prambors—menempati posisi tersendiri. Grup lawak ini dibentuk oleh Nanu (Nanu Mulyono), Rudy (Rudy Badil), Dono (Wahjoe Sardono), Kasino (Kasino Hadiwibowo) dan Indro (Indrodjojo Kusumonegoro). Kecuali Indro yang kuliah di Universitas Pancasila, semuanya adalah mahasiswa UI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warkop berawal dari acara santai Obrolan Malem Jumatan di Radio Prambors tahun 1973, yang waktu itu hanya melibatkan Badil, Nanu dan Kasino. Tahun 1974, Dono dan Indro ikut bergabung. Grup Warkop ini akhirnya tampil di panggung, masuk dapur rekaman, dan secara bertahap meraih popularitas dan kesuksesan. Ketika Warkop mulai tampil di panggung, Badil yang tak tahan demam panggung tidak ikut lagi di grup ini. Tahun 1980, Badil jadi wartawan Kompas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu keunggulan grup lawak ini adalah tingkat intelektualitas para personelnya, karena berlatar belakang mahasiswa (yang lalu menjadi sarjana). Gaya lawakannya tak jarang ”menyerempet” hal yang porno atau isyu politis. Mereka mengritik pemerintah lewat parodi dan humor. Warkop juga sadar betul tentang perlunya profesionalitas dan pengembangan diri. Warkop bahkan membentuk staf tersendiri, yang ditugasi mencari bahan lawakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekian lama eksis di panggung dan siaran radio, Warkop terjun ke film. Pada dekade 1980-an dan 1990-an, mereka sukses membintangi lebih dari 30 film komedi, yang laris manis ditonton masyarakat. Ketika era produksi film merosot, Warkop pun hadir di serial komedi di televisi swasta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, sejak meninggalnya Nanu karena sakit ginjal pada 1983, anggota Warkop berkurang jadi tiga orang. Tahun 1986, Warkop lepas dari Radio Prambors dan menjadi Warkop DKI (Dono-Kasino-Indro). Berikutnya, Kasino meninggal pada 1997, disusul Dono pada 2001. Sehingga pada Desember 2011 ini, tinggal Indro yang tersisa dari personel Warkop. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Warkop DKI yang melegenda dan para personelnya ini dapat disaksikan di program Riwayat, Sabtu, pukul 7.00 WIB, hanya di Trans TV. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 23 Desember 2011&lt;br /&gt;Satrio Arismunandar&lt;br /&gt;Executive Producer, Divisi News Trans TV&lt;br /&gt;HP: 0819 0819 9163&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-3382580486282872569?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/3382580486282872569/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=3382580486282872569&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/3382580486282872569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/3382580486282872569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/12/warkop-dki-saksikan-legenda-lawak-ini.html' title='WARKOP DKI - Saksikan Legenda Lawak Ini di Riwayat Trans TV, Sabtu 24 Des 2011, pkl.7.00 WIB'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-9SI2v6CGyyc/TvRd8qkvIBI/AAAAAAAABeg/ogBuPw7v-KQ/s72-c/warkop1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-2712359569653232563</id><published>2011-12-15T04:44:00.000-08:00</published><updated>2011-12-15T04:44:04.544-08:00</updated><title type='text'>NELSON MANDELA - Saksikan kisahnya di Riwayat Trans TV, Sabtu 17 Des 2011, pkl.7.00 WIB</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-RxjWA_wzfkM/TunriGpCctI/AAAAAAAABeU/C1VP25sINPM/s1600/mandela%2Bnelson.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="269" width="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-RxjWA_wzfkM/TunriGpCctI/AAAAAAAABeU/C1VP25sINPM/s400/mandela%2Bnelson.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;NELSON MANDELA – Pejuang Anti-Apartheid Afrika Selatan&lt;br /&gt;Saksikan di RIWAYAT, Trans TV, Sabtu, 17 Desember 2011, pukul 7.00 WIB&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan melawan rasisme dan politik apartheid di Afrika Selatan tak mungkin dipisahkan dari nama Nelson Mandela. Lahir di desa kecil Mvezo, distrik Umtata, Afsel pada 18 Juli 1918, Mandela adalah aktivis anti-apartheid, yang memimpin sayap militer Kongres Nasional Afrika (ANC). Karena aksi perlawanannya itu, ia diganjar hukuman seumur hidup oleh penguasa kulit putih, meski akhirnya ”hanya” menjalani hukuman 27 tahun penjara sejak 1962. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah pembebasannya dari penjara pada 11 Februari 1990, Mandela memimpin partainya dalam perundingan, yang akhirnya melahirkan demokrasi multi-ras pada 1994. Mandela pun terpilih menjadi presiden kulit hitam pertama di Afrika Selatan, dan ia menjabat pada 1994-1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai presiden, Mandela banyak memberi prioritas pada rekonsiliasi antara warga kulit hitam dan kulit putih. Ia juga menaruh perhatian khusus pada kebijakan, untuk mengatasi problem kemiskinan dan ketidaksetaraan di Afrika Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandela sudah menikah tiga kali dan memiliki enam anak. Ia juga memperoleh lebih dari 250 penghargaan selama empat dasawarsa, dan mendapat Nobel Perdamaian pada 1993. Kisah kehidupan Mandela dan perjuangannya dapat disaksikan di program Riwayat, Sabtu, pukul 7.00 WIB, hanya di Trans TV. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 15 Desember 2011&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Executive Producer, Divisi News Trans TV&lt;br /&gt;HP: 0819 0819 9163&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-2712359569653232563?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/2712359569653232563/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=2712359569653232563&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2712359569653232563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2712359569653232563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/12/nelson-mandela-saksikan-kisahnya-di.html' title='NELSON MANDELA - Saksikan kisahnya di Riwayat Trans TV, Sabtu 17 Des 2011, pkl.7.00 WIB'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-RxjWA_wzfkM/TunriGpCctI/AAAAAAAABeU/C1VP25sINPM/s72-c/mandela%2Bnelson.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-9034352359751001712</id><published>2011-12-09T08:43:00.000-08:00</published><updated>2011-12-09T08:43:20.691-08:00</updated><title type='text'>YASSER ARAFAT - Saksikan Kisahnya di Riwayat Trans TV (Sabtu, 10 Des 2011, pkl.7.00)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-v8Hr9rMbYnI/TuI6IlHVRjI/AAAAAAAABeI/1dBh3pTRc7U/s1600/yasser%2Barafat.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="260" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-v8Hr9rMbYnI/TuI6IlHVRjI/AAAAAAAABeI/1dBh3pTRc7U/s400/yasser%2Barafat.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;YASSER ARAFAT – Simbol Perjuangan Kemerdekaan Palestina&lt;br /&gt;Saksikan di RIWAYAT, Trans TV, Sabtu, 10 Desember 2011, pukul 7.00 WIB&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan rakyat Palestina untuk lepas dari cengkeraman penjajahan Israel masih berlanjut sampai saat ini. Dari seluruh pejuang pembebasan Palestina, Yasser Arafat adalah tokoh yang paling menonjol perannya. Bahkan sosoknya seolah-olah sudah menjadi ikon perjuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendiri gerakan perlawanan Fatah, pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina PLO (sejak 1969), dan kemudian menjadi Presiden Otoritas Nasional Palestina (sejak 1993), ini bisa dibilang menghabiskan umurnya dalam perjuangan. Ia sekian lama tidak menikah, sehingga tokoh nasionalis yang punya nama julukan Abu Ammar ini pernah menyatakan: ia sudah menikah dengan Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gebrakannya untuk bersedia menerima solusi dua-negara, dan menandatangani kesepakatan damai Oslo (1993), membuat Arafat diberi penghargaan Nobel Perdamaian pada 1994, bersama dua tokoh Israel: Shimon Peres dan Yitzhak Rabin. Sayangnya, Arafat keburu meninggal pada 11 November 2004, sebelum sempat melihat negara Palestina merdeka, cita-cita yang terus diperjuangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah perjuangan Yasser Arafat, serta pernikahanya dengan Suha Tawil yang berbeda keyakinan, dapat disaksikan di program Riwayat, Sabtu, pukul 7.00 WIB, hanya di Trans TV. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 9 Desember 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satrio Arismunandar&lt;br /&gt;Executive Producer, Divisi News Trans TV&lt;br /&gt;HP: 0819 0819 9163&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-9034352359751001712?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/9034352359751001712/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=9034352359751001712&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/9034352359751001712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/9034352359751001712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/12/yasser-arafat-saksikan-kisahnya-di.html' title='YASSER ARAFAT - Saksikan Kisahnya di Riwayat Trans TV (Sabtu, 10 Des 2011, pkl.7.00)'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-v8Hr9rMbYnI/TuI6IlHVRjI/AAAAAAAABeI/1dBh3pTRc7U/s72-c/yasser%2Barafat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-2423001433112033106</id><published>2011-12-02T05:16:00.000-08:00</published><updated>2011-12-02T05:16:37.326-08:00</updated><title type='text'>Forum Lingkar Pena (FLP) Tolak Pelecehan Terhadap Pecinta Buku</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-mVtoLVZ0Sfs/TtjPinvBoEI/AAAAAAAABd8/1JwT3VOkPDc/s1600/books.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="353" width="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-mVtoLVZ0Sfs/TtjPinvBoEI/AAAAAAAABd8/1JwT3VOkPDc/s400/books.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Forum Lingkar Pena (FLP) Tolak Pelecehan Terhadap Pecinta Buku&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ditulis tanggal : 27 - 11 - 2011 | 21:41:03&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara Indonesia Book Fair (IBF), bagi penerbit dan pecinta buku telah menjadi acara rutin tahunan. Ajang ini adalah momentum bagi bertemunya para pecinta buku, penulis, sekaligus promosi bagi para penerbit buku untuk secara langsung menyapa pembaca. Namun, tahun 2011 ini acara rutin tersebut telah digeser secara semena-mena oleh penguasa (Presiden SBY) padahal tempatnya jelas berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengumumunnya, panitia IBF 2011 menginformasikan bahwa IBF yang diadakan di Istora Senayan Jakarta tanggal 26 November yang jatuh hari Sabtu,  diliburkan karena pada hari/tanggal tersebut ada acara kenegaraan yang berlangsung di Gedung JCC. Kita semua tahu, acara yang disebut acara kenegaraan itu sebenarnya acara pribadi presiden yang menikahkan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar itu pihak istana menggeser acara pameran buku itu dengan semena-mena sehingga banyak menimbulkan kekecewaan bagi para pengunjung dan pecinta buku pada umumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan bahwa liburnya IBF 2011 pada tanggal 26 November telah dikoordinasikan karena ada acara pernikahan tidak dapat diterima. Sebab, IBF 2011 merupakan acara rutin yang tanggal penyelenggaraannya biasanya sudah ditentukan satu tahun sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak istana mungkin berpikiran acara pameran buku bukan sesuatu yang penting. Jadi enteng saja menggeser acara semaunya. Tapi, bagi dunia perbukuan dan penerbitan, peristiwa ini adalah tragedi. Sebuah wajah nyata pelecehan terhadap para pecinta buku telah dipertontonkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mensikapi hal tersebut, Badan Pengurus Pusat (BPP) Forum Lingkar Pena (FLP) Pusat yang membawahi 29 wilayah, 130 cabang dengan lebih dari 5000 anggota di dalam maupun luar negeri, menyatakan keprihatinan mendalam terhadap tindakan semena-mena tersebut. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa pemerintahan SBY lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan rakyatnya. Juga menegaskan ketidakberpihakan pemerintah dalam memajukan dunia literasi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FLP berharap semua pemimpin bangsa baik dari tingkat bawah sampai atas, benar-benar peduli pada dunia perbukuan, sebab hal ini adalah bagian dari dunia pendidikan yang ikut menentukan nasib baik Indonesia ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 28 November 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiawati Intan Savitri&lt;br /&gt;Ketua Umum FLP Pusat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CP: Humas FLP Pusat (Yons Achmad) 021 9487 1657 atau  redaksiflp(at)gmail.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-2423001433112033106?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://forumlingkarpena.net/info_kepenulisan/read/flp_tolak_pelecehan_terhadap_pecinta_buku/' title='Forum Lingkar Pena (FLP) Tolak Pelecehan Terhadap Pecinta Buku'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/2423001433112033106/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=2423001433112033106&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2423001433112033106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2423001433112033106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/12/forum-lingkar-pena-flp-tolak-pelecehan.html' title='Forum Lingkar Pena (FLP) Tolak Pelecehan Terhadap Pecinta Buku'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-mVtoLVZ0Sfs/TtjPinvBoEI/AAAAAAAABd8/1JwT3VOkPDc/s72-c/books.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-7317872860051083645</id><published>2011-12-02T04:51:00.000-08:00</published><updated>2011-12-02T04:51:55.080-08:00</updated><title type='text'>Doa Rahasia untuk Allah SWT</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-cDx_FYMNsTg/TtjJpoH_AzI/AAAAAAAABdw/IPZUnyT2dyU/s1600/salat.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="272" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-cDx_FYMNsTg/TtjJpoH_AzI/AAAAAAAABdw/IPZUnyT2dyU/s400/salat.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ya, Allah. Posting Facebook ini menjadi saksi di dunia bahwa di tengah malam ini, aku telah berdoa untukmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengaja aku tak menuliskan isi doaku di sini karena aku tetap ingin agar isi doa ini menjadi rahasia di antara kita berdua saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada doa-doa yang tak terkatakan, tak tersurat, karena ketersuratan justru akan menimbulkan kesalahpahaman. Bahasa manusia sangat terbatas dan tak cukup untuk menjelaskan.... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, aku percaya Engkau dapat membaca relung-relung isi hatiku ini, ya Allah... Bacalah hatiku, ya Allah... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabulkanlah bisikan doa hati ini, ya Allah, jika apa yang tersirat dalam desahan hati ini memang membawa kebaikan untukku, keluargaku, orang-orang yang kucintai dan orang-orang yang mencintaiku, untuk masyarakatku.... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui yang Terahasia dari yang Rahasia, Maha Mengabulkan Doa Hamba-hamba-Mu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Kebesaran dan Kemuliaan NamaMu, kabulkanlah doa hamba-Mu yang lemah, hina dan rendah ini, ya Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Izinkanlah sebutir debu hina rendah ini tenggelam dalam matahari-Mu sehingga ia lenyap, fana, hilang, senyap dalam kecemerlangan matahari....Amin ya Rabbal Alamin.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 29 Nov 2011&lt;br /&gt;Satrio Arismunandar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-7317872860051083645?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/7317872860051083645/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=7317872860051083645&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/7317872860051083645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/7317872860051083645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/12/doa-rahasia-untuk-allah-swt.html' title='Doa Rahasia untuk Allah SWT'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-cDx_FYMNsTg/TtjJpoH_AzI/AAAAAAAABdw/IPZUnyT2dyU/s72-c/salat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-5039281855016043695</id><published>2011-12-02T04:30:00.000-08:00</published><updated>2011-12-02T04:30:55.626-08:00</updated><title type='text'>Mataku Terpejam, tetapi Hatiku Melek...</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-vWxslp18tNQ/TtjE0xcjp4I/AAAAAAAABdk/ZmTrBNdFlKc/s1600/Si%2Bbuta.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="400" width="284" src="http://1.bp.blogspot.com/-vWxslp18tNQ/TtjE0xcjp4I/AAAAAAAABdk/ZmTrBNdFlKc/s400/Si%2Bbuta.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Mataku terpejam, tetapi InsyaAllah hatiku melek. Seperti tokoh silat Badra Mandrawata, Si Buta dari Gua Hantu (komik karya Ganes TH), yang memilih membutakan matanya sendiri demi menguasai "ilmu membedakan suara." Itulah satu-satunya ilmu untuk bisa mengalahkan Mata Malaikat, si penjahat durjana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kebutaan matanya itulah, Badra akhirnya memperoleh pencerahan, yaitu ia melihat dunia melalui "mata hatinya". Perlawanannya terhadap Mata Malaikat bukan lagi dilandasi niat balas dendam atas kematian ayahnya (yang dibunuh Mata Malaikat), tetapi dilandasi niat membela kemanusiaan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 29 November 2011&lt;br /&gt;Satrio Arismunandar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-5039281855016043695?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/5039281855016043695/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=5039281855016043695&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/5039281855016043695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/5039281855016043695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/12/mataku-terpejam-tetapi-hatiku-melek.html' title='Mataku Terpejam, tetapi Hatiku Melek...'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-vWxslp18tNQ/TtjE0xcjp4I/AAAAAAAABdk/ZmTrBNdFlKc/s72-c/Si%2Bbuta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-8631531283315920174</id><published>2011-12-02T01:44:00.000-08:00</published><updated>2011-12-02T01:48:45.733-08:00</updated><title type='text'>FREDDIE MERCURY - Saksikan di Riwayat, Trans TV, Sabtu 3 Des, Pkl. 7.00 WIB</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-J5BazueQw08/Ttidj_73NvI/AAAAAAAABdY/qe6tGbvuNkI/s1600/freddie_mercury_birthday-doodle.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="400" width="288" src="http://1.bp.blogspot.com/-J5BazueQw08/Ttidj_73NvI/AAAAAAAABdY/qe6tGbvuNkI/s400/freddie_mercury_birthday-doodle.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;FREDDIE MERCURY – Vokalis Queen yang Jadi Korban AIDS&lt;br /&gt;Saksikan di RIWAYAT, Trans TV, Sabtu, 3 Desember 2011, pukul 7.00 WIB&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang tak kenal lagu ”We Are the Champions?” Ini adalah lagu grup band rock Inggris, Queen, yang hampir selalu dinyanyikan di berbagai event olahraga akbar. Freddie Mercury adalah vokalis Queen, yang melantangkan lagu dahsyat ini. Wafat pada usia 45 tahun karena komplikasi penyakit HIV/AIDS, pada 24 November 1991, Mercury telah meninggalkan karya lagu yang seolah-olah abadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir sebagai warga Parsi di Zanzibar, Afrika, pada 5 September 1946, Mercury tumbuh sebagai remaja di India. Sejak kecil ia sudah mahir bermain piano. Pemuda yang memiliki nama asli Farrokh Bomi Bulsara ini, lalu hijrah bersama keluarganya ke Inggris pada 1969. Di sinilah ia akhirnya membentuk grup band Queen, bersama Roger Taylor, Brian May, dan John Deacon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Queen adalah grup band yang semua personilnya sarjana. Sebagai penyanyi utama dan pengarang lagu, posisi Mercury cukup menonjol di sini. Mercury memiliki karakter vokal yang kuat, yang bisa mencapai empat oktaf. Berbagai media musik ternama, seperti majalah Rolling Stone (2008) dan Classic Rock (2009), telah menjulukinya sebagai salah satu penyanyi terbesar di sepanjang sejarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan peringatan Hari AIDS se-Dunia 1 Desember, kisah hidup dan karya-karya Freddie Mercury dapat disaksikan di program Riwayat, Sabtu, pukul 7.00 WIB, hanya di Trans TV. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2 Desember 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Executive Producer Divisi News TransTV&lt;br /&gt;HP: 0819 0819 9163&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-8631531283315920174?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/8631531283315920174/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=8631531283315920174&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/8631531283315920174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/8631531283315920174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/12/freddie-mercury-vokalis-queen-yang-jadi.html' title='FREDDIE MERCURY - Saksikan di Riwayat, Trans TV, Sabtu 3 Des, Pkl. 7.00 WIB'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-J5BazueQw08/Ttidj_73NvI/AAAAAAAABdY/qe6tGbvuNkI/s72-c/freddie_mercury_birthday-doodle.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-8854701255162241514</id><published>2011-11-28T11:11:00.000-08:00</published><updated>2011-11-28T11:11:26.807-08:00</updated><title type='text'>Essay - KALAH MENTAL  (Oleh Satrio Arismunandar)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-32mgLpCJkwU/TtPcv6jxMYI/AAAAAAAABdM/SxCHvuApSj0/s1600/mie%2Bhijau.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="241" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-32mgLpCJkwU/TtPcv6jxMYI/AAAAAAAABdM/SxCHvuApSj0/s400/mie%2Bhijau.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari lalu, aku kebetulan makan siang di sebuah restoran di kawasan Depok II, Jawa Barat, yang menjual mie bakso unik (mie yang diolah sendiri dengan campuran herbal, sehingga berwarna hijau, merah, dan sebagainya, dan diklaim sangat menyehatkan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sedang enak-enaknya makan, tiba-tiba ada seorang laki-laki pengemis tua berdiri di ambang pintu sambil menadahkan tangan. Merasa proses makanku terganggu, aku pun merogoh dompet mencari uang receh dan menemukan selembar Rp 2.000-an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ketika aku mau menyerahkan uang itu, seorang ibu muda (sekitar 35 tahun) berjilbab, yang makan mie dan duduk tak jauh dariku, lebih dulu bangkit. Di luar dugaanku, dia bukan cuma memberi recehan, tetapi malah menawarkan makanan pada pengemis itu. “Bapak mau mie bakso? Jangan khawatir, Pak, nanti biar saya yang bayar!” ujarnya ramah. Mungkin si ibu merasa iba pada pengemis itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengemis itu tampak sangat bersyukur. Matanya berbinar. Mie bakso pun disiapkan dan dibungkuskan untuk si pengemis, dan si pengemis tua itu lalu pergi setelah mengucapkan terimakasih. Si ibu pun kembali duduk dan meneruskan makannya, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Namun, justru aku yang terhenyak. Aku merasa kalah mental. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dilihat dari tampilannya, secara status sosial ekonomi aku tidak kalah dari ibu itu, bahkan mungkin aku dalam posisi lebih. Aku datang ke restoran itu memakai mobil, meski ”cuma” sedan Baleno keluaran 2003 milik kantor. Sedangkan ibu itu tampaknya tidak punya mobil. Namun, dalam kasus penanganan terhadap pengemis tadi, dia bisa dan mau memberi lebih banyak, sedangkan aku hanya siap dengan pemberian ”paket standar buat pengemis,” yaitu uang receh terkecil yang bisa ditemukan di dompet!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu membayangkan, bagaimana jika situasi ”kalah mental” ini diangkat ke skala pribadi yang lebih luas, atau bahkan ke skala anggaran nasional. Majalah Forbes belum lama mengeluarkan daftar nama 40 orang terkaya di Indonesia. Tidak ada yang salah dengan menjadi kaya raya. Namun, apakah sumbangsih para orang kaya Indonesia ini –termasuk para anggota DPR, yang tiap hari ngantor memakai Bentley, Hummer, Alphard, Lexus, dan mobil-mobil mewah senilai sampai Rp 7 milyar itu—sudah proporsional dengan kekayaan yang mereka miliki?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi gengsi dan status diri, kita tidak merasa sayang membeli mobil, yang hanya buat dipakai mengantor tiap hari, senilai Rp 7 milyar. Tetapi kita merasa sayang jika diminta menyumbang Rp 10 juta rupiah untuk yatim piatu, meski Rp 10 juta itu sebetulnya cuma satu per 700 dari harga mobil kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lebih bangga membuat pesta perkawinan seharga milyaran rupiah untuk anak-anak kita, dengan menggusur pedagang kecil sekitar lokasi pesta, serta mengganggu kenyamanan orang-orang kecil di sekitar acara perhelatan. Itu lebih dipilih ketimbang mengadakan resepsi pernikahan yang relatif lebih sederhana, tetapi InsyaAllah memperoleh keberkahan, karena membagi rezeki dan kelebihan harta kita dengan warga miskin sekitar, dan mendapat ucapan doa syukur dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lebih suka mengalokasikan anggaran negara yang super besar untuk gedung megah, mobil dinas, rumah dinas pejabat, ”studi banding” ke luar negeri yang tak jelas hasilnya, ketimbang mengalokasikan anggaran untuk mengentaskan kemiskinan, menanggulangi anak-anak terlantar, kalangan yang menderita sakit dan tak punya asuransi kesehatan, dan warga kita yang hidup di bawah garis sederhana di pelosok-pelosok nusantara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah mereka yang membujtuhkan dukungan kita ini ada puluhan juta, tetapi mereka cuma menjadi angka statistik yang tidak bisa bicara. Mereka hanya diperhitungkan ketika menjelang pemilu untuk menjadi obyek penggalangan suara dan bagi-bagi BLT (bantuan langsung tunai), yang toh BLT itu juga dikutip dari uang negara, tetapi untuk kepentingan penguasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, banyak dari kita sebetulnya menderita kondisi ”kalah mental” yang parah. Dampaknya bukan cuma pada diri pribadi, tetapi begitu melebar, mencakup kepentingan masyarakat, rakyat dan bangsa yang lebih luas. Tidak bisa tidak, kita harus merombak kondisi mental ini jika ingin bangsa Indonesia ini maju, memiliki martabat kemanusiaan, dan posisi terhormat di antara bangsa-bangsa lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi kita sekarang sudah di titik nadir. Tetapi masih ada waktu untuk memperbaiki diri. Tidak pernah ada kata terlambat untuk tobat. Marilah kita membuat perbaikan bersama-sama, dan dimulai dari diri masing-masing. InsyaAllah, Tuhan akan meridhoi setiap langkah ke arah kebaikan. Hari ini, kini, detik ini, mulailah selangkah kecil dari diri Anda sendiri....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 29 November 2011&lt;br /&gt;Satrio Arismunandar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-8854701255162241514?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/8854701255162241514/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=8854701255162241514&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/8854701255162241514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/8854701255162241514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/11/essay-kalah-mental-oleh-satrio.html' title='Essay - KALAH MENTAL  (Oleh Satrio Arismunandar)'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-32mgLpCJkwU/TtPcv6jxMYI/AAAAAAAABdM/SxCHvuApSj0/s72-c/mie%2Bhijau.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-9108230856626167326</id><published>2011-11-25T05:28:00.000-08:00</published><updated>2011-11-25T05:28:25.135-08:00</updated><title type='text'>Ciri-ciri Presiden Republik Indonesia Menurut Ramalan Ronggowarsito</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-yp2yxkBHF40/Ts-XZl2KCiI/AAAAAAAABdA/DNefrvAGhc0/s1600/Soeharto.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="286" width="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-yp2yxkBHF40/Ts-XZl2KCiI/AAAAAAAABdA/DNefrvAGhc0/s400/Soeharto.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-WfWbHTXvaIs/Ts-XQL3StDI/AAAAAAAABc0/Z-P9K4fUWkM/s1600/soeharto4.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="266" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-WfWbHTXvaIs/Ts-XQL3StDI/AAAAAAAABc0/Z-P9K4fUWkM/s400/soeharto4.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ciri-Ciri Presiden Republik Indonesia menurut Ramalan Ronggowarsito :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. SATRIO KINUNJORO MURWO KUNCORO.&lt;/b&gt; Tokoh pemimpin yang akrab dengan penjara (Kinunjoro), yang akan membebaskan bangsa ini dari belenggu keterpenjaraan dan akan kemudian menjadi tokoh pemimpin yang sangat tersohor diseluruh jagad (Murwo Kuncoro). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soekarno, Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang juga Pemimpin Besar Revolusi dan pemimpin Rezim Orde Lama. Berkuasa tahun 1945-1967.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. SATRIO MUKTI WIBOWO KESANDUNG KESAMPAR.&lt;/b&gt; Tokoh pemimpin yang berharta dunia (Mukti) juga berwibawa/ditakuti (Wibowo), namun akan mengalami suatu keadaan selalu dipersalahkan, serba buruk dan juga selalu dikaitkan dengan segala keburukan / kesalahan (Kesandung Kesampar). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soeharto, Presiden Kedua Republik Indonesia dan pemimpin Rezim Orde Baru yang ditakuti. Berkuasa tahun 1967-1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. SATRIO JINUMPUT SUMELA ATUR. &lt;/b&gt;Tokoh pemimpin yang diangkat/terpungut (Jinumput) akan tetapi hanya dalam masa jeda atau transisi atau sekedar menyelingi saja (Sumela Atur). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai BJ Habibie, Presiden Ketiga Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1998-1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. SATRIO LELONO TAPA NGRAME.&lt;/b&gt; Tokoh pemimpin yang suka mengembara / keliling dunia (Lelono) akan tetapi dia juga seseorang yang mempunyai tingkat kejiwaan Religius yang cukup / Rohaniawan (Tapa Ngrame). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai KH. Abdurrahman Wahid, Presiden Keempat Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1999-2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. SATRIO PININGIT HAMONG TUWUH.&lt;/b&gt; Tokoh pemimpin yang muncul membawa kharisma keturunan dari moyangnya (Hamong Tuwuh). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Megawati Soekarnoputri, Presiden Kelima Republik Indonesia. Berkuasa tahun 2000-2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. SATRIO BOYONG PAMBUKANING GAPURO.&lt;/b&gt; Tokoh pemimpin yang berpindah tempat (Boyong / dari menteri menjadi presiden) dan akan menjadi peletak dasar sebagai pembuka gerbang menuju tercapainya zaman keemasan (Pambukaning Gapuro). Banyak pihak yang menyakini tafsir dari tokoh yang dimaksud ini adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Ia akan selamat memimpin bangsa ini dengan baik manakala mau dan mampu mensinergikan dengan kekuatan Sang Satria Piningit atau setidaknya dengan seorang spiritualis sejati satria piningit yang hanya memikirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga gerbang mercusuar dunia akan mulai terkuak. Mengandalkan para birokrat dan teknokrat saja tak akan mampu menyelenggarakan pemerintahan dengan baik. Ancaman bencana alam, disintegrasi bangsa dan anarkhisme seiring prahara yang terus terjadi akan memandulkan kebijakan yang diambil.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;7. SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU. &lt;/b&gt;Tokoh pemimpin yang amat sangat Religius sampai-sampai digambarkan bagaikan seorang Resi Begawan (Pinandito) dan akan senantiasa bertindak atas dasar hukum / petunjuk Allah SWT (Sinisihan Wahyu). Dengan selalu bersandar hanya kepada Allah SWT, Insya Allah, bangsa ini akan mencapai zaman keemasan yang sejati. Tokoh ini adalah.......... (masih rahasia, belum terbaca....)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dikutip dari posting Anton Dwisunu di FB, dengan sedikit modifikasi/perubahan di alinea terakhir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 25 November 2011&lt;br /&gt;Satrio Arismunandar - 081908199163&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-9108230856626167326?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/9108230856626167326/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=9108230856626167326&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/9108230856626167326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/9108230856626167326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/11/ciri-ciri-presiden-republik-indonesia.html' title='Ciri-ciri Presiden Republik Indonesia Menurut Ramalan Ronggowarsito'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-yp2yxkBHF40/Ts-XZl2KCiI/AAAAAAAABdA/DNefrvAGhc0/s72-c/Soeharto.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-2063049707618947931</id><published>2011-11-25T05:20:00.000-08:00</published><updated>2011-11-25T05:20:33.254-08:00</updated><title type='text'>TEKNIK PRESENTASI YANG BERHASIL - Materi untuk Pelatihan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Y3Ugdw5uaZg/Ts-VDiu5hFI/AAAAAAAABco/12AJwGgT-JE/s1600/soekarno.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="265" src="http://1.bp.blogspot.com/-Y3Ugdw5uaZg/Ts-VDiu5hFI/AAAAAAAABco/12AJwGgT-JE/s400/soekarno.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Materi pelatihan untuk crew RCD, Divisi News Trans TV, Jumat, 25 November 2011&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik presentasi adalah bagian dari ilmu komunikasi. Komunikasi itu sendiri adalah penyampaian pesan dari pengirim kepada penerima, melalui suatu media.&lt;br /&gt;Jadi, mengapa kita perlu belajar teknik presentasi? Dengan belajar, memahami, dan menguasai teknik presentasi, kita dapat berkomunikasi atau menyampaikan pesan kepada audiens dengan lebih efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada empat hal yang perlu kita kuasai untuk bisa disebut memiliki kompetensi presentasi. Empat hal itu adalah: Analisis audiens (audience analysis), presentasi terstruktur (structured presentation), keterampilan komunikasi (communication skill), dan pemahaman/kepekaan antarpribadi (interpersonal sensitivity).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1)  Analisis Audiens&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Proses untuk mendapatkan informasi dan mengembangkan pemahaman terhadap pendengar yang akan dihadapi, supaya dapat merencanakan, membawakan, dan mempersiapkan berbagai informasi dengan efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Memahami A-U-D-I-E-N-C-E&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;A = Analysis. Siapakah mereka? Berapa banyak yang akan hadir?&lt;br /&gt;U = Understanding. Seberapa jauhkan pemahaman mereka terhadap subject yang akan disampaikan?&lt;br /&gt;D = Demographic. Berapa usia, latar belakang, komposisi lelaki-perempuan, dan latar belakang pendidikan mereka?&lt;br /&gt;I = Interest. Untuk tujuan apa mereka hadir? Mengapa mereka duduk di ruang ini? Atas keinginan siapa mereka hadir di sini?&lt;br /&gt;E = Environment.  Di mana saya akan berdiri? Dapatkah mereka semua melihat dan mendengar saya? Lingkungan yang ada akan seperti apa?&lt;br /&gt;N = Need. Apakah kebutuhan mereka? Apakah kebutuhan saya selaku pembicara/presenter?&lt;br /&gt;C = Customized. Kebutuhan atau tujuan khusus apa yang perlu untuk didapatkan?&lt;br /&gt;E = Expectation. Apakah yang sekiranya ingin mereka dengar atau dapatkan dari saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Empat Tipe Audiens&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ada banyak tipe audiens, tetapi untuk menyederhanakan, kita sebut saja ada empat tipe. Sejumlah tipe ini kemungkinan besar akan Anda jumpai ketika melakukan presentasi:&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tipe Pemerhati:&lt;/b&gt; Ini adalah audiens yang paling baik. Mereka serius memerhatikan, mencatat, dan betul-betul berminat pada materi atau topik yang Anda sampaikan.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tipe Sandera: &lt;/b&gt;Ini adalah audiens yang merasa ”terpaksa” atau ”tersandera” untuk hadir di presentasi Anda. Mungkin dia adalah mahasiswa pemalas, yang terpaksa ikut kuliah karena takut dilarang ikut ujian jika data absensinya parah. Atau, bisa jadi dia adalah karyawan, yang sekadar ditugaskan atau dipaksa atasannya untuk hadir dan mendengarkan presentasi Anda.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tipe Turis:&lt;/b&gt; Ini adalah audiens yang mengikuti presentasi sambil lalu, seperti turis yang singgah di kota atau lokasi wisata untuk menikmati kesenangan, tanpa mau diajak berpikir terlalu serius. Bagi mereka, lumayan ikut di acara presentasi Anda, karena disediakan kopi, kue, dan makan siang gratis. &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tipe Teroris:&lt;/b&gt; Ini adalah audiens yang siap memberondong Anda dengan pertanyaan-pertanyaan tajam, kritis, dan keras. Motivasinya tidak selalu karena betul-betul antusias atau berminat pada informasi, tetapi dia mungkin memang sekadar ingin “mengetes’ kemampuan Anda. Mereka menikmati, saat Anda keteteran tak bisa menjawab pertanyaan. &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Analisis Audiens&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan pemahaman yang utuh mengenai pendengar seperti apa, yang akan dihadapi.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;2)  Presentasi Terstruktur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan untuk mempresentasikan ide atau gagasan kepada seseorang atau sekelompok orang, sesuai waktu yang disediakan, dengan cara yang memudahkan pendengar untuk memahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Unsur-unsur Presentasi yang Terstruktur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;• Menyatakan tujuan dengan jelas&lt;br /&gt;• Menyampaikan dalam urutan yang logis &lt;br /&gt;• Menggunakan berbagai media komunikasi&lt;br /&gt;• Membuat transisi antar-topik&lt;br /&gt;• Membuat kesimpulan&lt;br /&gt;• Mengatur waktu dengan efektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tujuan Presentasi Terstruktur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Untuk memastikan apakah pendengar dapat memahami bagaimana alur materi akan disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3)  Keterampilan Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan untuk dapat menyampaikan informasi dan ide secara jelas kepada seseorang/sekelompok orang, dengan cara yang dapat membuat pendengar menjadi tertarik dan mudah menangkap pesan yang diberikan, serta menjaganya selama berinteraksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Unsur-unsur Keterampilan Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;• Komunikasi Verbal:&lt;/b&gt; Bahasa yang sesuai (bukan bahasa ”alay”), volume suara (untuk menguatkan volume suara, Anda bisa berlatih menggunakan napas perut), intonasi (naik-turunnya suara), tempo/pacing (cepat-lambatnya bicara), artikulasi (kejelasan kata), pausing (jeda).&lt;br /&gt;&lt;b&gt;• Komunikasi Non-Verbal:&lt;/b&gt; Penampilan, eye contact, jarak, ekspresi wajah, nada suara, gerakan tubuh. Sikap tubuh (body gestures) harus menunjukkan kesantunan, rasa hormat, dan memancarkan rasa percaya diri (confidence). Ketika melakukan eye contact, tataplah 3-5 detik agar audiens bersangkutan merasa diperhatikan. Untuk banyak audiens di ruangan yang luas, lakukan tatapan ke audiens dengan W atau M sweeping. Cara menatap juga harus terkesan profesional (bukan tatapan ”mesum” atau jenis lain, yang bisa disalahartikan).&lt;br /&gt;&lt;b&gt;• Dampak ke Audience:&lt;/b&gt; a) Manusia memiliki keterbatasan persepsi; b) Kesan pertama sangat penting; c) Bangunlah kredibilitas dengan cara menunjukkan tingkat pengetahuan yang cukup, menampilkan kesan profesional dan percaya diri, serta menjaga anti-diskriminasi, hukum dan standar etika.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;• Menjaga Perhatian Audience:&lt;/b&gt; Rumus AISHA (Analogi, Ilustrasi, Story, Humor, Aktivitas).&lt;br /&gt;&lt;b&gt;• Mengecek Pemahaman:&lt;/b&gt; Apakah Anda sudah paham? Apakah saya memahami Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tujuan Keterampilan Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Untuk memastikan bahwa kita dapat mempertahankan ketertarikan pendengar dan membuat mereka paham tentang pokok bahasan yang disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4)  Pemahaman/Kepekaan Antarpribadi &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Menggunakan pemahaman interpersonal dalam presentasi untuk mengembangkan kenyamanan, dan rasa aman bagi pendengar, sehingga tercipta saling percaya dan keterbukaan.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Unsur-unsur Pemahaman/Kepekaan Antarpribadi&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;• Apresiatif (menghargai audiens)&lt;br /&gt;• Berpandangan luas&lt;br /&gt;• Mengetahui isu dan keprihatinan audiens&lt;br /&gt;• Mengklarifikasi suatu situasi atau kondisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menghargai Audiens&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam menghargai audiens, kita harus jujur dan tulus. Dan akan lebih baik lagi, jika ucapan penghargaan itu bersifat spesifik (dalam menyebut aspek dari audiens yang kita hargai tersebut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghargai audiens bisa dilakukan cukup dengan Anda mengucapkan kalimat seperti:&lt;br /&gt;”Ini adalah pertanyaan yang paling kritis, yang saya terima sejak memulai ceramah pagi tadi...”&lt;br /&gt;”Komentar Anda menunjukkan bahwa Anda sudah mempersiapkan diri untuk kuliah ini...”&lt;br /&gt;”Saya berharap, mahasiswa lain bisa belajar dari cara presentasi yang dilakukan Dewi tadi!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tujuan Pemahaman/Kepekaan Antarpribadi &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Untuk menciptakan suasana yang nyaman, khususnya bagi audiens.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sumber:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Satrio Arismunandar, berdasarkan materi pelatihan dari Humanis Group, 21-24 Februari 2011.&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-2063049707618947931?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/2063049707618947931/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=2063049707618947931&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2063049707618947931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2063049707618947931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/11/teknik-presentasi-yang-berhasil-materi.html' title='TEKNIK PRESENTASI YANG BERHASIL - Materi untuk Pelatihan'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-Y3Ugdw5uaZg/Ts-VDiu5hFI/AAAAAAAABco/12AJwGgT-JE/s72-c/soekarno.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-6712642603156846049</id><published>2011-11-24T06:14:00.000-08:00</published><updated>2011-11-24T06:15:50.857-08:00</updated><title type='text'>DAVID BECKHAM - Saksikan di Riwayat, Trans TV, Sabtu 26 Nov, Pkl. 7.00 WIB</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-oE87zEGMLaQ/Ts5QogK0zBI/AAAAAAAABcQ/TQ1ueTigzEc/s1600/Beckham.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="292" width="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-oE87zEGMLaQ/Ts5QogK0zBI/AAAAAAAABcQ/TQ1ueTigzEc/s400/Beckham.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;DAVID BECKHAM – Pesepakbola yang Juga Ikon Mode&lt;br /&gt;Saksikan di RIWAYAT, Trans TV, Sabtu, 26 November 2011, pukul 7.00 WIB&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi penggemar sepakbola, nama David Beckham pastilah sudah tidak asing. Beckham, yang dibesarkan di klub sepakbola Manchester United, dan mantan kapten tim nasional Inggris, kini sudah melejit melebihi pemain sepakbola biasa. Ia sudah menjadi selebritas kelas dunia, menjadi ikon mode dan gaya hidup. Pernikahannya dengan salah satu anggota Spice Girls, Victoria Caroline Adams, membuat Beckham makin berkibar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beckham, yang lahir pada 2 Mei 1975 di Leytonstone, London, ini mahir dalam umpan silang dan tendangan bebas melengkung. Keterampilannya mengolah bola membawa banyak kemenangan untuk timnya. Ayah dari empat anak ini pada 2005 juga menjadi duta organisasi anak sedunia UNICEF. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beckham membeli rumah yang karena ukuran dan kemegahannya dikenal dengan nama Beckingham Palace, sebagai anekdot dari Buckingham Palace, yang di dalam rumahnya dipekerjakan lebih dari 400 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Beckham, yang diharapkan kedatangannya bersama klub LA Galaxy ke Indonesia pada penghujung November 2011 ini, dapat disaksikan di program Riwayat, Sabtu, pukul 7.00 WIB, hanya di Trans TV. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 24 November 2011&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Executive Producer, News Trans TV&lt;br /&gt;HP: 0819 0819 9163&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-6712642603156846049?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/6712642603156846049/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=6712642603156846049&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/6712642603156846049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/6712642603156846049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/11/david-beckham-saksikan-kisahnya-di.html' title='DAVID BECKHAM - Saksikan di Riwayat, Trans TV, Sabtu 26 Nov, Pkl. 7.00 WIB'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-oE87zEGMLaQ/Ts5QogK0zBI/AAAAAAAABcQ/TQ1ueTigzEc/s72-c/Beckham.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-1442719661326300417</id><published>2011-11-18T08:54:00.001-08:00</published><updated>2011-11-18T09:05:12.275-08:00</updated><title type='text'>Bertanya ke Ustadz tentang Keadilan Tuhan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-l6FixjAsiCw/TsaOPoNUNCI/AAAAAAAABcE/PQFdj9ZDHRk/s1600/kambing.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-l6FixjAsiCw/TsaOPoNUNCI/AAAAAAAABcE/PQFdj9ZDHRk/s400/kambing.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Saya bertemu seorang Ustadz tak terkenal, dan bertanya tentang keadilan Tuhan.   Kenapa sih di Indonesia ada orang yang kaya banget, dan ada yang miskin banget.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang korupsi petantang-petenteng. Rakyat lain hidup sulit, meski jujur dan kerja keras.  Kok nggak dibikin makmur saja semua rakyat Indonesia yang berada di bawah rezim neoliberal ini.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Ustadz tersenyum. "Pertanyaan sampeyan mirip-mirip pertanyaan murid SD, yang bertanya: Mengapa di dunia binatang itu kok ada bebek, sapi, kerbau, babi, macan, gajah, burung beo, ikan, singa, jerapah, komodo, dsb... Kok Tuhan tidak menciptakan seluruh binatang di dunia cuma satu jenis, yaitu kambing saja..." jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 18 November 2011 &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-1442719661326300417?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/1442719661326300417/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=1442719661326300417&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/1442719661326300417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/1442719661326300417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/11/bertanya-ke-ustadz-tentang-keadilan.html' title='Bertanya ke Ustadz tentang Keadilan Tuhan'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-l6FixjAsiCw/TsaOPoNUNCI/AAAAAAAABcE/PQFdj9ZDHRk/s72-c/kambing.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-3409740249863018174</id><published>2011-11-18T02:38:00.000-08:00</published><updated>2011-11-18T02:38:13.021-08:00</updated><title type='text'>Perlukah Perkawinan Ibas Yudhoyono - Aliya Rajasa Diliput Media?</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-as_9AEmoeYY/TsY1VOODt4I/AAAAAAAABb4/AfDhLP9aI80/s1600/Ibas-Aliya.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="268" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-as_9AEmoeYY/TsY1VOODt4I/AAAAAAAABb4/AfDhLP9aI80/s400/Ibas-Aliya.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kalau Ibas Yudhoyono bukan anaknya Presiden SBY dan Aliya bukan putrinya Menko Perekonomian sekaligus Ketua Umum PAN, Hatta Rajasa, maka perkawinan Ibas-Aliya akan menjadi perkawinan biasa saja, seperti ribuan perkawinan yang terjadi tiap hari, dan tidak diliput media. Apalagi jadi liputan eksklusif di media TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak perkawinan itu juga tak penting-penting amat buat rakyat. Mereka lebih pusing dengan meningkatnya harga kebutuhan pokok sehari-hari, naiknya biaya pendidikan, mahalnya sarana kesehatan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi liputan media terhadap "perkawinan agung" Ibas-Aliya pada dasarnya adalah liputan elitis. Tapi liputan ini memang cocok dengan salah satu kriteria kelayakan berita menurut teori jurnalistik: orang terkenal menjadi berita karena keterkenalannya, bukan karena arti pentingnya buat rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, sebagai sesama warga Indonesia, saya tentu mengucapkan selamat menempuh hidup baru buat Ibas dan Aliya, semoga bahagia. Tetapi maaf, saya tidak bisa datang ke resepsi perkawinanAnda. Selain karena saya masih sibuk dengan urusan mencari nafkah, saya juga tidak diundang. Ya, tentu saya tahu diri dong. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 18 November 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Filsuf jalanan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-3409740249863018174?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/3409740249863018174/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=3409740249863018174&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/3409740249863018174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/3409740249863018174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/11/perlukah-perkawinan-ibas-yudhoyono.html' title='Perlukah Perkawinan Ibas Yudhoyono - Aliya Rajasa Diliput Media?'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-as_9AEmoeYY/TsY1VOODt4I/AAAAAAAABb4/AfDhLP9aI80/s72-c/Ibas-Aliya.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-5145407138995385213</id><published>2011-11-18T02:34:00.000-08:00</published><updated>2011-11-18T02:34:59.118-08:00</updated><title type='text'>IMELDA MARCOS - Saksikan di Riwayat, Trans TV, Sabtu 19 Nov, Pkl.7.00 WIB</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-wXnmdpElJYk/TsY0ioA29oI/AAAAAAAABbs/Xe-wCv8z8As/s1600/imelda%2Bmarcos.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="400" width="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-wXnmdpElJYk/TsY0ioA29oI/AAAAAAAABbs/Xe-wCv8z8As/s400/imelda%2Bmarcos.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;IMELDA MARCOS – Si ”Kupu-Kupu Besi” dari Filipina&lt;br /&gt;Saksikan di RIWAYAT, Trans TV, Sabtu, 19 November 2011, pukul 7.00 WIB&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa tak kenal Imelda Marcos? Kombinasi kecantikan, kekuasaan, ketenaran, dan kekayaan pernah dimiliki mantan ratu kecantikan dan istri Presiden Filipina ke-10 Ferdinand Marcos ini. Imelda, yang diberi berbagai jabatan pemerintahan oleh suaminya, adalah perempuan yang mewarnai panggung politik Filipina di era kekuasaan otoriter Presiden Marcos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya hidupnya yang suka pesta dan menghamburkan uang, serta memiliki sampai 3.000 pasang sepatu, sering menjadi pemberitaan media. Tetapi, Imelda, yang saat ini masih aktif di politik (ia menjadi anggota DPR Filipina mewakili distrik kedua Ilocos Norte), memang bukan perempuan sembarangan. Ia dipercaya Marcos melakukan misi diplomatik penting, untuk membujuk pemimpin Libya Muammar Qaddafi, agar berhenti mendukung gerakan separatis di Filipina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah hidup Imelda yang penuh warna, mulai dari kebangkitan, pasang-surutnya, sampai kejatuhan Marcos dan meninggalnya tokoh Filipina itu (1989), dapat disaksikan di program Riwayat, Sabtu, pukul 7.00 WIB, hanya di Trans TV. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 18 November 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Executive Producer, News Trans TV&lt;br /&gt;HOP: 081908199163&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-5145407138995385213?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/5145407138995385213/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=5145407138995385213&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/5145407138995385213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/5145407138995385213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/11/imelda-marcos-saksikan-di-riwayat-trans.html' title='IMELDA MARCOS - Saksikan di Riwayat, Trans TV, Sabtu 19 Nov, Pkl.7.00 WIB'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-wXnmdpElJYk/TsY0ioA29oI/AAAAAAAABbs/Xe-wCv8z8As/s72-c/imelda%2Bmarcos.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-8090441233222780825</id><published>2011-11-10T09:15:00.000-08:00</published><updated>2011-11-10T09:15:08.175-08:00</updated><title type='text'>CHE GUEVARA - Saksikan Riwayat, Trans TV, Sabtu (12 November 2011), Pkl. 7.00</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-w0cEB1pIR6Q/TrwGfKfTK0I/AAAAAAAABbU/PLjxFiQao9E/s1600/Che-Guevara_high-def.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="400" width="310" src="http://2.bp.blogspot.com/-w0cEB1pIR6Q/TrwGfKfTK0I/AAAAAAAABbU/PLjxFiQao9E/s400/Che-Guevara_high-def.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-pxFysknY0FQ/TrwGXWyUybI/AAAAAAAABbI/2jz7p-e5im0/s1600/che%2Bguevara-meet-soekarno.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="400" width="348" src="http://4.bp.blogspot.com/-pxFysknY0FQ/TrwGXWyUybI/AAAAAAAABbI/2jz7p-e5im0/s400/che%2Bguevara-meet-soekarno.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;ERNESTO CHE GUEVARA – Ikon Revolusioner Bangsa Tertindas&lt;br /&gt;Saksikan di RIWAYAT, Trans TV, Sabtu, 12 November 2011, pukul 7.00 WIB&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pertemuan bersejarah terjadi di Havana, Kuba, 13 Mei 1960. Yakni, pertemuan antara para revolusioner masyhur, Presiden Soekarno dengan Fidel Castro serta Ernesto Che Guevara.  Yang istimewa, ini adalah kunjungan kepala negara asing pertama di Kuba, setelah tumbangnya rezim Batista. Bung Karno pun meresmiklan hubungan diplomatik antara kedua negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Bung Karno ke Kuba, “Che” –begitu panggilan akrab untuk Che Guevara—telah diutus Castro untuk menemui Bung Karno di Indonesia. “Che” merupakan sapaan akrab untuk orang Argentina, yang artinya “sobat” atau “teman.” Sapaan ini populer sejak ia bergabung dalam perjuangan revolusi Kuba. Di tengah kunjungannya ke Indonesia itu, Che sempat mengunjungi Candi Borobudur, tahun 1959. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu Che baru menginjak usia 33 tahun. Namun di usia belia, ia sudah memperoleh peran sentral di Kuba. Che adalah orang muda dengan beragam peran, bukan hanya dalam memori sejarah Kuba, tetapi juga Amerika Latin, bahkan dunia. Figurnya sudah menjadi ikon perjuangan bangsa-bangsa tertindas dunia dalam melawan kapitalisme dan penjajahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Che lahir pada 14 juni 1928 di kota Rosario, Argentina, dari pasangan Ernesto Guevara Lynch dan Celia De La Serna. Anak pertama dari lima bersaudara ini lahir dari kerluarga kelas menengah, yang berkecukupan secara ekonomi. Di usia 19 tahun, Che menimba ilmu di Fakultas Kedokteran Universitas Buenos Aires. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pertengahan masa studinya, Che berkeliling Amerika Latin dengan mengendarai sepeda motor tua bersama sahabatnya Alberto Granado. Keputusan, yang didorong rasa ingin tahu lebih mendalam tentang kehidupan, inilah yang kemudian mengubah sejarah Che. Perjalanan sejauh 8.000 km selama hampir 10 bulan itu melintasi wilayah Argentina, Cile, Kolombia, hingga Venezuela. Kelak catatan harian Che tentang perjalanannya ini dibukukan, dan dikenal sebagai ”The Motorcycle Diaries.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ini merupakan perjalanan penemuan diri Che untuk memahami Amerika Latin. Ia kagum dan getir melihat penderitaan rakyat yang ditemuinya selama perjalanan. Ia tergetar melihat ketidakadilan yang diderita orang miskin. Ia juga melihat dominasi perusahaan Amerika Serikat di tengah penderitaan buruh tambang di Cile. Pandangan hidup Che pun berubah. Anak dari kelas menengah ini berpaling menjadi pejuang untuk rakyat kelas bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu banyak kisah yang bisa disampaikan tentang Che, mulai dari cerita perjuangan, kemenangan menggulingkan rezim Batista di Kuba, pilihannya untuk mundur dari pemerintahan, dan sampai kematiannya ketika membantu sebuah gerakan revolusioner secara pribadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Che adalah figur yang unik, berani, dan inspiratif. Ia orang yang berani melakukan ”bunuh diri kelas,” yakni melepaskan kenikmatan hidup sebagai kelas menengah demi sebuah idealisme membela masyarakat kelas bawah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah krisis kapitalisme dunia sekarang, bangkitnya perlawanan rakyat di berbagai negara melawan rezim korup-kapitalis, serta kehausan kita pada hadirnya sosok-sosok idealis yang betul-betul mau berjuang demi kepentingan rakyat, maka figur semacam Che diharapkan bisa mengisi kekosongan. Che sangat layak diprofilkan untuk program Riwayat di Trans TV. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 11 November 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;HP: 081908199163&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-8090441233222780825?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/8090441233222780825/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=8090441233222780825&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/8090441233222780825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/8090441233222780825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/11/che-guevara-saksikan-riwayat-trans-tv.html' title='CHE GUEVARA - Saksikan Riwayat, Trans TV, Sabtu (12 November 2011), Pkl. 7.00'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-w0cEB1pIR6Q/TrwGfKfTK0I/AAAAAAAABbU/PLjxFiQao9E/s72-c/Che-Guevara_high-def.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-8156086401784496569</id><published>2011-11-10T09:11:00.000-08:00</published><updated>2011-11-10T09:11:10.125-08:00</updated><title type='text'>Joke - Gaya Pencitraan Pemerintah Menjelang Kiamat</title><content type='html'>Alkisah stasiun pengamat antariksa milik NASA di Amerika dan sejumlah negara maju lain telah mendeteksi kedatangan sebuah meteor raksasa, yang dipastikan akan menghantam bumi. Dampak hantaman meteor itu akan setara dengan ledakan ratusan bom atom. Artinya, kiamat bagi kehidupan di bumi sudah tinggal menghitung hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka PBB meminta seluruh negara untuk mengumumkan pada rakyat masing-masing, agar bersiap menghadapi bencana tersebut. Indonesia pun tidak terkecuali. Maka atas instruksi Presiden, Menkominfo, juru bicara kepresidenan, dan tim pencitraan pemerintah pun mengadakan rapat darurat khusus, guna membahas bagaimana cara terbaik untuk penyampaian kabar buruk tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, karena penguasa sedang pusing oleh berbagai kasus korupsi yang terungkap di media, pesan pun dikemas sedemikian rupa agar meningkatkan citra pemerintah. Pesan untuk rakyat, yang sedianya akan dibacakan oleh presiden itu, akhirnya menjadi seperti berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Rakyat Indonesia yang kucintai, saya memiliki kabar baik dan kabar buruk untuk kita semua. Kabar buruknya, sebuah meteor raksasa akan menghantam bumi kita, dan itu berarti kiamat. Tetapi, alhamdulillah, saya memiliki kabar baik untuk kita semua. Yaitu, beberapa hari mendatang Indonesia akan 100 persen bebas dari korupsi.” ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 11 November 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-8156086401784496569?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/8156086401784496569/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=8156086401784496569&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/8156086401784496569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/8156086401784496569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/11/joke-gaya-pencitraan-pemerintah.html' title='Joke - Gaya Pencitraan Pemerintah Menjelang Kiamat'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-4406243663848445470</id><published>2011-11-04T09:52:00.000-07:00</published><updated>2011-11-04T09:52:35.835-07:00</updated><title type='text'>Essay - SALAH SATU KAKI WARTAWAN BERADA DI NERAKA</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-pwkrVtPWy9g/TrQYC2DLEdI/AAAAAAAABaM/JqDlOriiacc/s1600/IMG_1163.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-pwkrVtPWy9g/TrQYC2DLEdI/AAAAAAAABaM/JqDlOriiacc/s400/IMG_1163.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Oleh Satrio Arismunandar &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini cerita tentang ibunda dari rekan saya, Fauzan Mukrim (Ochan), wartawan Trans TV, penulis cerpen, yang juga alumnus Komunikasi FISIP Universitas Hasanuddin Makassar. Ketika Ochan memutuskan ingin masuk jurusan komunikasi (jurnalistik), yang berimplikasi bahwa Ochan akan menjadi wartawan sesudah lulus nanti, ibunya tidak menyatakan setuju atau tidak setuju dengan keputusan Ochan. Tetapi ibunya hanya menyatakan, ”Salah satu kaki wartawan itu sebenarnya berada di neraka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa ibunda Ochan mengatakan demikian?&lt;br /&gt;”Kata ibu, seorang wartawan itu jika menulis sesuatu yang tidak benar, atau tidak sesuai fakta, berpotensi menjurus ke melakukan fitnah. Sedangkan, jika dia menulis sesuatu yang benar, atau sesuai fakta, berpotensi menjurus ke ghibah,” kata Ochan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara bahasa, ghibah berarti menggunjing. Pengertian lengkapnya, ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang orang itu tidak suka (jika hal itu disebutkan). Baik dalam keadaan soal jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, akhlaknya, bentuk lahiriyahnya dan sebagainya. Cara ghibah pun bermacam-macam. Di antaranya dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-ngolok (saya kutip dari Wikipedia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengatakan hal itu, saya menduga, ibunda Ochan bukan berarti mau mengecilkan atau merendahkan profesi wartawan. Tetapi ia sekadar mau mengingatkan anaknya bahwa profesi wartawan itu bukanlah profesi biasa, tetapi profesi yang penuh tantangan, cobaan, dan godaan, sehingga diperlukan ikatan rambu aturan di kanan-kiri serta etika. Begitu rawannya, sehingga jika si wartawan tidak hati-hati, ia bisa tergelincir melakukan dosa. Tentu saja, semua profesi pasti memiliki tantangan, cobaan dan godaan tersendiri. Namun, profesi wartawan –seperti juga profesi hakim, jaksa, pengacara, petugas bea cukai—memang memiliki kadar godaan yang tak bisa dianggap remeh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari hal itu, jauh-jauh hari, ketika Ochan baru memilih jurusan jurnalistik, ibundanya sudah wanti-wanti mengingatkan agar Ochan berhati-hati. Ochan beruntung memiliki orangtua yang mencintai dan sangat memperhatikan kebaikan masa depannya. Semoga kita semua, para jurnalis dan praktisi media, juga dianugerahi sikap hati-hati yang sama. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 4 November 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HP Satrio : 081908199163&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-4406243663848445470?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/4406243663848445470/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=4406243663848445470&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/4406243663848445470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/4406243663848445470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/11/essay-salah-satu-kaki-wartawan-berada.html' title='Essay - SALAH SATU KAKI WARTAWAN BERADA DI NERAKA'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-pwkrVtPWy9g/TrQYC2DLEdI/AAAAAAAABaM/JqDlOriiacc/s72-c/IMG_1163.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-3161345934474874894</id><published>2011-11-03T08:28:00.000-07:00</published><updated>2011-11-03T08:30:15.044-07:00</updated><title type='text'>RUDY HARTONO, Sang Maestro Bulutangkis - Riwayat, Trans TV, Sabtu 5 Nov 2011 pkl.7.00 WIB</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-wVYFk-iPrlI/TrKw2eEmKQI/AAAAAAAABZQ/2tAr1uXIohM/s1600/rudy%2Bhartono-_110505161350-709.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="260" width="360" src="http://4.bp.blogspot.com/-wVYFk-iPrlI/TrKw2eEmKQI/AAAAAAAABZQ/2tAr1uXIohM/s400/rudy%2Bhartono-_110505161350-709.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-1gf9F9o5Ar4/TrKwuv4eBrI/AAAAAAAABZE/IR0XX8XOtLI/s1600/rudy.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="267" width="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-1gf9F9o5Ar4/TrKwuv4eBrI/AAAAAAAABZE/IR0XX8XOtLI/s400/rudy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;RUDY HARTONO – Sang Maestro Bulutangkis&lt;br /&gt;Saksikan di RIWAYAT, Trans TV, Sabtu, 5 November 2011, pukul 7.00 WIB&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Siapa tak kenal mestro bulutangkis ini? Rudy Hartono Kurniawan mencengangkan publik Indonesia, lewat debut pertamanya di Istora Senayan pada ajang Piala Thomas 1967. Sebagai remaja 17 tahun pada waktu itu, Rudy menaklukkan dua jagoan butangkis Malaysia, Tan Aik Huang dan Yew Cheng Hou. Tahun itu, tim Indonesia memang gagal merebut kembali Piala Thomas. Namun, keindahan permainan Rudy Hartono, yang mengalahkan dua pemain kelas dunia, menjadi penawar kekecewaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajang All England kemudian menjadi singgasana kesuksesan Rudy Hartono. Sejak tahun 1968, tujuh kali berturut-turut, Rudy meraih gelar juara di turnamen prestisius itu. Pada tahun 1976, ia menggenapi kemenangannya yang kedelapan. Sungguh prestasi yang fantastis, dan rekornya itu hingga kini belum tertandingi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Surabaya pada 18 Agustus 1949, pemilik nama asli Nio Hap Liang ini sejak kecil memang berminat besar pada olahraga. Ayahnya, Zulkarnain Kurniawan, adalah yang memperkenalkan olahraga bulutangkis pada Rudy kecil. Zulkarnain, yang pebulutangkis profesional dan memiliki klub bulutangkis ”PB OKE” di Surabaya, turun langsung melatih Rudy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disiplin tinggi, fokus dan tekun, adalah tiga hal yang diterapkan sang ayah saat melatih Rudy. Rudy rela menghabiskan masa kecil dan remajanya untuk melatih kekuatan fisik dan stamina, serta teknik permainan bulutangkisnya. Ia berlatih dengan fasilitas yang amat minim. Jalan raya, tempat parkir mobil, hingga bengkel kereta api di sekitar kawasan Kaliasin, Surabaya, menjadi saksi perjuangan dan ambisi Rudy untuk meraih prestasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usia 15 tahun, Rudy berhasil menyandang juara junior Indonesia. Setahun kemudian, Rudy memutuskan hijrah ke Pelatnas Thomas Cup di Jakarta, meski keputusan ini sempat ditentang ayahnya. Rudy meyakinkan sang ayah bahwa ia akan tetap berdisiplin tinggi, fokus, dan tekun. Ternyata janji Rudy terbukti. Bersama tim bulutangkis Indonesia, anak ketiga dari sembilan bersaudara ini berhasil memboyong Piala Thomas empat kali, yakni tahun 1970, 1973, 1976 dan 1978.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sebagai manusia biasa, Rudy juga sempat mengalami saat-saat pahit. Pada final Piala Thomas 1973 di Jakarta, Rudy dikalahkan Svend Pri, pemain asal Denmark. Masyarakat pun menghujat dan berbagai tuduhan berkembang, sehingga Rudy merasa terpuruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1982, saat final Piala Thomas di London, Inggris, Rudy sekali lagi menelan pil pahit. Meski semula diunggulkan, Rudy ditaklukkan oleh Luan Jin, pemain tunggal andalan China. Tim Indonesia kalah, dan Piala Thomas --yang selama 21 tahun berada di tangan Indonesia-- berpindah tangan ke pendatang baru, China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca kekalahan 1982, Rudy memilih gantung raket. Namun, ia tak sepenuhnya meninggalkan dunia bulutangkis. Ia sempat menjabat Ketua Bidang Pembinaan PB-PBSI. Bersama sejumlah mantan pemain bulutangkis, Rudy juga mendirikan klub Jaya Raya, yang melahirkan pemain-pemain tingkat dunia. Antara lain: Susy Susanti, Alan Budi Kusuma, serta Chandra Wijaya dan Tony Gunawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, di usianya yang ke-62, Rudy menjadi presiden komisaris di sebuah perusahaan oli terkemuka. Ia juga menjadi staf penasehat di perusahaan perlengkapan dan peralatan olahraga. Meski bukan lagi pemain bulutangkis, Rudy tetap menjalani hidup yang disiplin. Operasi jantung yang dijalaninya tahun 1988 membuat Rudy berusaha terus menjaga kesehatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Maestro ini berharap, sisa hidupnya masih bisa berguna bagi lingkungan sekitar dan keluarga tercinta. Yaitu, istrinya Jane, anaknya Christopher Hartono Kurniawan, dan Christine Hartini Kurniawan. Impian lain yang ingin ia wujudkan adalah menjadikan cucu pertamanya, Gwen, sebagai penerus karirnya di dunia bulutangkis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 3 November 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Eksekutif Producer, Divisi News Trans TV&lt;br /&gt;HP: 0819 0819 9163&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-3161345934474874894?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/3161345934474874894/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=3161345934474874894&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/3161345934474874894'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/3161345934474874894'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/11/rudy-hartono-sang-maestro-bulutangkis.html' title='RUDY HARTONO, Sang Maestro Bulutangkis - Riwayat, Trans TV, Sabtu 5 Nov 2011 pkl.7.00 WIB'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-wVYFk-iPrlI/TrKw2eEmKQI/AAAAAAAABZQ/2tAr1uXIohM/s72-c/rudy%2Bhartono-_110505161350-709.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-8340068239876323472</id><published>2011-10-28T06:25:00.000-07:00</published><updated>2011-10-28T06:25:38.310-07:00</updated><title type='text'>NASEHAT UST. ABU BAKAR BAASYIR KEPADA SESAMA TAHANAN</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-GaEkEOyaREM/TqqsRzVezyI/AAAAAAAABYg/J-Ej-fQU3gY/s1600/Abu%2BBakar-Ba-asyir.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="265" width="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-GaEkEOyaREM/TqqsRzVezyI/AAAAAAAABYg/J-Ej-fQU3gY/s400/Abu%2BBakar-Ba-asyir.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Nasehat Ust. Abu Bakar Baasyir untuk Masyhuri Hasan, yang masuk bui karena dituduh terlibat kasus pemalsuan surat Mahkamah konstitusi (sebagaimana dikutip dari surat terbuka, yang disebut dikirimkan oleh Masyhuri Hasan untuk Ketua MK Mahfud MD):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....... selama saya berada di tahanan Mabes Polri saya banyak berdiskusi dengan Ust.Abu Bakar Baasyir, dan dalam salah satu dialognya disampaikan kepada saya bahwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, "Katakan saja apa yang benar. Dengan yang benar itu, bisa membuat kamu dihukum, bisa diringankan, atau bisa jadi kamu dibebaskan dari tuntutan hukum"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, "Kamu masuk di sini belum tentu (karena) kamu bersalah menurut hukum manusia. Akan tetapi, bisa jadi kamu pernah melakukan kesalahan, yang oleh hukum manusia itu tidak bersalah, akan tetapi menurut hukum Tuhan kamu bersalah"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, "Karena di sini kita dalam tahanan, maka waktu luang kita sangat banyak. Pergunakan untuk banyak bertaubat kepada Allah SWT dan mengakui kesalahan pada masa lalu dan beribadah kepada Allah SWT."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketiga pesan inilah yang menguatkan saya selama di tahanan Mabes Polri dan&lt;br /&gt;LP Salemba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyhuri Hasan&lt;br /&gt;(Rutan Salemba)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 28 Oktober 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-8340068239876323472?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/8340068239876323472/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=8340068239876323472&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/8340068239876323472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/8340068239876323472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/10/nasehat-ust-abu-bakar-baasyir-kepada.html' title='NASEHAT UST. ABU BAKAR BAASYIR KEPADA SESAMA TAHANAN'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-GaEkEOyaREM/TqqsRzVezyI/AAAAAAAABYg/J-Ej-fQU3gY/s72-c/Abu%2BBakar-Ba-asyir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-3688076890804505157</id><published>2011-10-27T11:37:00.000-07:00</published><updated>2011-10-27T11:37:11.444-07:00</updated><title type='text'>MUAMMAR QADDAFI - Sang Penguasa Libya (Riwayat, Trans TV, Sabtu 29 Oktober 2011, Pkl. 7.00 WIB)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-HplM8to4SdU/TqmkQFvD93I/AAAAAAAABYQ/WyEKL0MolXY/s1600/gaddafi.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="286" width="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-HplM8to4SdU/TqmkQFvD93I/AAAAAAAABYQ/WyEKL0MolXY/s400/gaddafi.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;MUAMMAR QADDAFI – Sang Penguasa Libya&lt;br /&gt;Saksikan di RIWAYAT, Trans TV, Sabtu, 29 Oktober 2011, pukul 7.00 WIB&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kematian tragis pemimpin Libya, Muammar Qaddafi, di tangan pasukan perlawanan yang didukung NATO dan Amerika pada 20 Oktober 2011, telah mengakhiri suatu era, sekaligus juga mengawali babak baru bagi kehidupan rakyat Libya. Setelah sekitar 42 tahun hidup di bawah pemerintahan Qaddafi, masih belum jelas apakah rakyat Libya akan hidup tenteram, atau justru mengalami pergolakan berkepanjangan seperti Irak dan Afganistan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, kepemimpinan Muammar Abu Minyar al-Qaddafi, yang lahir pada 7 Juni 1942 di Sirte, Tripolitania, telah memberi warna tersendiri bagi negeri kaya minyak di Afrika Utara itu. Sebagai anak termuda, yang lahir dari keluarga miskin badawi di darah gurun pasir, Qaddafi pelan-pelan menanjak karirnuya. Terutama sejak tamat kuliah di Universitas Libya dan masuk akademi militer pada 1963. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak muda, Qaddafi sangat mengidolakan tokoh nasionalis Arab asal Mesir, Gamal Abdel Nasser. Ia terobsesi dengan kejayaan Arab yang bersatu dalam kepemimpinan tunggal. Sayangnya, obsesinya ini tidak disambut hangat oleh para pemimpin Arab lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari akademi militer inilah, Kapten Qaddafi menggalang kekuatan, yang  mencapai puncaknya dengan menggulingkan Raja Idris pada 1 September 1969. Begitu berkuasa, Qaddafi menaikkan pangkatnya sendiri menjadi kolonel, dan langsung menutup pangkalan militer Amerika dan Inggris, serta menasionalisasi perusahaan minyak asing di Libya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Libya di bawah Qaddafi juga banyak memberi dukungan pada gerakan-gerakan ”revolusioner” di seluruh dunia, seperti Tentara Republik Irlandia (IRA), Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), kelompok komunis Filipina (NPA, New People Army), dan Front Pembebasan Islam Moro (MILF) di Filipina selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kisah menarik tentang diplomasi luar negeri, yang dilakukan Presiden Filipina Ferdinand Marcos, untuk membujuk Qaddafi agar berhenti mendukung NPA dan MILF. Marcos sengaja mengirim istrinya yang cantik, Imelda, pada 1975 untuk menemui Qaddafi dalam kunjungan kenegaraan resmi ke Libya. Terpesona pada keberanian dan kecantikan Imelda, Qaddafi terbujuk, dan bertanya pada Imelda, mengapa Imelda tidak masuk Islam saja. Imelda menjawab, Islam berarti damai dan ia datang ke Libya untuk perdamaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat kekayaan minyak Libya, pendidikan dan kesehatan rakyat dijamin oleh pemerintah. Qaddafi juga banyak melakukan aktivitas sosial di negara-negara lain, termasuk Indonesia. Ia mendanai pembangunan sebuah masjid di kawasan Sentul, Jawa Barat. Sebagai penggemar sepakbola, Qaddafi juga memiliki sebagian saham di klub sepakbola Italia, Juventus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak kisah dan perilaku unik Qaddafi, yang memancing perhatian dunia. Mulai dari cara berpakaiannya yan g nyentrik, gaya berpidatonya yang berapi-api, pengawal-pengawal pribadinya yang terdiri dari para gadis cantik, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena berbagai hal itulah, News Trans TV akan menayangkan profil Qaddafi, pada program dokumenter RIWAYAT, yang akan hadir di layar Trans TV, Sabtu pagi, pukul 7.00 WIB. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 28 Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Executive Producer, News Trans TV&lt;br /&gt;HP: 0819 0819 9163&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-3688076890804505157?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/3688076890804505157/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=3688076890804505157&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/3688076890804505157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/3688076890804505157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/10/muammar-qaddafi-sang-penguasa-libya.html' title='MUAMMAR QADDAFI - Sang Penguasa Libya (Riwayat, Trans TV, Sabtu 29 Oktober 2011, Pkl. 7.00 WIB)'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-HplM8to4SdU/TqmkQFvD93I/AAAAAAAABYQ/WyEKL0MolXY/s72-c/gaddafi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-8838268015546521436</id><published>2011-10-27T11:33:00.000-07:00</published><updated>2011-10-27T11:33:44.264-07:00</updated><title type='text'>JFK, INDONESIA, CIA DAN FREEPORT (Sumber Masalah di Papua)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-lIFzwmoeefA/Tqmjq8et2DI/AAAAAAAABYE/sDPYTMqDbrI/s1600/freeport%2Bgrasberg.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="246" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-lIFzwmoeefA/Tqmjq8et2DI/AAAAAAAABYE/sDPYTMqDbrI/s400/freeport%2Bgrasberg.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Fv_asbHb3jw/TqmjkXPb6xI/AAAAAAAABX4/s69MlW9Mu3A/s1600/freeport_papua.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-Fv_asbHb3jw/TqmjkXPb6xI/AAAAAAAABX4/s69MlW9Mu3A/s400/freeport_papua.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Salam kebangsaan yg terhina,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir tahun 1996, sebuah tulisan bagus oleh Lisa Pease yang dimuat dalam majalah Probe. Tulisan ini juga disimpan dalam National Archive di Washington DC. Judul tulisan tersebut adalah “JFK, Indonesia, CIA and Freeport.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau dominasi Freeport atas gunung emas di Papua dimulai sejak tahun 1967, namun kiprahnya di negeri ini sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Dalam tulisannya, Lisa Pease mendapatkan temuan jika Freeport Sulphur, demikian nama perusahaan itu awalnya, nyaris bangkrut berkeping-keping ketika terjadi pergantian kekuasaan di Kuba tahun 1959.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. Oleh Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasikan. Freeport Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan nikel produksi perdananya terkena imbasnya. Ketegangan terjadi. Menurut Lisa Pease, berkali-kali CEO Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Castro, namun berkali-kali pula menemui kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah situasi yang penuh ketidakpastian, pada Agustus 1959, Forbes Wilson yang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan dengan Direktur pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen. Dalam pertemuan itu Gruisen bercerita jika dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas Gunung Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jaques Dozy di tahun 1936. Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di perpustakaan Belanda. Van Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berapi-api, Van Gruisen bercerita kepada pemimpin Freeport Sulphur itu jika selain memaparkan tentang keindahan alamnya, Jean Jaques Dozy juga menulis tentang kekayaan alamnya yang begitu melimpah. Tidak seperti wilayah lainnya diseluruh dunia, maka kandungan biji tembaga yang ada disekujur tubuh Gunung Ersberg itu terhampar di atas permukaan tanah, jadi tidak tersembunyi di dalam tanah. Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan perjalanan ke Irian Barat untuk mengecek kebenaran cerita itu. Di dalam benaknya, jika kisah laporan ini benar, maka perusahaannya akan bisa bangkit kembali dan selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survey dengan seksama atas Gunung Ersberg dan juga wilayah sekitarnya. Penelitiannya ini kelak ditulisnya dalam sebuah buku berjudul The Conquest of Cooper Mountain. Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta karun terbesar yang untuk memperolehnya tidak perlu menyelam lagi karena semua harta karun itu telah terhampar di permukaan tanah. Dari udara, tanah disekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilson juga mendapatkan temuan yang nyaris membuatnya gila. Karena selain dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan perak!! Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama GOLD MOUNTAIN, bukan Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson memperkirakan jika Freeport akan untung besar dalam waktu tiga tahun sudah kembali modal. Pimpinan Freeport Sulphur ini pun bergerak dengan cepat. Pada 1 Februari 1960, Freeport Sulphur meneken kerjasama dengan East Borneo Company untuk mengeksplorasi gunung tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun lagi-lagi Freeport Sulphur mengalami kenyataan yang hampir sama dengan yang pernah dialaminya di Kuba. Perubahan eskalasi politik atas tanah Irian Barat tengah mengancam. Hubungan Indonesia dan Belanda telah memanas dan Soekarno malah mulai menerjunkan pasukannya di Irian Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadinya Wilson ingin meminta bantuan kepada Presiden AS John Fitzgerald Kennedy agar mendinginkan Irian Barat. Namun ironisnya, JFK malah spertinya mendukung Soekarno. Kennedy mengancam Belanda, akan menghentikan bantuan Marshall Plan jika ngotot mempertahankan Irian Barat. Belanda yang saat itu memerlukan bantuan dana segar untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran akibat Perang Dunia II terpaksa mengalah dan mundur dari Irian Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu sepertinya Belanda tidak tahu jika Gunung Ersberg sesungguhnya mengandung banyak emas, bukan tembaga. Sebab jika saja Belanda mengetahui fakta sesungguhnya, maka nilai bantuan Marshall Plan yang diterimanya dari AS tidak ada apa-apanya dibanding nilai emas yang ada di gunung tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak dari sikap Belanda untuk mundur dari Irian Barat menyebabkan perjanjian kerjasama dengan East Borneo Company mentah kembali. Para pemimpin Freeport jelas marah besar. Apalagi mendengar Kennedy akan menyiapkan paket bantuan ekonomi kepada Indonesia sebesar 11 juta AS dengan melibatkan IMF dan Bank Dunia. Semua ini jelas harus dihentikan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segalanya berubah seratus delapan puluh derajat ketika Presiden Kennedy tewas ditembak pada 22 November 1963. Banyak kalangan menyatakan penembakan Kennedy merupakan sebuah konspirasi besar menyangkut kepentingan kaum Globalis yang hendak mempertahankan hegemoninya atas kebijakan politik di Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Johnson yang menggantikan Kennedy mengambil sikap yang bertolak belakang dengan pendahulunya. Johnson malah mengurangi bantuan ekonomi kepada Indonesia, kecuali kepada militernya. Salah seorang tokoh di belakang keberhasilan Johnson, termasuk dalam kampanye pemilihan presiden AS tahun 1964, adalah Augustus C.Long, salah seorang anggota dewan direksi Freeport.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh yang satu ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia. Selain kaitannya dengan Freeport, Long juga memimpin Texaco, yang membawahi Caltex (patungan dengan Standard Oil of California). Soekarno pada tahun 1961 memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60persen labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Caltex sebagai salah satu dari tiga operator perminyakan di Indonesia jelas sangat terpukul oleh kebijakan Soekarno ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Augustus C.Long amat marah terhadap Soekarno dan amat berkepentingan agar orang ini disingkirkan secepatnya. Mungkin suatu kebetulan yang ajaib. Augustus C.Long juga aktif di Presbysterian Hospital di NY dimana dia pernah dua kali menjadi presidennya (1961-1962). Sudah bukan rahasia umum lagi jika tempat ini merupakan salah satu simpul pertemuan tokoh CIA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lisa Pease dengan cermat menelusuri riwayat kehidupan tokoh ini. Antara tahun 1964 sampai 1970, Long pensiun sementara sebagai pemimpin Texaco. Apa saja yang dilakukan orang ini dalam masa itu yang di Indonesia dikenal sebagai masa yang paling krusial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pease mendapatkan data jika pada Maret 1965, Augustus C.Long terpilih sebagai Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Augustus 1965, Long diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelejen kepresidenan AS untuk masalah luar negeri. Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi rahasia AS di Negara-negara tertentu. Long diyakini salah satu tokoh yang merancang kudeta terhadap Soekarno, yang dilakukan AS dengan menggerakkan sejumlah perwira Angkatan Darat yang disebutnya sebagai Our Local Army Friend.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu bukti sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul 21.48, yang menyatakan jika kelompok Jendral Suharto akan mendesak angkatan darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa menunggu Soekarno berhalangan. Mantan pejabat CIA Ralph Mc Gehee juga pernah bersaksi jika hal itu benar adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal November 1965, satu bulan setelah tragedi terbunuhnya sejumlah perwira loyalis Soekarno, Forbes Wilson mendapat telpon dari Ketua Dewan Direktur Freeport, Langbourne Williams, yang menanyakan apakah Freeport sudah siap mengekplorasi gunung emas di Irian Barat. Wilson jelas kaget. Ketika itu Soekarno masih sah sebagai presiden Indonesia bahkan hingga 1967, lalu darimana Williams yakin gunung emas di Irian Barat akan jatuh ke tangan Freeport?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lisa Pease mendapatkan jawabannya. Para petinggi Freeport ternyata sudah mempunyai kontak dengan tokoh penting di dalam lingkaran elit Indonesia. Mereka adalah Menteri Pertambangan dan Perminyakan Ibnu Soetowo dan Julius Tahija. Orang yang terakhir ini berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo dengan Freeport. Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam angkatan darat karena dialah yang menutup seluruh anggaran operasional mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab itulah, ketika UU no 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang draftnya dirancang di Jenewa-Swiss yang didektekan Rockefeller, disahkan tahun 1967, maka perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Suharto adalah Freeport!. Inilah kali pertama kontrak pertambangan yang baru dibuat. Jika di zaman Soekarno kontrak-kontrak dengan perusahaan asing selalu menguntungkan Indonesia, maka sejak Suharto berkuasa, kontrak-kontrak seperti itu malah merugikan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membangun konstruksi pertambangan emasnya itu, Freeport mengandeng Bechtel, perusahaan AS yang banyak mempekerjakan pentolan CIA. Direktur CIA John McCone memiliki saham di Bechtel, sedangkan mantan Direktur CIA Richards Helms bekerja sebagai konsultan internasional di tahun 1978.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1980, Freeport menggandeng McMoran milik “Jim Bob” Moffet dan menjadi perusahaan raksasa dunia dengan laba lebih dari 1,5 miliar dollar AS pertahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1996, seorang eksekutif Freeport-McMoran, George A.Maley, menulis sebuah buku berjudul “Grasberg” setelab 384 halaman dan memaparkan jika tambang emas di Irian Barat itu memiliki deposit terbesar di dunia, sedangkan untuk bijih tembaganya menempati urutan ketiga terbesar didunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maley menulis, data tahun 1995 menunjukkan jika di areal ini tersimpan cadangan bijih tembaga sebesar 40,3 miliar dollar AS dan masih akan menguntungkan 45 tahun ke depan. Ironisnya, Maley dengan bangga juga menulis jika biaya produksi tambang emas dan tembaga terbesar di dunia yang ada di Irian Barat itu merupakan yang termurah di dunia!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah Kota Tembagapura itu sebenarnya menyesatkan dan salah. Seharusnya EMASPURA. Karena gunung tersebut memang gunung emas, walau juga mengandung tembaga. Karena kandungan emas dan tembaga terserak di permukaan tanah, maka Freeport tinggal memungutinya dan kemudian baru menggalinya dengan sangat mudah. Freeport sama sekali tidak mau kehilangan emasnya itu dan membangun pipa-pipa raksasa dan kuat dari Grasberg-Tembagapura sepanjang 100 kilometer langsung menuju ke Laut Arafuru dimana telah menunggu kapal-kapal besar yang akan mengangkut emas dan tembaga itu ke Amerika. Ini sungguh-sungguh perampokan besar yang direstui oleh pemerintah Indonesia sampai sekarang!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesaksian seorang reporter CNN yang diizinkan meliput areal tambang emas Freeport dari udara. Dengan helikopter ia meliput gunung emas tersebut yang ditahun 1990-an sudah berubah menjadi lembah yang dalam. Semua emas, perak, dan tembaga yang ada digunung tersebut telah dibawa kabur ke Amerika, meninggalkan limbah beracun yang mencemari sungai-sungai dan tanah-tanah orang Papua yang sampai detik ini masih saja hidup bagai di zaman batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Freeport merupakan ladang uang haram bagi para pejabat negeri ini, yang dari sipil maupun militer. Sejak 1967 sampai sekarang, tambang emas terbesar di dunia itu menjadi tambang pribadi mereka untuk memperkaya diri sendiri dan keluarganya. Freeport McMoran sendiri telah menganggarkan dana untuk itu yang walau jumlahnya sangat besar bagi kita, namun bagi mereka terbilang kecil karena jumlah laba dari tambang itu memang sangat dahsyat. Jika Indonesia mau mandiri, sektor inilah yang harus dibereskan terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Blog Media Kata&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-8838268015546521436?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/8838268015546521436/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=8838268015546521436&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/8838268015546521436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/8838268015546521436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/10/jfk-indonesia-cia-dan-freeport-sumber.html' title='JFK, INDONESIA, CIA DAN FREEPORT (Sumber Masalah di Papua)'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-lIFzwmoeefA/Tqmjq8et2DI/AAAAAAAABYE/sDPYTMqDbrI/s72-c/freeport%2Bgrasberg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-2746301579713369130</id><published>2011-10-27T00:28:00.000-07:00</published><updated>2011-10-27T00:30:02.859-07:00</updated><title type='text'>MENGRITIK KEBOBROKAN MEDIA TELEVISI (Resensi Buku "The Freak Show")</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-U2iVV3q_Qnc/TqkIIHv4ZbI/AAAAAAAABXs/R-KKdMdoTAM/s1600/The%2Bcamp26.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-U2iVV3q_Qnc/TqkIIHv4ZbI/AAAAAAAABXs/R-KKdMdoTAM/s400/The%2Bcamp26.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Resensi Buku:&lt;br /&gt;Mengritik Kebobrokan Media Televisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul  : The Freak Show: Bukan Perempuan Tontonan&lt;br /&gt;Pengarang : Rino Sutan Sinaro&lt;br /&gt;Tebal  : 124 halaman.&lt;br /&gt;Penerbit : QuickSTART Foundation, Jakarta, 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak cara untuk bercerita, menyampaikan pesan, berkampanye, atau bahkan memberi advokasi. Mulai dari cara yang runut, lurus, konvensional, sampai ke cara yang meloncat-loncat, unik, atau tidak biasa. Novel The Freak Show (TFS), yang ditulis oleh motivator dan career coach Rino Sutan Sinaro, adalah termasuk jenis yang kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TFS dapat disebut ”novel advokasi,” yang cara penuturan kisahnya tidak memenuhi aturan konvensional. Cerita novel yang bersetting dunia pertelevisian ini disajikan dalam bab-bab tertentu, berselang-seling dengan bab-bab lain, yang menyajikan cuplikan berbagai program televisi, program radio, dan kutipan artikel suratkabar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program-program televisi itu sendiri, mulai dari berformat talkhow, siaran iklan, sampai sinetron mini seri, sebenarnya merupakan pesan kampanye tersendiri. Konten program-program itu sengaja ditampilkan oleh Rino Sutan Sinaro sebagai contoh format program televisi yang baik, mencerdaskan, dan mencerahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, isi novel ini sebetulnya merupakan kritik keras dan tajam terhadap berbagai praktik negatif di dunia penyiaran Indonesia, yang ironisnya saat ini justru diterima sebagai suatu ”kelaziman” dalam mainstream dunia pertelevisian. Contoh ”kelaziman” yang salah kaprah itu di antaranya, mulai dari tayangan yang mengumbar kekerasan dan seks, perilaku kebanci-bancian, iklan yang menyesatkan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, jika kita amati pesan yang kita terima tiap hari secara berulang dari media televisi, terasa bahwa pesan kemelaratan, kekerasan, gaya hidup hedon dan materialistik adalah pesan yang dominan. Jadi, tak perlu heran jika di alam bawah sadar, kita lalu memandang dunia sebagai tempat yang kejam, keras, dan untuk selamat kita harus hidup serba instan. Sukses secara instan, free sex, pakaian mini yang mengobral aurat. Serta, pesan bertubi-tubi lewat iklan bahwa perempuan yang cantik haruslah yang berkulit putih, berambut lurus dan berhidung mancung (hlm.111-112).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media TV seharusnya membebaskan diri dari perangkap cara pandang keliru tersebut. Dalam bahasa Budhiastuty atau Bunda Dhias, tokoh utama dalam novel ini: ”....stasiun TV seharusnya mendorong masyarakatnya untuk mempunyai semangat hidup dan berkehidupan yang baik dengan tidak menayangkan tontonan yang mendorong kekerasan, sakit hati, dan jalan pintas. Oleh karena itu kami mendesain agar penonton kami selalu optimis, kreatif, disiplin, dan  peduli sesama dalam menjalani hidup mereka” (hlm. 9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh sentral novel ini adalah Bunda Dhias, seorang presenter acara berita di sebuah stasiun televisi, yang memutuskan untuk memakai jilbab, justru sesudah pulang dari belajar selama tiga tahun di Amerika. Keinginan Dhias itu bertentangan dengan ”ketentuan baku” di stasiun televisi bersangkutan, sehingga karena alasan prinsip, Dhias pun mengundurkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah sempat menjadi analis lepas di sebuah perusahaan komunikasi strategis, akhirnya ia bekerja di Modern TV, yang lahir dari idealisme untuk menghadirkan  tontonan yang sehat, bermanfaat, dan mendidik bagi masyarakat. Sebagai CEO Modern TV, Dhias ingin membangun komunitas nasyarakat Indonesia yang maju, optimis, kreatif dan tawakal. Dalam misinya itu, Dhias didukung oleh aktris terkenal Shantee dan penyiar radio kondang, Imam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, niat baik ini ternyata juga menghadapi banyak hambatan dan tantangan, dari pihak-pihak yang merasa terganggu kepentingannya. Gedung stasiun Modern TV itu diserang oleh kelompok bersenjata, yang kemudian menewaskan dua karyawan Modern TV. Tetapi, serangan-serangan kekerasan ini justru semakin menegaskan keyakinan Dhias, bahwa langkah berani yang diayunnya sudah berada di jalur yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kalangan pembaca awam, bab-bab awal novel ini akan terasa membingungkan karena pola penuturan ceritanya yang tidak linier, bahkan terkesan meloncat-loncat. Setting waktunya juga berpindah-pindah, dari masa lampau ke masa kini, lalu balik ke masa lampau lagi, dan begitu seterusnya. Itu pun sambil diselingi dengan konten program-program TV, yang oleh si penulis sengaja dirancang untuk menyampaikan pesan advokasi dan informasi lain lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel dengan tema dan cara penyampaian yang unik ini, meski alur penceritaannya tidak kronologis, berhasil menyampaikan pesan agar pembaca –yakni, para konsumen media TV-- lebih menaruh perhatian pada pembentukan kehidupan yang sehat. Oleh karena itu, segala unsur negatif, yang setiap hari dijejalkan oleh media TV kita sebagai sesuatu yang ”wajar”, haruslah secara tegas kita tolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pesan yang disampaikan Dhias (hlm. 112), ”Mari bersama-sama menghadirkan potensi-potensi manusia di rumah Anda, kamar Anda, ruang keluarga Anda. Tampilkan contoh-contoh yang layak ditiru karena hidup itu indah, manusia itu indah dan munculkan semangat hidup bermakna agar hidup orang yang belum melihat keindahan menjadi ikut indah.” ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;* &lt;b&gt;Satrio Arismunandar&lt;/b&gt; adalah jurnalis, praktisi media, dan dosen ilmu komunikasi. Cerpen, esai, resensi buku, laporan perjalanan dan artikel karyanya pernah dimuat di berbagai media, seperti majalah Halo, Anita Cemerlang, Gadis, tabloid Mutiara, dan harian Kompas.   &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HP: 081908199163&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-2746301579713369130?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/2746301579713369130/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=2746301579713369130&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2746301579713369130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2746301579713369130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/10/resensi-buku-mengritik-kebobrokan-media.html' title='MENGRITIK KEBOBROKAN MEDIA TELEVISI (Resensi Buku &quot;The Freak Show&quot;)'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-U2iVV3q_Qnc/TqkIIHv4ZbI/AAAAAAAABXs/R-KKdMdoTAM/s72-c/The%2Bcamp26.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-1974433143417775918</id><published>2011-10-25T10:23:00.000-07:00</published><updated>2011-10-25T10:23:42.897-07:00</updated><title type='text'>"NOVEL SINETRON" KARYA KEROYOKAN 11 PENGARANG (Resensi Buku "Sengatan Sang Kumbang")</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-KP8u8hGvORA/Tqbv1LRrJBI/AAAAAAAABXg/TyfaL-u_YMQ/s1600/kumbang1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="313" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-KP8u8hGvORA/Tqbv1LRrJBI/AAAAAAAABXg/TyfaL-u_YMQ/s400/kumbang1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Resensi Buku:&lt;br /&gt;“Novel Sinetron” Karya 11 Pengarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul  : Sengatan Sang Kumbang&lt;br /&gt;Pengarang : Dewi Yanthi Razalie dkk (11 pengarang)&lt;br /&gt;Tebal  : 241 halaman.&lt;br /&gt;Penerbit : Teras Budaya, Jakarta, 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda penggemar sinetron, besar kemungkinan Anda akan sangat menikmati novel populer ini. Jalan ceritanya mudah dipahami, ringan, cair, dan alur ceritanya juga mengalir lancar. Tokoh-tokoh dalam novel ini juga berkarakter sederhana, dalam arti tidak ada tokoh-tokoh yang berperilaku rumit atau membuat kening pembaca berkerut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malah, bak sinetron atau opera sabun yang sering kita tonton di layar televisi, novel ini bertaburan dengan tokoh yang kaya, ganteng, gagah, macho, cantik, seksi, bertubuh aduhai, dan seterusnya. Tokoh dengan ciri-ciri seperti itulah yang mendominasi dan menghidupkan cerita dalam novel ini. Ditambah lagi banyak ”unsur kebetulan” yang mewarnai novel ini, yang mengaitkan satu tokoh dengan tokoh-tokoh lain. Toh itu sah-sah saja untuk sebuah ”novel sinetron.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh utama dalam novel ini adalah Herman, seorang pengusaha kaya yang juga seorang penikmat hidup sejati. Tidak begitu jelas, siapa orangtua Herman, bagaimana latar belakang kehidupannya, bagaimana ia bisa memperoleh kekayaan seperti itu, dan bisnis apa persisnya yang digelutinya. Sebagaimana cerita sinetron, rincian semacam itu tampaknya dianggap tidak terlalu penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman sudah memiliki seorang istri yang baik dan cantik, Yeni. Pasangan itu belum dikaruniai anak. Meski hidupnya nyaris sempurna, dan dicintai sepenuh hati oleh istrinya, hal itu tidak menghalangi Herman untuk berselingkuh dan bertualang cinta dengan sejumlah perempuan lain. Tentunya, tanpa setahu istrinya, yang sejak muda sudah menderita penyakit jantung bawaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, suatu saat Herman pun terkena batunya. Ketika sedang bermesraan dengan Helen, seorang perawat molek yang dikenal Herman ketika sedang menjalani perawatan di rumah sakit, perbuatan itu dipergoki Yeni. Yeni, yang berpenyakit jantung, tak tahan melihat pengkhianatan suaminya. Yeni jatuh koma dan akhirnya meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari sinilah, kehidupan yang semula dirasakan bak surga oleh Herman mulai berubah menjadi neraka. Helen yang semula tampil lugu, ternyata adalah perempuan licik, yang sejak awal memang berencana merebut Herman dari isterinya, serta ingin menguasai kekayaan Herman. Helen diam-diam telah merekam hubungan intim mereka dan mengancam akan menyebarkan isi rekaman itu,  jika Herman tidak mau menikahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari karir dan nama baiknya terancam, Herman malah nekad mengupah orang untuk menyingkirkan Helen, dan membuat Helen jadi gila. Herman juga tidak lantas kapok dengan pengalaman pahit itu. Sepeninggal istrinya dan sesudah mengenyahkan Helen, Herman terus bertualang cinta dengan sejumlah perempuan lain. Seperti dengan Titania dan Jeanette, mantan-mantan pacarnya semasa sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, sejak wafatnya Yeni, semua petualangan cinta itu gagal memberi kebahagiaan bagi Herman. Sebaliknya, semua itu justru mendatangkan berbagai petaka baru untuknya. Namun, Herman seperti tidak pernah belajar dari pengalaman. Cahaya keinsyafan dan penyadaran, yang terkadang menyinari hatinya, dengan cepat padam kembali oleh hasrat libidonya yang melonjak-lonjak setiap ia bertemu perempuan cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman digambarkan sebagai pribadi yang lemah dan plin-plan. Terkadang, ia digambarkan merasa berdosa dan menyesali perbuatan selingkuhnya, yang secara langsung atau tak langsung telah menewaskan istrinya, Yeni. Namun, sesaat kemudian, Herman seperti lupa pada semua penyesalan dan kesedihan itu, karena dengan enteng dia sudah jatuh ke pelukan perempuan lain lagi. Tetapi, kemudian ia akan tenggelam lagi dalam penyesalan. Dan begitu seterusnya, silih berganti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barulah ketika penyakit kanker yang menggerogoti tubuhnya semakin parah, bahkan Herman sempat menderita amnesia karena penyakitnya itu, pelan-pelan Herman dapat memperoleh kesadaran diri sejati. Itu pun terjadi karena ternyata masih ada orang-orang yang tulus mau membantunya menuju kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunikan dan kelebihan novel ini bukan terletak pada tema atau jalan cerita, tetapi bahwa novel ini digarap oleh 11 pengarang secara ”keroyokan.” Bisa dibilang, sangat langka ada novel yang ditulis dengan cara demikian, baik di Indonesia maupun di negara-negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 11 penulis yang terlibat dalam penulisan novel ini. Mereka adalah: Dewi Yanthi Razalie (sebagai penggagas, yang merangkap koordinator dan editor), Ariana Pegg, Ari Kinoysan Wulandari, Raya Henri Batubara, Fanny J. Poyk, Dianing Widya Yudhistira, Eva Budiastuti, Ris Prasetyo, Bamby Cahyadi, Hany Iskadarwati, dan Tiara Widjanarko. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing menulis satu bab, kecuali Dewi Yanthi Razalie yang menulis dua bab, yakni bab pertama dan bab terakhir. Dalam menulis, setiap pengarang diberi keleluasaan untuk berkreasi sesukanya di bab yang menjadi tanggung jawabnya. Meski, tentu saja mereka harus saling berkoordinasi, agar terdapat kesinambungan dalam nama dan karakter tokoh-tokohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, ketika membaca novel ini, kita tidak merasa bahwa novel ini ditulis oleh 11 pengarang, karena alur ceritanya sangat mulus mengalir. Relatif tidak terasa adanya ganjalan atau perbedaan dalam gaya penulisan maupun teknik bercerita, dari bab satu ke bab yang lain. Sehingga, seolah-olah seluruh bagian dalam novel ini ditulis oleh satu pengarang yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian tersebut, bisa dibilang bahwa Dewi Yanthi selaku koordinator dan editor sangat berhasil melaksanakan tugasnya. Ia berhasil memadukan seluruh bab --yang ditulis oleh pengarang yang berbeda-beda-- menjadi satu kesatuan utuh, yang mudah dicerna dan dinikmati pembaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pun ada yang harus dikritik dalam novel ini, maka itu ada dalam bab XII, atau bab terakhir. Dalam bab penutup itu terasa adanya ”sedikit pemaksaan” dalam alur cerita, seolah-olah penulis sudah tidak sabar, dan ingin agar cerita itu secepatnya diakhiri. Dalam bab terahir itu, jalan cerita terlalu diringkas dan dipadatkan, sehingga tidak jelas penggambaran dan perkembangan karakter tokoh-tokohnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, tidak jelas prosesnya, bagaimana pramugari cantik Lidya Prameshwarie bisa jatuh cinta pada Herman. Padahal mereka cuma berkenalan sekilas di pesawat, ketika Herman sedang terbang dari Jakarta ke Singapura, untuk mengobati penyakit kankernya di rumah sakit Singapura. Penjelasan tentang jatuh cintanya Lidya muncul secara tiba-tiba dan hanya tercantum dalam satu kalimat. Masih ada beberapa lagi contoh semacam itu di berbagai bagian novel ini, di mana pembaca tidak mendapat penjelasan memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun juga, sebagai suatu bacaan populer yang tidak berambisi muluk-muluk, novel ini cukup memadai dan bisa dinikmati oleh para pembacanya. Upaya para pengarang untuk menghadirkan suatu karya unik dan langka, hasil kerja keras 11 penulis dari berbagai latar belakang, tetaplah sesuatu yang layak kita apresiasi. ”Sesuatu banget gitu loh,” kalau boleh menggunakan kutipan khas dari penyanyi Syahrini. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;* &lt;b&gt;Satrio Arismunandar&lt;/b&gt; adalah jurnalis, praktisi media, dan dosen ilmu komunikasi. Cerpen, esai, resensi buku, laporan perjalanan dan artikel karyanya pernah dimuat di berbagai media, seperti majalah Halo, Anita Cemerlang, Gadis, tabloid Mutiara, dan harian Kompas.    &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HP: 081908199163&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-1974433143417775918?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/1974433143417775918/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=1974433143417775918&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/1974433143417775918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/1974433143417775918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/10/novel-sinetron-karya-keroyokan-11.html' title='&quot;NOVEL SINETRON&quot; KARYA KEROYOKAN 11 PENGARANG (Resensi Buku &quot;Sengatan Sang Kumbang&quot;)'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-KP8u8hGvORA/Tqbv1LRrJBI/AAAAAAAABXg/TyfaL-u_YMQ/s72-c/kumbang1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-6012795556494948338</id><published>2011-10-24T03:42:00.000-07:00</published><updated>2011-10-24T03:42:29.223-07:00</updated><title type='text'>Kriteria Penilaian Sebuah Karya Inovasi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-4NwJIDCCoQQ/TqVA1zit2bI/AAAAAAAABXU/jV1Ic-eaIxY/s1600/N-250-landing.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="305" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-4NwJIDCCoQQ/TqVA1zit2bI/AAAAAAAABXU/jV1Ic-eaIxY/s400/N-250-landing.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ada sejumlah kriteria untuk menilai sebuah karya inovasi. Penilaian ini dilihat dari berbagai sudut pandang. Kriteria ini saya muat di blog saya, semoga bisa berguna sebagai alat bantu bagi rekan-rekan yang terlibat dalam penelitian atau proyek-proyek yang bertujuan menghasilkan karya inovatif. Berikut kriterianya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A.  Sisi Pandang : Innovator&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;    Semakin orisinil idenya semakin baik&lt;br /&gt;Nilai:&lt;br /&gt;1)Ide serupa sudah umum / sudah sering saya dengar  &lt;br /&gt;2)Ide serupa sudah pernah saya dengar, termasuk di sektor bisnis lain &lt;br /&gt;3)Sejauh saya tahu, ini ide baru di Indonesia&lt;br /&gt;4)Sejauh saya tahu, ini ide baru bahkan mungkin di seluruh di dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B.  Sisi Pandang : Kompetitor / Pesaing&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;    Kemudahan ditiru adalah kelemahan dalam persaingan&lt;br /&gt;Nilai:&lt;br /&gt;1)Secara teknis mudah ditiru, praktis tidak ada “barrier of entry” &lt;br /&gt;2)Secara teknis dapat ditiru, namun perlu keahlian teknis / peralatan tertentu&lt;br /&gt;3)Secara teknis tergolong sulit ditiru, termasuk bisa dilindungi paten / formula rahasia &lt;br /&gt;4)Tanpa bantuan sang inovator, praktis tidak bisa ditiru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;C.  Sisi Pandang : Konsumer / Pribadi (Comfort)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;    Inovasi yang mudah diterima lebih baik&lt;br /&gt;Nilai:&lt;br /&gt;1)Saya tidak tertarik pada tawaran inovasi, apalagi beralih &lt;br /&gt;2)Saya perlu diyakinkan bahwa beralih ke tawaran inovasi ini baik dan perlu&lt;br /&gt;3)Saya yakin tawaran inovasi ini baik, saya menerima dan akan mencoba&lt;br /&gt;4)Saya kagum dan tidak sabar untuk melihat atau mencobanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;D.  Sisi Pandang : Konsumer / Pribadi (Rational) &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;    Inovasi yang memberikan banyak nilai tambah bagi pemakai (QCDSM), lebih baik&lt;br /&gt;Nilai:&lt;br /&gt;1)Saya mengenali adanya nilai tambah, kalau saya memang pemakai barang sejenis&lt;br /&gt;2)Saya mengenali setidaknya melihat satu nilai tambah yang bagus&lt;br /&gt;3)Saya yakin ada beberapa beberapa nilai tambah yang bagus &lt;br /&gt;4)Saya yakin kebanyakan orang pasti melihat banyak nilai tambah yang bagus&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;E.  Sisi Pandang : Business professional&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;    Inovasi yang berpotensi luas untuk dikembangkan lagi lebih baik.&lt;br /&gt;Nilai :&lt;br /&gt;1)Potensi pengembangan terbatas&lt;br /&gt;2)Potensi pengembangan ada namun belum nyata arahnya&lt;br /&gt;3)Potensi pengembangan besar termasuk aplikasi ke sektor lainnya&lt;br /&gt;4)Potensi pengembangan terbuka lebar dan 'dapat dibayangkan’&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;F.  Sisi Pandang : Business Professional&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;    Inovasi yang berada di (atau bisa masuk ke) growing market lebih baik&lt;br /&gt;Nilai:&lt;br /&gt;1)Inovasi terbatas hanya untuk aplikasi tertentu saja&lt;br /&gt;2)Inovasi tidak meningkatkan aspek aplikasi dari suatu produk/proses&lt;br /&gt;3)Inovasi berpotensi merambah ke aplikasi yang lebih luas&lt;br /&gt;4)Inovasi berpotensi ekspansi ke berbagai aplikasi / segmen pasar yang sangat luas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;G.  Sisi Pandang : Investor&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;    Inovasi yang resiko bisnisnya banyak (investment, patents, etc) semakin kurang bernilai&lt;br /&gt;Nilai:&lt;br /&gt;1)Peluang gagal dikhawatirkan sangat tinggi, salah satunya dikarenakan banyak ketidak-pastian.&lt;br /&gt;2)Peluang gagal masih agak tinggi, beberapa key success factors belum jelas&lt;br /&gt;3)Secara umum resiko bisnis dan prospek bisnis sudah 'calculated‘&lt;br /&gt;4)Inovasi 'blue-chips', peluang bisnis bernilai &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;H.  Sisi Pandang : Investor&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;    Fase inovasi yang semakin matang menuju aplikasi / pasar semakin rendah resikonya&lt;br /&gt;Nilai:&lt;br /&gt;1)Masih banyak ketidak-pastian untuk menjadi produk / proses unggulan&lt;br /&gt;2)Ada beberapa ketidak-pastian untuk menjadi produk / proses unggulan&lt;br /&gt;3)Ketidak-pastian utama sudah terpecahkan, potensi sukses sudah dekat&lt;br /&gt;4)Inovasi 'blue-chips' / unggulan, sudah nampak berpotensi besar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2010&lt;br /&gt;Dikutip dari http://www.bic.web.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-6012795556494948338?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/6012795556494948338/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=6012795556494948338&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/6012795556494948338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/6012795556494948338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/10/kriteria-penilaian-sebuah-karya-inovasi.html' title='Kriteria Penilaian Sebuah Karya Inovasi'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-4NwJIDCCoQQ/TqVA1zit2bI/AAAAAAAABXU/jV1Ic-eaIxY/s72-c/N-250-landing.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-3926032267636376515</id><published>2011-10-24T03:26:00.000-07:00</published><updated>2011-10-24T03:26:12.511-07:00</updated><title type='text'>Mengumpulkan Serpihan yang Berserak dari Elektro'80 FTUI</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-x8Cef4X5n6U/TqU86q-XIbI/AAAAAAAABXI/IXvJqJaCKeQ/s1600/E80%2BReuni2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="249" width="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-x8Cef4X5n6U/TqU86q-XIbI/AAAAAAAABXI/IXvJqJaCKeQ/s400/E80%2BReuni2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-gUwCqHtslXY/TqU81M7oQAI/AAAAAAAABW8/-LVutZzqLEU/s1600/E80%2BReuni3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="284" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-gUwCqHtslXY/TqU81M7oQAI/AAAAAAAABW8/-LVutZzqLEU/s400/E80%2BReuni3.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa, tiga puluh tahun sudah berlalu, sejak saat aku dan teman-teman diterima kuliah di Jurusan Elektro FTUI tahun 1980 sampai saat aku menulis essay pendek ini, Juli 2010. Ada sejumlah kenangan berkesan yang kuperoleh dari pengalaman kuliah bersama teman-teman seangkatan di E’80. Mulai dari kenangan yang manis, yang mengharukan, yang kocak, dan macam-macam lagi, yang tak bisa disebutkan satu-persatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yakin, semua mahasiswa E’80 juga punya pengalaman dan kesan sendiri-sendiri tentang masa itu. Sehingga rasanya jadi kurang adil, jika aku asyik menulis tentang pengalamanku sendiri yang bisa sangat subyektif dan personal, padahal aku diminta panitia untuk menulis tentang E’80 keseluruhan. Jadi, untuk tugas itu akan kucoba sebisanya mengumpulkan serpihan-serpihan ingatan, yang sebagian sudah tergerus oleh waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 60-an mahasiswa angkatan kami yang diterima di E’80, ceweknya ada lima. Memang sangat tidak proporsional dibandingkan jumlah cowoknya yang lebih dari 50 orang. Namun komposisi E’80 masih lebih mendingan dibandingkan Jurusan Mesin ’80, yang seingatku cuma ada tiga cewek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat essay ini ditulis, dua dari anggota E’80 sudah meninggal dunia, yaitu rekan Maxim Gorky Siahaan dan Widati A. Wresniwati (Hanny). Rekan Maxim meninggal karena sakit. Sedangkan Hanny meninggal karena kanker pada 15 Maret 2009. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sejak masa kuliah, sudah kelihatan bahwa mahasiswa E’80 itu memang berasal dari latar belakang yang beragam, dan kiprah mereka ketika kuliah juga beragam. Ada yang aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan, mulai dari IME (Ikatan Mahasiswa Elektro), BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa), SM (Senat Mahasiaswa), hingga KAPA (Kamuka Parwata) FTUI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang fokus pada kuliah saja, tidak ikut kegiatan yang macam-macam. Ada juga yang sudah aktif berbisnis atau menyambi kerja di tempat lain sambil kuliah. Aku sendiri awalnya tak punya kerja sambilan apa-apa, kecuali menulis artikel, puisi, dan cerita pendek untuk ditawarkan ke media. Aku juga sempat menggantikan rekan Ajisman, yang mengajar matematika di sebuah SMA swasta. Akhirnya, aku jadi wartawan di Harian Pelita (yang kebetulan saat itu dipimpin lulusan Elektro FTUI, Ir. Akbar Tandjung) sambil terus kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kami diterima masuk ke FTUI, waktu itu organisasi kemahasiswaan di UI masih cukup ramai diwarnai aktivitas politik, dengan adanya lembaga seperti IKM (Ikatan Keluarga Mahasiswa), DM (Dewan Mahasiswa), dan MPM (Majelis Permusyawaratan Mahasiswa) UI. Masa inisiasi mahasiswa baru dilakukan oleh lembaga-lembaga ini lewat Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, sesudah 30 tahun lewat, dari jajaran lulusan E’80 yang tersisa, masing-masing sudah berkiprah di berbagai bidang yang sudah melampaui batas-batas disiplin ilmu elektro. Ada yang menggeluti bisnis konstruksi, konsultan, perbankan, restoran, media, dan politik. Tentunya juga cukup banyak yang masih setia menekuni karir teknik keelektroan, baik di lingkungan swasta maupun BUMN, seperti di PLN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun aktivitas kami yang begitu beragam tersebut, kini momen reuni 30 tahun diharapkan bisa menjadi perekat dari berbagai elemen E’80, yang sudah berserak dan terpencar ke mana-mana. Sesudah perjalanan waktu yang cukup panjang ini, muncul gagasan bahwa jajaran E’80 sudah saatnya berkumpul kembali dan bersinergi, untuk memberikan sumbangan atau kontribusinya bagi kemajuan dan kebaikan bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks itu, berbagai perbedaan latar belakang tersebut tidak boleh menjadi penghambat. Tetapi, ia seharusnya justru menjadi aset yang bisa didayagunakan, untuk tujuan-tujuan kebaikan yang lebih luas di masyarakat kita. Banyak hal yang bisa kita lakukan lewat kebersamaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga reuni E’80 dan reuni FTUI pada 1 Agustus 2010 ini tidak berhenti jadi sekedar pesta kangen-kangenan dan pertemuan kembali teman-teman lama. Tetapi, ia diharapkan juga menjadi langkah pertama dalam perjalanan panjang dan berkelanjutan, untuk mewujudkan kiprah terbaik kita demi kemajuan nusa dan bangsa. Semoga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 12 Juli 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;048003051B – E’80 FTUI&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-3926032267636376515?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/3926032267636376515/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=3926032267636376515&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/3926032267636376515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/3926032267636376515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/10/mengumpulkan-serpihan-yang-berserak.html' title='Mengumpulkan Serpihan yang Berserak dari Elektro&apos;80 FTUI'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-x8Cef4X5n6U/TqU86q-XIbI/AAAAAAAABXI/IXvJqJaCKeQ/s72-c/E80%2BReuni2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-8086914481117392950</id><published>2011-10-18T08:55:00.000-07:00</published><updated>2011-10-18T08:55:59.371-07:00</updated><title type='text'>BEBERAPA TEORI TENTANG DAMPAK MEDIA TERHADAP INDIVIDU</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-dwpynFIT_Yo/Tp2gaZq_UYI/AAAAAAAABWw/B5X8MKifnyQ/s1600/IMG_5249.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="267" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-dwpynFIT_Yo/Tp2gaZq_UYI/AAAAAAAABWw/B5X8MKifnyQ/s400/IMG_5249.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dampak (efek) komunikasi massa bisa dibagi dua: Efek yang bersifat umum dan efek khusus.&lt;br /&gt;Efek umum menyangkut efek dasar yang diperkirakan dapat terjadi akibat pesan-pesan yang disiarkan melalui media massa. Komunikasi massa memiliki efek yang ”mengembang” sebab dalam banyak hal komunikasi massa telah mengambil alih fungsi komunikasi sosial. Secara umum atau luas, komunikasi massa melalui media massa telah menciptakan suatu jaringan pengertian, yang tanpa itu tidak mungkin tercipta masyarakat yang besar dan modern. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek seperti itu merupakan efek dasar yang terjadi dari hari ke hari secara terus-menerus. Ia tidak dapat dilihat, didengar, atau diraba, tetapi ia benar-benar terjadi. &lt;br /&gt;Dapat disimpulkan bahwa terpaan media massa pada waktunya akan menimbulkan perubahan-perubahan yang mengejutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek khusus menyangkut efek yang diperkirakan akan timbul pada individu-individu dalam suatu massa audiens pada perilaku mereka, dalam menerima pesan-pesan media massa.&lt;br /&gt;Karena ada kombinasi yang berbeda-beda antara situasi, kepribadian dan kelompok di antara anggota-anggota suatu massa audiens dalam peneriman pesan, jenis efek yang mungkin timbul (the possible effect) akan berbeda-beda pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intensitas perhatian individu-individu terhadap pesan-pesan media juga akan mempengaruhi efek. Misalnya: setiap hari berbagai media  menawarkan sejumlah besar pesan kepada perorangan-perorangan dari penduduk yang tinggal di perkotaan. Pesan itu berbentuk: berbagai acara televisi; berbagai berita dan artikel suratkabar,  majalah atau buku; berbagai pilihan film di bioskop; rekaman-rekaman kaset; iklan-iklan; dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu saling bersaing untuk meraih perhatian penduduk selaku massa audiens yang potensial. Namun semua orang punya keterbatasan. Seseorang tidak mungkin menerima semua tawaran tadi, sehingga ia akan melakukan seleksi. Seleksi yang dilakukan seseorang  bisa sangat berbeda dengan yang dilakukan orang lain. Bahkan, jika sudah menyeleksi, intensitas perhatiannya juga tidak terlalu tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana media mempengaruhi audiens? Ada beberapa teori tentang ini, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Teori Peluru Ajaib (Magic Bullet) atau Jarum Suntik (Hypodermic Needle):&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori yang populer pada sekitar tahun 1930-an ini mengatakan, pesan media berdampak pada orang secara langsung, bisa diukur, dan dampak itu bersifat segera (immediate) kepada khalayak. Jadi, dampaknya seperti peluru yang menghantam tubuh, atau seperti tubuh yang ditusuk jarum suntik. Model jarum suntik pada dasarnya adalah aliran satu tahap (one step flow).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sekarang banyak ilmuwan berpendapat, dampak semacam ini jarang terjadi. Misalnya: Seseorang yang melihat iklan sepeda motor Honda dan dia langsung membeli motor Honda itu, persis dengan model sepeda motor yang diiklankan di TV. Atau ada orang yang melihat tayangan tentang teroris yang mengebom Hotel Marriott dan orang ini pun segera membuat bom untuk menyerang hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan ini sangat simplistik, karena mengasumsikan bahwa individu itu hanya bersikap pasif. Individu dianggap akan menyerap semua yang disodorkan media massa tanpa sikap kritis dan tanpa syarat. Padahal kenyataannya para individu membaca koran, mendengarkan siaran radio, dan menonton acara TV dengan cara yang berbeda. Bahkan para individu juga terekspos pada banyak media, sehingga yang diterima bukan cuma satu suara atau pesan tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Peluru Ajaib atau Teori Jarum Suntik adalah teori dampak kuat. Dalam perkembangan berikutnya, muncul teori-teori yang merevisi model Peluru Ajaib, dan memandang dampak itu lebih bersifat minimalis. Misalnya, model Aliran Dua-Tahap (two-step flow of communication) yang diperkenalkan pertama kali oleh Paul Lazarsfeld dan Elihu Katz. &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Model Aliran Dua Tahap (Two Step Flow):&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model ini dikembangkan pada tahun 1940-an oleh Paul Lazarsfeld dkk, dalam kasus pemilihan Presiden Amerika. Tidak seperti teori Peluru Ajaib, yang menganggap dampak media bersifat langsung, model aliran dua-tahap menekankan peran manusia perantara (human agency) atau tokoh-tokoh pemuka pendapat (opinion leader).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temuan Lazarsfeld menunjukkan, peran media massa justru sangat kecil dalam mempengaruhi opini publik. Media massa hanya berhasil dalam menyampaikan atau meneruskan informasi atau pengetahuan dasar, namun sangat kurang efektif dalam mengubah sikap dan  perilaku. Yang lebih besar perannya justru adalah para pemuka pendapat (opinion leaders) sebagai perantara. Temuan ini pun membuyarkan teori Jarum Suntik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model aliran dua-tahap ini intinya menyatakan, pesan-pesan media tidak seluruhnya mencapai massa audiens secara langsung. Sebagian besar pesan-pesan itu malah berlangsung dua tahap.  Tahap pertama, dari media massa kepada orang-orang tertentu di antara massa audiens, atau kalangan yang kita sebut pemuka pendapat (opinion leaders). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuka pendapat adalah orang yang memiliki akses terbesar terhadap media, dan memiliki pemahaman yang lebih tinggi terhadap konten media. Merekalah yang kemudian menjelaskan dan menyebarkan konten tersebut kepada orang-orang lain. Mereka berfungsi sebagai penjaga gawang (gate keepers) atas pesan media. Dari sini, pesan media diteruskan kepada anggota massa audiens lainnya (tahap yang kedua), sehingga pesan-pesan media akhirnya mencapai seluruh penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para opinion leaders dan pengikutnya (followers) secara keseluruhan adalah massa audiens. Pada umumnya, opini leaders lebih banyak bersentuhan dengan media massa ketimbang para followers. Karena posisinya, opinion leaders mempunyai pengaruh terhadap followers. Atas peran para leaders-lah, pelan-pelan media memperoleh efek-efek yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa opinion leaders, walaupun pesan-pesan media sampai kepada massa audiens secara langsung, komunikasi cenderung tidak efektif. Pada tahap kedua ini, yang terjadi adalah komunikasi antarpribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opinion leader tidak harus merupakan pemimpin dengan otoritas resmi di masyarakat (presiden, menteri, gubernur, walikota, dan sebagainya). Tetapi orang-orang yang dekat dan dipercaya oleh warga. Pemuka pendapat bisa merupakan orangtua, suami/istri, kakak, pacar, sahabat dekat, ustadz setempat, guru sekolah, pedagang sekitar, dan sebagainya. Walaupun tentu saja tidak semua ustadz atau guru bisa menjadi pemimpin opini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Model Aliran Banyak Tahap (Multistep Flow Model):&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada perkembangannya kemudian, setelah riset komunikasi massa semakin canggih, pendekatan aliran dua tahap ini pun dianggap kurang memadai, dan berkembang menjadi Multistep Flow Model (Model Aliran Banyak Tahap). Model Aliran Banyak Tahap Model ini diharapkan bisa mencakup jaringan hubungan-hubungan sosial yang kompleks, yang mempengaruhi individu-individu.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Teori Pembudidayaan atau Kultivasi (Cultivation):&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Kultivasi atau Pembudidayaan lebih berfokus pada bagaimana sikap orang dipengaruhi oleh media, ketimbang sekadar perilaku orang tersebut. Walau sikap (attitude) dan perilaku (behavior) berkaitan erat, para penganut teori kultivasi berfokus pada bagaimana orang berpikir ketimbang pada apa yang diperbuat orang tersebut. &lt;br /&gt;Banyak dari riset ini melibatkan perbandingan sikap dari para pengguna berat, pengguna menengah, dan pengguna ringan media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu temuan riset ini adalah bahwa ketika orang terekspos oleh kekerasan yang sarat di media, mereka tampaknya akan memiliki salah konsepsi dalam penyikapan, yang dinamakan sindrom dunia yang ganas (mean world syndrome). Ini berarti mereka melebih-lebihkan besarnya tingkat kekerasan yang benar-benar terjadi dalam komunitasnya dan di bagian dunia lain. Orang yang kurang terekspos pada kekerasan di media memiliki rasa yang lebih realistis dalam memandang tingkat kekerasan di dunia nyata. &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan Sosiologis terhadap (kekerasan di) Media:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara yang kurang umum dalam mempelajari kekerasan di media adalah pendekatan sosiologis. Teori-teori sosiologis tentang kekerasan di media mengeksplorasi cara-cara di mana media berdampak dan memperkuat ideologi-ideologi dan nilai-nilai yang dominan dalam sebuah budaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, seorang peneliti mungkin melihat saling-hubungan (korelasi) antara kekerasan di media dan sikap-sikap tentang maskulinitas (kelaki-lsakian) dalam sebuah budaya, atau bagaimana kekerasan media memperkuat dan mencerminkan kebijakan luar negeri yang kasar dari sebuah negara. Teori-teori sosiologis tentang media itu tidak bisa diukur. Namun, itu lebih merupakan cara-cara teoretis tentang bagaimana melihat hubungan media dengan budaya. &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Teori Pudarnya Kepekaan (Desensitization):&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori ini mengatakan, karena orang sudah terlalu banyak terekspos oleh kekerasan di media, misalnya, maka kekerasan tidak lagi memberi dampak emosional pada dirinya. Banyak orang tampaknya akan setuju dengan pandangan bahwa karena sering melihat tayangan kekerasan di TV, maka seseorang tidak akan terlalu terganggu jika disuruh melihat film yang mengandung adegan kekerasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kini menjadi perdebatan, apakah orang juga akan kehilangan kepekaan terhadap kekerasan dalam kehidupan nyata. Jika seseorang meninggalkan gedung bioskop sehabis menonton film berisi adegan kekerasan, dan lalu melihat sesosok mayat nyata yang tergeletak di jalan, apakah dia tetap mengalami hilangnya kepekaan?&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Teori Narcoticizing Dysfunction:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori ini menyatakan, media jarang memberi energi pada orang untuk bertindak, seperti mendorong orang untuk ke luar rumah dan memberi suara pada seorang kandidat dalam Pilkada.  Sebaliknya, media justru mendorong orang untuk bersikap pasif. &lt;br /&gt;Banyak orang tenggelam dalam arus informasi dan berita yang begitu melimpah, sehingga mereka justru cenderung menarik diri dari keterlibatan dalam isu-isu publik. Jadi, keterlibatan intelektual mereka telah menjadi pengganti dari keterlibatan aktif konkret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya: orang yang terlalu banyak mengunyah informasi tentang isu kemiskinan, dan ia percaya telah melakukan sesuatu untuk menangani problem kemiskinan. Padahal, faktanya ia hanya sangat tahu dan mendalami informasi tentang kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Teori Spiral of Silence:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori ini diperkenalkan oleh ilmuwan politik Jerman, Elisabeth Noelle-Neumann, dan berangkat dari pendekatan psikologis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori ini menegaskan, orang cenderung untuk tidak mengekspresikan opininya tentang topik tertentu, jika orang itu merasa hanya sebagai minoritas, karena takut akan pembalasan, pengucilan, atau dampak buruk lain dari pihak mayoritas. Maka, bisa terjadi, orang-orang yang merasa mewakili suara mayoritas, dengan penuh percaya diri akan mudah menyuarakan opininya di media. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opini yang dimuat di media itu tidak mendapat tantangan, karena orang yang merasa minoritas cenderung tidak membantahnya. Maka, meski sering digembar-gemborkan bahwa media adalah wahana yang menerima opini seluruh kalangan masyarakat, nyatanya hanya kalangan yang merasa mewakili suara mayoritas yang akan muncul di media. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Teori Penetapan Agenda (Agenda Setting):&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut teori ini, media menetapkan agenda bagi opini publik, dengan cara mengangkat isu-isu tertentu. Sesudah mempelajari cara peliputan kampanye politik, ternyata dampak utama media berita adalah dalam penetapan agenda. Misalnya, dengan memberitahu masyarakat untuk berpikir tentang topik-topik tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topik-topik yang tidak diangkat oleh media menjadi kurang atau tidak dianggap penting oleh publik. Jadi, pengaruh media bukanlah dalam persuasi (bujukan) atau perubahan sikap audiens. Penetapan agenda ini biasanya lebih sering dirujuk sebagai fungsi media, dan bukan teori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agenda setting adalah kemampuan media untuk menentukan isu atau berita apa yang dianggap penting, yang harus diperhatikan oleh publik, atau harus segera ditangani oleh pemerintah. Isu yang dianggap penting itu bisa diberi porsi yang lebih besar dan penempatan yang lebih menarik perhatian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk media suratkabar, hal itu berarti penempatan di halaman 1 dan pemberian space yang lebih luas. Untuk media TV, hal itu bisa berarti penayangan pada alokasi slot prime time (antara jam 18.00-22.00, saat jumlah pemirsa terbanyak) dan pemberian durasi penayangan yang lebih panjang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penetapan agenda oleh media bisa berpengaruh pada banyak hal. Misalnya: Popularitas calon legislatif atau kandidat kepala daerah, yang sedang bertarung pada pemilihan umum di wilayah tertentu. Kandidat yang dianggap lebih berkualitas bisa mendapat porsi pemberitaan yang lebih besar, sehingga mereka menjadi lebih populer dan lebih berperluang untuk menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, media menentukan isu-isu apa --yang menyangkut kepentingan publik—yang harus segera ditangani pemerintah. Misalnya, isu kenaikan harga BBM, tarif dasar listrik, kenaikan harga sembako menjelang bulan puasa, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 18 Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ir. Satrio Arismunandar, M.Si, MBA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dosen Newsmaking Criminology, Departemen Kriminologi FISIP UI&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-8086914481117392950?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/8086914481117392950/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=8086914481117392950&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/8086914481117392950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/8086914481117392950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/10/beberapa-teori-tentang-dampak-media.html' title='BEBERAPA TEORI TENTANG DAMPAK MEDIA TERHADAP INDIVIDU'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-dwpynFIT_Yo/Tp2gaZq_UYI/AAAAAAAABWw/B5X8MKifnyQ/s72-c/IMG_5249.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-6677204851940835041</id><published>2011-10-18T08:47:00.000-07:00</published><updated>2011-10-18T08:47:59.194-07:00</updated><title type='text'>KONSEP INTI MELEK MEDIA (MEDIA LITERACY)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-qR_IOrgJXi4/Tp2fM7gR_2I/AAAAAAAABWk/OO1psayjgWs/s1600/IMG_8215.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="400" width="267" src="http://4.bp.blogspot.com/-qR_IOrgJXi4/Tp2fM7gR_2I/AAAAAAAABWk/OO1psayjgWs/s400/IMG_8215.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Menurut Center for Literacy Media di Santa Monica, California, AS, ada lima konsep inti dalam melek media:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Semua pesan media dikonstruksi&lt;br /&gt;2.Pesan-pesan media dikonstruksi menggunakan bahasa kreatif dengan aturan-aturannya sendiri&lt;br /&gt;3.Orang yang berbeda mengalami pesan media yang sama secara berbeda&lt;br /&gt;4.Media memiliki nilai-nilai dan sudut pandang yang melekat padanya&lt;br /&gt;5.Sebagian besar pesan media dikonstruksi untuk memperoleh profit dan/atau kekuasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Semua pesan media dikonstruksi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tayangan yang muncul di layar TV sudah melalui proses panjang, yang melibatkan aktor-aktor seperti: reporter, kamerawan, produser, presenter, editor, dsb. Hasil akhir yang dilihat penonton bukanlah sesuatu teks yang obyektif ataupun alamiah (apa adanya). Banyak keputusan terkait dengan proses penciptaan sebuah teks, dan audiens hanya melihat hasil akhirnya. Audiens tidak mengetahui ide atau gagasan-gagasan yang tertolak dalam proses penciptaan tersebut, yang mungkin bisa menghasilkan variasi yang tak terhingga terhadap teks media.&lt;br /&gt;(Pertanyaan: Siapa yang menciptakan pesan ini?) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pesan-pesan media dikonstruksi menggunakan bahasa kreatif dengan aturan-aturannya sendiri&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tayangan TV memiliki bahasanya sendiri, yang dapat dipahami dengan menganalisis secara seksama terhadap berbagai suara (audio) dan gambar (visual), yang digunakan untuk menyampaikan pesan.&lt;br /&gt;(Pertanyaan: Teknik-teknik kreatif apa yang digunakan untuk menarik perhatian saya?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Orang yang berbeda mengalami pesan media yang sama secara berbeda&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap penonton memiliki latar belakang pendidikan, usia, pekerjaan, ras, agama, suku, jenis kelamin, dan lain-lainnya yang berbeda. Mereka juga punya pengalaman hidup yang berbeda. Dua orang yang mengkonsumsi teks media yang persis sama, mungkin akan memperoleh pemaknaan yang sangat berbeda.&lt;br /&gt;(Pertanyaan: Bagaimana kiranya orang yang berbeda memahami pesan media ini secara berbeda dengan saya?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Media memiliki nilai-nilai dan sudut pandang yang melekat padanya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks atau tayangan media tidaklah obyektif. Tayangan tersebut mengandung nilai-nilai tertentu, dan dengan tayangan itu ia memberitahu kita para penonton tentang siapa atau isu apa yang penting. Sebaliknya, dengan tidak menayangkan orang atau isu lain tertentu, media TV menyatakan bahwa orang atau isu lain tersebut tidaklah penting.&lt;br /&gt;(Pertanyaan: Gaya hidup, nilai-nilai, dan sudut pandang apa yang diwakilkan, atau dihapus, dari pesan ini?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sebagian besar pesan media dikonstruksi untuk memperoleh profit dan/atau kekuasaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar pesan media TV dibuat untuk memperoleh audience (penonton) tertentu, sehingga para pengiklan dapat memasarkan produk-produknya. Kita perlu memahami adanya motivasi uang/finansial tersebut, untuk mengetahui kepentingan-kepentingan siapa sebenarnya yang dilayani oleh media.&lt;br /&gt;(Pertanyaan: Mengapa pesan ini dikirimkan?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satrio Arismunandar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-6677204851940835041?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/6677204851940835041/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=6677204851940835041&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/6677204851940835041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/6677204851940835041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/10/konsep-inti-melek-media-media-literacy.html' title='KONSEP INTI MELEK MEDIA (MEDIA LITERACY)'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-qR_IOrgJXi4/Tp2fM7gR_2I/AAAAAAAABWk/OO1psayjgWs/s72-c/IMG_8215.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-4154239332007127625</id><published>2011-10-18T08:42:00.000-07:00</published><updated>2011-10-18T08:42:39.002-07:00</updated><title type='text'>KONSEP TENTANG AUDIENS MEDIA</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-il5IctVNkNE/Tp2eO27CsDI/AAAAAAAABWY/I1zqbqmNSTA/s1600/IMG_8170.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="267" width="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-il5IctVNkNE/Tp2eO27CsDI/AAAAAAAABWY/I1zqbqmNSTA/s400/IMG_8170.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Audiens media secara sederhana dan universal diartikan sebagai: sekumpulan orang yang menjadi pembaca, pendengar, pemirsa berbagai media atau komponen isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal sejarahnya, audiens adalah sekumpulan penonton drama, permainan, dan tontonan. Yaitu, penonton ”pertunjukan.” Pengertian ”pertunjukan” ini tentu bervariasi di setiap zaman dan peradaban yang berbeda. Namun beberapa ciri penting audiens tetap sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana lingkungan bagi audiens (teater, aula, gereja) seringkali dirancang dengan indikasi peringkat dan status.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ditemukannya mesin percetakan, audiens ini pun bertambah dengan ”publik pembaca.” Lalu muncul media elektronik, yang memisahkan audiens yang satu dengan yang lain, serta memisahkan audiens dari pemberi pesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dualitas hakikat audiens:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ia merupakan kolektivitas, yang terbentuk sebagai tanggapan terhadap isi media, dan didefinisikan berdasarkan perhatian pada isi media itu. Contoh: penggemar grup musik Slank, penggemar karya Pramoedya Ananta Toer, dan penggemar acara TV Extravaganza. Tapi para penggemar ini tidak mudah dipilah berdasarkan waktu dan tempat, dan mungkin tidak memiliki eksistensi lain sebagai kelompok sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ia merupakan sesuatu yang sudah ada dalam kehidupan sosial, dan kemudian ”dilayani” oleh provisi media tertentu. Misalnya: komunitas lokal kecil dengan bahasa tertentu, yang membutuhkan kehadiran media lokalnya sendiri dengan bahasa spesifik tersebut. Jadi, media melayani komunitas yang sudah ada sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Audiens sebagai pasar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan ekonomi melahirkan konsep audiens sebagai pasar. Produk media merupakan komoditi atau jasa, yang ditawarkan untuk dijual kepada sekumpulan konsumen tertentu yang potensial, yang bersaing dengan produk media lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Audiens dalam perspektif pasar adalah: ”Sekumpulan calon konsumen dengan profil sosial-ekonomi yang diketahui, yang merupakan sasaran suatu medium atau pesan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika, di mana hampir seluruh media bersifat komersial, konsep ini merupakan hal yang biasa. Di Indonesia, kecenderungan seperti ini juga semakin kuat. Khususnya pada media televisi swasta, yang hidupnya bisa dibilang hampir seluruhnya tergantung pada pemasukan iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Audiens dipandang memiliki signifikansi rangkap bagi media:&lt;br /&gt;• Sebagai perangkat calon konsumen produk media.&lt;br /&gt;• Sebagai audiens jenis iklan tertentu, yang merupakan sumber pendapatan penting media lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, pasar bagi produk media (misalnya, penonton program Extravaganza Trans TV) juga mungkin merupakan pasar bagi produk lainnya (pengguna shampoo Sunsilk, pasta gigi Close Up, dan sebagainya). Di sini, media menjadi wahana iklan dan sarana ”pengantaraan” calon pelanggan produk lain.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi konsep audiens sebagai pasar:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Hubungan antara media dan audiensnya menjadi  hubungan konsumen-produsen, yang karenanya bersifat ”kalkulatif” dari sudut pandang pengirim. Ini bukanlah hubungan moral dan sosial (seperti dalam perspektif audiens sebagai publik/komunitas sosial).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Karakteristik audiens yang paling relevan dengan cara berpikir pasar ini adalah sosial-ekonomi. Stratifikasi sosial audiens mendapat perhatian yang sangat besar (golongan berpenghasilan rendah, menengah, dan tinggi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Dari perspektif pasar, fakta penting tentang audiens adalah perilaku pemerhatian mereka. Hal ini terutama terlihat dari tindakan pembelian atau pilihan memirsa atau mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Disarikan dari McQuail, Denis. 1996. &lt;i&gt;Teori Komunikasi Massa, Suatu Pengantar&lt;/i&gt;. Jakarta: Penerbit Erlangga)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-4154239332007127625?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/4154239332007127625/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=4154239332007127625&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/4154239332007127625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/4154239332007127625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/10/konsep-tentang-audiens-media.html' title='KONSEP TENTANG AUDIENS MEDIA'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-il5IctVNkNE/Tp2eO27CsDI/AAAAAAAABWY/I1zqbqmNSTA/s72-c/IMG_8170.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-44273332338528059</id><published>2011-10-18T02:12:00.000-07:00</published><updated>2011-10-18T02:14:41.671-07:00</updated><title type='text'>LEGENDA HOEGENG: MENOLAK SUAP SUATU KEHORMATAN</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-jJXdC9NPhxo/Tp1DbeOmZVI/AAAAAAAABWM/nRYGMNwmBaM/s1600/Hoegeng_young.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="251" width="180" src="http://3.bp.blogspot.com/-jJXdC9NPhxo/Tp1DbeOmZVI/AAAAAAAABWM/nRYGMNwmBaM/s400/Hoegeng_young.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Panda Nababan &lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali saya berurusan dengan polisi dan “berkenalan” dengan Hoegeng. Saat itu, saya baru berusia 17 tahun, tepatnya pada tahun 1961 di Kota Medan. Sebagai remaja yang sering dijuluki “Preman”, malam itu saya terlibat dalam perkelahian antargeng berdarah di sekitar Polonia, hingga merusak tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai berkelahi, kami berkumpul di Jalan Jokya, di mana ada tukang rokok berjualan. Selagi asyik bercerita tentang “kejagoan” setelah perkelahian, tiba-tiba ada seorang lelaki naik sepeda membeli rokok. Ia agak lama berdiri di depan kios, sambil menawar rokok yang mau dibeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima belas menit kemudian setelah lelaki bersepeda itu pergi, tiba-tiba satu regu polisi, pakai topi waja cokelat datang. Ternyata mereka Polisi Perintis Umum (P2U), satuan pemukul yang paling ditakuti preman pada waktu itu selain CPM (Corps Polisi Militer) yang bertopi waja putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami diangkut ke kantor polisi di jalan Bali dan dihadapkan kepada Kepala Reserse AKBP Hoegeng, lelaki penunggang sepeda yang beli rokok tadi. Itulah perkenalan pertama saya dengan Hoegeng. Ini juga pertamanya saya kali ditangkap polisi. Sekitar sembilan tahun kemudian, sebagai wartawan junior Sinar Harapan, saya kembali berurusan dengan Hoegeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ia sudah menjadi Kapolri (1968-1971). Rumahnya cukup sederhana di Jalan Madura, Menteng. Sekembali dilantik Presiden sebagai Kapolri, di dekat pintu gerbang rumahnya telah dibuat gardu ”monyet” untuk penjaga. Padahal, sebelumnya itu tidak ada. Melihat itu, ia segera memerintahkan untuk membongkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak suka ada pos jaga di rumahnya, karena itu membuat jarak dengan masyarakat. Begitu memasuki rumahnya, ia diadang sebuah karton besar berukuran satu kali setengah meter bertuliskan Philips . Ternyata isinya, portable musik yang dapat dipakai untuk rekaman, punya sound system, dan bisa berfungsi menyiarkan lagu dan radio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hoegeng saat itu adalah pengurus Hawaian Senior, sekaligus penyanyi dan pecinta musik keroncong termasuk musik Hawai. Bingkisan itu dikirim kenalannya yang seorang pengusaha. Akibatnya, batin Hoegeng bergolak. Ia tulis dialog imajiner di atas kertas yang dilapisi karbon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat terakhir dialog itu tertulis, “Dengan sangat menyesal saya beritahukan kawan, Hoegeng pribadi kalah. Dan portable Philips ini terpaksa saya kembalikan”. Sejurus kemudian, ia memanggil ajudannya dan portable Philips itu dikirim kembali pada pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Gratifikasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu belum ada gratifikasi. Namun, antara hadiah dan suap beda tipis. Surat yang argumentatif itu merupakan cara Hoegeng menolak gratifikasi atau suap. Sebaliknya, ia memberikan pendidikan bahwa memberikan sesuatu kepada pejabat tidak etis dan melanggar hukum. Peristiwa itu menjadi cerita mulut ke mulut dan menjadi legenda Hoegeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita lainnya adalah ketika saya bertandang ke Mabak, Markas Besar Angkatan Kepolisian (nama dari Mabes Polri masa itu). Saya berada di ruang tamu karena Hoegeng masih menerima tamu. Tiba-tiba saya dikejutkan suara pintu yang dibanting keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pengusaha berjas berdasi, keluar terbirit-birit dan kelihatan didampingi Deputi Operasi (jabatan setara Bareskrim saat ini) Mayjen Pol Katik Saroso. Katik Saroso menasihati saya untuk tidak mewawancarai Hoegeng dulu karena ia sedang marah besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa lama kemudian Hoegeng bercerita kepada saya, pengusaha itu ingin menyerahkan sejumlah uang untuk kasusnya. “Dia tidak menghormati saya,” katanya. Dari kisah ini terungkap bahwa Hoegeng merasa terhina dan membuatnya marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya Katik Saroso sudah tahu tabiat Hoegeng yang tidak bisa disogok. “Itu yang membuat saya lebih marah lagi, pengusaha seperti itu bisa masuk ke kamar kerja saya”, kata Hoegeng. Ia lalu memanggil Katik dan memerintahkan segera mengusut kasus pengusaha itu dan segera melimpahkan ke pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan Hoegeng naik sepeda sudah menjadi trademark-nya. Setelah tidak menjabat Kapolri lagi, Hoegeng sering muncul pada acara Hawaian Senior yang secara teratur disiarkan TVRI, satu-satunya televisi pada masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ibu Fatmawati Soekarno, ibu negara dan ibunda Megawati Soekarnoputri, meninggal dunia 14 Mei 1980, jenazahnya disemayamkan di rumah duka Jalan Sriwijaya Kebayoran Baru. Posisi rumah itu agak tinggi dari jalan raya dan ada belasan tangga di bibir Jalan Sriwijaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu di bawah tangga saya lagi asyik ngobrol dengan Japto Soerjosoemarno (Ketua Pemuda Pancasila). Tiba-tiba kami dikagetkan karena melihat Hoegeng turun tangga dengan tergesa-gesa. Rupanya dia mengejar Menteri Penerangan Ali Murtopo yang baru keluar dari rumah duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Li, tunggu dulu, jangan terus lari,” kata Hoegeng sambil bergegas mendapatkan Ali Murtopo yang sedang menuju mobilnya di parkiran. “Kenapa kau larang TVRI menyiarkan Hawaian Senior, ha?” katanya sambil menunjuk dada Murtopo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan Japto yang menyaksikan peristiwa itu segera mendekat. “Sudah Om, sabar Om”, kata Japto kepada Hoegeng. Ali saat itu kehilangan wibawa, malah dengan kecut masuk ke mobil dan pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya itu hobi saya, dibredel kunyuk itu lagi,” kata Hoegeng kesal dengan gaya Banyumasannya. Serangkaian peristiwa di atas menunjukkan bagaimana seorang tokoh yang berkarakter digilas oleh zaman, itulah legenda Hoegeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;http://www.sinarharapan.co.id/content/read/legenda-hoegeng-menolak-suap-suatu-kehormatan/   &lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14 Oktober 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-44273332338528059?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.sinarharapan.co.id/content/read/legenda-hoegeng-menolak-suap-suatu-kehormatan/' title='LEGENDA HOEGENG: MENOLAK SUAP SUATU KEHORMATAN'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/44273332338528059/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=44273332338528059&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/44273332338528059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/44273332338528059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/10/legenda-hoegeng-menolak-suap-suatu.html' title='LEGENDA HOEGENG: MENOLAK SUAP SUATU KEHORMATAN'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-jJXdC9NPhxo/Tp1DbeOmZVI/AAAAAAAABWM/nRYGMNwmBaM/s72-c/Hoegeng_young.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-2481666223603890719</id><published>2011-10-17T03:53:00.000-07:00</published><updated>2011-10-17T03:53:27.497-07:00</updated><title type='text'>Joke Politik - Runyamnya Birokrasi Pemerintah (Pasca Reshuffle Kabinet)</title><content type='html'>&lt;b&gt;Joke Politik – Runyamnya Birokrasi Pemerintah 2011&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendengar kabar bahwa seorang dosen ilmu politik, sahabat lama saya, terpilih untuk bergabung sebagai staf ahli, di salah satu kementerian pasca reshuffle kabinet, Oktober 2011. Maka, saya pun mencoba mengontaknya untuk memberi ucapan selamat. Sayang, saya kehilangan nomor HP-nya. Maka, saya mencoba menelepon petugas di sekretariat kabinet untuk mencari tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya: Bisa bicara dengan Pak Nur Iman? Beliau kabarnya baru diangkat menjadi staf ahli di kabinet hasil reshuffle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas: Agak repot, Pak. Karena ada tiga nama Nur Iman di jajaran staf ahli. Pertama, Nur Iman Hermanto, staf ahli dari wakil menteri pendidikan nasional bidang pemberantasan ijazah palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya: Bukan Nur Iman yang itu. Lainnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas: Ada lagi, Nur Iman Rizqi, staf ahli dari wakil menteri luar negeri bidang peningkatan citra Indonesia di negara-negara Afrika bagian barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya: Bukan yang itu. Lainnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas: Ketiga, Nur Iman Masduki, staf ahli dari wakil menteri pertanian bidang peningkatan produksi buah dan sayuran tropis asal daerah pegunungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya: Tampaknya juga bukan yang itu. Teman saya itu namanya Nur Iman Subonoto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas: Oooh, bilang dong dari tadi. Kalau Pak Subonoto itu bukan staf ahli, tetapi staf khusus pendukung madya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya: Wah, jabatan apa pula itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas: Di bawah staf ahli dari wakil menteri, ada staf khusus pendukung utama, yang bertugas membantu pekerjaan para staf ahli. Nah, staf khusus pendukung madya itu tugasnya adalah membantu pekerjaan para staf khusus pendukung utama tadi. Jelas, Pak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;========================================&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Joke Politik – Evaluasi Pemerintahan 2012&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percakapan imajiner ini terjadi tahun 2012, persis setahun setelah Presiden melakukan perombakan kabinet. Kepala Unit Kerja, yang bertugas mengawasi kinerja setiap kementerian, memberi laporan evaluasi kinerja kementerian pada Presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Unit: Bapak Presiden tampaknya perlu melakukan reshuffle kabinet lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden: Kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ka Unit: Sesudah setahun, ternyata kinerja tiap kementerian tetap buruk. Banyak kritik dari media, akademisi, pakar, aktivis LSM dan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden: Kok bisa begitu? Coba jelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ka Unit: Setahun lalu kan banyak menteri yang tidak kapabel. Maka kita ciptakan jabatan wakil menteri, untuk mendukung dan memperbaiki kinerja menteri yang amburadul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden: Lalu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ka Unit: Ternyata kinerja para wakil menteri ini juga buruk. Akibatnya, kinerja kementerian tetap jalan di tempat. Apa yang harus saya lakukan, Pak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden (marah): Segera rekrut para akademisi, pakar, komentator, dan aktivis LSM yang banyak cingcong itu masuk ke kabinet, biar mereka tidak ribut lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ka Unit: Apa jabatan dan tugas untuk mereka, Pak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden (makin marah): Bodoh kamu! Jabatan mereka adalah Deputi Wakil Menteri. Tugasnya tentu saja adalah mendukung dan memperbaiki kinerja para wakil menteri! Mengerti kamu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;======================================&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Joke Politik – Mewujudkan Visi Kabinet&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, sesudah ada penambahan jabatan deputi wakil menteri pada Oktober 2012, ternyata kritik dari media dan masyarakat tetap berlangsung. Malah semakin sengit. Atas saran stafnya, untuk memperbaiki citra pemerintah, Presiden membuka diri untuk wawancara khusus dengan pemimpin redaksi dari sejumlah media. Berikut isi wawancaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemred: Kebijakan Bapak Presiden, yang menciptakan jabatan-jabatan baru seperti deputi wakil menteri, dikritik banyak kalangan masyarakat. Apa tanggapan Bapak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden: Itu terjadi karena masyarakat belum memahami visi kabinet, yang sudah saya canangkan sejak awal pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemred: Visi yang mana, Pak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden: Saya kan sudah mencanangkan kebijakan yang pro-growth, pro-poor, dan pro-jobs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemred: Maaf, kami kurang paham maksud Bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden: Nah, penciptaan banyak jabatan baru, seperti wakil menteri, deputi wakil menteri, staf ahli wakil menteri, staf ahli deputi wakil menteri, dan lain-lain itu adalah untuk membuka lapangan kerja baru. Jadi, itu sudah sesuai dengan visi pro-jobs. Pemred sekarang kok bodoh-bodoh ya? Begitu saja nggak mengerti. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 17 Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Besok malam dijadwalka ada pengumuman reshuffle kabinet)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-2481666223603890719?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/2481666223603890719/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=2481666223603890719&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2481666223603890719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2481666223603890719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/10/joke-politik-runyamnya-birokrasi.html' title='Joke Politik - Runyamnya Birokrasi Pemerintah (Pasca Reshuffle Kabinet)'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-705961961907542750</id><published>2011-10-14T04:41:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T04:41:15.154-07:00</updated><title type='text'>STEVE JOBS - Sang Jenius dan Visioner Abad 21</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-y-JMabYAzTc/TpgfxvAFcLI/AAAAAAAABV0/rzg-rDErUWg/s1600/Steve%2BJobs-Apple-CEO.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="286" width="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-y-JMabYAzTc/TpgfxvAFcLI/AAAAAAAABV0/rzg-rDErUWg/s400/Steve%2BJobs-Apple-CEO.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;STEVE JOBS – Sang Jenius dan Visioner Abad 21&lt;br /&gt;Saksikan di RIWAYAT, Trans TV, Sabtu, 15 Oktober 2011, pukul 7.00 WIB&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kematian Steve Jobs karena penyakit kanker pankreas pada usia 56 tahun, adalah kehilangan besar bagi dunia, khususnya dunia teknologi informasi. Steve Jobs, dengan orisinalitas produk, karya dan visi masa depannya, dipandang telah mengubah sejumlah mimpi fiksi ilmiah menjadi kenyataan. Produk-produknya juga telah berperan meluas, dengan ikut mengubah jalannya industri-industri lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merintis perusahaan komputer Apple dari sebuah garasi rumah di Los Altos , Steve Jobs tumbuh menjadi tokoh besar di dunia teknologi informasi. Ia membuat gebrakan dengan meluncurkan iPod, alat pemutar musik digital mini pada 2001, yang serta merta menggeser kepopuleran Walkman dari abad sebelumnya. Kesuksesan  iPod, lalu disusul dengan munculnya iTunes, iPhone (2007), dan terakhir iPad (2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sela ribuan pujian yang ditujukan padanya, sebetulnya tidak semua karya Steve Jobs --yang sangat tertutup soal kehidupan pribadi dan keluarganya ini-- menuang keberhasilan di pasar. Ada juga produk yang gagal, seperti Apple TV tahun 2007. Namun, sekian banyak kesuksesannya telah menutupi kegagalan itu, hingga nyaris tak diingat orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu resep untuk meraih sukses, menurut Steve Jobs, adalah kita harus mencintai dan memiliki hasrat mendalam terhadap hal-hal yang kita lakukan. Mengapa? “Karena, orang yang tidak memiliki hasrat mendalam akan mudah menyerah dalam menghadapi tantangan,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warisan berupa nilai-nilai yang bersifat inspiratif dari mendiang Steve Jobs sangat patut direnungkan, termasuk untuk kita yang di Indonesia. Karena berbagai hal itulah, News Trans TV akan menayangkan profil mantan CEO Apple yang sangat kreatif dan inspiratif ini, pada program dokumenter RIWAYAT, yang selalu hadir di layar Trans TV, Sabtu pagi, pukul 7.00 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 14 Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Executive Producer, News Trans TV&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-705961961907542750?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/705961961907542750/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=705961961907542750&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/705961961907542750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/705961961907542750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/10/steve-jobs-sang-jenius-dan-visioner.html' title='STEVE JOBS - Sang Jenius dan Visioner Abad 21'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-y-JMabYAzTc/TpgfxvAFcLI/AAAAAAAABV0/rzg-rDErUWg/s72-c/Steve%2BJobs-Apple-CEO.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-8498410950524525109</id><published>2011-10-10T11:01:00.001-07:00</published><updated>2011-10-10T11:01:51.146-07:00</updated><title type='text'>Joke Politik - Saya Masuk Jajaran Kabinet (Berkat Reshuffle)</title><content type='html'>&lt;b&gt;Joke Politik – Saya Masuk Jajaran Kabinet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telepon dari Pak Sudi Silalahi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telepon dari Pak Sudi Silalahi (orang kepercayaan Presiden SBY): "Pak Satrio, selamat ya! Tolong siapkan jas dan dasi. Presiden mau mengumumkan, bapak masuk jajaran kabinet!" &lt;br /&gt;Saya tentu saja kaget: "Wah, benar nih, Pak? Saya dapat jabatan menteri apa, Pak?" &lt;br /&gt;Jawab Pak Sudi: "Menteri Urusan Share dan Rating. Tak jauh dari profesi Pak Satrio sebagai wartawan TV sehari-hari!" &lt;br /&gt;Tanya saya lagi: "Lho, masa sih saya ngurus rating TV?" &lt;br /&gt;"Bukan," sahut Pak Sudi. "Tugas Pak Satrio, harus menjaga rating popularitas Presiden SBY. Jangan sampai turun dan jangan mengkritik terus soal ketidaktegasan beliau!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Telepon dari Pak Julian&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah telepon dari Pak Sudi, saya ditelepon Pak Julian (jubir Presiden). &lt;br /&gt;"Pak Satrio, saya cuma mau konfirmasi. Apakah bapak lahir tanggal 9?" &lt;br /&gt;Jawab saya: "Bukan. Saya lahir tgl 11." &lt;br /&gt;Julian: "Apa bapak lahir bulan 9? Maksud saya, bulan September?" &lt;br /&gt;Jawab saya: "Bukan. Saya lahir bulan April." &lt;br /&gt;Julian: "Apa tahun kelahiran bapak diakhiri angka 9? Misalnya, 1969, 1979, dsb?" &lt;br /&gt;Jawab saya: "Bukan. Saya lahir tahun 1961." &lt;br /&gt;Pak Julian langsung berkata tegas: "Maaf, kalau begitu Pak Satrio batal jadi menteri. Kata Presiden, syarat jadi menteri, tanggal, bulan, dan tahun kelahiran harus dominan angka 9. Biar pemerintahan sukses!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 11 Oktober 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-8498410950524525109?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/8498410950524525109/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=8498410950524525109&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/8498410950524525109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/8498410950524525109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/10/joke-politik-saya-masuk-jajaran-kabinet.html' title='Joke Politik - Saya Masuk Jajaran Kabinet (Berkat Reshuffle)'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-6750845417670393137</id><published>2011-10-09T20:54:00.000-07:00</published><updated>2011-10-09T20:59:19.584-07:00</updated><title type='text'>PERNYATAAN SIKAP AJI TENTANG RUU INTELIJEN</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-m7LiTS_98K4/TpJtfNCJb1I/AAAAAAAABVg/JtQcpbaBASM/s1600/jurnalis14.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-m7LiTS_98K4/TpJtfNCJb1I/AAAAAAAABVg/JtQcpbaBASM/s400/jurnalis14.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Nomor             : 039/AJI-Div.Adv/P.S/X/2011&lt;br /&gt;Hal               : Pernyataan Sikap untuk segera diberitakan&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Sikap AJI tentang RUU INTELIJEN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Publik dikejutkan dengan rencana pengesahan Rancangan Undang Undang (RUU) Intelijen pada 11 Oktober 2011 dalam Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia meminta DPR dan pemerintah tidak serta merta mengesahkan RUU Intelijen mengingat masih banyak hal yang berpotensi membahayakan kehidupan masyarakat sipil, mengancam profesi jurnalis, dan menabrak peraturan perundangan lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah benar bahwa Komisi I DPR telah mengeluarkan DRAFT RUU Intelijen terbaru dan mengubah sejumlah materi krusial seperti wewenang penangkapan/penahanan, wewenang penyadapan, dan sanksi pidana bagi pembocor rahasia intelijen. Namun, semua itu belum cukup, mengingat masih ada pasal-pasal lain yang apabila diterapkan dapat membahayakan kehidupan demokrasi dan kebebasan pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya Pasal 32 tentang penyadapan. Kewenangan penyadapan kepada aparat intelijen seharusnya diterapkan dalam situasi khusus dengan payung hukum yang jelas, seperti situasi darurat sipil, darurat militer, atau darurat perang yang pemberlakuannya melalui payung hukum dan pertanggungjawaban negara yang jelas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AJI berpendapat pembatasan atau restriksi terhadap kebebasan melalui "penyadapan" perlu dijabarkan lebih detil dan tidak bisa diterima dalam kondisi negara tertib sipil atau dalam kondisi negara aman damai. Terkait Isu Pers Pasal 26 RUU Intelijen menyebutkan : "Setiap orang atau badan hukum dilarang membuka dan/atau membocorkan rahasia intelijen". Artinya, siapapun yang terbukti membuka atau membocorkan rahasia intelijen dapat dikenai sanksi pidana. Sanksi pidana untuk pembocor intelijen diatur dalam pasal 44 dan 45 RUU Intelijen, yakni 10 tahun penjara dan 7 tahun penjara dan atau denda ratusan juta rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AJI menilai pasal 26 RUU Intelijen cenderung subjektif, terlalu luas, dan cenderung bertabrakan dengan makna lain. Beberapa definisi "rahasia intelijen" sebagaimana dirincikan dalam pasal 25 bertabrakan dengan definisi "informasi negara".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AJI menilai pasal 26 RUU Intelijen rawan disalahgunakan aparatur negara terutama untuk melindungi kekuasaannya. Terutama pasal ini bisa dikenakan kepada jurnalis atau pegiat pers yang mempublikasikan informasi atau melakukan tugas jurnalisme investigasi dan menyebarkan laporannya kepada publik. AJI menilai rumusan pasal ini berpotensi mengancam kebebasan pers. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 telah mengatur tugas dan fungsi pers, khususnya Pasal 4, berbunyi : (2) Terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pemberedelan, atau pelarangan penyiaran. (3) Untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi. (4) Dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum, wartawan mempunyai Hak Tolak. Harus diingat tugas jurnalis itu dilindungi dua Undang-Undang sekaligus, yakni UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 dan UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP) Nomor 14 Tahun 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih pasal yang sama (pasal 26 RUU Intelijen), AJI melihat definisi "rahasia negara" ini bertabrakan dengan UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP). Dalam pasal 17 UU Nomor 14/2008 disebutkan ada dua jenis informasi yang harus diberikan Badan Publik, yaitu informasi yang dikecualikan dan informasi terbuka. Informasi yang dikecualikan sudah diatur dalam UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP), yakni informasi yang dapat membahayakan keamanan dan ketahanan nasional. Untuk apa mengatur materi yang sama dalam UU yang berbeda? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar pemikiran di atas, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyatakan hal-hal sebagai berikut : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Meminta  Komisi I DPR, Pemerintah, dan masyarakat sipil menyamakan, memperjelas persepsi dan definisi tentang "rahasia negara" dan membedakannya dengan "informasi negara". Hal ini sangat penting mengingat definisi itu terutama akan berkaitan dengan pekerjaan jurnalis dalam mewartakan kebenaran kepada publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mengingatkan DPR-RI dan pemerintah agar mendengarkan pendapat rakyat, termasuk kalangan sipil yang memiliki kepedulian masa depan bangsa dan negara Indonesia. Setiap pembuatan Undang Undang hendaknya disesuaikan dengan kondisi zaman dan tidak digunakan untuk kepentingan penguasa. Indonesia sudah meninggalkan rejim tertutup karena ketertutupan itu selalu berpeluang untuk penyalahgunaan kekuasaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 1999 Indonesia sudah mengadopsi pers bebas dan beretika, sehingga peraturan lain yang mengancam kebebasan pers dan keterbukaan informasi publik harus ditinjau kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mengajak para jurnalis dan masyarakat umum agar senantiasa menggunakan kebebasan pers dan kebebasan memperoleh informasi dengan panduan etika jurnalistik serta dapat dipertanggungjawabkan secara profesional. Setiap warga negara senantiasa menjaga ruang kebebasan berekspresi agar terhindar dari berbagai ekses pelanggaran peraturan perundangan yang berlaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 10 Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Umum AJI                                   &lt;br /&gt;Nezar Patria                                     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretaris Jenderal&lt;br /&gt;Jajang Jamaludin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi selanjutnya silahkan hubungi: Divisi Adokasi AJI&lt;br /&gt;Eko Maryadi (Item) 0811.852.857&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sekretariat AJI Indonesia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jl. Kembang Raya No. 6&lt;br /&gt;Kwitang, Senen, Jakarta Pusat 10420, Indonesia&lt;br /&gt;Phone (62-21) 315 1214&lt;br /&gt;Fax (62-21) 315 1261&lt;br /&gt;Website : www.ajiindonesia.org&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-6750845417670393137?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.ajiindonesia.org' title='PERNYATAAN SIKAP AJI TENTANG RUU INTELIJEN'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/6750845417670393137/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=6750845417670393137&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/6750845417670393137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/6750845417670393137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/10/pernyataan-sikap-aji-tentang-ruu.html' title='PERNYATAAN SIKAP AJI TENTANG RUU INTELIJEN'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-m7LiTS_98K4/TpJtfNCJb1I/AAAAAAAABVg/JtQcpbaBASM/s72-c/jurnalis14.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-5855708680184099054</id><published>2011-10-07T13:47:00.000-07:00</published><updated>2011-10-07T13:47:11.744-07:00</updated><title type='text'>MEDIA MASSA SEBAGAI SUMBER BELAJAR KEJAHATAN</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-GOyy8llmnnk/To9j5Cqvy_I/AAAAAAAABVY/EMrPxGc2RPc/s1600/TV%2Bcops8.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="333" width="250" src="http://1.bp.blogspot.com/-GOyy8llmnnk/To9j5Cqvy_I/AAAAAAAABVY/EMrPxGc2RPc/s400/TV%2Bcops8.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(Materi kuliah Newsmaking Criminology di Departemen Kriminologi FISIP UI)&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Apakah membaca berita kejahatan di suratkabar atau menyaksikan aktivitas kejahatan dalam berita televisi atau film-film Hollywood akan menimbulkan lebih banyak kejahatan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ekspos media tentang kejahatan akan menginspirasikan peniruan tindakan kejahatan tersebut di dunia nyata (copycats)? Ada beberapa contoh ekspos media, yang sering disebut telah menginspirasikan tindakan kejahatan, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Percobaan pembunuhan yang ditampilkan di film Taxi Driver (1976).&lt;br /&gt;• Tersedianya Buku Pegangan Teroris di Internet sebelum dan sesudah serangan pemboman terhadap gedung federal di Oklahoma City, Amerika (1995).&lt;br /&gt;• Sebuah film (1993), yang menggambarkan seorang remaja mempertaruhkan hidupnya dengan berbaring di jalan raya yang padat lalu lintas, dikatakan telah “menginspirasi” sejumlah remaja untuk mencoba aksi serupa.&lt;br /&gt;• Ada salah satu episode tokoh kartun MTV, Beavis and Butt-Head, yang menyarankan anak-anak untuk membakar habis rumah mereka, dan ini dianggap mendorong seorang anak untuk mencoba melakukan “saran” tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan bahwa deskripsi dan penggambaran oleh media berdampak kuat pada perilaku, sudah lama ada dalam literatur tentang dampak media (model “jarum hypodermic”). Seperti penyuntikan obat, masukan ke audiens media berupa tindakan kasar dan antisosial dalam konten media dianggap berdampak pada psikis, dan mungkin mengarah ke pengulangan perilaku tersebut oleh orang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, pihak-pihak yang mendukung penyensoran terhadap penggambaran kejahatan di media tidak percaya bahwa penggambaran di media tersebut bisa berdampak langsung memicu kejahatan, seperti secara simplistis disebutkan sebelumnya. Bagaimanapun, mereka percaya bahwa beberapa penggambaran di media memang bisa berdampak pada orang tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak, orang dungu, orang yang rapuh secara emosional, orang yang kurang pergaulan, dan pencari ketenaran, mereka sering disebut sebagai warga yang perlu dilindungi dari penggambaran media tentang kejahatan yang bersifat negatif. Karena tidak mungkin memprediksi seberapa banyak orang yang akan bereaksi, dengan mengulangi kejahatan yang ditampilkan di media, maka penyensoran diharapkan dapat membantu melindungi masyarakat dari kemungkinan perilaku peniruan kejahatan (copycat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai 1980-an, hanya ada sedikit riset empiris yang terfokus semata-mata pada peniruan kejahatan. Studi-studi empiris tentang pengaruh media juga tidak mendukung tudingan bahwa penggambaran media tentang kejahatan akan mendorong peniruan kejahatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah riset di Australia, yang menggunakan rentang waktu 3 tahun, mencoba membandingkan pemberitaan media tentang perampokan dengan data perampokan yang ada di kepolisian. Riset itu menunjukkan, tidak ada bukti bahwa pemberitaan suratkabar tentang keberhasilan suatu perampokan bank akan merangsang peniruan perampokan bank, atau perampokan terhadap sasaran lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ray Surette telah melakukan riset meluas tentang peniruan kejahatan sejak pertengahan 1980-an. Menurut Surette, kejahatan peniruan adalah fenomena sosial yang selalu ada, yang cukup umum untuk mempengaruhi gambaran kejahatan total. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sebagian besar wujudnya adalah lebih pada mempengaruhi teknik-teknik kejahatan, ketimbang motivasi untuk melakukan kejahatan atau penumbuhan kecenderungan (tendensi) kriminal. Seorang penjahat copycat tampaknya lebih merupakan seorang penjahat karir (profesional), ketimbang penjahat yang baru pertama-kali melakukan kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan spesifik antara liputan media dan tindakan peniruan kejahatan saat ini belum diketahui. Faktor-faktor konteks social, yang mempengaruhi peniruan kejahatan, juga belum teridentifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum bisa bisa dibuktikan bahwa sebuah penggambaran media mungkin merangsang orang biasa untuk melakukan kejahatan. Sejumlah riset memang menunjukkan pengaruh media terhadap beberapa perilaku menyimpang. Namun, hal ini tidak membuktikan adanya hubungan penyebab langsung antara rangsangan media dan perilaku menyimpang spesifik, terpisah dari variabel-variabel lain yang muncul dalam kombinasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika penggambaran kejahatan di sebuah media disusul oleh pengulangan peristiwa yang mirip atau serupa, hal ini tidak otomatis menunjukkan adanya koneksi. Dalam beberapa kasus, sejumlah orang yang dituding meniru kejahatan (copycat) menyatakan, mereka tidak tahu apa-apa tentang insiden kejahatan yang sebelumnya diberitakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperlukan riset di bidang dampak media jangka-panjang, model media, dan penduduk yang menerima risiko. Misalnya, apa dampak jangka panjang dari menyaksikan ribuan tindak kekerasan dalam film kartun dan pertunjukan televisi, yang ditonton oleh anak-anak ketika mereka sedang dalam masa pertumbuhan?&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi Penggambaran Media tentang Kejahatan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar riset yang mengukur dua kemungkinan dampak pemberitaan media tentang kejahatan mengerucut ke dua hal: perilaku kejahatan (khususnya kekerasan); dan ketakutan pada tindak kejahatan (fear of crime). Perlu dicatat bahwa dua dampak ini bukan berarti keduanya sama sekali terpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar suatu kejahatan bisa terjadi, setidaknya ada beberapa faktor atau prakondisi, yang secara logis harus tersedia lebih dahulu. Yaitu: labelling, motif, sarana, peluang, dan ketiadaan kontrol. Media secara potensial memainkan peran dalam setiap faktor tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Labelling:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk suatu tindakan bisa disebut “kejahatan” atau “kriminal” (berbeda dari sekadar mengganggu, tak-bermoral, antisosial, dan sebagainya), tindakan itu harus dilabeli seperti demikian. Ini melibatkan penciptaan sebuah kategori legal. Sebuah tindak kejahatan yang tercatat (recorded crime) juga mensyaratkan pelabelan tindakan itu sebagai kejahatan oleh warga dan/atau oleh petugas penegak hukum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media adalah faktor penting yang membentuk batasan konseptual dan mencatat jumlah (volume) kejahatan. Peran media dalam mengembangkan kategori baru (atau mengikis kategori lama) tentang kejahatan telah digarisbawahi, dalam berbagai studi klasik tentang munculnya hukum kriminal dalam tradisi “pelabelan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Motif&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kejahatan tak akan terjadi jika tidak ada orang yang tergoda, terdorong, atau termotivasi untuk melakukan tindakan yang dilabeli sebagai “kejahatan” tersebut. Peran media muncul dalam sebagian besar teori sosial dan psikologis yang umum diajukan, tentang pembentukan disposisi kriminal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, teori sosiologis yang paling berpengaruh tentang pembentukan motif-motif kriminal adalah versi Merton tentang teori anomie. Media berperan utama dalam menyajikan citra perlombaan universal tentang gaya hidup berkelimpahan dan budaya konsumeris. Serta mengaksentuasi kehilangan (deprivasi) relatif, dan membangkitkan tekanan-tekanan untuk meraih tingkatan sukses material yang lebih tinggi, tanpa mempedulikan legitimasi cara-cara yang digunakan untuk meraihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori-teori psikologis tentang pembentukan motif untuk melakukan pelanggaran juga sering menggambarkan dampak media sebagai bagian dari proses tersebut. Teori-teori itu mengklaim bahwa penggambaran kejahatan dan kekerasan, yang ditampilkan oleh media, adalah sebentuk pembelajaran sosial. Sedangkan, penggambaran ini mungkin mendorong terjadinya kejahatan, dengan cara peniruan (imitasi) atau melalui dampak-dampak pembangkitan gairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sarana &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering dituduhkan bahwa media telah bertindak sebagai universitas terbuka tentang kejahatan, yang menyebarkan pengetahuan tentang teknik-teknik melakukan kejahatan. Hal ini sering diklaim dalam kaitannya dengan kasus-kasus kejahatan mengerikan tertentu. Film Child’s Play 3 dituding telah mempengaruhi para pelaku pembunuhan terhadap seorang balita malang, bernama Jamie Bulger (lihat Jewkes 2004: 12). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argumen yang berhubungan dengan hal ini adalah teori peniruan (copycat) terhadap kejahatan dan kerusuhan. Video game Grand Theft Auto juga dituding sebagai sumber potensial belajar kejahatan, karena pemain game ini diposisikan sebagai pelaku kejahatan pencurian mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk media baru terkadang juga disebut-sebut menyediakan sarana baru untuk melakukan kejahatan. Keprihatinan ini khususnya dirangsang oleh Internet, yang dikhawatirkan memfasilitasi segala bentuk pelanggaran, mulai dari penipuan, pencurian identitas, pornografi anak dan pendandanan anak untuk seks, sampai pengorganisasian kejahatan transnasional dan terorisme. Meskipun banyak didiskusikan, bukti bahwa tayangan-tayangan itu menjadi sumber utama kejahatan masih lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Peluang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media mungkin telah meningkatkan peluang melakukan kejahatan, lewat kontribusinya pada pengembangan etos konsumeris, di mana ketersediaan sasaran-sasaran pencurian yang menggoda telah menyebar luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perangkat keras dan perangkat lunak rumah tangga dari penggunaan media massa –TV, radio, video, CD, komputer pribadi (PC), telepon mobile—adalah bagian umum dari kejahatan properti rutin. Sedangkan penyebarannya telah menjadi aspek penting dari penyebaran peluang-peluang kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketiadaan Kontrol&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelanggar potensial yang bermotivasi, meskipun memiliki sarana dan peluang untuk melakukan kejahatan, mungkin tidak akan melakukan kejahatan-kejahatan tersebut jika ada kontrol sosial yang efektif. Kontrol itu mungkin bersifat eksternal, seperti ancaman-ancaman sanksi yang bersifat penangkal, yang sejak awal telah dihadirkan oleh polisi. Atau, bisa juga kontrol itu bersifat internal, seperti suara kecil hati nurani yang selalu hadir, atau yang bisa disebut ”polisi bagian dalam” (inner policeman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema yang terus berulang-ulang tentang kecemasan-kecemasan yang layak dihormati mengenai konsekuensi-konsekuensi criminogenic dari penggambaran media tentang kejahatan adalah bahwa penggambaran itu telah mengikis keampuhan kontrol eksternal maupun internal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggambaran itu merusak kontrol eksternal lewat representasi pengadilan kejahatan yang bersifat melecehkan. Representasi serius dari pengadilan kejahatan tersebut mungkin merusak legitimasinya dengan bersikap lebih kritis, mempertanyakan integritas dan keadilan, atau efisiensi dan efektivitas polisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Representasi negatif dari pengadilan kejahatan juga dapat mengurangi kerjasama publik dengan sistem, atau melemahkan persepsi pelanggar potensial tentang kemungkinan sanksi-sanksi terhadapnya. Ujungnya adalah konsekuensi berupa peningkatan kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, tudingan yang paling sering dikemukakan, dalam hal representasi media sebagai penyebab perilaku kriminal, adalah bahwa media merusak kontrol yang terinternalisasi, dengan secara teratur menyajikan gambaran yang simpatik dan mempesona tentang pelanggaran. Dalam bentuk akademis, hal ini terlihat dalam teori-teori psikologis tentang ketiadaan-kekangan (disinhibition) dan hilangnya-kepekaan (desensitization).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Koneksi Media dan Kejahatan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulasan terhadap berbagai literatur riset umumnya menyimpulkan bahwa terdapat korelasi antara menyaksikan kekerasan dan perilaku agresif. Relasi itu tetap ada, bahkan ketika berbagai bentuk kontrol diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bagaimanapun juga, keseluruhan dampak negatif dari ekspos media tampaknya kecil jika dibandingkan dengan hal-hal lain dalam pengalaman sosial si pelanggar tersebut. Jadi, pertanyaan yang tersisa, bukan apakah kekerasan di media memiliki dampak. Namun, seberapa penting dampak itu jika dibandingkan dengan faktor-faktor lain, dalam membawa perubahan-perubahan sosial yang besar, seperti meningkatnya angka kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jadi persoalan lagi adalah audiens bukanlah pihak yang pasif dalam menerima ekspos media, tetapi adalah penafsir (interpreter) yang aktif, dalam proses interaksi yang rumit dengan praktik-praktik budaya dan sosial lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan-perubahan dalam representasi media tidak datang begitu saja secara utuh dari planet lain dan mempengaruhi pola perilaku dari ketiadaan, namun mencerminkan perubahan-perubahan yang terus berlangsung dalam persepsi-persepsi dan praktik-praktik sosial. Perubahan penggambaran media ditafsirkan oleh audiens yang berbeda dengan berbagai cara, yang mungkin memperkuat atau mengubah pola-pola sosial yang sedang muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antara perkembangan-perkembangan dalam media dan masyarakat yang lebih luas bersifat dialektis. Hal ini membuat isolasi dan pengukuran dampak media yang murni (pure) tidak masuk akal. Namun, hal ini juga tidak lantas berarti bahwa representasi media tidak memiliki konsekuensi  yang signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterbatasan lebih jauh dari berbagai literatur riset tentang dampak media adalah ia hampir semata-mata terfokus pada representasi kekerasan dan bentuk-bentuk pelanggaran lainnya. Hubungan teoretis yang dikaji sebelumnya mengisyaratkan bahwa representasi media tentang perilaku yang tidak-melanggar hukum –misalnya, iklan dan gambar-gambar lain tentang perilaku konsumeris—mungkin meningkatkan anomie dan karena itu bersifat menyakiti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, implikasi yang paling masuk akal dari representasi media, berkaitan dengan bagaimana representasi itu berdampak pada aspirasi material dan konsepsi tentang cara-cara yang sah untuk mencapainya. Jadi, bukan tentang bagaimana representasi itu menggambarkan kejahatan dan kekerasan secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 8 Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ir. Satrio Arismunandar, M.Si, MBA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dosen Newsmaking Criminology&lt;br /&gt;Departemen Kriminologi, FISIP UI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Daftar Pustaka&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Greek, Cecil. 1997a. &lt;i&gt;Copy-cat crimes.&lt;/i&gt; Dalam Rasmussen, R. Kent (ed.). Pasadena, CA: Salem Press. &lt;br /&gt;Robert Reiner. &lt;i&gt;Media-Made Criminality: The Representation of Crime in the Mass Media.&lt;/i&gt; Bab 11 dari buku &lt;i&gt;Handbook of Criminology&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;http://www.safermedia.org.uk/researchoneffectsofmediaviolence.htm&lt;br /&gt;http://criminology.fsu.edu/crimtheory/learning.htm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-5855708680184099054?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/5855708680184099054/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=5855708680184099054&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/5855708680184099054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/5855708680184099054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/10/media-massa-sebagai-sumber-belajar.html' title='MEDIA MASSA SEBAGAI SUMBER BELAJAR KEJAHATAN'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-GOyy8llmnnk/To9j5Cqvy_I/AAAAAAAABVY/EMrPxGc2RPc/s72-c/TV%2Bcops8.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-4275559953116574071</id><published>2011-10-07T06:58:00.000-07:00</published><updated>2011-10-07T07:04:10.255-07:00</updated><title type='text'>(5) JURNALISME INVESTIGATIF DAN FAKTOR PELIPUTAN (Wawancara Septiawan Kurnia Santana dengan Satrio Arismunandar)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-noR5PIt1xlM/To8G0gmDGoI/AAAAAAAABVQ/MjBODFby90U/s1600/IMG_8242.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="267" width="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-noR5PIt1xlM/To8G0gmDGoI/AAAAAAAABVQ/MjBODFby90U/s400/IMG_8242.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-rDqzVB2l8JE/To8FFhl8kZI/AAAAAAAABVA/CZpG8Ji0DWk/s1600/IMG_8204.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="267" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-rDqzVB2l8JE/To8FFhl8kZI/AAAAAAAABVA/CZpG8Ji0DWk/s400/IMG_8204.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Wawancara tertulis Septiawan Santana Kurnia dengan Satrio Arismunandar, sebagai bagian dari penelitian disertasi S3 Ilmu Komunikasi di Universitas Padjajaran, Bandung, 2011. Untuk memudahkan dibaca, wawancara ini diupload ke blog dalam beberapa bagian. Diharapkan isinya juga bisa dimanfaatkan oleh siapa saja yang berminat pada studi Ilmu Komunikasi atau Jurnalisme:&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimana pola teknik investigasi di masa  pasca Orde Baru dengan masa sebelumnya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik dasar liputan investigasi di masa Orba maupun pasca Orba sebenarnya sama saja: menelusuri jejak dokumen, mencari nara sumber yang relevan, melakukan pengamatan langsung di lapangan, dan sebagainya. Bedanya, kondisi lingkungan pasca Orde Baru sudah jauh lebih terbuka. Bahkan sekarang sudah ada UU Keterbukaan Informasi Publik. Orang relatif lebih berani bersuara sekarang ketimbang di masa Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimana pemahaman tentang laporan investigatif (investigative report) itu? &lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Laporan investigatif adalah liputan jurnalistik yang menggunakan teknik-teknik investigasi, karena subyek yang diliput tidak bisa diungkap dengan cara-cara biasa. Ketertutupan itu terjadi karena ada tindak kejahatan/kesalahan/pelanggaran hukum yang dilakukan, dan mau disembunyikan dari mata publik. Pemahaman publik tentang laporan investigatif saya kira cukup memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Karena laporan investigatif bersifat “hendak membuka tabir rahasia”, sampai sejauhmanakah (dan bagaimanakah) mengatasi pihak-pihak yang tidak suka atau menghalangi kerja liputan investigatif wartawan di Indonesia? &lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pihak media dan wartawan harus tahan uji, ulet, sabar, dan gigih dalam melawan segala rintangan dan tantangan tersebut. Payung hukum juga sedapat mungkin digunakan untuk melindungi kerja wartawan. Antara lain, dengan pemberlakuan UU keterbukaan informasi untuk publik belum lama ini. Ini bisa menjadi payung hukum untuk menghadapi pihak-pihak yang menghambat akses terhadap informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa saja dan bagaimanakah syarat-syarat investigative reporting? &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, ada topik/subyek liputan, yang berdasarkan petunjuk awal, patut diduga telah melakukan kejahatan/kesalahan/pelanggaran hukum yang merugikan kepentingan publik. Kedua, ada kesediaan dari pihak pengelola media untuk menyediakan sumberdaya (SDM wartawan, dana, waktu) yang memadai bagi pelaksanaan liputan investigatif tersebut. Dua hal itu adalah yang terpenting, sedang hal-hal berikutnya lebih bersifat teknis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Banyak media khawatir melakukan investigasi karena takut "di-Tempo-kan" atau "di-Kompas-kan" seperti yang diderita kedua media itu ketika mereka diseret ke pengadilan dengan tuntutan pidana dan gugatan perdata ratusan juta oleh Tomy Winata dan Shinasavan, misalnya. Mengapa media-media besar dengan dana un-limited tak berani (dan mampu) tak melakukan peliputan investigasi?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sistem bisnis yang media yang makin kapitalistik, ukuran untuk melakukan atau tidak melakukan liputan investigatif sebenarnya sederhana: yakni, perbandingan antara potensi keuntungan dan kerugian/risiko. Jika potensi kerugian (biaya, dan lain-lain) dan risiko (bermusuhan dengan pihak-pihak yang berkuasa) dianggap lebih besar dari potensi keuntungan yang akan diperoleh (peningkatan tiras, iklan, dan lain-lain) maka tidak ada insentif untuk melakukan liputan investigatif. Ini berlaku untuk media massa mana saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sebagai peluang, jurnalisme investigasi lebih berpeluang saat ini, tapi itu semua akan kembali pada para wartawan dan para pimpinannya, mengapa?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena liputan investigasi menuntut effort /upaya lebih, baik dari segi ketersediaan SDM, dana, dan waktu. Hal ini membuat tidak semua media begitu antusias untuk melakukan liputan investigatif. Jadi, akhirnya ini berpulang pada idealisme para jurnalis, serta kesadaran para pemimpin mereka akan peran media sebagai kontrol sosial (bukan sekadar mengejar profit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa majalah dan Koran Tempo memakai gaya peliputan investigasi klasik, sementara Kompas dengan pendekatan pendapat publik?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing media melakukan liputan investigatif berdasarkan kekuatan dan titik keunggulan yang dimilikinya. Ini masuk akal dan wajar. Tradisi liputan investigatif klasik, di mana manusia (si jurnalis) menjadi ujung tombak dalam melakukan penelusuran fakta, adalah letak kekuatan Tempo. Sedangkan Kompas, yang memiliki lembaga litbang dan pusat data yang kuat, dilengkapi dengan staf litbang yang siap merancang dan melakukan survey atau pengolahan data lain, tentu memilih memanfaatkan keunggulannya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapakah karya investigative reporting wartawan Indonesia banyak yang tidak didokumentasikan dengan baik?&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bukan cuma karya investigative reporting, tetapi banyak karya jurnalistik tidak terdokumentasikan dengan baik di Indonesia. Berbagai media di Indonesia tampaknya memang tidak memiliki tradisi pendokumentasian yang baik, barangkali karena mereka memandang hal itu bukan prioritas, atau problem dana. Mereka lebih sibuk mencari iklan ketimbang memikirkan soal dokumentasi.  Kecuali untuk media semacam Tempo dan Kompas, yang sudah memiliki divisi riset dan kepustakaan yang kuat (dan dari figur-figur pimpinannya, terlihat juga memiliki tradisi intelektual dan wawasan ke depan yang kuat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa tak semua kerja investigasi layak dipublikasikan (karena misalnya tokoh utama tak mau diwawancarai)?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kurang sependapat dengan pertanyaan di atas. Jika fakta dan data yang diperoleh dari berbagai sumber cukup kuat, maka kerja investigasi tetap layak dipublikasikan, sekalipun tokoh (tersangka) utama menolak diwawancarai. Seorang tersangka pelaku kejahatan tidak boleh dibiarkan mendikte atau “menyandera” media tentang layak-tidaknya suatu hasil investigasi dipublikasikan. Memang jurnalis tidak bisa memaksa seorang tokoh utama untuk bicara, tapi jurnalis juga jangan mau “disandera’ olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa investigasi dilakukan untuk membela kepentingan publik?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sejak dari awal, dasar bagi jurnalisme investigasi adalah kepentingan publik. Kepentingan publik ini memberi legitimasi bagi upaya investigasi. Jika yang diajukan adalah kepentingan pribadi, kelompok, golongan, atau vested interest tertentu, maka jurnalis pada prinsipnya sudah menjadi sekadar alat bagi kepentingan tersebut. Ia tak lagi pantas membawa atribut jurnalis. Mungkin perannya sama seperti seorang “detektif swasta” yang bisa dibayar oleh siapa saja untuk melakukan penyelidikan atas kasus tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa liputan investigasi ini bisa dikatakan berhasil, bila berhasil membuktikan dugaan awal adanya praktek kotor? Jarang ada yang benar-benar  investigasi yang profesional: mencari, menelusuri, menguji bahan dan membongkar dan mengungkap masalah dengan lengkap.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liputan investigasi dimulai dengan “dugaan buruk” (dugaan awal) bahwa seseorang atau suatu pihak telah melakukan kesalahan atau perbuatan tercela, yang mencederai atau mengkhianati kepentingan publik. Jika dugaan buruk ini terbukti, berarti jurnalis memiliki naluri yang tajam untuk mengendus adanya pelanggaran kepentingan publik. Artinya, tugas investigasinya “berhasil.” Tetapi, jika tidak terbukti, berarti dugaan awal atau kecurigaan si jurnalis keliru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan, untuk melakukan pembongkaran masalah secara lengkap, itu sebenarnya hanya masalah komitmen, sampai seberapa jauh pendalaman mau dilakukan. Ini soal pilihan media bersangkutan, yang tentunya dipengaruhi oleh pertimbangan dukungan sumberdaya, ketersediaan dana, SDM, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa orang masih banyak rancu dengan indepth reporting atau bahkan dengan peliputan sensasional berbau skandal?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerancuan dengan indepth reporting tejadi karena banyak orang melihat kemiripan antara format penulisan liputan investigatif dengan indepth reporting. Cara penulisan keduanya memang bisa mirip, tetapi perbedaannya terletak pada cara memperoleh informasi, yang pada kasus jurnalisme investigasi terpaksa dilakukan dengan cara-cara yang tidak biasa. Sedangkan indepth reporting mungkin saja dilakukan lewat jalur “normal,” yaitu sumber data dan informasi yang terbuka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan, kerancuan liputan investigatif dengan peliputan sensasional berbau skandal (pribadi), hal ini terjadi karena orang terkadang melupakan elemen penting yang menjadi dasar liputan investigatif: kepentingan publik. Skandal yang besifat personal sebenarnya tidak masuk kategori kepentingan publik, kecuali jika melibatkan penggunaan aset negara (publik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa investigasi membutuhkan skill tinggi, semangat juang, dan dukungan perusahaan media, sebab biasanya rawan gugatan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skill tinggi dibutuhkan, agar jurnalis bersangkutan tidak melakukan kesalahan teknis dalam peliputan, yang bisa berujung gugatan terhadap medianya. Semangat juang juga dibutuhkan, agar jurnalis tidak mudah menyerah, yang akan berujung pada kegagalan liputan. Maklum, liputan investigatif memang menghadapi banyak tantangan (bahkan berpotensi ancaman terhadap keselamatan si jurnalis bersangkutan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan, dukungan perusahaan media dibutuhkan karena tanpa SDM, dana, waktu, yang disediakan oleh perusahaan, liputan investigatif tak akan bisa dilakukan. Kalaupun si jurnalis nekad “bergerilya,” melakukan liputan sendirian, tidak ada jaminan bahwa hasil kerjanya akan dimuat di media bersangkutan. Inilah sebabnya, perlu ada dukungan dari perusahaan. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 7 Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ir. Satrio Arismunandar, M.Si, MBA&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-4275559953116574071?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/4275559953116574071/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=4275559953116574071&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/4275559953116574071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/4275559953116574071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/10/jurnalisme-investigatif-dan-faktor_07.html' title='(5) JURNALISME INVESTIGATIF DAN FAKTOR PELIPUTAN (Wawancara Septiawan Kurnia Santana dengan Satrio Arismunandar)'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-noR5PIt1xlM/To8G0gmDGoI/AAAAAAAABVQ/MjBODFby90U/s72-c/IMG_8242.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-7039295588841077564</id><published>2011-10-07T06:49:00.000-07:00</published><updated>2011-10-07T07:02:46.870-07:00</updated><title type='text'>(4) JURNALISME INVESTIGATIF DAN FAKTOR WARTAWAN (Wawancara Septiawan Kurnia Santana dengan Satrio Arismunandar)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Fa9zhnlEE4M/To8GfDiEFFI/AAAAAAAABVI/CHc7skLyxtg/s1600/IMG_8201.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="267" width="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-Fa9zhnlEE4M/To8GfDiEFFI/AAAAAAAABVI/CHc7skLyxtg/s400/IMG_8201.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-eZcpXru-pJo/To8DDwFCGVI/AAAAAAAABU4/b05KhVcn6sA/s1600/IMG_8147.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="267" width="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-eZcpXru-pJo/To8DDwFCGVI/AAAAAAAABU4/b05KhVcn6sA/s400/IMG_8147.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Wawancara tertulis Septiawan Santana Kurnia dengan Satrio Arismunandar, sebagai bagian dari penelitian disertasi S3 Ilmu Komunikasi di Universitas Padjajaran, Bandung, 2011. Untuk memudahkan dibaca, wawancara ini diupload ke blog dalam beberapa bagian. Diharapkan isinya juga bisa dimanfaatkan oleh siapa saja yang berminat pada studi Ilmu Komunikasi atau Jurnalisme:&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimanakah kompetensi wartawan Investigasi dalam melakukan: a) pencarian “sumber-sumber investigative reporting” (sumber konvensional, dan sumber inkonvensional; b) upaya check and recheck untuk setiap fakta?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompetensi untuk mencari sumber-sumber peliputan investigatif, baik sumber konvensional maupun nonkonvensional, menurut saya secara umum cukup baik. Cuma dugaan saya, mereka masih kurang memiliki ketekunan untuk melakukan upaya check and recheck untuk setiap data yang diperoleh. Tetapi, untuk hal yang kedua ini, sebenarnya bisa dilatih lewat pembiasaan dan praktik, yang diajarkan langsung oleh para jurnalis atasannya. Yakni, jurnalis senior yang lebih berpengalaman dalam liputan investigatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimanakah kemampuan wartawan Investigatif di Indonesia dalam melaporkan kasus-kasus besar dan bersifat penting (misalnya, “siapa pembunuh Munir”; “dari mana asal dana Partai Demokrat, dan ke mana saja dana itu mengalir”)? &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sudah terlihat dari laporan media, sebenarnya penelusuran wartawan Indonesia dalam kasus-kasus besar sudah cukup memadai. Siapa otak di belakang pembunuhan aktivis HAM Munir, misalnya, sudah terendus jelas oleh media. Dana yang masuk ke Partai Demokrat juga sebetulnya bisa dilacak asalnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak meragukan kemampuan wartawan Indonesia dalam melakukan liputan investigatif. Yang saya ragukan justru komitmen pemilik/pengelola media untuk secara serius mendukung pelacakan kasus-kasus besar itu sampai ke akar-akarnya, karena banyaknya konflik kepentingan dan potensi untuk berbenturan dengan penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimanakah produk investigative report yang dihasilkan jurnalis Indonesia ? Mengapa?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup baik. Tapi ini tentu tergantung medianya. Saya melihat ada tradisi investigasi yang kuat di majalah Tempo. Karena sifatnya mingguan, sifat investigatif Tempo lebih pada isu-isu yang sedang mengemuka di masyarakat. Sedangkan di Harian Kompas, sangat kuat untuk indepth reporting. Dengan posisinya sebagai suratkabar utama yang dijadikan rujukan oleh para pengambil keputusan, Kompas sudah merasa cukup berperan sebagai agenda setter dengan indepth reporting-nya. Hal ini ditunjang oleh keberadaan lembaga Litbang dan pusat data yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapakah ada gejala wartawan yang berlagak melakukan peliputan investigasi namun ternyata justru memeras?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wartawan (atau orang yang pura-pura jadi wartawan) melakukan pemerasan, bisa terkait dengan banyak faktor. Gaji/penghasilan terlalu kecil, tidak paham atau tidak menghayati etika jurnalistik, lemahnya pengawasan/kontrol dari pimpinan media, adanya kesempatan (banyak kasus penyimpangan di birokrasi, yang dengan mudah bisa dijadikan bahan pemerasan), dan lain-lain. Dalam hal ini, modus investigasi hanya dijadikan sarana atau alat untuk memeras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapakah karya wartawan investigasi di Indonesia yang bagus seringkali tidak dikenal?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dikenal dalam arti apa? Untuk liputan dalam bahasa Indonesia, ya tentunya dikenal oleh audiens Indonesia. Tetapi, untuk publik internasional, ya mungkin kurang dikenal karena dua hal: 1) Tidak disajikan dalam bahasa Inggris atau bahasa asing lain yang mudah diakses oleh audiens internasional. Ini berlaku juga untuk karya sastra Indonesia, yang mungkin sangat bermutu, tetapi tidak banyak dikenal di level internasional karena tidak diterjemahkan ke bahasa Inggris atau bahasa asing lain (novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer adalah contoh, yang dikenal karena sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing); 2) Isu yang digarap/diinvestigasi mungkin bersifat terlalu lokal, sehingga tidak menjadi concern dunia internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa wartawan di berbagai media memiliki “masalah” di soal kompetensi (dalam melakukan peliputan invetigatif) ?  Dan, mengakibatkan sedikit wartawan yang terampil melakukan investigatif. Juga, mengakibatkan media dan wartawan kini serba tergesa-gesa, ingin cepat, tapi kurang mendalam. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liputan investigatif itu bisa dibilang memerlukan suatu keterampilan khusus, meski secara potensial setiap wartawan bisa dilatih untuk menjadi reporter investigatif. Sama halnya, tidak semua dokter bisa jadi ahli bedah otak, yang membutuhkan spesialisasi dan pendidikan khusus. Meski secara potensial setiap dokter tentu diharapkan bisa jadi ahli bedah otak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau media atau wartawan ingin cepat selesai meliput dan kurang mendalam dalam peliputan, itu mungkin lebih karena tuntutan pengelola media atau kebutuhan pasar, bukan semata-mata karena kurang kompetensi. Contohnya, format program Reportase Investigasi di Trans TV adalah program itu harus tayang mingguan. Artinya, setiap minggu harus ditayangkan episode hasil investigasi yang baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dalam keterbatasan waktu semacam ini, tentu liputan investigasi yang dilakukan tidak bisa terlalu mendalam, dan topik liputannya juga tidak bisa terlalu rumit. Skandal serumit dan dengan skala sebesar kasus Bank Century, misalnya, tentu tidak bisa ditayangkan untuk program mingguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa yang lebih banyak adalah wartawan spekulatif dan provokatif?&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Secara teknis, jauh lebih mudah menjadi wartawan spekulatif dan provokatif. Karena, cukup dengan duduk-duduk tenang di kantor, tanpa perlu melakukan verifikasi dan investigasi di lapangan, mereka bisa menghasilkan banyak pemberitaan (meskipun isinya banyak mengandung spekulasi dan provokasi). Hal ini didorong juga oleh sikap malas dan puas diri dari wartawan bersangkutan, yang ditunjang oleh sikap pembiaran dari pemilik media terkait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa sekarang tak ada wartawan yang melakukan investigasi, kecuali wartawan Tempo?&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan di atas terlalu berlebihan dan pastinya tidak sesuai fakta. Saya tahu benar bahwa masih banyak wartawan dari berbagai media melakukan investigasi di lapangan, dengan kadar investigasi yang beragam. Dari yang relatif sederhana sampai tingkat yang rumit dan berat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Trans TV malah ada program rutin tiap minggu, Reportase Investigasi. Tetapi karena ini reguler mingguan, tentu jangan diharapkan kadar investigasinya setara dengan investigasi yang dilakukan Bondan Winarno –yang butuh waktu berbulan-bulan di dalam dan luar negeri-- dalam kasus emas Busang (Bre-X).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimana proses munculnya wartawan investigatif di Indonesia?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan investigatif  pertama mungkin adalah Raden Mas Panji Sosrokartono, kakak R.A. Kartini, yang selama 29 tahun, sejak 1897,mengembara ke Eropa. Ia bergaul dengan kalangan intelektual dan bangsawan di sana. Mahasiswa Universitas Leiden itu kemudian menjadi wartawan perang Indonesia pertama pada Perang Dunia I. Di Belanda, selain kuliah, ia menjadi koresponden liputan Perang Dunia I untuk koran The New York Herald, cikal bakal The New York Herald Tribune. Agar bisa lebih masuk ke kancah perang, ia menerima pangkat mayor dari tentara Sekutu, tapi menolak dipersenjatai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu keberhasilan Kartono sebagai wartawan adalah ketika berhasil memuat hasil perjanjian rahasia antara tentara Jerman yang menyerah dan tentara Prancis yang menang perang. Di era Orde Lama dan Orde Baru, Mochtar Lubis dengan Indonesia Raya meneruskan tradisi lama yang sempat hilang itu (kasus korupsi Pertamina, dan lain-lain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa jumlah wartawan investigatif hanya sedikit di masa Orde Baru? Dan, mengapa pada masa  pasca Orde Baru lumayan banyak? &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pers yang sangat represif di masa Orde Baru tidak mendorong munculnya wartawan investigatif, karena hasil investigasi mereka tidak mendapat tempat memadai di media masing-masing. Peluang hasil liputan investigatif untuk dimuat, ditayangkan, atau disiarkan, sangat kecil. Pemilik media cenderung cari aman dan tak mau berbenturan dengan penguasa. Di masa pasca Orde Baru, ketika iklim kebebasan pers jauh lebih kondusif, peluang bagi liputan investigatif juga jauh lebih terbuka dan luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimana generasi kewartawanan investigatif itu terbentuk?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi kewartawanan investigatif terbentuk, sangat tergantung pada iklim pencarian kebenaran dan budaya perusahaan –menyangkut misi dan visi-- yang ditumbuhkan di institusi media bersangkutan. Kesadaran, idealisme dan wawasan jurnalisme, yang memahami apa arti pemihakan pada kepentingan publik, tidak mungkin tumbuh dalam institusi media yang misinya hanya semata-mata mengejar profit, atau sekadar menjadikan media sebagai alat kepentingan untuk mengejar kekuasaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kita bisa melihat bahwa wartawan investigatif itu muncul dan berkembang di beberapa media, namun tidak muncul dan tidak berkembang di media lain. Benar bahwa individu wartawan bisa belajar dan menarik inspirasi dari pengalaman wartawan-wartawan lain dari media lain. Namun, jika di institusi medianya sendiri semangat pencarian kebenaran dan pemihakan pada kepentingan publik itu tidak didukung oleh sistem media, maka wartawan itu tidak akan menghasilkan liputan investigatif yang berkualitas atau layak ditampilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa “investigasi di media kita biasanya dilakukan kolektif....jadi pribadi wartawan (individual) kurang menonjol sendirian”?&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pertama, liputan investigatif biasanya memang jauh lebih berat dibandingkan liputan biasa, sehinga tidak efektif dilakukan oleh satu orang. Jauh lebih mudah menggunakan tim, yang terdiri dari sejumlah wartawan dengan kemampuan beragam, ketimbang individual. Kedua, dengan adanya tim (kolektif), bisa berbagi risiko jika ada ancaman/intimidasi dari pihak yang diliput, dan  menghindari kemungkinan kepentingan pribadi si wartawan ikut bermain dalam liputan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;“Jurnalis Media Daerah kerap diberi beban pekerjaan membuat minimal 3-6 berita. Bahkan, ada yang lebih”.  Mengapa hal ini banyak terjadi koran lokal? &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dugaan saya, desakan untuk mengurangi cost di koran lokal, berujung pada dipertahankannya jumlah wartawan yang minimal (seringkali bahkan status karyawannya tidak jelas, mereka bukan karyawan tetap). Untuk mengisi space di suratkabar lokal, maka tiap wartawan itu harus menyetor berita cukup banyak. Tekanannya menjadi lebih pada kuantitas (jumlah) berita, ketimbang kualitas berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Untuk mendapatkan dana liputan investigasi, wartawan lokal bisa menjalin kerja sama dengan LSM yang satu isu dengan apa yang akan ditulis wartawan. Atau bekerja sama dengan sebuah institusi, tanpa ikatan terhadap produk penulisan. Bagaimanakah proses kerja sama itu terjadi?&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Menurut pengalaman saya, LSM yang punya isu sama dengan topik liputan --yang sedang dikerjakan suatu media—biasanya dengan senang hati akan memasok informasi pada wartawan, karena jika info itu dipublikasikan akan mendukung isu yang diperjuangkan LSM bersangkutan. Karena isunya sama, tanpa ada ikatan pun, hasil publikasi tetap akan menguntungkan LSM bersangkutan. Sedangkan media mendapat keuntungan dari informasi yang dipasok LSM, tanpa mesti repot-repot mengeluarkan dana sendiri untuk mencari informasi tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi LSM itu biasanya disusun dari hasil riset, pengamatan, atau penelusuran data yang dilakukan aktivis LSM bersangkutan. Saya jarang mendengar ada LSM yang memberikan dana liputan investigasi untuk media. Kecuali LSM yang terkait dengan program training jurnalistik (pernah bekerjasama dengan AJI dan saya jadi salah satu instrukturnya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, sejumlah media diminta mengirim salah satu reporternya untuk dilatih teknik-teknik investigasi dan mereka harus mempraktikkannya. Seluruh biaya training dan praktik liputan lapangan itu dibiayai oleh LSM bersangkutan. Hasil praktik liputan investigatif itu lalu juga wajib dimuat di media bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 7 Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ir. Satrio Arismunandar, M.Si, MBA&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-7039295588841077564?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/7039295588841077564/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=7039295588841077564&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/7039295588841077564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/7039295588841077564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/10/jurnalisme-investigatif-dan-faktor.html' title='(4) JURNALISME INVESTIGATIF DAN FAKTOR WARTAWAN (Wawancara Septiawan Kurnia Santana dengan Satrio Arismunandar)'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Fa9zhnlEE4M/To8GfDiEFFI/AAAAAAAABVI/CHc7skLyxtg/s72-c/IMG_8201.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-2819101247088903930</id><published>2011-10-07T06:36:00.000-07:00</published><updated>2011-10-07T07:01:48.050-07:00</updated><title type='text'>(3) JURNALISME INVESTIGATIF DAN REDAKSI MEDIA MASSA (Wawancara Septiawan Kurnia Santana dengan Satrio Arismunandar)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-PnqmQziH5is/To8AQRacmCI/AAAAAAAABUw/WONExXT3360/s1600/IMG_8104.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="267" width="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-PnqmQziH5is/To8AQRacmCI/AAAAAAAABUw/WONExXT3360/s400/IMG_8104.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Wawancara tertulis Septiawan Santana Kurnia dengan Satrio Arismunandar, sebagai bagian dari penelitian disertasi S3 Ilmu Komunikasi di Universitas Padjajaran, Bandung, 2011. Untuk memudahkan dibaca, wawancara ini diupload ke blog dalam beberapa bagian. Diharapkan isinya juga bisa dimanfaatkan oleh siapa saja yang berminat pada studi Ilmu Komunikasi atau Jurnalisme:&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa pola liputannya investigasi di majalah (cetak), koran (cetak), dan media televisi, radio, online (elektronik) berbeda-beda?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena perbedaan medium, berarti berbeda pula format berita, pola konsumsi media, audience, selera dan kebutuhan audience. Pola liputan dan pemberitaan otomatis berubah pula, menyesuaikan dengan kebutuhan audience.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa media cetak dan elektronik yang serius masih tetap menugaskan wartawan mereka melakukan investigasi dengan cara dan gaya masing-masing?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian media “serius” di sini adalah media yang pengelolanya memang betul-betul menyadari fungsi media dalam masyarakat demokratis, yakni sebagai sarana kontrol sosial, bukan sekadar industri pencari profit biasa. Investigasi adalah salah satu cara media, dalam menghasilkan liputan/berita yang memenuhi unsur kontrol sosial, unik, serta eksklusif, manakala cara-cara liputan biasa tidak bisa menghasilkan berita yang tajam dan mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Investigasi yang diklaim beberapa media televisi harus dilihat secara kritis (programa siaran televisi memiliki acara “investigasi”: Metro, TvOne, Anteve, Trans, Trans7). Media Televisi kerap melakukan investigasi dengan cara masing-masing. Dan media televisi, dalam menyoroti satu hal, proses liputannya lebih banyak yang memilih liputan mendalam, atau komprehensif. Mengapa media televisi cenderung memakai liputan berbentuk liputan mendalam, bukan investigatif seperti yang diharapkan dalam liputan penyelidikan? &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan ini kurang pas. Liputan mendalam/komprehensif tidak perlu didikotomikan atau dipertentangkan dengan liputan investigatif, karena suatu liputan bisa bersifat mendalam, komprehensif,&lt;b&gt; sekaligus&lt;/b&gt; investigatif. Suatu liputan investigatif biasanya juga diharapkan bersifat mendalam dan komprehensif, tidak sekadar menangkap gejala di permukaan. Walaupun, tingkat atau kadar kedalaman dan kelengkapan suatu liputan investigatif memang bisa beragam. Pertanyaan yang lebih tepat adalah: mengapa media TV cenderung memakai liputan investigatif yang kedalamannya dan kelengkapannya tidak terlalu dalam dan lengkap? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya: media TV sebagai media audio-visual yang durasinya terbatas tidak punya kemewahan untuk menyajikan liputan yang terlalu detail dan komprehensif. Sifat media TV memang begitu. Pemirsa tidak bisa mengulang, jika ada informasi yang kurang jelas atau tidak tertangkap secara akurat (beda dengan media cetak yang bisa dibaca berulang-ulang jika informasi yang disajikan kurang jelas). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambah lagi, format tayangan televisi yang reguler harian atau mingguan, memberi keterbatasan tersendiri dalam upaya menghadirkan liputan investigatif yang dalam dan lengkap. Selain itu, mayoritas pemirsa TV di Indonesia memandang TV lebih sebagai sarana hiburan (sinetron, musik, film, lawak, dsb), bukan sarana mencari informasi. Buktinya, TV berita seperti TV One dan Metro TV secara konsisten adalah dua TV dengan rating paling rendah di bandingkan TV-TV lain yang bersiaran nasional (RCTI, SCTV, Trans TV, Trans 7, Indosiar, dll).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Biaya peliputan investigasi mahal, serta memerlukan ketekunan konsentrasi wartawan yang bisa sangat menyita waktu. Maka itu, berbagai media terpaksa melakukan skala prioritas yang ketat. Bagaimanakah, dalam kondisi tersebut, media mengagendakan investigasi? &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prioritas liputan nomor satu adalah liputan reguler, yang mau tak mau harus dilakukan untuk mengisi space di suratkabar atau durasi di media elektronik (TV dan radio). Liputan investigatif dianggap sebagai hidangan istimewa, yang disajikan hanya pada saat-saat tertentu kepada audience, karena secara teknis lebih sulit dilakukan, lebih berisiko, lebih memakan biaya, dan lebih butuh SDM trampil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yang konsisten cuma melakukan peliputan investigatif diantaranya hanyalahTempo, dan Kompas hanya sesekali. Media lain tidak mau, berani, terampil dan punya komitmen untuk melaksanakan investigasi. Mengapa, hanya Tempo?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan saya, Tempo sebagai majalah berita mingguan akan kedodoran jika hanya mengandalkan berita-berita yang sifatnya hanya kompilasi atau rangkuman dari berita harian, yang sudah tersaji di media suratkabar selama seminggu. Tempo harus membuat liputan eksklusif (untuk tidak mengatakan “investigatif”), jika ingin kehadirannya masih dirasa “enak dibaca dan perlu.” Tanpa liputan investigatif atau eksklusif, sebetulnya Anda tidak perlu membeli Tempo. Keberadaan Tempo tidak dibutuhkan. Cukup jika Anda rajin membaca berita suratkabar atau online selama seminggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sumber daya dan dana media Indonesia umumnya terbatas (misal, untuk melakukan liputan investigasi, atau mau mendidik wartawannya menjadi wartawan investigasi). Padahal liputan investigatif dapat menjadi penanda kualitas sebuah media. Bagaimanakah, dari hanya sedikit itu, media memberi peluang wartawannya melakukan investigasi? &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sudah saya katakan, berbeda dengan kasus Tempo, di mana liputan investigatif merupakan sarana penting untuk bertahan di tengah iklim persaingan yang ketat, bagi sejumlah media lain liputan investigatif tidak menjadi prioritas. Jadi, jika memang ada dana, SDM, dan isyu yang cukup menarik untuk digarap, akan dilakukan liputan investigatif. Jika tidak ada dana dan sumberdaya yang memadai, ya tidak dilakukan. Begitu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda mengatakan, “padahal liputan investigatif dapat menjadi penanda kualitas sebuah media,” ya itu benar secara akademis dan idealisme jurnalistik. Tetapi, media di Indonesia bekerja lebih dengan pertimbangan bisnis dan logika profit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa sajakah naskah liputan investigasi di media di Indonesia yang cukup solid hasilnya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada jawaban yang lengkap dan memuaskan untuk pertanyaan ini. Tetapi, untuk media yang sudah memiliki tradisi liputan investigatif yang cukup kuat, seperti Majalah Tempo, misalnya, naskah liputan investigatifnya menurut saya umumnya terlihat cukup solid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa rutinitas kantor (media lokal) menghambat untuk mengerjakan liputan investigasi?&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pertama, di media lokal yang cakupan liputannya juga terbatas, umumnya mereka memang tidak memiliki tradisi liputan investigatif yang kuat. Baik dari sisi praktik, maupun pemahaman konseptual. Maka rutinitas kantor di media lokal tidak memberi cukup rangsangan bagi dilakukannya liputan investigatif. Kedua, keterbatasan sumberdaya di media lokal (ketersediaan tenaga jurnalis yang handal, dukungan keuangan, waktu, kepustakaan, dan sebagainya) juga membatasi langkah media lokal, ketika mereka ingin melakukan liputan investigatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 6 Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ir. Satrio Arismunandar, M.Si, MBA&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-2819101247088903930?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/2819101247088903930/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=2819101247088903930&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2819101247088903930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2819101247088903930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/10/jurnalisme-investigatif-dan-redaksi.html' title='(3) JURNALISME INVESTIGATIF DAN REDAKSI MEDIA MASSA (Wawancara Septiawan Kurnia Santana dengan Satrio Arismunandar)'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-PnqmQziH5is/To8AQRacmCI/AAAAAAAABUw/WONExXT3360/s72-c/IMG_8104.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-544951449507201709</id><published>2011-10-07T06:25:00.000-07:00</published><updated>2011-10-07T07:01:21.799-07:00</updated><title type='text'>(2) JURNALISME INVESTIGATIF DAN INDUSTRI MEDIA (Wawancara Septiawan Santana Kurnia dengan Satrio Arismunandar)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-kNkbdvU10vI/To79xDDOIzI/AAAAAAAABUg/KKIiF-W7MRU/s1600/IMG_7976.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="267" width="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-kNkbdvU10vI/To79xDDOIzI/AAAAAAAABUg/KKIiF-W7MRU/s400/IMG_7976.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Wawancara tertulis Septiawan Santana Kurnia dengan Satrio Arismunandar, sebagai bagian dari penelitian disertasi S3 Ilmu Komunikasi di Universitas Padjajaran, Bandung, 2011. Untuk memudahkan dibaca, wawancara ini diupload ke blog dalam beberapa bagian. Diharapkan isinya juga bisa dimanfaatkan oleh siapa saja yang berminat pada studi Ilmu Komunikasi atau Jurnalisme:&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Media kini, secara ironis, bergerak ke arah komodifikasi informasi dan komersialisasi, sehingga jalannya tidak selalu pararel dengan arah reformasi yang mestinya saling menopang dengan kekuatan kontrol publik melalui pers. Bagaimanakah terjadinya komersialisasi dan sensasionalisme, pada era industri media yang makin menggurita, di Indonesia?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dugaan saya, ini bermula dari era Orde Baru, yang sangat represif terhadap sikap kritis media dan aspirasi politik. Pembatasan partai politik menjadi hanya tiga (Golkar, PPP, PDI); diredamnya berbagai aspirasi kritis melalui media (media hanya bisa menampilkan hal-hal yang positif tentang Soeharto, keluarga Cendana, Dwi Fungsi ABRI, larangan memberitakan konflik SARA); semua ini mendorong pemilik media untuk lebih bersikap pragmatis. Mereka memusatkan upaya pada aspek bisnis (komersial) dari media yang dimilikinya, dan abai terhadap konten, yang sudah dilepaskan dari warna ideologis/politis/idealisme. Sebagaimana semboyan rezim Orde Baru, ekonomi kini adalah panglima bagi penentuan kebijakan media. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sensasionalisme hanyalah salah satu sisi dari pengeksploitasian aspek komersial ini. Yang penting koran laku di pasar, iklan masuk cukup banyak, sedangkan soal isi media dinomorduakan. Kondisi seperti ini berlanjut sampai pasca reformasi, meskipun iklim kebebasan pers kini sudah jauh lebih baik dibandingkan era rezim Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimanakah terjadinya era industri media, serta komersialisasi dan sensasionalisme, di Indonesia, menyebabkan kegiatan peliputan investigasi menjadi hal yang paling dihindari?  &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya bukan sepenuhnya dihindari, tetapi dianggap tidak cukup profitable untuk dilakukan, jika dibandingkan dengan risikonya (cost-benefit analysis). Jika ada bukti bahwa peliputan investigatif itu sangat menguntungkan secara komersial, tentu akan dilakukan. Tetapi kita tahu bahwa liputan investigatif membutuhkan lebih banyak effort, biaya, waktu, dan SDM, serta lebih berisiko (menciptakan lebih banyak musuh, termasuk dari kalangan elite politik dan penguasa), ketimbang liputan standar biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, media terdorong untuk menghindari liputan investigatif yang lebih banyak risikonya ketimbang untungnya. Kenapa mesti repot-repot melakukan liputan investigatif, jika pemasukan iklan toh tidak terdongkrak secara berarti? Lebih mudah dan lebih murah membuat berita sensasional, dengan sedikit bermain-main kata, ketimbang membuat berita investigatif yang harus ketat berdasarkan fakta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kini tak semua media berani mengambil resiko atas liputan investigasi (tekanan massa, gugatan hukum dll).  Di sisi lain, perusahaan pun takut jika investigasi akan merusak hubungan baik mereka dengan pihak tertentu (narasumber penting, pengiklan besar dll). Dan peliputan investigasi membutuhkan biaya besar sehingga perusahaan sering tidak setuju. Setujukah Anda? Bila sepakat, adakah contohnya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sepakat dengan pernyataan di atas, khususnya dalam konteks Indonesia. Contoh, harian Kompas. Kompas secara finansial dan ketersediaan SDM wartawannya tentu sanggup membuat liputan investigatif. Tetapi kapan kita pernah melihat hasil liputan investigatif yang menggegerkan dari Kompas? Pemilik Kompas sudah berpuas diri dengan tampil profesional, beritanya selalu dijadikan rujukan oleh para pengambil keputusan, dan pemasukan iklannya juga sudah aman sampai sebulan ke depan (bahkan berlimpah). Ketika hidup sudah nyaman, dirasa tidak perlu mencari-cari masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Akan tetapi, gejala industri media juga mengakibatkan persaingan antar-media yang bisa menjadi efektif untuk merangsang kompetisi liputan-liputan investigatif untuk meraih prestise, eksklusifitas, dan reputasi. Mengapa investigasi menjadi bagian dari “jualan” media, pada saat sekarang?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini saya tidak banyak melihat adanya liputan investigatif yang betul-betul serius dan mendalam, seperti liputan Bondan Winarno soal kasus emas Busang. Selain Majalah Tempo yang sesekali membuat liputan investigatif (tidak terlalu sering juga), praktis di banyak media, liputan investigatif bukanlah barang jualan yang sebegitu sexy seperti yang kita bayangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun ada yang dinamakan liputan investigatif, itu biasanya hanya dikerjakan sekadarnya. Artinya, liputan investigatif terbatas, yang cukup riset selama 1-2 minggu, isinya tidak terlalu mendalam, skalanya tidak begitu besar, dan pihak yang tertuduh hanyalah orang kecil dan bukanlah pihak yang bisa balik mengancam media. Misalnya, liputan investigatif tentang penggunaan zat pewarna pada makanan dan minuman yang dijual di jalanan. Atau, liputan tentang “bakso tikus”. Pelakunya biasanya kalangan pedagang bakso kecil yang tak punya banyak bargaining position. Tentu, sebutan “investigatif” selalu digunakan sebagai bagian dari kiat pemasaran media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa hambatan dalam peliputan investigasi kini hanya tinggal dua saja: kemauan dari individu jurnalis dan political will dari media massa?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti saya bilang, kemampuan finansial dan SDM di sejumlah media mapan (Kompas, Media Indonesia, Koran Jakarta, Republika, dsb) sebetulnya sudah ada. Cukup banyak jurnalis muda dan idealis yang berhasrat melakukan liputan investigatif. Tetapi memang tidak ada dorongan atau keseriusan dari pihak pemilik media (dan pengelola) untuk melakukan liputan investigatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertimbangannya terutama ya soal efisiensi biaya tersebut. Keuntungan dan gengsi/status yang diperoleh dari liputan itu dianggap tidak sebanding dengan effort, risiko, dan biaya yang dikeluarkan. Jadi, pertimbangannya sangat ekonomis-pragmatis. Sikap semacam ini bukan cuma terdapat di institusi media, tetapi juga di banyak bidang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sementara itu, media lokal di daerah, yang terjadi malah sebaliknya. Media-media di daerah (misalnya di Kalimantan Barat), untuk mempertahankan kelangsungan medianya, mereka malah menjalin kontrak halaman dengan pemerintah daerah (Pemda). Mengapa? Bagaimana prosesnya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak punya pengalaman bekerja di lingkungan media di daerah, maka jawaban saya lebih bersifat dugaan. Saya menduga, kontrak halaman yang dilakukan media dengan pihak Pemda ini juga karena pertimbangan ekonomis-pragmatis, dengan mengorbankan idealisme dan independensi media bersangkutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bisa terjadi pada media yang tidak sanggup meraup iklan atau pemasukan keuangan (sirkulasi) yang cukup untuk bisa bertahan hidup, jadi mereka ambil jalan pintas bekerjasama dengan Pemda. Hal ini juga bisa terjadi di daerah yang basis ekonominya tidak cukup kuat untuk menunjang keberadaan media-media yang ada di sana.  Namun bisa juga terjadi karena memang pemilik media tidak punya visi jurnalisme yang jelas. Media hanya sekedar tempat investasi modal untuk mendulang profit sebanyak-banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sistem tsb terjadi pada semua jaringan koran yang bernaung di Grup Jawa Post (Pontianak Post, Equator, Kapuas Post). Mengapa, bukankah kelompok Jawa Post kuat? &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti saya katakan, ini bukan lagi sekedar masalah ketersediaan keuangan dan tenaga SDM, tetapi visi komersial dari pemilik media untuk mencari profit seringkali memang lebih kuat dibandingkan idealisme jurnalistik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Media tidak bisa bersikap kritis terhadap berbagai penyimpangan yang dilakukan para aparat pemerintahan (daerah). Sebab, kalau media bersikap kritis, tahun depan kontrak akan diputus. Mengapa pemda begitu sewenang-wenang mengambil keputusan? Mengapa media dan praktisi media lokal begitu tak berdaya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemda sendiri juga tidak punya visi jurnalisme. Kalau mereka mau mengucurkan dana buat media, itu karena dia memang butuh untuk mengontrol media, atau menjadikan media sebagai alat propaganda atau kampanye pilkada. Karena Pemda yang punya uang, dia merasa bisa suka-suka dan berhak mengatur media. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktisi media lokal tidak berdaya, karena kelemahan dan kegagalan mereka sendiri dalam memahami dan mengeksplorasi aspirasi/kepentingan konsumen media di daerahnya. Akibatnya, media jadi tergantung sepenuhnya pada pihak yang bisa mengucurkan dana untuk survivabilitasnya, dan dalam hal ini adalah Pemda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kontrak kerja sama juga dilakukan media dengan pemberian insentif bagi setiap pemberitaan mengenai aktivitas Gubernur dan Wakil. Mengapa dan bagaimanakah proses kerja sama itu terjadi?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hanya soal pola dan teknis kerjasama saja. Bentuk bisa bermacam-macam. Intinya, media bersedia mengorbankan idealisme dan independensi demi kelangsungan bisnisnya (baca: uang). Inisiatif bisa datang dari dua arah, dari pihak Pemda (yang butuh publikasi, citra baik di masyarakat atau propaganda untuk tujuan tertentu) atau dari pengelola media sendiri (yang butuh dana untuk operasional media).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Media kecil lainnya, yang tidak tergabung dengan kelompok “grup media” nasional (seperti, di Kalimantan Barat, yakni Borneo Tribune, Berkat, Mediator dan lainnya; atau di wilayah daerah lainnya di Indonesia), juga mempraktekkan hal sama. Mengapa hal ini banyak terjadi di daerah, mereka “ngotot” mendirikan media meski “kecil”? &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hitung-hitungan bisnis, keberadaan media harus ditunjang basis ekonomi.&lt;br /&gt;Banyak alasan untuk mendirikan media. Media tidak semata-mata sebuah industri untuk mencari keuntungan komersial, tetapi bisa juga menjadi alat untuk kepentingan lain, seperti politik (mengkampanyekan kandidat tertentu dalam pilkada, dan lain-lain). Media juga bisa menjadi sarana promosi produk tertentu, atau alat mencari informasi bisnis (industrial intelligence).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 6 Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Ir. Satrio Arismunandar, M.Si, MBA&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-544951449507201709?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/544951449507201709/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=544951449507201709&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/544951449507201709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/544951449507201709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/10/jurnalisme-investigatif-dan-media-massa.html' title='(2) JURNALISME INVESTIGATIF DAN INDUSTRI MEDIA (Wawancara Septiawan Santana Kurnia dengan Satrio Arismunandar)'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-kNkbdvU10vI/To79xDDOIzI/AAAAAAAABUg/KKIiF-W7MRU/s72-c/IMG_7976.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-5022999515290379882</id><published>2011-10-05T09:16:00.000-07:00</published><updated>2011-10-07T07:00:40.486-07:00</updated><title type='text'>(1) JURNALISME INVESTIGATIF DAN SISTEM POLITIK (Wawancara Septiawan Santana Kurnia dengan Satrio Arismunandar)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-sASweOzetJU/To7-NPKqR9I/AAAAAAAABUo/c6FDH_7Dvgw/s1600/IMG_7994.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="267" width="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-sASweOzetJU/To7-NPKqR9I/AAAAAAAABUo/c6FDH_7Dvgw/s400/IMG_7994.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-fAhhSwFWtdM/ToyDliFLZdI/AAAAAAAABUY/0GdWohbHlH0/s1600/IMG_3388.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-fAhhSwFWtdM/ToyDliFLZdI/AAAAAAAABUY/0GdWohbHlH0/s400/IMG_3388.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Wawancara tertulis Septiawan Santana Kurnia dengan Satrio Arismunandar, sebagai bagian dari penelitian disertasi S3 Ilmu Komunikasi di Universitas Padjajaran, Bandung, 2011. Untuk memudahkan dibaca, wawancara ini diupload ke blog dalam beberapa bagian. Diharapkan isinya juga bisa dimanfaatkan oleh siapa saja yang berminat pada studi Ilmu Komunikasi atau Jurnalisme:&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SISTEM POLITIK &lt;br /&gt;Orde Baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak menjelang kejatuhan Suharto, investigasi sudah mulai banyak dilakukan sebagai metode. Mengapa? &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan saya, ada dua faktor. Pertama, pada masa puncak-puncak kekuasaan Soeharto (yang kemudian mulai meredup dengan makin surutnya pamor pemerintahannya dan krisis ekonomi), berbagai korupsi, kolusi, pelanggaran, penyimpangan, penyelewengan di kalangan bisnis dan politik memang sudah makin menggila. Artinya, lahan potensial untuk diinvestigasi juga cukup dan bahkan makin banyak. Kedua, pemberitaan gaya rutin yang biasa saja di media mainstream makin kehilangan gereget dan tidak menarik, karena selama di bawah Soeharto praktis tak ada kebebasan pers. Ada kebutuhan di kalangan media untuk menampilkan gaya pemberitaan yang lebih segar, lebih menohok, lebih menarik di mata audiens.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara 1994-1997,  majalah Forum Keadilan melakukan nafas liputan investigasi, antara lain membongkar korupsi di Mahkamah Agung jaman Adi Andoyo, kisah pembunuhan Gina oleh Oki di Amerika Serikat, melacak hilangnya Kartika Tahir -- istri mantan direktur Pertamina A. Tahir; juga dilakukan wartawan-wartawan di majalah Editor, lalu Tiras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa di jaman Orde Baru, liputan investigasi terhambat dilakukan karena pemerintah yang sangat ketat mengontrol?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena adanya sistem yang represif dan otoritarian, liputan investigatif yang berani atau menyinggung langsung pihak yang berkuasa dianggap berbahaya. Maka, media yang coba-coba melanggar pakem, akan berdampak pada ancaman pembreidelan (hilangnya nafkah para pekerja media). Ini sudah terbukti beberapa kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa mutu jurnalisme investigasi di masa Orde Baru justru fenomenal ? (Hal ini mengingat tingkat kesulitannya berlipat ganda, misalnya dalam kerja investigasi Mochtar Lubis terhadap kasus korupsi Pertamina, atau investigasi Bondan dalam kasus Busang).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada sejumlah liputan investigasi yang baik di zaman Orde Baru. Tetapi, untuk disebut bermutu “fenomenal,” saya pikir cuma beberapa liputan investigatif saja yang masuk kriteria itu. Sebenarnya, liputan investigatif tidak pernah betul-betul dilarang oleh rezim yang berkuasa, selama obyek yang diinvestigasi tidak membahayakan kepentingan penguasa. Kasus investigasi Mochtar Lubis tampaknya menyinggung langsung kepentingan pihak yang berkuasa (maka Mochtar Lubis harus masuk bui). Tetapi, kasus Busang tidak langsung menyangkut penguasa negara (para tersangkanya lebih pada jajaran pemimpin eksekutif di perusahaan emas Bre-X).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pasca Orde Baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa, di fase pasca Orde Baru, “terbuka peluang untuk investigasi”,  dari sisi obyek yang diinvestigasi, dan dari sisi media?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi media: Iklim kebebasan pers yang marak di pasca Orde Baru –tidak perlu izin terbit untuk mendirikan suratkabar dan tidak ada lagi praktik breidel-- memberi ruang bagi berkembangnya jurnalisme investigatif. &lt;br /&gt;Sedangkan dari sisi obyek investigasi: Dulu kekuasaan memusat di tangan Soeharto dan para kroninya. Pusat korupsi lebih memusat/terbatas di sekitar Soeharto. Kini di era pasca Orde Baru, dengan adanya otonomi daerah dan desentralisasi, korupsi justru makin meluas dilakukan di berbagai daerah dan oleh berbagai tingkatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa pada masa  pasca Orde Baru sekarang ini, sejumlah media mengklaim melakukan investigasi?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Investigasi itu ada gradasinya tak bisa dipukul rata. Investigasi yang dilakukan Tempo tak sama levelnya dengan yang dilakukan Trans TV, meski sama-sama sah disebut investigasi. Terkadang, istilah “investigasi” juga hanya digunakan untuk keren-kerenan saja. Misalnya, ada program infotainment TV yang menggunakan nama “investigasi.” Padahal, hanya memberitakan gosip seputar kehidupan artis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa peliputan investigasi di pasca Orde Baru belum terlalu berkembang di Indonesia. Yang marak baru sebatas gairah?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi media yang belum mapan, memang perlu mengatasi banyak hambatan sebelum bisa membangun tradisi jurnalisme investigatif, baik keterbatasan SDM, dana, waktu, kepustakaan (badan Litbang, bank data), dan sebagainya. Sedangkan bagi media yang sudah mapan seperti Kompas, misalnya, tidak ada insentif khusus untuk wartawan dan medianya untuk melakukan liputan investigatif. Karena dengan indepth reporting saja, toh Kompas sudah laku dibeli orang, tirasnya sudah nomor satu, sudah untung,  dan iklan yang antre untuk dimuat pun sudah berjibun. Mengapa pengelola media harus repot-repot bikin liputan investigatif, jika dengan liputan indepth reporting saja sudah bikin happy dan profitable? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Kompas, indepth reporting yang sering dilakukannya (dan salah satu keunggulannya) sudah cukup. Kompas sudah jadi rujukan para pengambil keputusan dan memiliki pengaruh yang luas, sehingga Kompas bisa melakukan peran agenda setting lebih kuat dibandingkan media lain. Bukankah ini yang dicari tiap media? Pengaruh yang kuat. Meski tentu Kompas sudah punya sejarah panjang untuk mencapai posisi demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa pada masa  pasca Orde Baru ini harusnya kontrol pemerintah cenderung melemah?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena iklim kebebasan yang eksesif di berbagai bidang, liberalisasi ekonomi, dan otonomi daerah yang diterapkan, semua membuat kontrol pemerintah (pusat) melemah. Kekuasaan dan sumberdaya itu menyebar, tidak lagi memusat di satu titik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa, di masa  pasca Orde Baru, tantangan lain yang justru hadir adalah kepentingan bisnis?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sebetulnya terjadi di banyak negara yang ekonominya sudah maju, bukan khas Indonesia. Keberlangsungan rezim politik dan kekuasaan tergantung dari dukungan pihak bisnis. Bahkan kalangan bisnis sudah terlibat dalam proses rekrutmen politik, melalui sumbangan dana kampanye di pilkada, pemilu, dan sebagainya. &lt;br /&gt;Artinya, kepentingan kalangan bisnis sebenarnya terkait erat dengan kepentingan mereka yang kini berada di lapangan politik/kekuasaan. Di sistem yang semakin bersifat kapitalistik dan liberalistik, kekuatan uang (bisnis) bisa mempengaruhi kebijakan politik/penguasa, termasuk kebijakan di bidang media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa payung politik bagi jurnalis yang dikukuhkan dalam UU Kebebasan Informasi Publik, mestinya memudahkan jurnalis untuk mengakses data yang selama ini diklaim sebagai "rahasia negara"?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena langkah jurnalis dalam menggali informasi memang sepatutnya mendapat backing dari hukum, melalui UU Kebebasan Informasi Publik. Tentunya, dengan syarat bahwa ada aturan pelaksanaan yang jelas tentang definisi hal-hal yang dianggap “rahasia negara” itu, agar tidak menjadi alasan baru untuk menutup akses informasi. Adanya payung hukum yang jelas bisa membantu media dalam menjalankan peran kontrol sosial, khususnya untuk mengontrol kebijakan dan hal-hal yang terkait dengan kepentingan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa, secara teknis, situasi  pasca Orde Baru kini mendukung dan kondusif untuk media melakukan investigative reporting?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa bahan riset berlimpah&lt;/b&gt; (karena ekonomi tumbuh, kegiatan ekonomi menyebar di berbagai daerah dan tingkatan, artinya potensi penyelewengan juga tumbuh dan berkembang di semua daerah dan tingkatan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa akses data lebih mudah,&lt;/b&gt; (karena teknologi informasi dan teknologi komunikasi makin banyak diterapkan dan makin canggih, dan tidak bisa lagi dibatasi dengan cara-cara tradisional)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa teknologi makin canggih,&lt;/b&gt; (sebab ada unsur kompetisi/persaingan bisnis. Keunggulan teknologi bisa jadi titik kekuatan atau keunggulan pelaku bisnis, jadi ada dorongan untuk mengembangkan teknologi.)&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Mengapa alat komunikasi makin baik&lt;/b&gt; (adanya sarana komunikasi yang baik, cepat, dan andal menjadi kebutuhan utama untuk menyatukan dunia dengan sistem ekonominya yang semakin kompleks. Itu tuntutan globalisasi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa pertukaran informasi lebih cepat dan intens,&lt;/b&gt; (karena memang ada kebutuhan untuk pertukaran informasi yang cepat dan intens itu. Semua orang ingin informasi yang cepat dan intens tentang berbagai hal, guna memenangkan kompetisi yang dihadapi.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa pelatihan-pelatihan berlimpah,&lt;/b&gt; (karena ada kebutuhan untuk itu, sementara perguruan tinggi yang ada masih sedikit jumlahnya, dan masih belum cukup cepat mengantisipasi kebutuhan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa literatur tak terbatas.&lt;/b&gt; (dengan adanya internet dan aplikasi Google, praktis akses informasi dari seluruh dunia terbuka tentang topik/subyek tertentu, jadi seolah-olah jumlah informasi itu terasa luas dan tidak terbatas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa media massa harus menggunakan kemerdekaan pers dan berani terus melakukan investigasi tanpa takut di-“pengadilan"-kan, untuk melaporkan korupsi – yang memperkaya sejumlah kecil anggota masyarakat atas penderitaan 240 juta penduduk?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media adalah pilar keempat demokrasi dan memiliki fungsi kritik/kontrol sosial, demi kepentingan publik. Maka media harus berani dan bebas bersuara. Jika media takut memberitakan kebenaran (situasi koruptif), demokrasi akan berjalan pincang, bahkan bukan mustahil demokrasi itu akan ambruk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apakah ada hubungannya antara tingkat ekonomi, teknologi, kekuatan militer dan kesejahteraan di Indonesia, dengan kegiatan media melakukan investigative reporting? Terutama bila dikaitan dengan tingkat ekonomi, teknologi, kekuatan militer dan kesejahteraan yang lebih rendah dibandingkan dengan negara Korea Selatan (dimana Indonesia memiliki Kemerdekaan Pers yang lebih baik dari  Korea Selatan), atau dibandingkan dengan negara Malaysia, Singapura, India (dimana Indonesia merdeka lebih dulu dari Malaysia, Singapura, India; dan mempunyai sejarah yang kurang lebih sama).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas ada. Makin tinggi tingkat ekonomi, teknologi, kekuatan militer dan kesejahteraan, berarti potensi lahan bagi jurnalisme investigatif semakin luas, semakin banyak, tapi sekaligus juga semakin kompleks. Maka dibutuhkan SDM jurnalis yang lebih berkualitas, lebih cerdas, lebih mudah belajar. Kualifikasi SDM jurnalisnya harus lebih tinggi. Contoh, melakukan investigasi tentang penyelewengan pasar modal di Wallstreet (AS) tentu lebih rumit dan sulit, daripada melaporkan kondisi pasar tradisional di Kebumen, Jawa Tengah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang harus dicatat, mungkin tidak ada hubungan linier yang sederhana, antara berbagai faktor yang telah disebutkan di berbagai negara di atas dengan kegiatan media dalam melakukan investigative reporting. Hal ini karena kondisi tiap negara sangat bervariasi dan mungkin sekali ada faktor-faktor lain yang belum diperhitungkan di sini.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah masyarakat Indonesia dalam menerima pemberitaan investigatif?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi mereka umumnya positif dan menerima baik. Apalagi jika berita investigasi itu punya dampak positif yang jelas bagi kehidupan/kepentingan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apakah masyarakat Indonesia sudah dapat dikatakan sebagai open society ? Open society = masyarakat yang sadar bahwa semua orang berhak memperoleh informasi, dan merasa perlu memberikan informasi jika dibutuhkan, misalnya oleh media, dan juga negara.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sepenuhnya. Masih ada kalangan yang enggan bersikap terbuka, karena keterbukaan dianggap bisa mengancam eksistesi diri atau kelompoknya. Pemerintah Indonesia sendiri juga tidak bersikap terbuka sepenuhnya, karena berbagai kepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 5 Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ir. Satrio Arismunandar, M.Si, MBA&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-5022999515290379882?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/5022999515290379882/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=5022999515290379882&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/5022999515290379882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/5022999515290379882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/10/wartawan-investigatif-di-indonesia.html' title='(1) JURNALISME INVESTIGATIF DAN SISTEM POLITIK (Wawancara Septiawan Santana Kurnia dengan Satrio Arismunandar)'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-sASweOzetJU/To7-NPKqR9I/AAAAAAAABUo/c6FDH_7Dvgw/s72-c/IMG_7994.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-3100364867808888092</id><published>2011-10-04T08:12:00.000-07:00</published><updated>2011-10-04T08:12:58.976-07:00</updated><title type='text'>The Ascent of Man - Karya J. Bronowski (Rangkuman Bab 5 dan 6)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-4oy9K4eLtJQ/Toshc9C-o9I/AAAAAAAABUI/ghk4JE2486g/s1600/Ascent%2BOf%2BMan2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="400" width="297" src="http://3.bp.blogspot.com/-4oy9K4eLtJQ/Toshc9C-o9I/AAAAAAAABUI/ghk4JE2486g/s400/Ascent%2BOf%2BMan2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, buku ini merupakan versi cetak dari gagasan dasar, yang telah dituangkan dalam program televisi hasil produksi BBC (British Broadcasting Corporation) oleh Bronowski. Program serial TV itu memaparkan perkembangan sains di dunia, yang terus meningkat melalui pemahaman rasional manusia. Perkembangan sains itu sendiri menunjukkan tahapan-tahapan kenaikan (ascent) atau menanjaknya posisi manusia melalui anak-anak tangga suatu evolusi kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun menjabarkan sejumlah temuan sains dari peradaban masa lalu, buku ini lebih luas dari sekadar uraian tentang perkembangan sains. Buku ini lebih tepat menggambarkan filsafat ketimbang sejarah, menjelaskan filsafat tentang alam ketimbang sains.  Subyek buku ini adalah versi kontemporer dari apa yang biasa disebut Filsafat Alam (&lt;i&gt;Nature Philosophy&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berada dalam kerangka pikir yang lebih baik dewasa ini untuk memahami filsafat alam, karena temuan-temuan baru dalam biologi manusia telah memberi arah baru pada pemikiran ilmah. Yakni, suatu pergeseran dari yang umum kepada yang individual.  Ini adalah yang pertama kalinya sejak zaman Pencerahan (Renaisans) membuka pintu pemikiran ke arah dunia alamiah (bukan lagi pola pikir kuno yang penuh sihir dan tahyul).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada filsafat, bahkan tidak ada sains yang bermartabat, tanpa kemanusiaan (humanity). Penegasan ini terlihat dalam isi buku The Ascent of Man. Pemahaman tentang alam adalah langkah menuju pemahaman tentang hakikat manusia itu sendiri, serta kondisi manusia di dalam alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bab 5, &lt;i&gt;The Music of the Spheres&lt;/i&gt;, Bronowski menunjukkan perkembangan ilmu matematika, yang menurutnya merupakan sains yang paling canggih dan terelaborasi. Matematika merupakan tangga bagi pemikiran mistik maupun rasional dalam peningkatan intelektual manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa konsep yang harus dicakup dalam setiap pembahasan matematika. Yaitu: gagasan logis tentang bukti (&lt;i&gt;proof&lt;/i&gt;), gagasan empiris tentang hukum pasti alam (khususnya tentang ruang), munculnya konsep operasi dan gerakan dalam matematika, dari deskripsi tentang alam yang statis ke dinamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan masyarakat yang paling primitif pun memiliki sistem angka. Dari tahap fundamental tersebut, banyak kebudayaan telah membangun sistem angka mereka sendiri, biasanya sebagai bahasa tertulis dengan konvensi yang mirip. Orang Babilon, Maya, dan India, misalnya, menemukan penulisan angka-angka besar dengan cara yang pada dasarnya sama, seperti urutan digit yang kita gunakan, walau mereka hidup terpisah jauh dalam ruang dan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan tentang angka-angka –tentang aritmatika, matematika, geometri-- ini berkembang sejak dari peradaban kuno seperti Babilon, Mesir, India, Yunani. Kita kenal tokoh-tokohnya, seperti Pythagoras, Euclid, dan Ptolemy. Peradaban Islam adalah peradaban yang berjasa menterjemahkan, menyerap, dan menyelamatkan warisan dari peradaban Yunani ini, yang diperkaya kemudian oleh para ilmuwan Muslim. Ketika itu Eropa masih dalam zaman kegelapan. Benua Amerika malah belum ditemukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Italia sering dipandang sebagai tempat kelahiran zaman Pencerahan. Namun, konsepsi pencerahan itu sebetulnya berasal dari Spanyol pada abad ke-12, sesudah persentuhan dengan imperium dan kebudayaan Islam. Hal itu dilambangkan dengan adanya sekolah penterjemahan terkenal di Toledo, di mana teks-teks kuno diubah dari bahasa Yunani (yang sudah dilupakan oleh Eropa) melalui bahasa Arab dan Ibrani (Hebrew) ke bahasa Latin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Toledo, di tengah kemajuan-kemajuan intelektual lain, sebuah perangkat awal tabel astronomi dibuat, sebagai ensiklopedia posisi bintang-bintang. Karakteristik kota dan waktu menumjukan tabel itu dari Kristen, namun angka-angka yang digunakan adalah karakter Arab, dan sampai sekarang karakter angka-angka itu bisa dianggap modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab 6, yang berjudul&lt;i&gt; The Starry Messenger&lt;/i&gt;, Bronowski menyatakan, sains pertama dalam pengertian modern yang tumbuh di peradaban Laut Tengah (Mediterania) adalah astronomi. Adalah wajar, untuk membahas astronomi langsung dari matematika, mengingat astronomi adalah sains yang berkembang pertama kali dan menjadi model bagi seluruh sains lainnya. Hal ini karena astronomi dapat diubah ke angka-angka pasti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar permulaan astronomi terdapat di semua kebudayaan, dan astronomi terbukti penting bagi manusia-manusia pertama di seluruh bagian dunia. Salah satu alasannya sangat jelas, yaitu karena astronomi adalah pengetahuan yang membimbing kita melalui siklus pergantian musim. Misalnya, dengan melihat pergerakan matahari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cara ini, bisa ditentukan waktu yang pasti kapan orang harus menanam benih, memanen, menggembala ternaknya, dan sebagainya. Maka di semua kebudayaan yang sudah mapan, mereka memiliki kalender untuk membimbing perencanaan, dan hal ini terbukti di Dunia Baru (New World) maupun di lembah sungai, seperti Babilon dan Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astronomi tidak cuma berarti kalender. Ada bentuk penggunaan lain di antara manusia-manusia pertama yang, bagaimanapun juga, saat itu tidaklah universal. Pergerakan bintang di langit malam juga bisa menjadi penuntun arah pada pejalan, khususnya penjelajah di laut, yang tidak bisa melihat tanda-tanda jalan seperti di darat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa astronomi, tak mungkin manusia saat itu bisa melakukan perjalanan jarak jauh. Bahkan, tanpa astronomi kita juga tidak bisa memiliki teori tentang bentuk bumi dan daratan serta laut di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astronomi bukanlah titik puncak sains atau penemuan. Namun, ia merupakan ujian bagi pancaran perangai dan pikiran yang melandasi suatu kebudayaan. Para pelaut dari kawasan Laut Tengah sejak zaman Yunani memiliki hasrat penyelidik yang aneh, yang mengkombinasikan petualangan dengan logika –yang empiris dengan yang rasional—menjadi mode tunggal penyelidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam semangat semacam ini, kita kenal dua nama astronom, yakni Nicolaus Copernicus dan Galileo Galilei. Copernicus, intelektual humanis Polandia yang lahir pada 1473, membuat terobosan pemikiran. Ia mengungkapkan bahwa matahari adalah pusat dari tata surya. Jadi bukan bumi yang menjadi pusat, seperti keyakinan yang banyak dianut orang pada zaman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temuan-temuan baru itu bertepatan dengan datangnya zaman Pencerahan, yang berdampak pada agama, seni, sastra, musik, dan ilmu matematika. Ide-ide baru semacam ini berbenturan langsung dengan keseluruhan sistem abad pertengahan, yang dipegang kukuh oleh otoritas yang berkuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbenturan pemikiran seperti ini juga terlihat pada kasus Galileo Galilei, ilmuwan cemerlang yang lahir di Italia pada 1564. Galileo adalah pencipta metode ilmiah modern. Ia membuat alat pemantau bintang, melakukan eksperimen, dan mempublikasikan hasil pengamatan astronominya pada 1610, dalam buku berjudul &lt;i&gt;Sidereus Nuncius&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;The Starry Messenger&lt;/i&gt; (Utusan Bintang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galileo membenarkan hasil temuan Copernicus, bahwa matahari adalah pusat tata surya, bukan bumi. Ia juga percaya bahwa kebenaran ilmiah seharusnya bisa ditegakkan. Namun, hasil temuan ilmiah Galileo bertentangan dengan sikap otoritas kekuasaan gereja pada waktu itu, yang meyakini bahwa kepercayaan harus di atas segalanya, meskipun bertentangan dengan sains. Maka Galileo pun diadili dan dibungkam. Ilmu pengetahuan yang diyakininya baru tersebar kemudian setelah ia tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengulas beberapa bab ini, terlihat bahwa buku The Ascent of Man telah menunjukkan kelasnya. Buku ini secara populer bisa menggambarkan sejarah ilmu pengetahuan, meski Bronowski berharap, buku ini lebih dihargai sebagai Filsafat Alam. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 4 Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ir. Satrio Arismunandar, M.Si, MBA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;i&gt;The Ascent of Man&lt;/i&gt;, karya J. Bronowski (1973). Boston/Toronto: Little, Brown and Company.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-3100364867808888092?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/3100364867808888092/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=3100364867808888092&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/3100364867808888092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/3100364867808888092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/10/ascent-of-man-karya-j-bronowski.html' title='The Ascent of Man - Karya J. Bronowski (Rangkuman Bab 5 dan 6)'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-4oy9K4eLtJQ/Toshc9C-o9I/AAAAAAAABUI/ghk4JE2486g/s72-c/Ascent%2BOf%2BMan2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-2827283709829507334</id><published>2011-09-30T11:43:00.000-07:00</published><updated>2011-09-30T11:43:09.430-07:00</updated><title type='text'>BERBAGAI BENTUK KONTROL DAN KEPEMILIKAN MEDIA + POLA KONTROL PENGIKLAN</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-L8jEI4gaL4k/ToYM1-o9LiI/AAAAAAAABTw/m-XCCBi_zAo/s1600/IMG_3439.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-L8jEI4gaL4k/ToYM1-o9LiI/AAAAAAAABTw/m-XCCBi_zAo/s400/IMG_3439.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-P7cpiKSd644/ToYNYmuBZLI/AAAAAAAABT4/i1ZqiXgbglE/s1600/IMG_3563.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-P7cpiKSd644/ToYNYmuBZLI/AAAAAAAABT4/i1ZqiXgbglE/s400/IMG_3563.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ada berbagai sistem media di dunia. Salah satu cara sederhana untuk mengklasifikasikan berbagai sistem media itu adalah dengan melihat pada dua aspeknya, yaitu: (1) kepemilikan; dan (2) kontrol (pengaturan/pengendalian). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepemilikan bisa beragam, mulai dari kepemilikan swasta sampai kepemilikan publik. Kepemilikan publik (public ownership) biasanya diartikan sebagai sebentuk kepemilikan pemerintah.&lt;br /&gt;Sedangkan kontrol, bisa bervariasi dari yang bersifat terpusat atau tersentralisasi (centralized) sampai yang terdesentralisasi (decentralized).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dicatat bahwa tipologi ini hanya sekadar penyederhanaan, untuk memudahkan pemahaman. Di banyak negara, terdapat sistem media campuran di mana sebagian sistem penyiaran dimiliki oleh pemerintah, dan sebagian lainnya oleh kepentingan swasta. Di beberapa negara, media cetak dan media siarnya bisa berada di bawah pola kepemilikan yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini adalah klasifikasi sistem media, menurut skema Prof. Osmo A. Wiio dari Finlandia, dalam artikelnya “The Mass Media Role in the Western World,” dalam buku Comparative Mass Media Systems oleh L. John Martin dan Anju Grover Chaudhary (1983).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Model A:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mewakili sistem media dengan kontrol yang terdesentralisasi dan kepemilikan publik. Misalnya, sistem penyiaran di negara Eropa Barat, seperti Perancis, Denmark, dan Italia. Beberapa media siar tersebut dimiliki publik, namun tidak ada kelompok kepentingan khusus atau kelompok politik tunggal yang bisa mengontrol pesan-pesannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Inggris, misalnya, terdapat BBC (British Broadcasting Corporation) yang dimiliki publik dan dibiayai negara, namun relatif kebal terhadap sensor dan campur tangan pemerintah. Sistem penyiaran swasta juga beroperasi di negara-negara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Model B:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mewakili sistem media yang dimiliki publik dan dikontrol oleh partai politik yang dominan. Ini ciri khas di negara komunis atau sosialis, di mana partai komunis menjadi satu-satunya partai yang diizinkan berdiri, seperti di Korea Utara, Cina, Kuba, dan Uni Soviet (ketika dulu masih jaya). Kebebasan pers adalah milik negara, bukan  milik media. Sekarang, sangat sedikit negara yang masuk kategori model B ini. Negara-negara komunis beranggapan, mereka perlu bicara dengan satu suara, sedangkan kritik yang bersifat antipemerintah dan antipartai tegas dilarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Model C:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mewakili media dengan kontrol yang terdesentralisasi, serta kepemilikan swasta. Ini adalah sistem yang kini beroperasi di Amerika Serikat dan banyak negara Eropa Barat. Media dimiliki oleh perusahaan-perusahaan swasta, dan (kalau pun ada) hanya terdapat sedikit kontrol tersentralisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Model D:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mewakili sistem media dengan kontrol tersentralisasi, tetapi dengan kepemilikan swasta. Di banyak negara, khususnya di negara berkembang di Afrika dan Amerika Latin, media dimiliki oleh organisasi-organisasi swasta, namun secara kukuh tetap dikontrol oleh pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara-negara yang masuk kategori Model B (negara komunis/sosialis), kontrol terhadap media bisa dilakukan dalam beberapa cara. Pertama, pemerintah mengontrol sumberdaya. Peralatan cetak dan penyiaran hanya diberikan kepada organisasi media yang direstui pemerintah. Di Kuba, misalnya, terdapat kekurangan mesin cetak dan hanya suratkabar pemerintah yang dipasok dengan peralatan itu. Selain itu, para jurnalis dilatih oleh negara dan mendapat persetujuan/izin dari negara. Terakhir, kantor-kantor berita juga dimiliki oleh negara, dan sumber-sumber berita dikontrol oleh negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara-negara yang telah meninggalkan filsafat komunis biasanya berpindah kategori, dari Model B menjadi Model A dan C. Organisasi-organisasi media yang dioperasikan oleh negara mulai kehilangan kontrolnya, sementara saluran bagi media swasta sudah diizinkan. Saluran media individual kemudian diberi jauh lebih banyak kebebasan untuk mengritik pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tren yang paling signifikan di negara-negara tersebut, yang pindah masuk ke Model A, adalah pergeseran ke arah pluralisme dalam sistem penyiarannya. Monopoli milik negara di banyak negara, termasuk di Perancis, Italia, Yunani, Spanyol, dan beberapa negara Skandinavia, telah bergeser ke kepemilikan swasta, serta sistem penyiaran yang disponsori secara komersial. Adanya TV kabel kemudian juga memunculkan semakin banyak keanekaragaman tayangan untuk negara-negara ini.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Sistem Media di Indonesia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini (2011), Indonesia bisa dibilang menganut sistem media campuran. Ada media publik seperti TVRI dan RRI, tetapi yang jauh lebih dominan adalah media milik swasta. Dari 11 stasiun TV yang melakukan siaran nasional, 10 adalah stasiun TV swasta. Mayoritas media cetak dan stasiun radio juga milik swasta. Jika harus dimasukkan ke salah satu kategori di atas, tampaknya Indonesia mengarah ke Model C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia pernah mengalami sistem media yang sangat represif di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, di mana waktu itu hanya ada TVRI (tidak ada stasiun TV swasta yang bisa menjadi alternatif). Sedangkan, seluruh stasiun radio swasta juga harus merelay siaran berita dari RRI, yang merupakan radio milik negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media cetak cukup banyak, tetapi mereka tak berani mengritik pemerintah, karena selalu di bawah ancaman pembreidelan. Untuk menerbitkan suratkabar dan majalah juga harus memiliki izin (SIUPP), yang jumlahnya sangat terbatas. Situasi berubah drastis, sesudah jatuhnya pemerintahan Soeharto oleh gerakan prodemokrasi 1998. Semua orang lalu bebas menerbitkan suratkabar atau majalah. Dan, jika media cetak itu lalu harus tutup, penyebabnya bukanlah karena dibreidel pemerintah, tetapi karena kegagalan dalam bersaing di pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan semakin dominannya kepemilikan swasta di media, serta makin berkurangnya kontrol dari pemerintah, kontrol ketat terhadap pemberitaan media kemudian bukan tak mungkin justru dilakukan oleh pemilik media sendiri. Hal ini karena pemilik media bukanlah orang yang dalam posisi netral terhadap kekuasaan, tetapi justru pihak yang berkepentingan dengan kekuasaan itu, atau bahkan ia menjadi bagian dari kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara berkembang seperti Indonesia, pemilik media biasanya adalah pengusaha yang memiliki hubungan dekat dengan penguasa. Kedekatan itu perlu demi kelancaran bisnisnya. Namun, bisa juga terjadi, pemilik media sendiri adalah tokoh yang memiliki ambisi-ambisi politik. Maka, kepemilikannya terhadap sejumlah media, ia manfaatkan untuk mencapai tujuan-tujuan politik. Pada gilirannya, dengan memiliki kekuasaan politik, ia berharap bisa semakin mengembangkan bisnisnya. Jadi, kekuasaan politik dan penguasaan modal (serta media) terbukti terkait erat satu sama lain, dan saling membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor pengontrol lain terhadap konten media –selain berasal dari pemerintah dan pemilik media—juga berasal dari pengiklan. Hal ini terjadi ketika media sudah menjadi industri, dan keberlangsungan hidupnya sangat tergantung pada pemasukan uang dari iklan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa dalam posisi kuat, pihak pengiklan lalu menetapkan syarat-syarat untuk pemasangan iklan di media bersangkutan. Pengiklan ini juga siap melontarkan kritik atau mengekspresikan kemarahan, manakala konten pemberitaan media dianggap menganggu citra produk dan kelancaran bisnisnya. Media yang lemah secara finansial biasanya cenderung mengalah menghadapi tuntutan-tuntutan dari pihak pengiklan.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Pola-pola Kontrol Pengiklan terhadap Media&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Pihak pengiklan umumnya kalangan bisnis, yang netral secara ideologis.&lt;br /&gt;• Meski demikian, bukan berarti mereka tak peduli pada isi program yang mereka sponsori atau publikasi di mana mereka muncul di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Ada empat tipe kontrol utama yang dilakukan pihak pengiklan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Advertensi itu sendiri.&lt;br /&gt;2. Menghubungkan produk (iklan) dengan content yang tidak bersifat iklan.&lt;br /&gt;3. Membuat perusahaan dan produknya terlihat baik, tak pernah buruk.&lt;br /&gt;4. Menghindari segala kontroversi apapun juga.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Advertensi itu sendiri:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Separuh dari isi media ditulis secara langsung oleh pihak pengiklan.&lt;br /&gt;• Rata-rata orang dewasa terekspos pada ratusan pesan iklan. Bahkan pesan iklan itu menjadi seolah-olah simbol budaya kita (The Pepsi Generation, dsb).&lt;br /&gt;• Pengelola media secara hukum bisa menolak sebagian besar pesan iklan, tapi ini jarang dilakukan. Pengiklan memiliki kekuasaan lebih besar terhadap content media ketimbang pengelola media terhadap pesan-pesan iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menghubungkan produk (iklan) dengan content yang tidak bersifat iklan.&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;• Batas antara iklan dan non-iklan di halaman suratkabar semakin kabur. Ada iklan yang dipasang seolah-olah artikel biasa. Hanya diberi tulisan kecil di ujungnya: Advertorial (Advertising Editorial).&lt;br /&gt;• Pemuatan artikel/berita menyesuaikan dengan ada-tidaknya iklan.&lt;br /&gt;• Presenter, terutama radio, sering mengiklankan tempat hiburan atau café tertentu tanpa menyatakan itu iklan, di sela-sela program musik. Dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Membuat perusahaan dan produknya terlihat baik, tak pernah buruk:&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;• Para pengiklan ingin terlihat baik di dalam iklannya sendiri. Tapi, mereka tak jarang juga ingin terlihat baik di halaman koran atau durasi berita TV, yang tak terkait langsung dengan ruang/durasi iklan. &lt;br /&gt;• Misalnya, jika ada orang bunuh diri di hotel, nama hotel jarang disebut. &lt;br /&gt;• Jika ada kecelakaan pesawat, iklan maskapai penerbangan akan digeser slot-nya agar tak berdekatan dengan berita tersebut.&lt;br /&gt;• Jika perusahaan penerbangan Amerika TWA mensponsori sebuah sinetron/film detektif, sang jagoan atau agen CIA akan terbang dengan pesawat TWA, tapi tak akan terbang dengan pesawat perusahaan saingan. Dan, sudah pasti, tidak akan ada adegan kecelakaan pesawat terbang dan sinetron atau film tersebut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menghindari segala kontroversi dengan cara apapun juga:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Dalam upaya menjaring konsumen sebanyak-banyaknya, pengiklan menjauhi segala hal yang bisa menyulut kontroversi. Ini khususnya terjadi di stasiun TV, yang menayangkan sinetron-sinetron yang disponsori perusahaan/bisnis tertentu.&lt;br /&gt;• Dampak dari pendekatan ini adalah kualitas sebagian besar program hiburan TV mengalami homogenisasi.&lt;br /&gt;• Dampak lain, media berita sengaja menghindari berita-berita atau masalah, yang sebenarnya justru penting dan menyangkut kepentingan nasional. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;* Tulisan ini sebagian adalah saduran bebas dari buku the Dynamics of Mass Communications (8th edition), bab 17, karya Joseph R. Dominick (2005).&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 30 September 2011&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Ir. Satrio Arismunandar, M.Si, MBA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dosen Newsmaking Criminology, FISIP UI&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-2827283709829507334?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/2827283709829507334/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=2827283709829507334&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2827283709829507334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2827283709829507334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/09/berbagai-bentuk-kontrol-dan-kepemilikan.html' title='BERBAGAI BENTUK KONTROL DAN KEPEMILIKAN MEDIA + POLA KONTROL PENGIKLAN'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-L8jEI4gaL4k/ToYM1-o9LiI/AAAAAAAABTw/m-XCCBi_zAo/s72-c/IMG_3439.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-4174160973339785510</id><published>2011-09-30T11:23:00.000-07:00</published><updated>2011-09-30T11:23:30.506-07:00</updated><title type='text'>PRODUKSI DAN REPRESENTASI KEJAHATAN DI MEDIA MASSA (Newsmaking Criminology)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-TTTOlqpfjDE/ToYIF8kmAeI/AAAAAAAABTo/uYiRXtpFrW4/s1600/TV%2BCops7.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="185" width="273" src="http://2.bp.blogspot.com/-TTTOlqpfjDE/ToYIF8kmAeI/AAAAAAAABTo/uYiRXtpFrW4/s400/TV%2BCops7.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(Materi Kuliah Newsmaking Criminology di Departemen Kriminologi FISIP UI)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Representasi media massa tentang kejahatan, penyimpangan, dan kekacauan selalu menjadi sumber keprihatinan. Ada dua keprihatinan yang muncul dalam perdebatan publik mengenai representasi media, dan ini tercermin pada berbagai penelitian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi, media sering dipandang sebagai sesuatu yang secara mendasar bersifat subversif (menggulingkan atau meruntuhkan). &lt;br /&gt;Sedangkan di sisi lain, media lebih kurang dipandang sebagai wujud halus kontrol sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang menganggap media bersifat subversif, memandang representasi media tentang kejahatan itu sendiri sebagai penyebab gangguan yang signifikan. Misalnya, ada yang menyatakan bahwa kejahatan meningkat karena “moral dan kebiasaan kalangan bawah di masyarakat, yang tumbuh memburuk secara cepat (karena pengaruh media).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, keprihatinan yang berbeda mengenai representasi media tentang kejahatan, juga membuat was-was kalangan liberal dan radikal. Bagi mereka, media bukanlah penyebab kejahatan itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi media –dalam melakukan kontrol sosial-- justru menimbulkan rasa terancam atau ketakutan yang berlebih-lebihan di kalangan publik mengenai masalah hukum dan ketertiban. Hal ini pada gilirannya malah bisa membangkitkan dukungan terhadap solusi-solusi yang represif, atau dengan kata lain memberi angin pada munculnya otoritarianisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bentuknya yang tipikal-ideal, kedua perspektif ini secara ekstrem bertolak belakang satu sama lain. Meski keduanya sama-sama memandang media secara negatif. Masing-masing perspektif memiliki kubu pendukung dan industri penelitian di belakangnya, yang menghasilkan studi-studi empiris terkait dengan konten, produksi, dan dampak media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ada tiga isu yang saling berkaitan. Yaitu: konten, konsekuensi-konsekuensi (atau dampak dari konten tersebut), dan sebab-sebab (bagaimana proses produksi dari konten tersebut), dalam hal representasi media tentang kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antara sistem pengadilan kejahatan dan sistem media sudah menjadi subyek riset, spekulasi, dan komentar sepanjang abad ke-20. Hubungan ini dapat dipahami dalam kerangka berlangsungnya hubungan ketergantungan (&lt;i&gt;dependency relations&lt;/i&gt;) antara sistem-sistem masif tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sederhana, baik sistem media maupun sistem pengadilan kejahatan, masing-masing tidak dapat beroperasi secara efektif tanpa kehadiran yang lain. &lt;br /&gt;Sistem pengadilan kejahatan adalah sumber penting bagi sistem media, untuk memperoleh berita dan kisah-kisah untuk hiburan (entertainment). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran klasik media, di mana media memantau lingkungan untuk melihat apakah ada ancaman potensial ataupun aktual terhadap kesejahteraan kolektif dan individu, merupakan cara kuat dari pihak media untuk menarik perhatian audiensnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang harus terus-menerus meng-update pemahaman dan kemampuan mereka, untuk bisa mengorientasikan dirinya ke dalam lingkungan di mana mereka bertindak. Dalam hal ini, kisah-kisah kejahatan yang disiarkan oleh media --baik yang bersifat berita, feature, maupun hiburan-- mengarahkan dan meng-update pemahaman-pemahaman ini. &lt;br /&gt;Organisasi media yang komersial menerjemahkan hubungan ini dengan audiensnya ke dalam bentuk profit, yang mengalir dari pihak pengiklan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapasitas sistem media, untuk menjangkau audiens yang sangat besar dari kalangan warga dan pengambil keputusan, juga memposisikan media sebagai sumber penting bagi sistem pengadilan kejahatan serta seluruh organisasi penegakan hukum dan keadilan yang melayaninya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, agar sistem pengadilan kejahatan bisa beroperasi efektif, ia harus memiliki otoritas yang diperoleh dari kesediaan warga untuk memberikan legitimasi. Dalam hal ini, pengisahan oleh media dapat secara signifikan mempengaruhi proses tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alokasi sumber-sumber yang langka untuk sistem pengadilan kejahatan juga tergantung pada keberhasilan perjuangan, agar kisahnya dibingkai secara positif dan secara meluas disebarkan kepada audiens media. &lt;br /&gt;Hubungan ketergantungan makro semacam ini berperan sebagai konteks, bagi pengujian aspek-aspek spesifik dari hubungan media, pengadilan kejahatan, publik, dan para pengambil keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat hubungan ketergantungan antara jurnalis, polisi, pengadilan, dan penjara.  Dampak jurnalisme terhadap sistem pengadilan kejahatan, serta sikap masyarakat terhadap kasus-kasus kejahatan tertentu, juga sudah banyak diteliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalisme mungkin merupakan profesi media yang memiliki klaim paling legitimatif untuk memberikan pengaruh terhadap sistem pengadilan kejahatan. Tetapi, ini bukan satu-satunya cara bagi media dalam memberikan pengaruh. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Media hiburan juga telah diteliti dan dikritik karena pengaruh mereka terhadap persepsi publik, tentang orang dan lembaga-lembaga yang mewakili sistem pengadilan kejahatan.  Sejumlah program televisi, dengan satu dan lain cara (misalnya, lewat komedi, kisah misteri, drama, biografi, dokudrama, dan sinetron/opera sabun), isinya ternyata berpusat pada polisi, pengacara, hakim, pelaku kejahatan, dan korban kejahatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak terhadap sikap dan perilaku publik, yang mungkin dibawa oleh tayangan itu, dicurigai berpengaruh terhadap proses pengadilan, vonis bersalah terhadap terdakwa, dan berpotensi menginspirasi perilaku kriminal nyata. Pihak jaksa penuntut, misalnya, mungkin cenderung melakukan proses tuntutan yang lebih keras dan intensif, pada kasus-kasus yang paling banyak diberitakan oleh media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, sejak awal 1980-an, telah muncul sebuah genre televisi yang sebagian bersifat jurnalisme (karena berkaitan dengan realitas dan subyek-subyek penting) dan sebagian lain yang cukup besar bersifat hiburan. Dikatakan bersifat hiburan karena dramatik, dikembangkan dengan musik dan efek khusus, dan sering menyertakan aktor yang memainkan berbagai peran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tayangan semacam &lt;i&gt;Cops, America's Most Wanted&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;Unsolved Mysteries&lt;/i&gt; menggabungkan gambar penangkapan aktual, wawancara dengan orang yang terlibat kejahatan, serta informasi dokumenter lain, ditambah dengan sejumlah unsur dramatik untuk menciptakan bentuk baru jurnalisme-semu (&lt;i&gt;quasi-journalism&lt;/i&gt;). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tayangan yang ”seolah-olah jurnalisme” semacam ini telah dikecam keras oleh para jurnalis profesional, tetapi meski begitu tayangan ini terbukti sangat populer. &lt;br /&gt;Kemunculan tayangan semacam ini dipandang sebagai kemerosotan kualitas jurnalisme siar (&lt;i&gt;broadcast journalism&lt;/i&gt;), yang mungkin memberi dampak tak langsung terhadap sistem pengadilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Profesor Kriminologi dari Eastern Michigan University, Gregg Barak, pemberitaan kejahatan umumnya justru sering membuat realitas kejahatan itu sendiri menjadi kabur. Hal ini terjadi karena media lebih senang memperlihatkan aspek dramatis dari peristiwa kejahatan. Bad news is good news. Pemberitaan seperti ini melupakan aspek yang justru diperlukan oleh publik, yaitu memahami realitas kejahatan itu secara tepat dan proporsional. Serta aspek pengendalian atau pencegahan kejahatan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patut diakui bahwa dunia jurnalistik, seiring perkembangan teknologi, kini sudah menjadi industri media dan bisnis. Hakikat bisnis adalah mencari keuntungan, selain juga memiliki tujuan-tujuan mulia seperti mendidik masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, adalah wajar bila kemudian media massa lebih “memilih” menampilkan hal-hal yang akan menarik perhatian publik. Salah satunya adalah dunia kriminalitas. Namun, yang dihadirkan itu sayangnya justru yang menyeramkan, berdarah-darah, atau dramatis, agar publik membaca, mendengar atau melihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal media seharusnya juga mampu menghadirkan “realitas” yang tepat. Dalam kasus pembunuhan berantai yang dilakukan Ryan, media teramat senang menghadirkan Ryan sebagai pribadi yang homoseksual, hingga publik seperti diajak menyimpulkan bahwa kejahatan yang dilakukannya disebabkan oleh dirinya yang menyukai sesama jenis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensinya, publik memberikan stigma yang sangat berlebihan kepada kelompok homoseksual, hingga mengarah ke kekerasan. Padahal bila dilihat dari kacamata keilmuan, impulsifitas, egosentrisme, dan kurang empati adalah gejala yang juga dapat ditemukan pada individu yang “normal”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap kejahatan yang dilakukan oleh perempuan, media juga cenderung menyalahkan pelaku. Bahwa kejahatan adalah hal yang tidak pantas dilakukan oleh perempuan, sehingga bila nyatanya terjadi maka pasti ada “sesuatu yang salah” dalam diri perempuan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja misalnya bagaimana media kurang melakukan penelusuran terhadap kemungkinan bahwa mutilasi “Mayasari Bakti” yang dilakukan seorang perempuan tahun 2008 dilatarbelakangi oleh kekerasan dalam rumah tangga yang dialami pelaku. Penelitian memperlihatkan, umumnya kejahatan kekerasan yang dilakukan perempuan selalu dilatarbelakangi kondisi bahwa dirinya adalah korban kekerasan fisik dan psikologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, kecenderungan ini diperlihat media dalam pemberitaan tentang tersangka (Ketua KPK) Antasari Azhar, yang diduga sebagai otak pembunuhan berencana terhadap Nasrudin Zulkarnain. Media seperti membawa publik terjebak dalam pada kesimpulan bahwa kehadiran “Rani” (istri Nasrudin) adalah cikal masalah tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rani memang diduga menjadi bagian dari episode ini, namun media tidak pantas bila selalu mengarahkan fokus padanya. Sebuah stasiun televisi swasta bahkan membuat sesi talk show tentang dunia “gadis-gadis pemungut bola golf” yang (maaf) bisa “dipakai”. Terkait upaya penegakan hukum terhadap pembunuhan Nasrudin, talkshow ini sungguh kontraproduktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;*Tulisan ini merupakan rangkuman dari berbagai sumber, mulai dari artikel karya Robert Reiner, Bill Loges, Sandra-Ball Rokeach, Gregg Barak, sampai rubrik Analisis Kriminalitas di Suara Pembaruan (13 Mei 2009).&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 30 September 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ir. Satrio Arismunandar, M.Si, MBA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dosen Newsmaking Criminology, FISIP UI&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-4174160973339785510?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/4174160973339785510/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=4174160973339785510&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/4174160973339785510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/4174160973339785510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/09/produksi-dan-representasi-kejahatan-di.html' title='PRODUKSI DAN REPRESENTASI KEJAHATAN DI MEDIA MASSA (Newsmaking Criminology)'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-TTTOlqpfjDE/ToYIF8kmAeI/AAAAAAAABTo/uYiRXtpFrW4/s72-c/TV%2BCops7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-7329646823950953523</id><published>2011-09-21T07:45:00.000-07:00</published><updated>2011-09-21T07:54:23.765-07:00</updated><title type='text'>Joke – Marinir Indonesia Melawan Gajah Ngamuk</title><content type='html'>Ada lomba yang diikuti oleh marinir mancanegara, yaitu Marinir Amerika, Marinir Inggeris, dan Marinir Indonesia. Ketiganya ditugaskan untuk menaklukkan seekor gajah ngamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, giliran Marinir Amerika. Tapi, ia gagal menaklukkan gajah itu dan mati diinjak gajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Marinir Inggeris. Ia berhasil menaiki badan gajah dan bisa duduk di atas kepala gajah, tetapi ia gagal juga karena dililit belalai gajah. Ia pun dibanting ke tanah, sehingga tewas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, giliran Marinir Indonesia. ”Mati aku, rek,” keluh si Marinir dengan logat Suroboyoan. ”Gimana caranya menghadapi gajah ngamuk?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, si Marinir memberanikan diri dan menatap mata si gajah. Kemudian ia mengeluarkan dompet dan mengeluarkan amplop. Isi amplop berupa kertas, ia perlihatkan pada si gajah buat dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenit kemudian gajah itu diam. Mata si gajah pun berkedip-kedip, kemudian gajah itu menghampiri si Marinir dan menangis tersedu-sedu. Gajah itu tidak mengamuk lagi. Orang-orang yang menyaksikan kejadian langka itu pun heboh dan penasaran, dan bertanya, kertas apa sih yang diperlihatkan si Marinir pada gajah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Marinir menjawab sambil nyengir, ”Kertas yang saya kasih lihat ke gajah itu adalah Daftar Gaji saya....he..he..he...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(Joke ini dilontarkan oleh seorang Sersan Marinir dari Armatim, dalam penjaringan peserta Stand Up Comedian Indonesia, yang diselenggarakan oleh Kompas TV, 2011)&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-7329646823950953523?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/7329646823950953523/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=7329646823950953523&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/7329646823950953523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/7329646823950953523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/09/joke-marinir-indonesia-melawan-gajah.html' title='Joke – Marinir Indonesia Melawan Gajah Ngamuk'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-5179827804723517599</id><published>2011-09-20T03:04:00.000-07:00</published><updated>2011-09-20T03:04:55.974-07:00</updated><title type='text'>Menanggapi Kritik dan Masukan Terhadap Program JIKA AKU MENJADI (JAM)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Ihrl8X6MX-w/Tnhk4CsM9HI/AAAAAAAABTg/KDtJFH1zNDc/s1600/IMG_3383.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-Ihrl8X6MX-w/Tnhk4CsM9HI/AAAAAAAABTg/KDtJFH1zNDc/s400/IMG_3383.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Oleh Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama ini ada tulisan yang diposting Remotivi di milis jurnalisme, berisi kritik dan masukan untuk program JIKA AKU MENJADI (JAM). Saya saat ini tak punya waktu untuk menulis panjang lebar soal JAM, untuk menanggapi tulisan yg diposting Remotivi. Sehingga saya postingkan tulisan lama saya tahun 2008, ketika saat itu saya masih merintis program JAM. JAM sekarang mungkin sudah mengalami pergeseran ketimbang versi awal 2007, tetapi semangat dasarnya tetap sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep dasar JAM adalah Solidaritas Sosial. Penontonnya menurut konsep dasar saya (sesuai target audience Trans TV) adalah mereka yang berstatus sosial ekonomi A dan B. Jadi jelas bahwa format JAM dibuat sesuai dengan tujuan dasarnya (bagaimana membangkitkan solidaritas sosial dari audiens yang golongan mampu kepada warga golongan tidak mampu) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada kritik, bagaimana jika JAM ditonton oleh Pak Amat yang miskin, yang mungkin lebih miskin dari warga yang dijadikan narsum JAM, ya tentu tidak nyambung dengan konsep dan sasaran penonton tayangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dibilang, ada tujuan profit di balik JAM, ya itu sih di media TV swasta --yang hidupnya semata-mata tergantung dari iklan-- sudah tidak perlu dijelaskan lagi. Kecuali jika kita bicara tentang media TV publik yang dibiayai negara semacam TVRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sekarang 100% tidak menangani JAM lagi. Meskipun begitu, sampai saat ini selalu banyak talent atau kalangan penonton (biasanya gadis) yang mengontak saya atau mengirim email ke saya, menyatakan ingin ikut program JAM, karena ingin merasakan hikmah hidup dalam kesederhanaan. Biasanya email mereka langsung sayaforward ke producer JAM bersangkutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kini menangani John Pantau (Minggu sore), Riwayat (sabtu pagi) dan Pengabdian (Sabtu sore). Sebelumnya saya menangani juga 2 program Ramadhan yang sudah habis masa tayangnya: TARKAM dan PINTU SURGA (dua-duanya drama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan agar Anda memahami, yang saya tulis sebelum ini tentang JAM adalah jawaban tahun 2008, ketika saya masih menghandle JAM sebagai Producer dan bertanggung jawab atas seluruh tayangannya (dan konsep dasarnya yang disusun dan dibuat pilot projectnya tahun 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Ade Armando dan Bima Marzuki di milis jurnalisme dan Naratama ada benarnya. Ketika suatu program menjadi populer, dan intensitasnya meningkat (dari tayang mingguan, lalu jadi 2 kali seminggu, 5 X seminggu, dan akhirnya tiap hari hadir di layar TV), sudah pasti akan terjadi tekanan terhadap pola produksi yang tidak bisa optimal sempurna seperti konsep awalnya. Mulai dari kesulitan memilih talent dan narsum yang tepat. Bayangkan, profesi narsum apalagi yang belum dijadikan topik JAM? (mulai dari petani, nelayan, tukang ojek, pencari keong, tukang sadap karet, dst..dst...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan suatu program dan popularitas JAM justru juga punya dampak negatif dan meningkatkan taraf kesulitan bagi crew JAM yang mengeksekusi. Efek kejutan terhadap narsum, bahwa ia di akhir acara diberi kambing, atau perahu, atau yg lain, sudah berkurang. Bisa saja terjadi, si tetangga narsum tersebut (yang punya TV, meski hidup di desa) sudah pernah nonton JAM dan ia akan bilang pada si narsum (yang tidak punya TV): "Nanti kamu pasti akan diberi hadiah tertentu oleh TransTV......"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, JAM sebagai program reality show (menurut definisi Nielsen) ini mungkin kini lebih pas disebut semi-reality. Tetapi jelas ini bukan fiksi, dan ini adalah karya Divisi News (bukan Production). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi saya tetap bangga dan bahagia dengan JAM yang sudah bertahan selama 4 tahun di layar Trans TV (dan sampai sekarang ratingnya tetap baik). Menurut saya, hampir semua pihak yang terlibat "happy" dengan JAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kreator: Saya senang bisa menghasilkan karya yang bertahan sampai 4 tahun, dan tetap dengan rating tinggi. Sejumlah miliser di sini boleh berkomentar apa saja. Tetapi, saya percaya, sampai tahap tertentu, program ini sudah mencapai tujuan sosialnya yang membangkitkan solidaritas sosial dari penonton (kelas A dan B) terhadap rakyat kecil. Terbukti dengan cukup banyak penonton yang atas inisiatif sendiri mengontak Trans TV, meminta alamat narasumber, untuk memberikan sumbangan bagi narsum bersangkutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa banyak penonton (kelas A-B) menyukai JAM, juga terbukti dengan rating yang relatif tinggi dan program bisa bertahan sampai 4 tahun saat ini. Kalau ada sebagian penonton yang tidak suka, karena dianggap JAM kurang memenuhi kapasitas intelektual, pencerahan, kritik terhadap tanggungjawab negara, atau "pencerdasan bangsa", ya silahkan saja. Toh tidak ada program yang sempurna, yang bisa memuaskan semua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi crew yang meliput/mengeksekusi JAM, juga sangat menikmati dan tidak ada beban mental (sangat berbeda kasusnya, jika mereka disuruh membikin program yang mengeksploitasi seks atau kekerasan, misalnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa? Karena lewat liputan ini juga crew merasa ikut membantu warga miskin (narsum dan keluarganya) secara konkret. Pernahkah sebagian Anda yang di milis ini banyak berwacana intelektual tentang "eksploitasi kemiskinan", bisa merasakan kebahagiaan murni, tangisan spontan narsum, ketika secara mengejutkan di akhir liputan mendapat pemberian yang --paling tidak-- bisa membantu mengurangi beban kehidupan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, seorang nelayan (buruh yang tidak punya kapal sendiri) --yang penghasilannya cuma Rp 10.000 - Rp 15.000 sehari, dan punya utang banyak di sana-sini-- di akhir acara gembira, karena diberi perahu sendiri untuk mencari ikan (meskipun itu cuma perahu bekas, bukan baru). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat sendiri, karena ketika merintis program JAM itu di liputan nelayan miskin Indramayu, kami para crew menggunakan uang jatah kami menginap di hotel untuk urunan beli perahu. Sebagai ganti hotel, crew ramai-ramai menginap di rumah salah satu penduduk yang kami sewa sekadarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Crew JAM yang sekarang sudah sangat dimudahkan, karena sekarang sudah banyak pengiklan dan banyak sponsor, yang terlibat dalam memberi sekadar penghargaan buat narasumber. Di zaman saya merintis JAM, belum ada sponsor semacam itu dan iklannya belum sebanyak sekarang. Jadi pintar-pintarnya crew, bagaimana "mengakali" anggaran yang terbatas untuk bisa memberi sekadar penghargaan (di luar honor) buat narsum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segala keterbatasan dan kekurangannya, meski sudah tidak menangani JAM lagi, saya sampai hari ini tetap bangga dan bahagia dengan program JAM, dan saya berharap program ini masih akan lama mewarnai layar Trans TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, September 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-5179827804723517599?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/5179827804723517599/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=5179827804723517599&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/5179827804723517599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/5179827804723517599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/09/menanggapi-kritik-dan-masukan-terhadap.html' title='Menanggapi Kritik dan Masukan Terhadap Program JIKA AKU MENJADI (JAM)'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Ihrl8X6MX-w/Tnhk4CsM9HI/AAAAAAAABTg/KDtJFH1zNDc/s72-c/IMG_3383.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-4807413205728071511</id><published>2011-09-20T02:53:00.000-07:00</published><updated>2011-09-20T02:53:58.925-07:00</updated><title type='text'>Jangan Pakai Istilah "Menggagahi" untuk Kasus Perkosaan</title><content type='html'>Terkait kasus berita kejahatan perkosaan di mikrolet yang baru-baru ini dimuat di media massa, saya sekadar ingin mengingatkan pada rekan-rekan wartawan: Jangan pernah memakai istilah &lt;b&gt;menggagahi&lt;/b&gt; sebagai ganti kata kerja "memerkosa." Saya melihat, masih ada media cetak yang menggunakan istilah "menggagahi" tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menggagahi" secara tak langsung menyatakan bahwa tindakan perkosaan itu adalah tindakan yang "gagah," "hebat," "jantan," "macho," dan sebagainya. Padahal perkosaan itu adalah kejahatan terhadap kemanusiaan yang luar biasa keji. Tidak ada yang patut dipuji dan dikagumi dari tindakan keji tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Saran saya ini sebelumnya pernah dikatakan oleh dosen jurnalistik Ashadi Siregar di UGM. Saya sekadar mengingatkan kembali).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, September 2011&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-4807413205728071511?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/4807413205728071511/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=4807413205728071511&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/4807413205728071511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/4807413205728071511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/09/jangan-pakai-istilah-menggagahi-untuk.html' title='Jangan Pakai Istilah &quot;Menggagahi&quot; untuk Kasus Perkosaan'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-7072502256488294213</id><published>2011-09-20T02:39:00.000-07:00</published><updated>2011-09-20T02:39:43.643-07:00</updated><title type='text'>Joke Politik - Jika Pesawat Boeing Anggota DPR-RI Jatuh</title><content type='html'>&lt;b&gt;Jika Pesawat Boeing Anggota DPR-RI Jatuh&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Guru bertanya ke anak SD: "Anak-anak, kalau ada pesawat Boeing 747 yang penumpangnya adalah seluruh anggota DPR-RI, kecelakaan jatuh terbakar di pegunungan berbatu, berapa orang yang kemungkinan selamat ?&lt;br /&gt;"Satu kelas menjawab: "237 juta rakyat Indonesia, Bu Guru."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Demitri Saklitunov&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru: Kamu anak baru? &lt;br /&gt;Murid: Nggih. Eh iya bu. &lt;br /&gt;G: Pindahan dari mana? &lt;br /&gt;M: Gombong. &lt;br /&gt;G: Namamu? &lt;br /&gt;M: Demitri Saklitunov. &lt;br /&gt;G: Kamu lahir di Rusia? &lt;br /&gt;M: Mboten, Kedung Bulus, Gombong. &lt;br /&gt;G: Bapakmu dubes? &lt;br /&gt;M: Bukan. Tukang ojek. &lt;br /&gt;G: Ibu? &lt;br /&gt;M: Jual jamu gendong. &lt;br /&gt;G: Nama bapak? &lt;br /&gt;M: Triyono. &lt;br /&gt;G: Ibu? &lt;br /&gt;M: Sademi. &lt;br /&gt;G: Namamu kok kayak orang Eropa. &lt;br /&gt;M: Singkatan bu. Sademi dan Triyono menjadi Demitri. &lt;br /&gt;G: Lha, Saklitunov? &lt;br /&gt;M: Saya lahir Sabtu Kliwon 7 November.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dikutip dari posting Facebook dan milis, September 2011)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-7072502256488294213?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/7072502256488294213/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=7072502256488294213&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/7072502256488294213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/7072502256488294213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/09/joke-politik-jika-pesawat-boeing.html' title='Joke Politik - Jika Pesawat Boeing Anggota DPR-RI Jatuh'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-4114206291059795295</id><published>2011-09-14T10:34:00.000-07:00</published><updated>2011-09-14T10:35:35.275-07:00</updated><title type='text'>LOWONGAN di Detikcom TRANS CORP COMPANY (deadline 25 Sept 2011)</title><content type='html'>&lt;b&gt;TAKE THE CHALLENGE AND JOIN US&lt;br /&gt;Detikcom TRANS CORP COMPANY,&lt;/b&gt; Indonesia’s leading online media and Internet services would like to invite you, professionals of the highest standards to fulfill our business goal and objectives for following positions:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Editor In Chief for Detik E-Paper&lt;br /&gt;2. Managing Editor for Detik E-Paper&lt;br /&gt;3. Journalist Detikcom&lt;br /&gt;4. Finance Staff&lt;br /&gt;5. Accounting Officer&lt;br /&gt;6. Journalist DetikFinance.com&lt;br /&gt;7. Journalist DetikNews.com&lt;br /&gt;8. Product Management&lt;br /&gt;9. Advertising Account Executive&lt;br /&gt;10. Creative Designer&lt;br /&gt;11. Mobile Development&lt;br /&gt;12. Web Programmer&lt;br /&gt;13. Software Architect&lt;br /&gt;14. Social Media Specialist&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For further information, you can visit,&lt;br /&gt;http://microsite.detik.com/vacancy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Please send your application letter and other supporting documents not later than 25 September 2011&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-4114206291059795295?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://microsite.detik.com/vacancy' title='LOWONGAN di Detikcom TRANS CORP COMPANY (deadline 25 Sept 2011)'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/4114206291059795295/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=4114206291059795295&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/4114206291059795295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/4114206291059795295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/09/lowongan-di-detikcom-trans-corp-company.html' title='LOWONGAN di Detikcom TRANS CORP COMPANY (deadline 25 Sept 2011)'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-4140024115217075269</id><published>2011-08-18T12:00:00.000-07:00</published><updated>2011-08-18T12:00:13.663-07:00</updated><title type='text'>Gerakan Tutup Mulut Nazaruddin = Pisau Bermata Dua?</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-f8oTaZ82_TU/Tk1hL7EomPI/AAAAAAAABTY/Zh3DNkLzlpQ/s1600/nazaruddin.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="265" width="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-f8oTaZ82_TU/Tk1hL7EomPI/AAAAAAAABTY/Zh3DNkLzlpQ/s400/nazaruddin.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dengan Nazaruddin berjanji, tidak akan membuka nama pejabat Partai Demokrat atau parpol manapun dalam kasus korupsi/suap yang melibatkannya, sepertinya ini kabar baik buat SBY, Anas Urbaningrum, Angelina Sondakh, Andi Mallarangeng, Ibas Yudhoyono, dan lain-lain, yang sudah pusing dengan berbagai pengungkapan yang dilakukan Nazaruddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ucapan Nazaruddin yang seolah-olah ”pasang badan” itu --di mata rakyat/publik—sebenarnya seperti pisau bermata dua. Karena Nazaruddin seolah membenarkan bahwa para petinggi partai itu memang sebenarnya busuk semua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nazaruddin tidak pernah membantah bahwa mereka busuk. Nazaruddin bahkan sebenarnya tidak pernah mencabut ucapannya, yang penuh tuduhan kepada sejumlah nama petinggi parpol, yang pernah ia lontarkan ketika masih buron dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nazaruddin seperti orang yang terlihat sedang berdiri di tengah kumpulan bangkai, dan lalu berkata: ”Jangan khawatir, saya akan tutup mulut. Saya tidak akan menyebut-nyebut soal bau, yang ada di sekitar saya sekarang. Asalkan istri dan keluarga saya tidak diganggu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengirim surat khusus kepada SBY, lewat ucapan ”tolong agar istri dan keluarga saya tidak diganggu,” Nazaruddin justru melontarkan pesan/tudingan baru ke depan publik. Artinya, Nazaruddin memunculkan dugaan/spekulasi di masyarakat bahwa istri dan keluarganya saat ini sedang ”disandera” atau ”diancam akan diganggu,” jika Nazaruddin berani buka mulut di sidang KPK. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang awam pun bertanya, jika Nazaruddin yang buron dengan paspor palsu saja bisa ditangkap, apa susahnya sih menangkap atau memulangkan istri Nazaruddin, yang pergi bersama suaminya dengan menggunakan paspor asli? Bahkan, dengan melacak pergerakan paspor asli istri Nazaruddin, sebetulnya sudah jauh-jauh hari lokasi keberadaan Nazaruddin dan istrinya diketahui aparat. Jika Nazaruddin baru ditangkap belakangan, itu sebenarnya hanya karena aparat menunggu ”titah dari penguasa tertinggi.” Singkat kata, istri Nazaruddin sebetulnya saat ini sebenarnya sudah berada dalam ”genggaman” aparat atau pihak tertentu di kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, siapa yang mengganggu dan mengancam istri/keluarga Nazaruddin? Ya, siapa lagi kalau bukan pihak-pihak yang akan terlibat dalam kasus korupsi/suap, jika Nazarudin konsisten blak-blakan, membuka semua nama yang kecipratan duit haram hasil kejahatan tersebut....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dus, sikap baru Nazaruddin sebenarnya adalah justru pisau bermata dua, yang bagian tajamnya bisa menusuk ke mana-mana. Lewat gerakan tutup mulutnya, Nazaruddin praktis sudah melontarkan tuduhan-tuduhan baru kepada pihak-pihak tertentu, khususnya pada elite politik petinggi Partai Demokrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan belum selesai, dan rakyat maupun media sekarang semakin pintar. Tidak mudah ditipu dengan sandiwara murahan. Sinetron yang terlalu sering diputar ulang akan mudah ditebak jalan ceritanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 19 Agustus 2011&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;(Pengamat politik jalanan)&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-4140024115217075269?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/4140024115217075269/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=4140024115217075269&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/4140024115217075269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/4140024115217075269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/08/gerakan-tutup-mulut-nazaruddin-pisau.html' title='Gerakan Tutup Mulut Nazaruddin = Pisau Bermata Dua?'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-f8oTaZ82_TU/Tk1hL7EomPI/AAAAAAAABTY/Zh3DNkLzlpQ/s72-c/nazaruddin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-2163446826710670618</id><published>2011-08-15T12:44:00.000-07:00</published><updated>2011-08-15T12:44:19.646-07:00</updated><title type='text'>Sinopsis Episode 25-29  PINTU SURGA, Drama Ramadhan 2011 Trans TV</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-jiTyT7LD_Gc/Tkl2_k-VIlI/AAAAAAAABTQ/rrMPiPxJn-Q/s1600/Astri%2Bivo.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="225" width="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-jiTyT7LD_Gc/Tkl2_k-VIlI/AAAAAAAABTQ/rrMPiPxJn-Q/s400/Astri%2Bivo.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-lxBTvKjhEJ4/Tkl20AScGQI/AAAAAAAABTI/yoZFGnnlc0I/s1600/Tarzan.png" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="225" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-lxBTvKjhEJ4/Tkl20AScGQI/AAAAAAAABTI/yoZFGnnlc0I/s400/Tarzan.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-CboRP9G3zPI/Tkl2uISs7LI/AAAAAAAABTA/zK7s0gpRFzU/s1600/Ust%2Bzaki.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="225" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-CboRP9G3zPI/Tkl2uISs7LI/AAAAAAAABTA/zK7s0gpRFzU/s400/Ust%2Bzaki.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SINOPSIS PER EPISODE - PROGRAM PINTU SURGA, TRANS TV&lt;br /&gt;untuk diupload ke detik.com selama bulan Ramadhan (1 – 29 Agustus 2011)&lt;br /&gt;Pintu Surga tayang tiap hari pkl. 16.30 – 17.30 WIB&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Episode 25&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak lulus casting, Maeng, Nengsi dan Ayu berlatih olah fisik dan vokal, untuk memainkan peran dalam seni pertunjukan yang mereka pilih.&lt;br /&gt;Peserta Pesantren Kilat (sanlat) melakukan tadabur alam dipimpin Ustadz Zaqi, Reyhan dan Sabila. Damar dan Rio dihukum membersihkan WC, karena mengirim surat ke santriwati, tapi mereka boleh ikut tadabur alam. &lt;br /&gt;Ketika menyeberangi sungai dengan tambang, pegangan Gita terlepas, dan tubuhnya terseret arus. Untunglah, ia ditolong oleh Nadya. Karena kejadian ini, Gita dan Nadya --yang biasanya tidak pernah akur-- kini berbaikan.&lt;br /&gt;Gangguan penyakit Anggi kambuh, sehingga sempat membikin cemas Alim, Putri, dan ibu Anggi. Sesudah serangan penyakit mereda, ibu Anggi atau mertua Alim kembali mendamprat Alim, yang dianggap sebagai suami yang kurang memperhatikan istri. &lt;br /&gt;Fahmi ditemani Adam, menjenguk Nadya di pesantren. Nadya dinobatkan sebagai santriwati peserta sanlat terbaik, tapi ia ingin pulang, mendengar kabar ibunya sakit. Ketika pulang, Nadya melihat pasar terbakar. Waktu mau menolong seorang bocah dalam kebakaran itu, Nadya tertimpa musibah. Atap yang terbakar menimpa tubuhnya, sehingga luka bakar parah.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Episode 26&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nadya harus masuk rumah sakit. Wajahnya menderita luka bakar parah. Reyhan merasa bersalah, karena dia yang mengizinkan Nadya pulang dari pesantren. Ustdaz Zaqi, Kyai, dan Nyai menjenguk ke RS. Zaqi mengontak Ibu Ida agar memberitahu Ningrum tentang musibah itu. Ningrum, Satrio, Ibu Ida pun ramai-ramai ke RS.&lt;br /&gt;Nenek Adam sakit dan oleh Adam dan Fahmi secara kebetulan dibawa ke RS yang sama. Mereka sempat repot karena dimintai uang muka perawatan oleh RS, padahal Adam tak punya uang. Nengsi dan Maeng juga menyusul, menjenguk nenek Adam di RS. Karena sakitnya, nenek Adam tak tertolong dan meninggal di RS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Episode 27&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam menangisi kematian neneknya. Ini membuat Maeng dan Nengsi ikut sedih.&lt;br /&gt;Sementara itu, Ningrum sangat prihatin atas musibah kebakaran, yang membuat Nadya luka parah. Gita, yang kini sudah berbaikan dengan Nadya, bersama Rini, Maya, Restu, dan teman-teman lainnya menjenguk Nadya di RS.&lt;br /&gt;Satrio pergi ke pasar, mencari sisa-sisa kios Ningrum yang masih bisa diselamatkan. Saat itu, para pedagang yang emosi nyaris memukuli Mang Usep, karena Mang Usep tak bisa mempertanggungjawabkan uang para pedagang, yang sedianya untuk menggalang demo antirelokasi. Satrio yang mencoba menengahi, akhirnya malah didaulat untuk jadi pemimpin demo.&lt;br /&gt;Di sekolah, kepala sekolah menegur Bu Ida karena Bu Ida membela siswa yang mau memakai jilbab. Mereka terancam dikeluarkan dari sekolah. Bu Ida balas mengancam, jika para siswa itu dikeluarkan dari sekolah, Bu Ida juga akan mundur.&lt;br /&gt;Si pencopet cantik yang sudah insyaf, Ayu, tak sengaja bertemu Maeng. Maeng pun merasa mendapat petunjuk dari Allah, untuk kembali menjadi laki-laki sejati, bukan banci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Episode 28&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para siswa teman Nadya berdemo, memprotes larangan berjilbab yang diterapkan kepala sekolah. Gita mengancam, akan membocorkan bahwa Kepala Sekolah naksir Bu Ida. Gita dan Rini juga berinisiatif mengadakan saweran, untuk biaya pengobatan Nadya.&lt;br /&gt;Sementara itu, para pedagang juga berdemo di kantor Alim. Ketika Alim keluar, Satrio kaget. Ia baru tahu, Alim adalah orang yang ditugasi merelokasi pasar. Satrio curiga, Alim selama ini pura-pura mendekati Ningrum sekadar untuk mencari informasi. Alim berjanji, akan mengusut kebakaran pasar dan tidak akan merelokasi pasar sampai para pedagang selesai berlebaran dan mudik.&lt;br /&gt;Ningrum menegur Fahmi, yang selama ini diam-diam jadi pengamen untuk menambah penghasilan. Tapi saat itu Pak Bimo datang dan  menagih utang. Bimo memanfaatkan kesulitan keuangan Ningrum, agar janda itu mau menerima dirinya.&lt;br /&gt;Alim mengajak putri menjenguk Nadya di RS. Ia mau membantu membayar biaya pengobatan Nadya. Tapi Satrio memojokkan Alim. Ketika tahu Alim adalah kepala proyek relokasi pasar, Ningrum pun menolak pertolongan Alim. Pulang ke rumah, istri Alim yang menderita lumpuh, Anggi, cemburu mendengar kunjungan Alim ke Ningrum di RS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Episode 29&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kyai, Nyai dan Ustadz Zaqi menemui Ningrum di RS dan memberi bantuan uang untuk pengobatan Nadya. Nadya sudah boleh pulang untuk rawat jalan di rumah. Ustadz Zaqi, yang sudah serius jatuh hati pada Ningrum, meminta restu Kyai untuk menikah.&lt;br /&gt;Bu Ida nekad mengenakan jilbab ke sekolah, tetapi Kepala sekolah ternyata tidak berani memecat Bu Ida. Satrio kebetulan bertemu Bu Ida yang mau menjenguk Nadya di RS, dan menyatakan perasaannya. Bu Ida pun menerima Satrio sebagai pasangannya.&lt;br /&gt;Nadya memenangkan lomba karya tulis. Dengan uang hadiah lomba itu, Nadya bisa menebus cincin ibunya yang digadaikan, juga membelikan baju baru untuk Satrio, Ningrum, Fahmi dan adam. Ketika Ningrum mau membayar biaya perawatan Nadya di RS, ternyata biaya itu sudah dibayar lunas oleh Alim.&lt;br /&gt;Maeng dan Nengsi pulang kampung pas malam takbiran. Maeng sudah insyaf dan serius mau meninggalkan dunia banci. Adam, yang kini sudah tak punya siapa-siapa lagi, memutuskan ikut Maeng pulang kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(TAMAT)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 16 Agustus 2011&lt;br /&gt;Disusun oleh &lt;b&gt;Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-2163446826710670618?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/2163446826710670618/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=2163446826710670618&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2163446826710670618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2163446826710670618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/08/sinopsis-episode-25-29-pintu-surga.html' title='Sinopsis Episode 25-29  PINTU SURGA, Drama Ramadhan 2011 Trans TV'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-jiTyT7LD_Gc/Tkl2_k-VIlI/AAAAAAAABTQ/rrMPiPxJn-Q/s72-c/Astri%2Bivo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-8443303466263081445</id><published>2011-08-09T10:15:00.000-07:00</published><updated>2011-08-09T10:20:35.615-07:00</updated><title type='text'>Puisi - PINTU SURGA  (Closing Episode 29)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-KtJ7X2hSENQ/TkFsU8py1GI/AAAAAAAABS4/4AHrYYQI6J0/s1600/IMG_3551.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-KtJ7X2hSENQ/TkFsU8py1GI/AAAAAAAABS4/4AHrYYQI6J0/s400/IMG_3551.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-8zHlOkJVDAw/TkFr7X2PT8I/AAAAAAAABSw/l9225NIwHkM/s1600/IMG_3547.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-8zHlOkJVDAw/TkFr7X2PT8I/AAAAAAAABSw/l9225NIwHkM/s400/IMG_3547.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Puisi – PINTU SURGA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua adalah pejalan&lt;br /&gt;Dan kehidupan adalah perjalanan pulang menuju Allah&lt;br /&gt;Jika hatimu selalu dinaungi kerinduan pada Allah&lt;br /&gt;Maka setiap langkah yang kau ayun&lt;br /&gt;akan membimbingmu ke gerbang Pintu Surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depok, Jumat malam, 5 Agustus 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(Puisi pendek ini dicipta khusus untuk closing episode 29 atau episode terakhir ”Pintu Surga,” drama yang tayang setiap hari pkl. 16.30-17.30 WIB di Trans TV selama bulan Ramadan).&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-8443303466263081445?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/8443303466263081445/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=8443303466263081445&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/8443303466263081445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/8443303466263081445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/08/puisi-pintu-surga-closing-episode-29.html' title='Puisi - PINTU SURGA  (Closing Episode 29)'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-KtJ7X2hSENQ/TkFsU8py1GI/AAAAAAAABS4/4AHrYYQI6J0/s72-c/IMG_3551.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-2053904995747026187</id><published>2011-08-09T10:11:00.000-07:00</published><updated>2011-08-09T10:11:14.742-07:00</updated><title type='text'>Sinopsis Episode 19-24  PINTU SURGA, Drama Ramadhan 2011 Trans TV</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-1jPxUOkxMVA/TkFqIPIj_bI/AAAAAAAABSg/j3J9qQz3A_Y/s1600/Ibu%2BIda.png" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="225" width="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-1jPxUOkxMVA/TkFqIPIj_bI/AAAAAAAABSg/j3J9qQz3A_Y/s400/Ibu%2BIda.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-UPnAqlRU4eA/TkFqCHa0j9I/AAAAAAAABSY/sP0G0cmvqro/s1600/Alim.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="225" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-UPnAqlRU4eA/TkFqCHa0j9I/AAAAAAAABSY/sP0G0cmvqro/s400/Alim.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SINOPSIS PER EPISODE - PROGRAM PINTU SURGA, TRANS TV&lt;br /&gt;untuk diupload ke detik.com selama bulan Ramadhan (1 – 29 Agustus 2011)&lt;br /&gt;Pintu Surga tayang tiap hari pkl. 16.30 – 17.30 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Episode 19&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara salah paham, mengira ibunya meninggal, Fahmi sempat menangis keras. Ningrum memang jatuh sakit, mual, dan muntah-muntah. Nadya, yang sedang mengikuti program Pesantren Kilat (sanlat), juga merasakan firasat tentang sakitnya Ningrum. Di rumah, Satrio dan Fahmi harus bergantian merawat Ningrum.&lt;br /&gt;Sementara itu, Alim menempatkan istrinya Anggi yang menderita lumpuh di rumah ibu Anggi. Dengan demikian, ada yang menjaga Anggi dan ada yang menemani anak perempuannya, Putri. Alim tetap merasakan pertentangan batin, antara cintanya pada istri dan dorongan dari saudaranya untuk menikah lagi.&lt;br /&gt;Di pasar, Tini, Bang Mamat, dan sejumlah pedagang lain kesal, karena para pedagang tradisional ternyata tidak kompak. Ada sejumlah pedagang yang terhasut mendukung relokasi pasar secepatnya. Sedangkan, Alim didesak oleh atasannya untuk segera membereskan proyek renovasi pasar.&lt;br /&gt;Satrio memutuskan berhenti bekerja pada Edo, karena merasa kerja menagih utang secara paksa itu tak sesuai dengan suara hatinya. Gara-gara pilihanya itu nyaris Satrio jadi korban aksi brutal Edo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Episode 20&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nengsi dan Maeng yang berjalan tak tentu arah, terdampar di sebuah masjid. Maeng merasa tersentuh mendengar tausiah Ustadz Zaqi di masjid itu. Seusai tausiah, Ustadz Zaqi secara khusus menasehati Maeng agar kembali menjadi ”laki-laki sejati,” karena haram hukumnya lelaki berpenampilan seperti perempuan.&lt;br /&gt;Sementara itu, Satrio berlatih orasi, untuk persiapan pekerjaan barunya sebagai koordinator demo. Kerja ini adalah order dari temannya, Yura. &lt;br /&gt;Dalam perjalanan, Satrio kecopetan. Pencopet dompet itu adalah Ayu, si copet cantik. Karena dompet itu ternyata kosong, Ayu punya ide untuk mengembalikan dengan harapan mendapat upah. Tetapi apa lacur, justru Satrio bisa menebak taktiknya dan membuka kedok Ayu. Ayu dinasehati supaya insyaf dan berhenti mencopet.&lt;br /&gt;Alim, yang tertarik pada Ningrum, mengajak anaknya Putri untuk menjenguk Ningrum yang sedang sakit. Di rumah Ningrum, Putri jadi bertemu lagi dengan Fahmi dan Adam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Episode 21&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala sekolah minta Bu Ida memberitahu para siswa peserta Pesantren Kilat (sanlat), bahwa mereka harus memakai pakaian biasa lagi (tidak berjilbab) ketika masuk sekolah lagi nanti. Bu Ida yang sedang menuju pesantren dibuntuti oleh Bondang, sehingga ketakutan melihat gaya preman tanggung itu. Bondang yang ugal-ugalan malah jatuh dari motor.&lt;br /&gt;Satrio menjenguk Nadya di pesantren, dan tak sengaja bertemu Bu Ida di pesantren. Bondang yang mau mendekati Bu Ida jadi batal, karena melihat Satrio. Ustadz Zaqi yang menaruh hati pada Ningrum sempat was-was, karena mengira Satrio itu suami Ningrum. Sedangkan Bondang, sesudah gagal mendekati Bu Ida, kini berbalik merayu Tini.&lt;br /&gt;Di pesantren, terjadi kesalahpahaman karena surat Damar, yang sedianya ditujukan ke Nadya, malah jatuh ke tangan Rini. Rini yang naksir Reyhan, anak pemilik pesantren, mengira surat cinta itu berasal dari Reyhan. &lt;br /&gt;Selain itu, terjadi kehebohan karena ulah orang bertopeng, yang berkeliaran di pesantren pada waktu malam, dan diduga maling. Orang itu sempat berkelahi dengan Nadya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Episode 22&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tini dan Bondang kini berpacaran mesra, sehingga perilaku Tini menjadi tidak seperti biasanya di pasar. Alim menyambangi Ningrum di pasar, dan memberikan hadiah obat dari Cina. Tanpa disadari, Ningrum mulai menunjukkan rasa suka dikunjungi Alim, sehingga ia digodai oleh Tini.&lt;br /&gt;Ustadz Zaqi, yang berbelanja beras untuk keperluan pesantren, juga ke pasar sehingga bertemu Ningrum.&lt;br /&gt;Pak Bimo, tukang kredit yang juga ada hati pada Ningrum, tidak mendapat perlakuan manis dari Ningrum. Bimo mengira, ini pasti karena pengaruh adanya Alim.&lt;br /&gt;Gara-gara Alim terlambat menjemput anaknya, Putri pulang sendiri. Tasnya dijambret dua anak bandel. Tetapi Putri ditolong oleh Adam dan Fahmi, yang berhasil merebut lagi tas itu. Adam, Fahmi, dan Putri lalu jadi bermain dan mengamen bersama. &lt;br /&gt;Alim didamprat ibu mertuanya karena lalai menjemput Putri. Apalagi, sepulang sekolah, Putri jadi demam. Ibu mertuanya juga menuding, Alim mungkin ada main dengan wanita lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Episode 23&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara bertemu seorang pencari bakat alias koordinator artis figuran, Maeng dan Nengsi mengikuti audisi di sebuah stasiun TV, untuk memilih beberapa pemain sinetron. Tak terduga, justru karena tampilan apa adanya, keluguan, dan kekikukannya, mereka berdua terpilih. Maeng malah ditawari ikut  pergelaran musik Ramadan, dengan syarat harus mengubah penampilan jadi macho dan jantan.&lt;br /&gt;Ayu, si copet cantik, mencopet dompet milik seorang karyawan stasiun TV. Tetapi, ingat pesan dan nasehat Satrio, ia insyaf dan mengembalikan dompet itu ke si pemiliknya. Tak terduga, Ayu malah ditawari ikut casting untuk jadi pemain sinetron juga. &lt;br /&gt;Di pesantren, para peserta Pesantren Kilat (sanlat) menyiapkan masakan berbuka puasa dengan memasak sendiri. Putra kyai, Reyhan, diam-diam selalu memperhatikan Nadya. Di sisi lain, Damar mencari-cari kesempatan untuk melihat Nadya, tetapi ia malah kepergok Gita. Damar terpaksa pura-pura. Ia bilang ingin melihat Gita memasak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Episode 24&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satrio merasa resah dengan pekerjaan barunya sebagai koordinator demo. Dulu ia disuruh menggelar demo anti-pemerintah, tetapi kini ia diminta menggelar demo yang pro-pemerintah. Ini tak sesuai dengan suara hati nuraninya, meski ia dibayar mahal.&lt;br /&gt;Karena sering menunggak SPP, Adam dan Fahmi diberi surat peringatan oleh Tata Usaha untuk diserahkan ke orangtua.&lt;br /&gt;Ningrum mulai mengharapkan dikunjungi Alim. Tetapi Ningrum kecewa ketika mendengar bahwa Alim sudah beristri, sehingga merasa bersalah dengan perasaan itu. Alim sendiri, meski mulai ada hati pada Ningrum, selalu terbayang pada peristiwa kecelakaan yang membuat istrinya Anggi menderita lumpuh. Alim merasa berdosa.&lt;br /&gt;Karena ingin bertemu Ningrum, Ustadz Zaqi mencari alasan untuk bisa ke pasar. Tetapi Nyai tidak merasa ada kebutuhan pesantren yang harus dibeli di pasar. Gara-gara salah paham, mengira Ustadz Zaqi mau mendekati Tini, Bondang melabrak Ustasdz Zaqi. Sementara itu, ketika Alim sibuk dengan urusan keluarga, anak buah Alim –Ratno dan Joni—mengintimidasi pedagang agar segera pindah lokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(BERSAMBUNG)&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Penyusun: Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-2053904995747026187?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/2053904995747026187/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=2053904995747026187&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2053904995747026187'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2053904995747026187'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/08/sinopsis-episode-19-24-pintu-surga.html' title='Sinopsis Episode 19-24  PINTU SURGA, Drama Ramadhan 2011 Trans TV'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-1jPxUOkxMVA/TkFqIPIj_bI/AAAAAAAABSg/j3J9qQz3A_Y/s72-c/Ibu%2BIda.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-979614529884532896</id><published>2011-08-04T09:34:00.000-07:00</published><updated>2011-08-04T09:34:13.990-07:00</updated><title type='text'>Sinopsis Episode 14-18  PINTU SURGA, Drama Ramadhan 2011 Trans TV</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-q69Ni7r6etY/TjrJMX7-mwI/AAAAAAAABR4/JK26cipJlLE/s1600/IMG_8230.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="267" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-q69Ni7r6etY/TjrJMX7-mwI/AAAAAAAABR4/JK26cipJlLE/s400/IMG_8230.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-I8iUGnCacm0/TjrJ9pnkqlI/AAAAAAAABSA/eMyE56cLdvo/s1600/IMG_5465.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="267" width="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-I8iUGnCacm0/TjrJ9pnkqlI/AAAAAAAABSA/eMyE56cLdvo/s400/IMG_5465.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SINOPSIS PER EPISODE - PROGRAM PINTU SURGA, TRANS TV&lt;br /&gt;untuk diupload ke detik.com selama bulan Ramadhan (1 – 29 Agustus 2011)&lt;br /&gt;Pintu Surga tayang tiap hari pkl. 16.30 – 17.30 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Episode 14&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nengsi sedih karena sampai saat ini belum juga punya pacar atau pasangan hidup. Maeng berusaha menghibur Nengsi. Nengsi agak iri pada Maeng, yang meskipun banci ternyata masih cukup menarik bagi lawan jenis.&lt;br /&gt;Karena tak tahan terus-menerus digosipkan dengan lelaki lain, dan disindir dengan kalimat yang tak mengenakkan hati, Ningrum akhirnya mengajak bicara langsung dengan Tini. Ketika itu, Tini keceplosan bicara bahwa dia sebetulnya iri melihat Ningrum yang cantik dan mudah memancing perhatian lelaki. Padahal mereka berdua sama berstatus janda. Sesudah percakapan itu, Ningrum dan Tini berbaikan kembali.&lt;br /&gt;Di sisi lain, Alim sedih karena kondisi istrinya Anggi, yang menderita lumpuh, belum menunjukkan tanda kepulihan. Meski Alim sudah berkonsultasi dengan dokter. Alim juga berusaha menghibur anaknya Putri. &lt;br /&gt;Sementara itu, pedagang tradisional di pasar tempat Ningrum berdagang ternyata tidak kompak. Sebagian mereka dapat dikecoh untuk mendukung relokasi pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Episode 15&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sedang sama-sama mengikuti program Pesantren Kilat (sanlat), perselisihan antara Nadya dan Gita –masing-masing dengan teman pendukungnya—tidak berhenti. Penyebabnya dipicu oleh kegusaran Gita, karena Damar –cowok yang ditaksirnya dan juga peserta sanlat—justru terlihat mendekati Nadya. Melihat Damar kebetulan berduaan dengan Nadya di waktu malam, Gita segera mengadukan hal itu ke Kyai dan Reyhan.&lt;br /&gt;Para guru SMP mengunjungi para siswa mereka, yang sedang mengikuti sanlat di pesantren. Kepala sekolah, yang keras menolak pemakaian jilbab di sekolah, menyuruh Ibu Ida mengurus pembelian buah-buahan buat para peserta sanlat.&lt;br /&gt;Sementara itu, Fahmi mencari tambahan penghasilan dengan berjualan koran bersama Adam di stasiun KA. Fahmi mengajak Adam mengunjungi Nadya ke pesantren. Karena itu, ia terlambat pulang sehingga membikin Ningrum cemas dan marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Episode 16&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan Nadya dan Damar di waktu malam, yang sebenarnya terjadi secara kebetulan, menjadi berbuntut panjang gara-gara diadukan oleh Gita ke otoritas pesantren. Keduanya dicurigai berpacaran, ssuatu yang dilarang keras di lingkungan pesantren, meskipun bagi peserta Pesantren Kilat (sanlat). &lt;br /&gt;Nadya dan Damar terancam terkena sanksi berat. Untunglah, kyai dan nyai selaku pimpinan pesantren tidak mau bertindak gegabah. Mereka tidak mentah-mentah percaya saja pada pengaduan Gita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Episode 17&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Aisyah, keponakan nyai, yang suka memoret, cukup memeriahkan suasana di pesantren. Gara-gara Aisyah, sejumlah santriwati peserta Pesantren Kilat (sanlat) jadi senang bergaya di depan kamera.&lt;br /&gt;Dalam kasus tuduhan berpacaran, otoritas pesantren akhirnya memutuskan, Damar dan Nadya tidak bersalah. Hal ini terjadi berkat bocoran info dari Aisyah, yang tanpa sengaja menguping ucapan Gita, bahwa Gita sebagai saksi sebenarnya memang tidak melihat hal-hal yang aneh dalam kasus Damar dan Nadya. Walaupun demikian, Damar dan Nadya tetap mendapatkan teguran dari pesantren serta sanksi. Bukan karena pacaran, tetapi karena tidak berada di kamar pada waktu yang seharusnya.&lt;br /&gt;Ningrum mengunjungi pesantren untuk menjenguk Nadya. Karena merasa rikuh, ia menolak diantar oleh Alim. Di pesantren, Ningrum bertemu Ustadz Zaki, yang merasa jatuh hati melihat kecantikannya.&lt;br /&gt;Pulang ke rumah, Ningrum merasa lemas dan gemetar. Ia terserang penyakit yang tak jelas. Akhirnya, Fahmi pula yang harus merawat ibunya di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Episode 18&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pedagang tradisional kesal, karena meski sudah iuran uang untuk mengadakan demo, demo yang bertujuan memprotes rencana relokasi pedagang itu tak kunjung terwujud. Mang Usep, yang biasa mengumpulkan setoran sumbangan, jadi sasaran kekesalan. Namun, beberapa pedagang sempat terbujuk untuk mendukung percepatan relokasi, karena diiming-imingi janji mendapat lokasi yang strategis.&lt;br /&gt;Meski masih merasa sakit, Ningrum memaksa diri berjualan di pasar. Akibatnya, dia malah muntah-muntah, sehingga menimbulkan kecurigaan Tini bahwa Ningrum sedang hamil.&lt;br /&gt;Pak Bimo, tukang kredit yang sedang ada hati pada Ningrum, jadi kesal dan cemburu karena curiga Alim sedang mendekati Ningrum. Bimo memaksa mau menagih cicilan utang Ningrum, sehingga berkonflik dengan Alim. &lt;br /&gt;Satrio, yang baru datang ke pasar untuk menjenguk kakaknya Ningrum, merasa terpukul. Satrio melihat perilaku Bimo persis seperti pencerminan dari pekerjaannya sekarang, yang juga menagih utang secara paksa terhadap orang lain. Saat itu Ningrum mendadak pingsan, sehingga segera dibawa oleh Satrio ke rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(BERSAMBUNG)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-979614529884532896?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/979614529884532896/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=979614529884532896&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/979614529884532896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/979614529884532896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/08/sinopsis-episode-14-18-pintu-surga.html' title='Sinopsis Episode 14-18  PINTU SURGA, Drama Ramadhan 2011 Trans TV'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-q69Ni7r6etY/TjrJMX7-mwI/AAAAAAAABR4/JK26cipJlLE/s72-c/IMG_8230.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-4059573686054545383</id><published>2011-08-02T11:37:00.000-07:00</published><updated>2011-08-04T09:37:22.285-07:00</updated><title type='text'>Sinopsis Episode 8-13  PINTU SURGA, Drama Ramadhan 2011 Trans TV</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Y9vWS2l3QxY/TjrKs4OtUGI/AAAAAAAABSI/4ci0bCM1xKU/s1600/IMG_5471.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="267" width="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-Y9vWS2l3QxY/TjrKs4OtUGI/AAAAAAAABSI/4ci0bCM1xKU/s400/IMG_5471.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-hHrkyMuwldg/TjhD6QUnGqI/AAAAAAAABRw/8rD8BvIjoVk/s1600/Poster%2BPintu%2BSurga%2B3.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="400" width="248" src="http://3.bp.blogspot.com/-hHrkyMuwldg/TjhD6QUnGqI/AAAAAAAABRw/8rD8BvIjoVk/s400/Poster%2BPintu%2BSurga%2B3.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SINOPSIS PER EPISODE - PROGRAM PINTU SURGA, TRANS TV&lt;br /&gt;untuk diupload ke detik.com selama bulan Ramadhan (1 – 29 Agustus 2011)&lt;br /&gt;Pintu Surga tayang tiap hari pkl. 16.30 – 17.30 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Episode 8&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan Reyhan, putra pemilik pesantren, ke sekolah Nadya menjadi perhatian para siswa putri. Reyhan yang ganteng menawarkan program Santri Kilat (sanlat) di pesantren untuk para siswa SMP. Nadya ingin ikut Sanlat tetapi ia merasa resah memikirkan biayanya, yang dikhawatirkan akan memberatkan ibunya. Untung, sahabatnya Rini mau membantu.&lt;br /&gt;Damar, siswa jago olahraga yang populer di sekolah, juga mau ikut sanlat. Hal ini membikin kesal Gita, ”musuh” Nadya di sekolah, yang sangat menyukai Damar.&lt;br /&gt;Di sisi lain, kepala sekolah marah kepada para guru, karena adanya siswi yang berjilbab. Hal ini dianggapnya melanggar peraturan.&lt;br /&gt;Sementara itu, Satrio bertemu teman lamanya, Edo. Satrio gembira karena ditawari pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Episode 9&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maeng dan Nengsi merasa prihatin, karena uang hasil mengamen sangat minim. Mereka kebetulan bertemu Ayu, si pencopet cantik, dan diajak bekerjasama mencari mangsa untuk dicopet. Nengsi tegas menolak, tetapi Maeng terbujuk oleh ajakan Ayu.&lt;br /&gt;Di saat lain, Satrio merasa tak enak hati, setelah menjalani pekerjaan yang ditawarkan teman lamanya, Edo. Ternyata Satrio disuruh menjadi tim penagih utang, yang tak segan-segan menyita harta milik orang yang ditagih utangnya.&lt;br /&gt;Sementara proses relokasi pedagang pasar berjalan lambat,  Ratno dan sejumlah anak buah Alim bermain mata dengan Boby, yang kalah tender dalam proyek renovasi pasar. Mereka tak sabar dengan sikap hati-hati Alim, yang melakukan pendekatan kemanusiaan dalam melaksanakan tugas merelokasi pedagang.&lt;br /&gt;Fahmi dan Adam, yang mencari uang dengan mengamen, kali ini harus berurusan dengan Bang Jari. Bang Jari adalah preman setempat, yang mengkoordinir dan memeras tenaga anak-anak pengamen jalanan di daerah bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Episode 10&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program santri Kilat (sanlat) di pesantren akhirnya jadi berlangsung, diikuti oleh Nadya, Rini, Gita, Damar, dan para siswa lain. Santri putra dan putri dipisah asramanya. Gara-gara ada santri putri yang menangis di tengah malam, karena kangen pada ibunya, suasana pesantren sempat heboh. Hal ini karena suara tangis itu dikira berasal dari hantu.&lt;br /&gt;Nadya sendiri juga merasa rindu pada ibunya, yang belum sempat menjenguknya di pesantren. Padahal sejumlah orangtua siswa lainnya sudah datang ke pesantren.&lt;br /&gt;Alim sementara itu dinasehati oleh kakak kandung dan kakak iparnya, agar segera menikah lagi, karena istri Alim, Anggi, tak juga menunjukkan tanda-tanda akan sembuh dari kelumpuhan. Namun, sikap Alim yang enggan mencari istri baru membuat kakaknya kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Episode 11&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak mendapat order pekerjaan dari Edo, kondisi keuangan satrio membaik. Namun, ia mengalami konflik batin, karena tidak suka dengan kerja sebagai penagih utang, yang tak jarang harus tampil tanpa belas kasihan, ketika menyita harta para penunggak utang.&lt;br /&gt;Di pasar, persekongkolan untuk merelokasi pedagang tradisional terus berlangsung. &lt;br /&gt;Sementara itu, Ningrum sempat berselisih dengan Tini, penjual yang berdagang di sebelah kiosnya, gara-gara Tini melakukan praktik curang pada pembeli dengan cara mengakali timbangan.&lt;br /&gt;Ketika pulang dari pasar, Ningrum memergoki anaknya, Fahmi, yang berpakaian kumal karena baru pulang mengamen. Ningrum jadi kesal, karena Fahmi terkesan mulai tidak jujur.&lt;br /&gt;Alim mampir ke rumah Ningrum, dan dengan niat baik memperbaiki sepeda Nadya yang penyok bekas tabrakan. Tetapi kehadiran Alim di sana justru menjadi sumber gosip, karena Tini sengaja menyuruh Bondang untuk memata-matai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Episode 12&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tini menyebarkan gosip ke Pak Bimo bahwa Ningrum sudah punya pacar baru. Ini sesudah Bondang melaporkan, Alim sempat datang ke rumah Ningrum. Akibatnya, Tini dan Ningrum bertengkar hebat. Sebetulnya, gosip ini muncul berakar dari kecemburuan Tini pada Ningrum yang lebih cantik.&lt;br /&gt;Sementara itu, Ratno dan Joni berusaha memprovokasi Alim, atasannya, agar segera bertindak merelokasi pedagang tradisional. Tetapi Alim, yang merasa curiga, tidak mudah dikecoh. Ini membuat Ratno dan Joni kesal.&lt;br /&gt;Pada kesempatan lain, Maeng dan Nengsi berdialog panjang. Maeng merenungkan pertentangan batin dalam dirinya, dengan tampilannya sebagai banci, tetapi ada dorongan untuk kembali berperilaku sebagaimana layaknya laki-laki normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Episode 13&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesantren jadi heboh, sesudah Gita, selaku salah satu peserta Santri Kilat (sanlat), melaporkan kehilangan dompetnya. Karena sudah terlanjur benci pada Nadya, sasaran kecurigaan Gita langsung saja tertuju pada Nadya. Ternyata dompet itu cuma terselip di bawah tikar masjid.&lt;br /&gt;Ningrum mengunjungi Nadya di pesantren. Ketika ngobrol, Nadya mempertanyakan arti kunjungan Alim ke rumah ibunya. Nadya menduga, Alim mencoba mendekati ibunya, padahal Nadya belum rela ada lelaki lain menggantikan posisi mendiang ayahnya. Pernyataan Nadya membuat Ningrum tertegun.&lt;br /&gt;Pada kesempatan lain, Fahmi dan Adam yang sedang mengamen menemukan uang 50 ribuan, yang terserak jatuh dari tas Putri –anak perempuan Alim. Sesudah sempat menimbang-nimbang, Fahmi dan Adam mengembalikan uang itu ke Putri.&lt;br /&gt;Karena penampilannya yang feminin, Maeng --yang sedang berjalan bersama Nengsi-- pada suatu ketika diejek sekelompok pemuda iseng. Berkat kefasihannya membaca Al-Quran, Maeng bisa menundukkan kelompok pemuda iseng tersebut.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;(BERSAMBUNG)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-4059573686054545383?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/4059573686054545383/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=4059573686054545383&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/4059573686054545383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/4059573686054545383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/08/sinopsis-episode-8-13-pintu-surga-drama.html' title='Sinopsis Episode 8-13  PINTU SURGA, Drama Ramadhan 2011 Trans TV'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-Y9vWS2l3QxY/TjrKs4OtUGI/AAAAAAAABSI/4ci0bCM1xKU/s72-c/IMG_5471.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-5739785223332462487</id><published>2011-08-02T00:11:00.000-07:00</published><updated>2011-08-02T00:11:35.942-07:00</updated><title type='text'>ANAK DI TENGAH HUJAN - Cerpen Nadhifa Annisa Satrioputri (Kls. 7, Pesantren Nurul Fikri, Anyer)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Wub45Efo37g/Tjeiavagk9I/AAAAAAAABRo/vSWttp3U7fQ/s1600/IMG_2752.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-Wub45Efo37g/Tjeiavagk9I/AAAAAAAABRo/vSWttp3U7fQ/s400/IMG_2752.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Libur panjang tahun ini sungguh menyebalkan. Hujan selalu turun tiap detik, menit, jam, bahkan hari. Semua rencana pergi jalan-jalan dibatalkan hanya gara-gara hujan, pikirku, sambil melihat hujan turun di depan jendela kamarku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Al…,” suara itu membuyarkan lamunanku. Aku hanya menengok sedikit ke belakang. Kulihat mama sudah mengenakan baju yang sangat familiar di depanku. &lt;br /&gt;“Kenapa, ma..?” jawabku singkat. &lt;br /&gt;”Al, anterin mama ke optik yuk..!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emang mama gak liat kalau sekarang lagi hujan?” jawabku sinis.&lt;br /&gt;”Memang hujan, tapi mama mau nunggu sampai kapan? Mama matanya gak enak. Kamu mau kan temenin mama?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahku mengerut. ”Ya udah ku temenin!” jawabku sebal, sambil pergi ke luar. &lt;br /&gt;Aku sudah duduk di kursi mobil paling depan sambil melipat tangan. Mama, yang baru masuk, melihatku dengan penuh tanda tanya. Terlihat jelas di wajahnya. &lt;br /&gt;Ia mulai bertanya, ”Kamu kenapa sih, Al?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membisu. Karena tak mau berlama-lama, mama mulai menyalakan mesin mobil dan pergi meninggalkan rumah.&lt;br /&gt;Sesampainya di optik, hujan turun makin deras. Aku dan mama berlari memasuki optik. Aku menggigil, begitu juga mama. &lt;br /&gt;Seorang pramuniaga berdiri. ”Selamat datang di Optik Cempaka. Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya sopan dan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cepat, mama mendekat dan mulai menceritakan masalahnya. Aku tidak ingin mendekat. Aku hanya mencari-cari kursi yang kosong untuk duduk. Aku beruntung karena menemukan kursi yang menghadap jendela berkaca bening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya aku mulai merasa bosan, namun sesuatu menarik perhatianku. Kulihat seorang anak laki-laki, umurnya sekitar 7 sampai 6 tahun. Ia mengenakan kaos berlengan pendek yang lusuh. Ia memegang payung, bajunya basah, dan tidak mengenakan alas kaki. Terlihat jelas tubuhnya yang kurus itu menggigil. Wajahnya pucat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku prihatin sekali melihat keadaannya. Kulihat ia berusaha untuk berjalan namun… Brukkk! Ia tersungkur. Aku langsung berdiri dan berlari ke luar.&lt;br /&gt;“Siapapun tolong bantu! Anak ini pingsan!” teriakku, lantang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat ada beberapa orang mendekat. ”Mungkin ia kelaparan.” Kelaparan… otakku berputar. ”Mas, tolong angkatin anak ini ke pinggiran toko yang tutup ya? Saya mau beli makanan dulu buat anak ini.” &lt;br /&gt;“Iya, mbak. Anak ini biar saya jagain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sigap aku berdiri dan mulai mencari warteg atau warung kecil. Kulihat ada warteg kecil dekat kantor pos. Kelihatannya tempat itu tidak begitu bersih, tapi tidak apalah. Yang penting, aku bisa membeli makanan untuk anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mau terlalu lama berpikir, aku langsung masuk. Kulihat ada ibu setengah baya yang sepertinya kaget melihat aku nyelonong masuk. ”Ada apa toh, nduk?” &lt;br /&gt;“Bu, saya mau beli nasi bungkusnya, pakai ayam,” jawabku tergesa-gesa.&lt;br /&gt;”Iya, nduk. Tunggu sebentar, simbok buatkan dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama aku menunggu, simbok sudah selesai dengan tugasnya. Kubayar dan aku langsung berlari ke tempat di mana anak itu pingsan. Kudengar seseorang berkata,”Hei, dia siuman!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lega kudengar kata-kata itu. Dengan cepat aku mendekat ke anak itu. Terlihat jelas, wajahnya penuh tanda tanya karena dikelilingi oleh orang yang tidak ia kenal. &lt;br /&gt;”Hei, kau lapar, kan? Ini dimakan ya?” kataku dengan lagak dewasa. Anak itu terlihat ragu namun akhirnya mau juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia makan dengan begitu lahap, seperti orang yang sudah seminggu tak makan. Malang nasib anak itu. Berceceran nasi di bajunya yang basah dan kulihat dia sudah sehat. &lt;br /&gt;Dia menengok ke arahku.”Terima kasih, kak, atas makanannya.” &lt;br /&gt;“Sama-sama, dik.” &lt;br /&gt;“Sekarang aku mau cari uang lagi. Alhamdulillah, hujannya masih deras.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam mendengar perkataan itu. Teringat omelanku tentang hujan, yang kukira hanya membawa masalah. Namun, ternyata hujan itu membawa berkah untuk anak ini, yang bekerja sebagai ojek payung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Allah, aku merasa malu terhadap anak ini. Ia masih mau bekerja di tengah hujan sampai kelaparan. Sementara aku hanya bisa marah karena hujan selalu turun. Ya, Allah, maafkan aku. Semoga anak ini diberi ketabahan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak itu berdiri dan mulai bekerja lagi. Sebelum berjalan, ia menengok lagi ke arahku dan berkata, ”Sekali lagi terimakasih ya kak, atas makanannya.” &lt;br /&gt;Ucapannya hanya kubalas dengan senyum.&lt;br /&gt;Anak itu pun berlalu dan aku kembali ke optik. Kulihat mama seperti sedang menunggu sesuatu. ”Mama!” kataku, sedikit berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Al, kamu kemana aja tadi? Mama cariin juga!” &lt;br /&gt;“Maaf, ma. Tadi aku hanya keluar sebentar.” &lt;br /&gt;“Lain kali, kalau mau keluar bilang dulu.” &lt;br /&gt;“Iya, ma. Pulang yuk!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu mau pulang? Padahal tadinya mama mau ngajak kamu jalan-jalan sebentar.” &lt;br /&gt;Dengan senyum, aku menjawab, ”Gak usah deh. Gak jadi. Lihat aja sekarang, kan lagi hujan. Nanti aja kalau sudah reda.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat wajah mama seperti bingung, namun kubiarkan. Segera aku masuk ke dalam mobil. Masih kulihat anak itu mengojek payung, membuatku mengerti, apa arti hujan yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depok, 17 September 2010&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Nadhifa Annisa Satrioputri&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-5739785223332462487?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/5739785223332462487/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=5739785223332462487&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/5739785223332462487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/5739785223332462487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/08/anak-di-tengah-hujan-cerpen-nadhifa.html' title='ANAK DI TENGAH HUJAN - Cerpen Nadhifa Annisa Satrioputri (Kls. 7, Pesantren Nurul Fikri, Anyer)'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Wub45Efo37g/Tjeiavagk9I/AAAAAAAABRo/vSWttp3U7fQ/s72-c/IMG_2752.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-5297179808033526701</id><published>2011-08-01T09:47:00.000-07:00</published><updated>2011-08-01T09:47:19.530-07:00</updated><title type='text'>Tokoh dan Karakter Utama  PINTU SURGA - Drama Ramadhan 2011 Trans TV</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-s_WWPlpwR9Q/TjbYgb04ZfI/AAAAAAAABRg/x5vc9jW9S9k/s1600/Nadia.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="225" width="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-s_WWPlpwR9Q/TjbYgb04ZfI/AAAAAAAABRg/x5vc9jW9S9k/s400/Nadia.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-xQJ0uSgLmvE/TjbYYjcU51I/AAAAAAAABRY/KvS38tN5oHg/s1600/Ningrum.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="225" width="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-xQJ0uSgLmvE/TjbYYjcU51I/AAAAAAAABRY/KvS38tN5oHg/s400/Ningrum.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tokoh-tokoh Utama “Pintu Surga”&lt;br /&gt;Drama Ramadhan 2011 Trans TV&lt;br /&gt;(Tayang tiap hari pkl. 16.30 WIB, pada 1 – 30 Agustus 2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ningrum (Berliana Fibriyanti): &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ningrum digambarkan sebagai seorang janda, ibu dari dua anak, yang ingin memberikan yang terbaik pada anak-anaknya. Ia sangat perhatian dan mudah cemas pada nasib anak-anaknya. Tetapi di balik penampilannya yang bijak, lembut, sebetulnya ada rasa kekosongan tertentu di dalam hatinya. Ada kerapuhan yang tak mau ditunjukkan pada anak-anaknya, tetapi kadang-kadang tercetus ke luar lewat ingatan/lamunan pada mendiang suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ningrum terombang-ambing antara rasa cinta lama pada almarhum suami, dan kenyataan real bahwa dia sebetulnya merasa berat menafkahi keluarga sendirian. Serta, ada kebutuhan akan kehadiran seorang laki-laki dewasa dalam rumah tangga (yang belum siap diterima oleh anak-anaknya, terutama Nadya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problem lain adalah rencana relokasi pasar tradisional, yang kemungkinan mengganggu nafkah/penghasilan Ningrum yang relatif sudah kecil. Keuangan Ningrum sudah pas-pasan untuk membiayai sekolah anak-anaknya, tetapi dengan sukarela ia masih menampung adik kandungnya, Satrio, sarjana yang pengangguran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Nadya (Dhea Imut):&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Nadya digambarkan sebagai gadis yang baik, penurut, perhatian pada orangtua (Ningrum), tidak banyak menuntut, sayang pada adiknya. Nadya tampil sebagai siswa yang cukup pintar dan kreatif di sekolahnya, berani bersikap berbeda, mengidolakan almarhum ayahnya (yang mdembuatnya tidak mudah menerima kehadiran seorang ayah tiri di rumahnya). Keinginannya memakai jilbab dan masuk pesantren juga antara lain karena pesan almarhum ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nadya berkonflik dengan pihak sekolah karena tekadnya memakai jilbab, dan berkonflik dengan teman sekelas, Gita, yang suka meremehkannya. Konflik dengan Gita berkembang ketika cowok yang ditaksir Gita, Damar, justru mulai menunjukkan ketertarikan ke Nadya.&lt;br /&gt;Sifat Nadya yang spontan, cuek, dan agak tomboy justru menjadi daya tarik tersendiri bagi cowok sebaya. Tetapi Nadya sendiri tidak pernah menunjukkan rasa ketertarikan pada lawan jenis, meskipun dikelilingi oleh teman-teman yang tergila-gila pada cowok cakep. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Fahmi (Reihan Mufur):&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Fahmi, adik Nadya ini, awalnya digambarkan sebagai bocah yang penurut dan agak manja karena selalu dilindungi oleh Nadya dan Ningrum. Meskipun digambarkan kritis (banyak bertanya dan selalu ingin tahu), Fahmi tidak pernah digambarkan memiliki prestasi khusus di sekolah. Kemudian dia bisa juga usil dan jenaka pada orang yang dikenal dekat (Oom Satrio). Karakter Fahmi mengalami perkembangan sejak berkenalan dengan Adam, yang mengajarinya mengamen dan berjualan koran, dan mengalami kehidupan sebagai anak jalanan. Meski bertujuan baik, membantu keuangan keluarga, Fahmi mulai “kurang jujur” (kucing-kucingan dan tidak terbuka) pada ibu dan kakaknya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Satrio (Rayendra):&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Satrio, adik Ningrum, meskipun berwajah lumayan keren, digambarkan sebagai lulusan universitas berkualitas pas-pasan. Terbukti dari sekian lama gagal memperoleh pekerjaan (dibandingkan dengan teman-temannya yang lain). Dia juga terkesan kurang mandiri, karena dengan enaknya “menumpang hidup” pada kakaknya, yang juga sudah hidup kekurangan. Yang positif adalah Satrio berusaha hidup jujur, tak mau mengambil uang yang bukan haknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kebutuhan akan harga diri, Satrio mengandalkan pada cerita pengalamannya sebagai aktivis mahasiswa, meskipun tingkat aktivitasnya juga tidak luar biasa (hanya sekadar ikut aksi protes internal universitas, bukan jadi aktivis politik anti-Soeharto, yang marak pada 1997). Satrio baru merasakan kebutuhan serius akan pekerjaan yang “cukup bermartabat” ketika naksir Ibu Ida, karena calon mertua tidak akan mau menerima pemuda berprofesi tak jelas sebagai menantu. Satrio akhirnya mau kerja apa saja demi martabat itu, meski dirasakan tak sesuai suara hati nurani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Neng Siti (Genta Windi):&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Neng Siti digambarkan sebagai pengamen jalanan dengan tampilan dan suara pas-pasan. Berpenampilan selalu norak dan sok selebriti, Neng Siti menjalani profesinya dengan jujur, menolak hal-hal yang tidak-halal, dan masih bermimpi bahwa suatu saat dengan satu dan lain cara karirnya akan terangkat jadi penyanyi tenar. Hal lain yang membuat Neng Siti galau, selain kondisi keuangannya yang kekurangan, adalah belum ada pria yang serius mendekatinya. Tetapi karena pembawaannya yang easy going, terkesan Neng Siti tidak punya konflik atau masalah serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Maeng (Ozan Ruz):&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Berasal dari latar belakang ekonomi yang sebetulnya lumayan, Maeng adalah keponakan Neng Siti. Maeng memilih jadi pendamping Neng Siti dalam mengamen, karena sering dimarahi di rumah. Pada dasarnya Maeng adalah orang yang baik, sehingga tidak begitu jelas bagaimana pergulatan batinnya ketika ia memutuskan mau membantu pencopet melaksanakan aksinya demi menambah penghasilan (meski lalu digambarkan, Maeng menyesali perbuatannya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai waria, pria yang kewanita-wanitaan akibat sosialisasi yang salah semasa kecil, problem utama Maeng adalah problem identitas. Ia menyadari bahwa status waria adalah status yang “salah” secara norma agama, tetapi ia merasa belum mampu mengubah diri jadi sepenuhnya laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Alim Himawan (Marcell Domits):&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sering tampil murung, dingin, dan tanpa ekspresi, kontraktor muda yang dipercaya menangani pemindahan pedagang di pasar tradisional tempat Ningrum berjualan, ini hadir sebagai figur yang punya integritas dan profesional. Ia ingin menyelesaikan tugas secara prosedural, bermartabat, dan tidak ingin menyusahkan pedagang tradisional. Konflik yang dihadapi adalah tekanan dari pimpinan untuk segera menyelesaikan tugas, tetapi ada kendala di lapangan, sementara Alim enggan menggunakan cara-cara kotor untuk menyelesaikan tugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik kedua adalah adanya kebutuhan kehadiran seorang pendamping yang betul-betul bisa menjalankan peran sebagai istri sepenuhnya, sedangkan istrinya menderita sakit parah. Ada ketertarikan pada Ningrum, tetapi tertahan oleh rasa kesetiaan terhadap istri dan anak, yang selama ini selalu suportif.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Putri (Dwi Anastasya):&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Anak perempuan satu-satunya Alim, yang sabar dan tabah mendampingi ibunya yang lumpuh. Putri tidak pernah menyalahkan ayahnya. Karena kemunculannya yang singkat, peran Putri belum cukup tereksplorasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Anggi (Lydia Agatha):&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Istri Alim yang lumpuh akibat kecelakaan. Karena peran lumpuhnya, karakter Anggi juga tidak tereksplorasi.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tokoh Penunjang:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tini: &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penjual yang kiosnya bersebelahan dengan kios Ningrum. Meskipun kurang jujur dalam berjualan, Tini sebetulnya bukan orang yang betul-betul jahat. Sifatnya yang nyinyir, sok mau tahu urusan orang, dan suka ngomongin orang lain, menjadi gangguan tersendiri bagi Ningrum. Sejauh ini kehadirannya cukup menarik dan mewarnai cerita, sehingga disayangkan jika terlalu lama hilang dalam beberapa episode.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Rini:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sahabat Nadya yang suka membantu. Ingin berjilbab tetapi merasa belum siap mental. Suka memandang cowok-cowok cakep, dan bersaing dengan temannya Gita dalam merebut perhatian Damar, teman sekelas yang jago basket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bondang:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Preman tanggung yang naksir Ibu Ida, dan bakal jadi pesaing Satrio. Bondan yang urakan, berhobi naik motor secara ugal-ugalan. Perannya sebetulnya tidak signifikan, sekedar untuk melucu atau memeriahkan cerita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Damar:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Siswa SMP jago basket, yang jadi incaran Rini dan Gita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Gita:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Teman sekelas yang jadi “musuh” Nadya dan Rini. Bersaing dengan Rini untuk merebut perhatian Damar.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Reyhan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Putra pemilik pesantren yang ganteng. Membantu ayahnya mengelola pesantren dan program pesantren kilat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pak Bimo:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tukang kredit yang biasa menagih uang ke Ningrum, tapi lalu ingin mendekati Ningrum.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Kepala Sekolah (Tarsan):&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kepala sekolah yang sok disiplin, sehingga menghambat keinginan siswi mengenakan jilbab di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ibu Ida:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Guru Nadya yang cantik dan dikejar-kejar oleh Satrio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ayu:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pencopet cantik, yang kemudian jatuh hati pada Maeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Adam:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pengamen cilik, teman Fahmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 1 Agustus 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-5297179808033526701?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/5297179808033526701/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=5297179808033526701&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/5297179808033526701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/5297179808033526701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/08/tokoh-dan-karakter-utama-pintu-surga.html' title='Tokoh dan Karakter Utama  PINTU SURGA - Drama Ramadhan 2011 Trans TV'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-s_WWPlpwR9Q/TjbYgb04ZfI/AAAAAAAABRg/x5vc9jW9S9k/s72-c/Nadia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-2687963605230231713</id><published>2011-08-01T09:21:00.000-07:00</published><updated>2011-08-04T09:39:55.338-07:00</updated><title type='text'>Sinopsis Episode 1-7  PINTU SURGA, Drama Ramadhan 2011 Trans TV</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-NYidDykiNA0/TjrLRicBDGI/AAAAAAAABSQ/fFQS8mzwKi4/s1600/IMG_5415.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="267" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-NYidDykiNA0/TjrLRicBDGI/AAAAAAAABSQ/fFQS8mzwKi4/s400/IMG_5415.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-7NmQ89oIa-o/TjbSjCn7RII/AAAAAAAABRQ/EH-_YJCjJ44/s1600/Poster%2BPintu%2BSurga%2B2.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="400" width="292" src="http://4.bp.blogspot.com/-7NmQ89oIa-o/TjbSjCn7RII/AAAAAAAABRQ/EH-_YJCjJ44/s400/Poster%2BPintu%2BSurga%2B2.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SINOPSIS PER EPISODE - PROGRAM PINTU SURGA, TRANS TV&lt;br /&gt;untuk diupload ke detik.com selama bulan Ramadhan (1 – 29 Agustus 2011)&lt;br /&gt;Pintu Surga tayang tiap hari pkl. 16.30 – 17.30 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Episode 1&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nadya, putri dari Ningrum, adalah siswa SMP dan gadis tomboy yang pemberani. Sejak ayahnya, Pak Deden, meninggal dunia, Nadya dan adik lelakinya, Fahmi, tinggal bersama ibu di sebuah rumah sederhana. Gara-gara Fahmi terluka akibat ditabrak seorang pencopet di pasar, Nadya sempat berkelahi dengan copet itu. &lt;br /&gt;Sesuai pesan almarhum ayahnya, Nadya ingin meneruskan sekolah ke pesantren. Tapi ia menghadapi persoalan lain di sekolah, dan sempat ditegur kepala sekolah, karena menunggak SPP sampai tiga bulan. Untuk bisa membayar SPP Nadya itu, Ningrum berkorban dengan menggadaikan cincin kawinnya. &lt;br /&gt;Sementara itu, Satrio, adik Ningrum yang sarjana tapi penganguran, mulai menumpang tinggal di rumah Ningrum sambil mencari pekerjaan. Ningrum, yang bekerja sebagai pedagang di pasar tradisional, menghadapi persoalan rencana relokasi pasar, yang bisa menggusur pedagang kecil. Ningrum masih suka terkenang pada mendiang suaminya. Sedangkan Fahmi masih merasa kehilangan atas wafatnya sang ayah, sehingga sering terbawa mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Episode 2&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maeng dan Nengsi adalah pengamen, yang sering mengamen di pasar tradisional tempat Ningrum berdagang. Maeng, pria yang penampilannya feminin, adalah keponakan Nengsi. Nengsi suka menyanyi dangdut. Tapi penghasilan dari mengamen tidak memadai sehingga bikin mereka kecut. Maeng, yang jadi banci akibat salah sosialisasi sejak kecil, juga merasa sedih karena krisis identitas.&lt;br /&gt;Bimo, tukang kredit yang biasa menarik tagihan, jatuh hati pada Ningrum yang masih cantik, meski berstatus janda. Bahkan Bimo sempat menyambangi Ningrum ke rumah, tapi tak diacuhkan oleh Ningrum. Sementara itu, para pedagang pasar yang gelisah karena akan tergusur oleh proyek relokasi, urunan uang untuk menyelenggarakan aksi demonstrasi, guna menentang renovasi.&lt;br /&gt;Untuk menebus cincin ibunya yang tergadai, Nadya ikut lomba karya tulis. Temanya tentang nasib pedagang kecil di pasar tradisional, yang terancam tergusur oleh renovasi tanpa mendapat lokasi pengganti yang memadai. Di sekolah, Nadya sering direndahkan oleh Gita, yang anak orang kaya, tetapi Nadya selalu didukung oleh sahabatnya, Rini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Episode 3&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena mau masuk bulan Ramadhan, Ningrum mencoba menambah penghasilan dengan berjualan makanan untuk berbuka puasa di dekat rumahnya.&lt;br /&gt;Di sisi lain, rencana renovasi pasar tradisional akan segera dilakukan, tetapi banyak pedagang yang enggan direlokasi. Oknum pelaksana proyek renovasi pasar diam-diam melakukan cara-cara kotor, dengan merusak kios para pedagang yang dianggap enggan disuruh pindah.&lt;br /&gt;Sementara itu, Nadya dan sahabat-sahabatnya digelisahkan oleh rencana pimpinan sekolahnya untuk melarang pemakaian jilbab oleh siswa di sekolah. Tetapi keinginan Nadya untuk berjilbab malah diejek oleh Gita dan teman-temannya.&lt;br /&gt;Menyadari kesulitan keuangan yang dihadapi keluarganya, Fahmi ingin ikut berjualan koran dengan Adam, untuk tidak menambah beban ibunya.&lt;br /&gt;Satrio masih sibuk mencari lowongan pekerjaan, tetapi tidak mudah rupanya mencari lowongan yang cocok dengan kualifikasinya.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Episode 4&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Ida kecopetan di angkutan umum, tetapi si copet tak sempat membawa lari isi dompet itu, karena secara tak sengaja dompet yang dicopet itu jatuh dan sampai ke tangan Satrio. Satrio menghadapi pertentangan batin, antara kebutuhan nyata untuk menggunakan uang di dalam dompet itu, dan rasa kejujurannya yang ingin mengembalikan dompet itu ke tangan pemiliknya yang berhak.&lt;br /&gt;Fahmi akhirnya mencari uang dengan cara mengamen bersama Adam. Ini dilakukan diam-diam agar tidak diketahui ibunya, Ningrum. Tetapi karena kecapekan mengamen, Fahmi sempat sakit.&lt;br /&gt;Alim, kepala proyek renovasi pasar, mendapat tekanan dari kliennya untuk segera melakukan renovasi, meski banyak pedagang masih enggan direlokasi. Alim ingin menjalankan proyek secara jujur, tanpa terlalu menyusahkan para pedagang kecil, meskipun anak buahnya sendiri ingin menghalalkan segala cara untuk menyelesaikan proyek itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Episode 5&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan jalanan yang keras dijalani Fahmi bersama Adam, sebagai pengamen cilik. Mereka harus berkonflik dengan sesama pengamen, yang dikoordinir preman penguasa wilayah. Karena Fahmi lama mengamen dan pulang terlambat, Ningrum sempat khawatir terhadap Fahmi. &lt;br /&gt;Sementara itu, Nadya dan Satrio membantu Ningrum, berjualan penganan untuk berbuka puasa di dekat rumah. Untuk meningkatkan omzet penjualan, Nadya berinisiatif menawarkan dagangannya dengan cara berkeliling menggunakan sepeda. &lt;br /&gt;Satrio tahu bahwa pemilik dompet yang kini ada di tangannya itu adalah Ibu Ida, guru Nadya. Satrio akhirnya memutuskan untuk mengembalikan dompet itu ke Ibu Ida, dengan langsung mendatangi rumah Ibu Ida.&lt;br /&gt;Di saat lain, Ningrum mengikuti pengajian di masjid yang dipimpin oleh Nyai, istri pemilik pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Episode 6&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki bulan puasa, Ningrum tiba-tiba merasa kangen sekali dengan almarhum suaminya. Dulu –saat suaminya masih ada- dia tidak merasa begitu susah sebab dia punya tempat untuk curhat dari segala permasalahan yang dia hadapi. Dia juga punya tempat berbagi sehingga persoalan apapun menjadi tak begitu berat, seperti dalam menangani anak-anak, atau urusan rumah tangga lainnya.&lt;br /&gt;Satrio yang masih mencari-cari pekerjaan, kini punya kesibukan baru yakni melakukan pendekatan ke Bu Ida, guru sekolah Nadya. Salah satu yang dilakukannya adalah dengan berpura-pura menjemput Nadya di sekolahnya.&lt;br /&gt;Alim, orang yang diserahi tanggung jawab mengurus relokasi pasar, ternyata memiliki masalah pribadi. Ia harus mengurus putrinya sendiri, karena istrinya lumpuh akibat kecelakaan mobil. Alim datang ke pasar untuk mengetahui kondisi sebenarnya, kenapa relokasi pasar begitu sulit dilakukan. Saat itulah dia bertemu Ningrum. . &lt;br /&gt;Nadya mendapat masalah baru, sebab dagangan kelilingnya tanpa sengaja ditabrak oleh Bondang, preman pengangguran yang sering membawa motor secara ugal-ugalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Episode 7&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerena dagangannya ditabrak Bondang, kaki Nadya terluka dan berdarah. Alim yang kebetulan lewat menolong Nadya, mengantarkannya ke rumah, dan bertemu Ningrum lagi. Simpati Alim bertambah setelah tahu kehidupan Ningrum dan perjuangannya menghidupi anak-anak setelah suaminya meninggal. Namun, kehadiran Alim di rumah Ningrum menimbulkan praduga dan bisik-bisik tetangga. Apalagi mengingat status Ningrum sebagai janda yang masih cantik.&lt;br /&gt;Untuk memulai hubungan baru dengan perempuan lain, Alim sendiri masih merasa berat karena dihantui rasa bersalah akibat kecelakaan yang menimpa istrinya, Anggi. Namun, Putri, anak perempuan Alim, tidak menyalahkan ayahnya atas kecelakaan itu.&lt;br /&gt;Di waktu lain, untuk membalas perlakuan Bondang, Nadya dan kawan-kawan mengerjai Bondang ketika preman tanggung itu sedang petantang-petenteng di sekolah. Bondang, yang kebetulan juga alumnus sekolah itu, terkecoh oleh jebakan Nadya dan terpaksa harus mengantarkan Kepala Sekolah pulang.&lt;br /&gt;Pada suatu kesempatan, Adam dan Fahmi bertemu dengan Maeng dan Nengsi yang barusan mengamen. Lewat percakapan mereka, Maeng merasa diingatkan untuk insyaf dan kembali menjalani kehidupan sebagai laki-laki normal, bukan banci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(BERSAMBUNG)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satrio Arismunandar&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Be a Lonely Eagle, a true and insightful wanderer....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7800575-2687963605230231713?l=satrioarismunandar6.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/feeds/2687963605230231713/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7800575&amp;postID=2687963605230231713&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2687963605230231713'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7800575/posts/default/2687963605230231713'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/08/sinopsis-episode-1-7-pintu-surga-drama.html' title='Sinopsis Episode 1-7  PINTU SURGA, Drama Ramadhan 2011 Trans TV'/><author><name>Satrio Arismunandar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05928833459943780708</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Jlsniua1uVs/R3JL7bOBTBI/AAAAAAAAANY/Fj_geg9CLfM/S220/foto_satrio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-NYidDykiNA0/TjrLRicBDGI/AAAAAAAABSQ/fFQS8mzwKi4/s72-c/IMG_5415.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7800575.post-9212330809625695450</id><published>2011-07-26T05:32:00.000-07:00</published><updated>2011-07-26T05:32:37.782-07:00</updated><title type='text'>PERJALANAN ISLAM DI INDONESIA - Sinopsis Episode 1-30, Program Ramadhan 2011 Trans TV</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-ICM9VHQ8Pwo/Ti6zYr1fGhI/AAAAAAAABRI/0UtAdv4mjtE/s1600/IMG_5444.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="267" width="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-ICM9VHQ8Pwo/Ti6zYr1fGhI/AAAAAAAABRI/0UtAdv4mjtE/s400/IMG_5444.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sinopsis Episode 1-30 &lt;br /&gt;Program “Perjalanan Islam di Indonesia”&lt;br /&gt;Untuk Ditayangkan di Trans TV Setiap Hari Pkl. 5.30 - 6.00 WIB di Ramadhan 2011&lt;br /&gt;Dan untuk diupload di detik.com (tanpa trailer/video)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantar:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan Islam di Indonesia (PII) adalah program dokumenter yang dibuat oleh Divisi News Trans TV. PII berisi sejarah masuknya Islam ke Indonesia, perkembangan, dan pertumbuhannya di berbagai daerah di Indonesia. Ditampilkan juga berbagai wajah Islam di Indonesia, interaksinya dengan tradisi dan budaya lokal, serta wujud dari hasil interaksi itu yang bisa dilihat bekas-bekasnya sampai sekarang. PII juga menunjukkan keunikan wajah Islam di Indonesia, yang begitu beragam dan kaya, jika dibandingkan dengan wajah Islam di Timur Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program ini pertama kali ditayangkan pada 15 Oktober 2004 selama sebulan (30 episode). Produsernya waktu itu adalah Satrio Arismunandar, dengan Asisten Produser Budi Afriyan. Hostnya adalah Dwi Deninta. Program ini pernah ditayangkan ulang secara utuh pada 2007 dan 2008. Selain itu, sebagian episodenya juga pernah ditayangkan ulang pada 2010. Kini, pada setiap hari pukul 5.30 – 6.00 WIB di bulan Ramadhan 1432 H (1 - 30 Agustus 2011), Trans TV kembali menayangkan ulang program yang sarat dengan sejarah keislaman di Nusantara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PII adalah mosaik yang mencerminkan perjalanan Islam, sejak masuk ke Indonesia (abad 7 M) hingga wajah kontemporer Islam sekarang. PII pada dasarnya adalah kisah sejarah. Namun, dalam sejarah ini juga ditampilkan keragaman, keunikan, dan kekayaan wajah Islam di Indonesia. Pendekatan dalam peliputan adalah pendekatan sejarah, budaya dan sosio-antropologi, dan bukan pendekatan religi.  Maka jika ada praktik agama yang kontroversial, PII tak akan mengangkat dari segi religi, tapi hanya memotretnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PII diharapkan dapat menampilkan sebuah potret, yang diharapkan cukup akurat dan objektif, dalam menggambarkan perjalanan Islam di Indonesia, dengan segala nuansa dan aspeknya. Untuk lebih mantapnya, tim PII juga melibatkan para pakar sejarah Islam dari UIN sebagai konsultan. Tim PII melakukan napak tilas ke tempat-te
